Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Acik Mdy

Love flower, love gardening. Love what you grow, and what you love will grow. http://acikmdy-garden.blogspot.com http://acikmdy-recipe.blogspot.com http://acikmdy-journey.blogspot.com selengkapnya

Ratu Boko, Kemegahan Nan Damai di Perbukitan

REP | 23 January 2013 | 00:02 Dibaca: 726   Komentar: 0   0

13588706302140063493

Gerbang Kompleks Ratu Boko

Selasa Pagi (15 januari 2013), kami telah bergegas untuk meninggalkan penginapan. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi ketika itu. Dimana sebagian penghuni penginapan baru bangun tidur, juga masih asik menikmati sarapan pagi. Tetapi langkah kami terhalang untuk segera berangkat. Tawaran sarapan pagi tidak bisa ditolak, karena pagi itu menu sarapan pagi adalah gudheg! Sebentar menikmati gudheg, dan segera meluncur pergi…

Hari itu, tujuan kami (saya dan suami), adalah pergi ke Candi Prambanan. Dari penginapan yang berada di Jl. Prawirotaman, jelas sangat jauh untuk mencapai Candi Prambanan. Oleh karenanya, kami harus berjalan sedikit keluar, tepatnya harus ke Jl. Brigjen Katamso, untuk kemudian naik trans jogja (3A). Ongkosnya murah hanya Rp 3.000;/ orang saja. Naik trans jogja (3A), transit di shelter kehutanan, naik trans jogja (2A), kemudian transit lagi dekat dengan jembatan layang janti (saya lupa nama shelternya), naik trans jogja (1A). Setelah itu, nikmati saja perjalanan hingga sampailah di shelter terakhir. Dari situ, tinggal jalan kaki sebentar maka sampailah di kompleks Candi Prambanan. Atau ingin naik andong atau becak, transportasi itu juga ada. Kalau saya dan suami lebih suka jalan kaki saja.

Untuk masuk di kompleks Candi Prambanan, pastinya kita dikenai tiket masuk. Saat membeli tiket inilah ada dua macam. Yang satu hanya tiket masuk ke Candi Prambanan saja, dan yang kedua adalah paket tiket masuk Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko. Pertimbangan belum pernah ke Ratu Boko, membuat kami memutuskan untuk membeli tiket paket saja. Tiket itu dihargai Rp 45.000;/ orang , untuk ke Situs Ratu Boko dan Candi Prambanan. Harga Rp 45.000;/ orang , itu sudah termasuk antar-jemput dari Prambanan ke Ratu Boko, tanpa dibatasi akan berapa lama kita di Situs Ratu Boko. Ada mobil yang akan mengantar kita menuju Situs Ratu Boko, jadi tidak perlu khawatir, mengingat jauh tempatnya, juga tidak ada transportasi public yang masuk kesana.

Hanya kami berdua yang diantar waktu itu. Jadi, didalam mobil pengantar hanya ada saya dan suami. Saya pikir, mungkin masih banyak orang yang belum berminat untuk berkunjung ke Situs Ratu Boko, atau mungkin juga sebelum kami sudah banyak orang yang berangkat lebih pagi ke Situs Ratu Boko. Entahlah…saya kurang tahu. Yang pasti, sewaktu membeli tiket, memang jarang orang yang mau membeli tiket paketan itu. Kebanyakan orang memilih tiket masuk prambanan saja, yang seharga Rp 30.000;/ orang. Memang agak mahal sedikit harga tiket paket ini (Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko). Tetapi kawan, percayalah apa yang akan kalian lihat di Situs Ratu Boko, akan membuat kalian berdecak kagum, dan takkan mengecewakan!

Menurut saya, ini adalah perjalanan yang lumayan jauh untuk menuju Situs Ratu Boko. Sepanjang perjalanan, kami sangat menikmati pemandangan sekitar yang ada. Hamparan sawah yang hijau, pepohonan yang masih rindang, rumah-rumah penduduk yang masih belum padat, juga aktifitas beberapa penduduk. Yang pasti, ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Sepi sekali dijalanan, hanya sesekali berpapasan dengan sepeda motor, orang bersepeda, dan mobil bak terbuka. Menuju Situs Ratu Boko ini, jalannya berkelok naik keperbukitan. Agak sedikit ngeri juga, dengan kondisi jalan yang kecil, dan berkelok ini. Semakin naik keatas, menandakan sudah hampir sampai di Situs Ratu Boko. Akhirnya perjalanan yang menegangkan ini berakhir disebuah halaman parkir kendaraan, yang membuat hati bertanya-tanya, dimana kompleks Ratu Boko nya??

Tepat ditengah-tengah halaman yang tak lebar itu, yang merupakan tempat parkir, berdiri sebuah pohon rindang nan besar. Disekelilingnya terdapat, tempat informasi yang disertai dengan tempat berjendela kaca, yaitu tempat melihat matahari (sunrise, dan sunset). Sementara tempat yang lain adalah pos penjagaan, dan ruang tunggu mobil jemputan, bagi yang datang ke Ratu Boko dengan tiket paketan tadi. Setelah itu ada tempat pembelian tiket masuk kompleks Ratu Boko. Untuk tiket ini saya kurang tahu berapa harga tiket masuknya, karena kami datang ke Ratu Boko dengan tiket paketan (Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko).

Masih bertanya-tanya dalam hati, dimana kompleks Ratu Boko-nya?? Kata sopir yang mengantar, naik saja tangga-tangga, dan nanti Ratu Boko ada disana. Untuk memasuki tangga-tangga itu, disitulah terdapat penjualan tiket masuk Ratu Boko. Setelah pemeriksaan tiket, kami mulai menaiki tangga. Naik ketangga ini, belum juga terlihat Situs Ratu Boko. Kami hanya melihat peta Situs Ratu Boko ditepi tangga, yang terdapat parit airnya. Airnya ini mengalir sangat jernih sekali. Kami berpikir, pastinya, air-air ini mengalir dari atas sana, dan mata air tentunya.

13588713661725267652

Peta Kompleks Ratu Boko

Naik lagi keatas, sudah sampai ke tempat yang datar. Tetapi lagi-lagi…mana Situs Ratu Boko-nya?? Lurus mata memandang kedepan…ternyata Ratu Boko masih jauh didepan. Sementara istirahat sejenak ditempat datar ini, sambil melihat pemandangan sekeliling yang menakjubkan. Disebelah kanan kami berjalan ditempat datar ini, ada rusa tutul yang geraknya dibatasi pagar-pagar. Tetapi jangan khawatir, kita bisa melihatnya dari balik pagar ini. Kalau mau bersabar kita bisa memanggil rusa-rusa itu pelan dan sabar, hingga si rusa mau mendekat kearah kita berada. Sayapun melakukanya, tetapi butuh kesabaran ekstra untuk membuat si rusa mau mendekat. Dan..hasilnya saya kurang sabar, kamipun melanjutkan perjalanan yang masih jauh didepan. Sungguh betapa orang-orang jaman dahulu kala punya kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak?? Untuk mencapai kompleks Ratu Boko, yang merupakan istana pada jamannya, kita harus berjalan menaiki tangga-tangga yang menjulang.

Berjalan perlahan sambil sesekali melihat alam sekitar, untuk mengusir rasa lelah. Melihat kembali parit yang ada dipinggiran tangga, mendengar gemerecik air, sungguh damai rasanya berada disini. Saya membayangkan, mungkin dijaman itu, air-air ini mengalir deras, hingga gemereciknya terdengar sangat indah, sehingga orang-orang dijaman itu, merasa tenang dan damai dalam hidupnya. Belum lagi ditambah dengan panorama alam sekeliling yang indah tak ternilai. Sekarang saja, panoramanya, masih terlihat indah, apalagi dijaman dahulu kala, pasti luar biasa keindahannya.

Sedikit demi sedikit menaiki tangga. Gerbang Ratu Boko sudah didepan mata. Hanya tinggal butuh kesabaran untuk menaiki tangga-tangga ini. Sedikit lagi sampai di gerbang yang megah tiada tara. Buat saya, saat ini saja gerbang Ratu Boko, masih berdiri dengan megah, apalagi dijamannya…

13588712532134650722

Akhirnya sampailah di gerbang Ratu Boko…setelah melewati jalanan berliku, juga harus sabar untuk mencapainya. Lelah memang, tetapi percayalah kawan, lelah itu akan terbayarkan ketika mata kita melihat sebongkah kemegahan dijamannya, yang takkan ternilai harganya. Benar-benar perjalanan yang sangat mendebarkan, juga perjalanan yang takkan terlupakan.

Situs Ratu Boko ini, tempatnya memang jauh dari Candi Prambanan, diselatan Prambanan. Sekitar 3 km kurang lebihnya dari Candi Prambanan. Untuk kesini (Situs Ratu Boko), tidak ada angkutan masuknya, kecuali membawa kendaraan sendiri, atau beli tiket paket Prambanan seperti kami ini. Tempatnya buat kami begitu dingin, karena memang 200m diatas permukaan laut. Dan letaknya ada diwilayah kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Legenda dari masyarakat setempat, Ratu Boko, yang artinya Raja Bangau,, merupakan ayah dari Loro Jonggrang, yang menjadi nama Candi utama di kompleks Candi Prambanan. Dari papan keterangan yang bisa dibaca ketika akan memasuki gerbang Ratu Boko, dapat kita ketahui, bahwa Ratu Boko ini telah dihuni/ digunakan sejak abad ke-8, pada masa Wangsa Sailendra. Dari sisa-sisa bangunan yang ada dapat diketahui bahwa situs ini adalah kompleks istana raja, yang berbenteng. Dari sisa-sisa bangunan yang ada memang menampilkan kegiatan, juga pemukiman. Tetapi belum diketahui dengan jelas/ secara pasti fungsi-fungsinya.

Memasuki gerbang ini, terdengar suara air mengalir. Rupa-rupanya air inilah yang mengalir sampai ke parit paling bawah tadi (ditangga naik dekat pembelian tiket). Jadi parit-parit yang ada memang terhubung dari atas hingga kebawah. Yang saya perkirakan dengan sumber mata air yang sama, yaitu dari atas sini, atau malah bersumber dari air diatas lagi. Entahlah…banyak hal yang tidak kami ketahui dengan pasti, selain hanya bisa membaca papan keterangan yang ada, yang kurang detail lagi dalam penjelasannya.

13588725871279989389

Parit Air

Berjalan kesebelah kiri gerbang Ratu Boko, maka kami menemukan sebentuk bangunan kuno, yang bernama Candi pembakaran (Crematorium Temple). Menaiki tangga Candi pembakaran ini serasa menaiki sebuah anak tangga menuju impian/ surga. Maka suami saya mengatakan bahwa tangga Candi Pembakaran ini “stairs of heaven”. Begitu kata suami saya. Sampai diatas Candi ini (Crematorium Temple), kita akan menemukan tempat yang berlubang ditengah-tengah candi ini. Lubang itulah sebagai tempat pembakaran, bagi orang yang sudah meninggal, dimasanya kala itu. Bila melihat kebawah, lantai-lantai yang ada di Candi Pembakaran ini, sebagian sudah merupakan lantai replica, artinya bukan lantai aslinya, meski beberapa masih ada lantai aslinya. Tumpukan batu-batu juga masih terlihat utuh. Kalau saya perkirakan, tumpukan itu adalah batu-batu aslinya yang runtuh, yang belum disusun kembali, bila melihat masih banyaknya lubang-lubang dilantai. Karena pastinya untuk memasangnya kembali/ menatanya kembali dibutuhkan penelitian, kecocokan dengan lantai, bentuknya, apakah memang tempatnya disitu atau bukan. Jelas ini membutuhkan waktu yang panjang.

1358871533483627914

13588716731557866135

Di Atas Candi Pembakaran

13588722422081947684

Batu-batu di Candi Pembakaran yang belum direkonstruksi

Turun dari Candi Pembakaran, kami terus saja menuju kearah kiri. Penasaran diatas sana ada apa. Naik tangga lagi?? Iya..benar sekali, untuk mencapainya kita harus naik tangga lagi yang bentuknya sudah tidak utuh lagi, atau terjal. Harus ekstra hati-hati menaikinya, agar tidak jatuh dan terpeleset. Tempatnya lebih sepi lagi. Hanya terdengar kicauan burung-burung, serangga. Kita juga akan menjumpai kupu-kupu yang beterbangan dengan riang. Damai dan tenang itulah kata untuk menggambarkan tempat yang semakin naik diatas bukit ini. Akhirnya, sampailah kami ditempat bangunan yang tidaklah besar. Tempat ini adalah Panorama view. Bangunan ini dibuat terbuka, hanya beratap saja, dan terdapat sebuah arca didalamnya. Kalau melihat kelantainya, jelas ini bukan lantai aslinya, jelas-jelas lantainya adalah lantai keramik. Dari sini, sebenarnya kami akan melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan setapak. Dimana dikanan-kirinya terdapat pepohonan rimbun. Namun, cuaca kurang mendukung, sudah mulai mendung, mulai gelap, karena pertimbangan tempatnya begitu sepi, tanpa pemandu, takut tersasar, lebih baik kami turun lagi kearah gerbang utama.

13588724051269388782

Panorama View

13588730201082319713

Pemandangan dari tangga menuju Panorama View

Turun kembali kearah pintu gerbang Ratu Boko, kami terhenti di sebuah papan petunjuk, yang menunjukkan arah Kaputren, dan Pendopo. Lama sekali melihat arah yang ditunjukkan oleh papan petunjuk itu. Bagaimana tidak lama, seluas mata memandang yang terlihat hanya hamparan rumput hijau, yang agak tinggi (kurang terawat), yang dulunya merupakan alun-alun. Dari tempat kami berdiri hanya terlihat sisa-sisa batuan, yang kalau melihat kembali di papan informasi itu adalah pendopo keraton. Tidak ada bentuk pendopo, hanya terlihat puing-puing saja.

Sebelum menuju tempat yang membuat penasaran (Pendopo), kami melihat-lihat dulu disekeliling Candi Pembakaran. Kalau tadi hanya naik keatas Candi Pembakaran, kali ini kami melihat disekeliling Candi Pembakaran, tepatnya di bagian belakang Candi ini. Dibelakang Candi Pembakaran, kami menemui tiga buah lubang-lubang, yang bentuk dan ukurannya sama. Saya belum tahu untuk apa lubang-lubang itu dimasanya. Dan kami juga tidak bisa mendekat, karena letaknya yang agak sulit didekati, banyak air yang mengenangi disekelilingnya. Melihat genangan air ini, ternyata terhubung dengan genangan air yang lebih besar lagi. Yang kalau kami perkirakan ini adalah sebuah kolam, dijamannya. Dikolam ini, tepat didepan kami berdiri mengambil gambar, ada batu-batuan yang tersusun rapi serupa dengan tangga menuju kedasar kolam. Untuk keterangan nama kolam ini dan apa fungsinya, kamipun belum mengetahuinya.

1358871967957026699

Kolam Di Belakang Candi Pembakaran

135887289546551843

Kondisi dibelakang Candi Pembakaran

Setelah puas melihat sekeliling Candi Pembakaran, kami bermaksud untuk melihat di seberang rerumputan yang luas tadi, Kaputren, dan Pendopo. Baru berjalan sebentar, membalikkan badan untuk pergi kesana, ternyata hujan sudah mulai turun! Meski baru gerimis, tetapi mendung gelap sudah menandakan hujan akan turun lebat. Ragu-ragu..akan kesana saja melihat Kaputren, dan Pendopo, atau turun gunung (keluar kompleks)?? Karena masih terlihat beberapa orang yang sedang menuju Kaputren, juga Pendopo. Yakin hendak kesana, tetapi orang-orang yang sudah berada di Pendopo, justru turun gunung (keluar kompleks), diikuti oleh semua orang yang sudah berada didalam kompleks Ratu Boko. Semuanya turun gunung (keluar kompleks), karena hujan sudah mulai lebat!! Melihat sekeliling tidak ada orang, ditambah lagi dua satpam yang tadinya berada di pintu gerbang Ratu Boko sudah menghilang turun, akhirnya kamipun harus dengan kecewa ikut turun. Cuaca tidak mendukung, ditambah dengan pengunjung yang juga sudah pada turun karena hujan. Maklum..didalam kompleks Ratu Boko ini tidak ada tempat berteduh, kecuali pintu gerbang, yang masih ada sedikit ruang untuk berteduh. Dan kamipun berteduh di pintu gerbang Ratu Boko. Dengan berharap hujan segera reda, dan kami akan kembali jelajah Ratu Boko sampai di Pendopo, Kaputren, dan gua-nya.

Ditunggu-tunggu, hujan tidak reda juga, malah semakin lebat, disertai petir. Ada sedikit rasa khawatir juga dengan kondisi yang seperti ini, apalagi melihat awan-awan berwarna gelap, disertai angin kencang. Tetapi hati masih lega, karena kami tak sendirian! Ditengah-tengan hujan itu, datang tiga orang turis yang entah dari mana asalnya, justru baru masuk dipintu gerbang Ratu Boko, artinya mereka baru saja datang kekompleks ini. Dan merekapun berteduh di pintu gerbang Ratu Boko. Tetapi, cuaca yang tak bersahabat ini, memaksa mereka untuk turun lagi, pun juga kami. Harus dengan berat hati turun dari Ratu Boko. Kami tidak bisa memaksakan diri untuk terus menjelajah Ratu Boko. Apalagi suasana semakin membuat tidak nyaman saja, melihat awan-awan putih ikut turun kebawah, ditambah dengan udara yang dingin mengigit!

Inilah cerita kami di Ratu Boko. Ada rasa kecewa ketika turun meninggalkannya. Kalau kawan lihat peta yang ada, penjelajahan kami baru sampai di Candi Pembakaran, dan Panorama View. Sementara Kaputren, Pendopo, tempat pemandian, belumlah kami sentuh sedikitpun. Pun dengan arca-arca dan gerabah yang ada di sekitarnya belum kami lihat. Dan kami berharap bisa mengunjunginya kembali (Situs Ratu Boko), diwaktu yang akan datang ketika berkunjung ke Yogyakarta lagi.

Kamipun menuruni anak-anak tangga, untuk menuju ketempat semula, tempat awal kami tiba. Menunggu mobil diruang tunggu, yang akan menjeput kami, untuk segera kembali ke Candi Prambanan. Hujanpun masih menyertai perjalanan kami menuju ke Candi Prambanan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 2 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Ngapain Garuda Minta Maaf ke Ahmad Dhani? …

Ifani | 11 jam lalu

Lawan Lupa Komnas HAM, Antasari Harus Dibela …

Berthy B Rahawarin | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: