Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Fera Nuraini

Lahir di Ponorogo. Doyan makan, pecinta kopi, hobi jalan-jalan dan ngobrol bareng. Lebih suka menjadi selengkapnya

Berkunjung ke Masjid Tertua di Shenzhen China

REP | 29 January 2013 | 15:27 Dibaca: 758   Komentar: 0   6

135944634484657574

Para rombongan

Minggu, 27 Januari 2013, sekitar 60 Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong melakukan perjalanan ke Shenzhen dalam acara Family Gathering Iqro Fans Club yang diadakan untuk pertama kalinya di tahun 2013 ini. Majalah Iqro ini berdiri pada tahun 2004 dan merupakan majalah Islami yang menjadi pioneer majalah-majalah Islam lainnya di Hong Kong yang semuanya diurus oleh para BMI.

Pukul 8 pagi waktu Hong Kong, BMI sudah mulai berkumpul di stasiun KCR Lowu untuk selanjutnya absensi dan antri menuju ke Imigrasi Lowu. Setelah semua melewati Imigrasi, para BMI selanjutnya menuju bus  yang sudah disediakan oleh pihak travel.

Menyusuri jalanan Shenzhen serasa seperti sedang naik bus di kawasan Jakarta. Suasananya, jalanan serta sedikit macetnya mengingatkan akan Ibu kota Indonesia, Jakarta. Bedanya, hawa di Shenzhen sedang dingin dengan matahari yang malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Pinggiran jalan yang penuh dengan pepohonan serta apartemen yang tidak begitu tinggi (masih tinggi apartemen-apartemen di Hong Kong) mengingatkan saya saat motoran di daerah Jakarta Selatan, 4 tahun yang lalu saat cuti pertama kali.

Shenzhen sendiri adalah kota perbatasan antara Hong Kong dan China yang dulunya sangat menakutkan. Lalu dibangunkan pabrik-pabrik di kota ini. Penduduk Shenzhen sekitar 10 juta jiwa dan kebanyakan adalah perempuan, kalau tidak salah 70% lebih.

Acara yang diadakan oleh Iqro dibawah naungan Dompet Dhufa sangat seru dengan kehadiran Mulyadi Yulianto atau yang lebih akrab dipanggil Kak Imung. Kak Imung adalah seorang aktivis masjid dan juga pendongeng bagi anak-anak. Mendengar dongeng yang dibawakan kak Imung, mengingatkan saya dengan guru SD saya. Namanya Pak Muclas, Beliau adalah guru agama di sekolah saya. Saat masuk ke dalam kelas, pasti kami langsung menyambut dengan kalimat “Pak, dongeng dulu Pak, dongeng dulu.” Dan dongeng para Nabi-nabi pun akan disampaikan oleh Pak Muclas  setelah melihat wajah melas kami yang merengek-rengek minta dongeng.

Berlanjut ke cerita perjalanan ke Shenzhen. Perjalanan pertama adalah mengunjungi pabrik batu permata atau disebut dengan giok. Berbagai asesoris seperti gelang, kalung, cincin, gantungan kunci diperlihatkan kepada kami. Bukannya membuat saya pengen, tapi jujur saya malah didera rasa kantuk. Akhirnya saya memilih untuk minggir, berdiri di pojok ngobrol sama teman yang lain. Perjalanan selanjutnya menuju ke pabrik pengolahan bamboo yang menghasilkan barang seperti pasta  gigi, sabun, pakaian dalam, handuk, bantal, kasur dan beberapa perlengkapan lainnya. Memang orang China super kreatif. Bamboo pun bisa mereka olah sedemikian rupa menjadi barang-barang kebutuhan rumah tangga.

Saat sedang menunggu bus yang akan membawa kami ke restaurant halal, rasa kantuk masih mendera saya dan Ani. Kantuk luar biasa yang tak tertahankan. Iseng-iseng kami menyusuri sekeliling pabrik untuk mencari kopi, berharap kami menemukan kopi tapi ternyata, rasa kecewa karena tersesat membuat kantuk kami hilang. Di Shenzhen, daerah pabrik yang kami kunjungi ini orang-orangnya tidak bisa diajak komunikasi dengan bahasa kantonis maupun Inggris, sedang untuk berbahasa China/ Mandarin kami tidak menguasai. Akhirnya kami muter-muter dan kembali menuju ke rombongan yang sudah menaiki bus. Untung tidak tersesat terlalu jauh, kalau hilang kan banyak yang nangis (halah).

Berikutnya adalah mengunjungi Window Of The World. Sayangnya kami tidak masuk ke dalam dan hanya berfoto-foto saja di luar, tapi sudah cukup membuat kami bahagia, serasa di Eropa :D

Bus datang menjelang jam 1 siang dan acara selanjutnya adalah makan dengan menu masakan halal. Restauran halal di Shenzen hanya ada 2, satunya di Shenzhen kota dan satunya di Lowu. Daerah China memang sangat jarang restaurant  yang menyediakan masakan halal. Apalagi toko Indonesia, sepertinya tidak ada. Berbeda dengan Hong Kong yang banyak kita jumpai toko atau restoran Indonesia maupun restoran Pakistan dan India yang menyediakan menu-menu halal untuk kaum muslim.

Pukul 2 lebih, setelah makan usai para  rombongan menuju ke Masjid tertua yang ada di Shenzhen. Masjid satu-satunya yang ada di kota ini. Saat memasuki masjid, rasa trenyuh dan haru tiba-tiba hinggap dan membuat saya merinding. Ya Allah, sudah berapa lama saya tidak masuk masjid? Tidak menunggu waktu lama, saya langsung mengambil tempat dan melakukan sholat tahiyyatul masjid. Air mata pun tak bisa saya bendung.

Saya sungguh rindu saat di kampong halaman. Setiap datang waktu sholat, azan berkumandang dari berbagai arah. Lalu pujian-pujian kepada Allah dan Nabinya mengiringi sebelum ditutup dengan iqomah dan dilanjutkan dengan sholat berjamaah. Di Hong Kong, hampir tak pernah mendengar suara azan berkumandang, yang bisa kami dengar meskipun hanya dari sebelah atau depan masjid. Suara azan hanya terdengan di dalam masjid saja.

Yang membuat saya trenyuh lagi adalah seorang Bapak penjaga masjid dengan putrinya yang mungil malu-malu, menyambut kami dengan ucapan “Assalamuallaikum” dengan logat arab yang sangat fasih. Melihat Bapak ini kembali memutar pikiran saya akan Bapak saya di kampong halaman. Memandang wajah Bapak ini sungguh teduh, aura kesabaran dan lembut terpancar dari kedua matanya yang sipit juga dari gayanya menyambut kami.

Kami lalu melakukan sholat Zuhur yang dijama’ Ashar berjamaah, acara selanjutnya adalah dongeng inspirasi yang diisi oleh Kak Imung setelah sebelumnya pembukaan diisi oleh Ustad Ahmad Fauzi Qosim, Genderal Manajer Dompet Dhuafa Hong Kong.

13594464001251009435

Jalanan Shenzhen yang mirip Jakarta

13594469171661997903

Pasta gigi dari bahan bamboo

1359446945701877162

Ini juga, dari bahan bamboo

13594469731078607654

Ya Allah, saya pengen ke Menara Eifel. Beri kemudahan ya Allah

1359447025107051282

Makan-makan dengan menu halal

13594470551167893954

Kak Imung sedang beraksi

1359447073378679028

Berfoto bersama setelah acara usai

13594470971331637988

Bapak yang ramah dan baik hati dengan putrinya yang menggemaskan

13594494101696502893

Bersama Ani dan kak Imung

13594471971567654496

Narsis di depan Window Of The World with Ani

Perjalanan yang sangat menarik dan berkesan untuk menjalin keakraban sesama BMI di tanah rantau. Beruntung kami BMI di Hong Kong diberi hak libur setiap hari Minggu dan libur nasional sehingga kami bisa menggunakan waktu libur untuk kegiatan yang positif apalagi yang bernilai ibadah. Meskipun masih ada yang tidak mendapatkan hak libur. Berharap BMI di negara lain juga memiliki hak libur dan kondisi yang lebih baik. Semoga

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: