Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dede Permana

Dede Permana Nugraha, seorang penikmat kehidupan, tinggal di Tunis. Menulislah, katanya, niscaya dunia tau apa selengkapnya

Berziarah ke Zawiya Abu Hasan Syadzili

REP | 21 January 2013 | 01:58 Dibaca: 803   Komentar: 0   0

Ziarah ke zawiya (padepokan) Syekh Abu Hasan Syadzili yang kucita-citakan sejak lama, Alhamdulillah terlaksana pada hari Jumat (18/1) lalu. Syekh Abu Hasan Syadzili (591 H-656 H / 1197 M-1258 M) adalah salah seorang ulama sufi yang terkenal, pendiri tarekat Syadziliyah yang memiliki banyak pengikut, termasuk di Indonesia.

Zawiya bukanlah makam, melainkan semacam padepokan, tempat sang sufi bersemedi (khalwat, tahannuts), menjalankan ritual ibadah dan menyampaikan pelajaran kepada para murid. Makam Syekh Syadzili berada di pinggir kota Kairo, sering aku ziarahi dulu saat aku tinggal di Mesir (2002-2005).

Atas Bukit

Aku berangkat usai shalat Jumat. Dari halaman kampus Universitas Zitouna, aku naik taksi. Jaraknya sebenarnya dekat, sekitar 3 km, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tetapi siang itu, langit kota Tunis diliputi awan tebal.  Aku khawatir keburu turun hujan. Selain itu, yang kutahu, lokasi zawiya berada di atas bukit. Aku enggan berjalan kaki menanjak. Biar nanti saja jalan kaki mah saat pulang, begitu pikirku.

“Sidi Belhasan”, tuturku kepada sopir taksi saat membuka pintu. Ia mengangguk. Sidi Belhasan adalah nama tenar Abu Hasan Syadzili di Tunis. Sidi berasal dari kata “Sayid”, sedangkan Belhasan berasal dari kata “Abu al Hasan”. Semua orang Tunis – apalagi sopir taksi – mengetahui lokasi zawiya Sidi Belhasan.

Zawiya Abu Hasan Syadzili berada di Zalaj, sebuah komplek pemakaman terbesar dan terluas di kota Tunis. Pemakaman ini menyelimuti kaki bukit hingga ke bagian permukaan atas bukit. Dan zawiya itu berada di puncaknya. Dari Habib Borguiba Avenue, alun-alun utama kota Tunis, lokasi zawiya ini hanya terpaut jarak 5 km.

Karena posisinya yang berada di puncak bukit itulah, zawiya Abu Hasan Syadzili terlihat dari kejauhan. Bangunannya putih, dengan kubah biru di atasnya.

Dalam Masjid

Sekitar 10 menit kemudian, taksi yang kutumpangi memasuki komplek pemakaman. Jalan aspal mulus selebar 3 meter dan mulai menanjak. Kiri-kanan jalan, kulihat banyak orang Tunis yang sedang berziarah. Umat Islam di Tunis memang biasa berziarah ke pemakaman pada Jumat siang hingga sore menjelang Ashar.

Tak lama kemudian, aku tiba di puncak bukit. Aku lihat, ada bangunan putih yang ada kubah birunya itu. Alhamdulillah, berarti aku telah tiba di lokasi yang kutuju. Tarif taksi sebesar 1,9 Dinar – sekitar 12 ribu rupiah – segera kubayar.

Angin dingin berdesir yang menusuk pori-pori, menyambut kedatanganku. Rambutku yang tak rapi pun menjadi semakin tak karuan. Pada ketinggian, angin memang akan semakin kencang dan suhu musim dingin juga terasa semakin dingin lagi. Kucoba kutahan.

Aku berdiri membelakangi bangunan putih itu, seraya mengamati suasana sekitar. Jauh di depan bawah sana, nampak kota Tunis yang terhampar. Beberapa bangunan utama kota Tunis, bisa kuidentifikasi jelas. Ada Hotel Afrika yang menjulang tinggi, Rumah Sakit Militer di dekat halte Bab Alioua, juga menara Masjid Zitouna. Kemudian kulayangkan pandangan ke kanan bawah, nampak laut Mediterania, airnya yang biru nan tenang meneduhkan pandangan. Di sebelah kiri, sejauh mata memandang, hanyalah bebukitan yang diliputi pemakaman luas, diselingi pepohonan hijau.

Aku berbalik arah. Bismillah, aku memasuki zawiya. Sebuah bangunan yang kini berfungsi sebagai masjid sekaligus majelis dzikir. Luas masjidnya sekitar 200 meter persegi. Berdinding keramik warna-warni dan beralaskan karpet merah. Di samping masjid, ada pelataran luas tanpa atap, terbuka ke langit. Sebagaimana lazimnya kebanyakan masjid di Timur Tengah. Di pojok pelataran itu, ada tempat wudhu. Meski berada di ketinggian, sumber air ini tak pernah kering.

Aku memasuki masjid itu, kemudian shalat dua raka’at Tahiyyatul Masjid. Meski ada beberapa pengunjung lain, suasana saat itu terasa hening.

Usai shalat, aku mendekati mihrab. Mihrab yang dinamakan dengan Magarah ‘Uluwiyyah, tempat biasa Syekh Syadzili duduk beri’tikaf, berdzikir dan menyampaikan pelajaran kepada para muridnya.

Saat ini, para anggota tarekat Syadziliyah di Tunis biasa berkumpul di sini. Mereka menggelar majelis dzikir, setiap Sabtu pagi (musim dingin) dan Ahad malam (musim panas). Menurut informasi seorang rekan, isteri mantan Presiden Ben Ali, Laila Ali, sering berkunjung ke zawiya ini dan menghadiri majelis-majelis dzikirnya.

Dalam Gua

Tempat khalwat Syekh Abu Hasan di zawiya ini ada dua. Pertama Magarah ‘Uluwiyyah yang di dalam masjid tadi. Satu lagi dinamakan Magarah Shufiyah. Lokasinya di dalam sebuah gua kecil, sekitar 20 meter dari pada arah belakang masjid.

Kedalaman gua sekitar 5 meter, diameter lorongnya sekitar 1 meter. Sehingga saat masuk, pengunjung harus berjalan membungkuk. Dinding gua ditembok rapi dan di-cat warna putih bersih. Untuk menerangi suasana dalam gua, ada lilin-lilin yang menyala.  Aku berkesempatan memasuki gua itu. Tentu setelah meminta izin kepada penjaga gua, yang kutemui tadi di luar.

Di ujung dalam gua, ada ruangan kecil, kira-kira seukuran 1×2 meter. Tingginya 2 meter. Pas untuk posisi berdiri seorang pria dewasa. Inilah Magarah Shufiyah itu, tempat Syekh Abu Hasan biasa bersemedi.

Bismillah, aku menunaikan shalat 2 raka’at, kemudian berdoa, semoga bisa mewarisi teladan akhlak dan ilmu sebagaimana beliau yang dulu di sini. Beliau yang dulu pernah berkhalwat hingga 80 hari di ruang sempit ini, hingga kemudian mencapai derajat Wali Allah.

Saat asyik bermunajat, terdengar ada suara memanggil-manggil. Menggema, maklum dalam gua. Wah, suara ghaibkah? Aku bertanya-tanya. Aku melihat ke atas, bawah, kanan dan kiri. Eh ternyata, sang penjaga gua di ujung sebelah sana, hehe. Ia memanggilku seraya memberi isyarat agar aku segera keluar dari Magarah. Ya sudah, aku pun beranjak keluar. Rupanya ada rombongan keluarga orang Tunis yang antri mau masuk gua.

Dalam Kenangan

Abu al Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as Syadzili al Magribi al Hasani al Idrisi. Itulah nama lengkap Syekh Abu Hasan Syadzili, sebagaimana ditulis para ahli sejarah. Beliau lahir di Sebta, Maroko, tahun 591 H/1197 M. Beliau berasal dari keluarga terhormat, masih memiliki garis keturunan dari Rasulullah saw, silsilah ke-22.

Sejak usia 6 tahun, beliau tinggal di Tunis, mempelajarai beragam ilmu dari para ulama Tunis saat itu. Di antaranya adalah Syekh Abu Sa’id al Baji, salah seorang ulama sufi terkemuka, yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata terkemuka di Tunis, Sidi Bou Said. Sedangkan “Syadzili” sebenarnya adalah nama desa di Tunis, tempat beliau tinggal dan beranjak dewasa.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat nama Syekh Syadzili dikenal orang. Tahun 625 H/1227 M, beliau membangun zawiya sebagai tempat beribadah sekaligus menyampaikan pelajaran kepada para muridnya.

Pada tahun 642 H beliau hijrah menuju Iskandariah, Mesir. Di negeri seribu menara itulah, beliau mengajarkan ilmunya kepada sejumlah murid yang kelak menjadi ulama terkemuka juga. Di antaranya ada ibn Daqiq el ‘Eid dan Abu Abbas al Mursi. Ulama Syafiiyyah Mesir terkemuka saat itu, Izzuddin bin Abdis Salam ( w 660 H), juga menganggap Syekh Syadzili sebagai gurunya.

Di antara warisan Syekh Syadzili yang populer di kalangan umat Islam – terutama kaum tarekat sufi – adalah wirid Hizb Nashr dan Hizb Bahr.  Menurut catatan sejarah, beliau menekuni dunia tasawuf setelah ilmu fiqihnya matang. Tak heran jika beliau dikenal mampu mengintegrasikan aktifitas keseharian ke dalam ajaran tasawuf secara khusyu dan cermat.

Pada suatu malam usai isya di tahun 656 H/1258 M, beliau berbaring di tempat tidur. Sambil terbaring, beliau berkali-kali mengucapkan kalimat, “Ilahi, Ilahi”, atau “Ya Ilahi, Mata Yakunul Liqo?” Wahai Tuhanku, kapan pertemuan (dengan-Mu) akan terjadi? Kalimat-kalimat itu beliau ucapkan hampir sepanjang malam, hingga para muridnya yang berada di luar kamar merasa khawatir dan bertanya-tanya.

Menjelang fajar, beliau terdiam tenang. Para muridnya menyangka beliau tertidur pulas. Padahal, beliau telah wafat, meninggalkan dunia yang fana, menuju keabadian, dalam usia 63 tahun. Allahummaftah Lana Futuhal ‘Arifin. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 20 Januari 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Gratifikasi Natal dan Tahun Baru …

Mas Ukik | | 21 December 2014 | 10:01

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 9 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 10 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: