Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Arline Safitri

Read. Food. View. Baca. Makanan. Pemandangan.

Mengenang Masa Lalu di Pulau Dewata Bali

OPINI | 11 February 2013 | 09:06 Dibaca: 513   Komentar: 0   0

13605481111584745521

Pura Tanah Lot (sumber: http://www.idbagus.com)

Masa lalu memang indah untuk dikenang. Ada hal yang mungkin selalu setia dalam ingatan meski telah berpuluh tahun lamanya berlalu. Apalagi kenangan bersama keluarga mungkin hal yang paling berkesan dan susah untuk dilupakan.

Saya selalu teringat cerita ibu saya mengenai perjalanannya bersama almarhum bapak ke Bali. Saat itu ibu saya sedang hamil kurang lebih 8 bulan. Anak kedua yang berada dalam kandungan ibu saat itu adalah saya. Ibu sudah membatalkan undangan ke Bali tersebut karena khawatir dengan kondisi kehamilannya dan janin dalam kandungannya. Namun, hal tersebut tidak bisa dibatalkan karena saat itu ibu saya mempunyai tanggung jawab sebagai ketua Dharma Wanita yang harus bertanggung jawab penuh mengenai kegiatan di kantor maupun di lapangan. Akhirnya ibu pun ikut dalam perjalanan ke Bali meski berbadan dua dan kandungan yang hampir menginjak sembilan bulan. Saat itu ditemani almarhum bapak yang merasa khawatir dengan kondisi kandungan ibu. Berangkatlah ibu beserta almarhum bapak dan rombongan ibu-ibu Dharma Wanita dari kantor ke Bali.

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya seorang ibu yang sedang mengandung harus berjalan kesana kemari. Mendengar cerita ibu bisa dibayangkan kerepotan yang dialaminya saat itu. Apalagi saat berkunjung ke Sangeh yang berpenghuni puluhan bahkan ratusan kera. Disana mulai agak merepotkan kata ibu. Disamping harus menghindari kepungan usil sang kera, ibu pun merasa kelelahan berjalan kaki kesana kemari dengan kondisi berbadan dua.

Di sanalah peran almarhum bapak yang mencoba membantu ibu menjalankan tugasnya. Almarhum bapak yang banyak kesana kemari menggantikan ibu dan ibu hanya banyak diam di tempat. Begitu penuh perhatiannya almarhum bapak pada ibu saat itu. Perhatian almarhum bapak yang penuh pada ibu terasa begitu romantis. Mungkin juga terbawa suasana pemandangan alam Bali yang romantis. Almarhum bapak dan ibu menjadi pusat perhatian rombongan ibu-ibu Dharma Wanita. Mereka berdua seperti layaknya pasangan yang baru menikah dan terlihat sedang pergi bulan madu ke Bali. Almarhum bapak dan ibu hanya tersenyum saja dikatakan seperti itu. Memang betul ibu merasakan saat itu almarhum bapak memang sangat romantis.

Waktu telah berlalu. Saya yang berada dalam kandungan ibu puluhan tahun yang lalu sudah beranjak dewasa. Cerita ibu mengenai kenangan indah bersama almarhum bapak selalu di ceritakan berulang kali pada setiap orang yang setia mendengarkannya. Mungkin juga itu sebuah kerinduannya pada kenangan indah di masa lalu bersama almarhum bapak. Rasanya ingin kembali mengajak ibu ke pulau dewata Bali. Agar ibu bisa menyapa kembali kenangan indah bersama almarhum bapak di pulau dewata ini. Mengenang kembali saat-saat romantis bersama.

13605492451240278171

Menikmati Suasana Malam di Bali (dok. pribadi)

13605497461714217918

Berkunjung ke Plaza Wisnu (dok. pribadi)

Siapa yang tidak jatuh hati pada keindahan alam pulau dewata ini? Birunya laut, pasir putih, kebudayaannya, keseniannya, pesona alamnya membuat jatuh hati pada pandangan pertama. Terakhir kali ke Bali bersama teteh Enung (teman kakak perempuan saya) pada tahun 2011. Berdua backpacker ke Bali selama beberapa hari. Mengunjungi Pulau Penyu, Uluwatu, GWK, Pantai Dreamland, Pantai Jimbaran, Nusa Dua, Pantai Kuta, Pantai Legian dan menelusuri Pasar Seni. Kali ini rasanya ingin mengajak ibu saya kembali ke Bali, mengenang masa lalu dan kenangan indah ibu bersama almarhum bapak. Moga saja kali ini terpilih untuk melakukan destinasi impian yang bertema “Journey Love” bersama Garuda Indonesia sebagai bentuk kasih sayang pada ibu. I love you, Mom.. :)

13605499311937667407

Menyebrang ke Pulau Penyu (dok. pribadi)

13605500772057172549

Bersama Teh Enung ke Pulau Penyu (dok. pribadi)

13605505011941261179

Salah satu hewan langka di Pulau Penyu (dok. pribadi)

13605506501453960148

Teh Enung Berada diantara kumpulan penyu (dok. pribadi)


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 7 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 7 jam lalu

Wisata Magelang – Menuju Kejayaan …

Sigit Mardiyanto | 7 jam lalu

Gejolak Pikiran setelah Berkunjung ke …

Mad Solihin | 7 jam lalu

Buku: antara Hidup dan Mati …

Onenation | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: