Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nuke Patrianagara

Berusaha untuk selalu berpikiran positip ehhh positif

Surabaya-Semarang-Jogja-Solo-Surabaya 2009

REP | 16 February 2013 | 23:03 Dibaca: 429   Komentar: 0   0

Jumat, 27 November 2009

Segelas tehhhhhhhhh hangatttttttttttttttt didambakan di sore menjelang malam itu, setelah jalan-jalan keliling Surabaya bersama Jessie Fam mencari sesuatu yang memang dicari dan yang memang kebetulan ketemu , keep contact sama Landy fam antara mau ketemu dan tidak, karena hari itu ada korban disorientasi akibat kehilangan dot kesayangan.

Semuanya jadi jelas kembali setelah dotnya kembali diantar Landy Fam ke Restoran siap saji AW depan Polsek Genteng (setelah kita berkeliling karena Pak Kum yang jadi disorientasi, Jl. Wijaya kusuma jadi Jl. Kusuma Bangsa) lalu ngobrol ngalor ngidul dan Pak Kum mengusulkan atau mengajak atau memutuskan ahh apalah namanya pokoknya trip berikutnya adalah Tour De Jawa Tengah dan De Jogjakarta sudah diputuskan, siap dieksekusi dan diarungi bulan depan, Mbak Ade semangat buanget. Belum ke Solo tapi Bu Karla sangu serabi Solo yang kita santap bersama es krim dan root beer sebagai minumnya.

Form cuti disiapkan dan di GPK untuk diapprove. Sampai ketemu bulan depan dengan trip yang pasti tidak terlupakan.

“ Sebulan Kemudian……………………………”

Minggu, 27 Desember 2009

Selepas shubuh diriku akan dijemput, begitu isi SMS dari bapak kepala suku tadi malam.

Landy hadir didepan kos tidak jauh meleset dari janji di SMS.Dan patut menjadi catatan beberapa kali jalan ama Landy selalu diiringi hujan dan kepercayaanku tetap teguh yaitu berkah akan selalu melindungi kita semua. Keluar dari portal kosan ternyata Frodo Fam sudah menunggu untuk gabung tour ini menyusul rombongan Badag nanti. Bu Karla tanya Oktin kok nggak nongol, oh dia minta dijemput di Tuban sekalian menyediakan sarapan untuk kita-kita, pokoknya dia harus memaksa tempat makan untuk buka lebih dini khusus untuk kita.

Sampai Tuban kurang lebih pukul 08.30 WIB, penyakit Oktin ternyata nggak sembuh – sembuhselain PeLor (Nempel Molor ) yaitu mandinya kayak putri raja, sampai rombongan Landy dan Frodo menunggu dengan sabar didepan Pengadilan Agama, untung hari minggu kalau hari biasa penuh dengan lalu lalang orang urus perceraian, hak waris dll.

Oktin nongol di gerbang kosnya ok lets go ke…..

Warung makan Jangkar Tuban

Tempat makan ini memang sudah dipersiapkan jauh hari, kalau rombongan trip edan lewat Tuban, Oktin akan mengajak kita makan di Warung Makan Jangkar ini dengan menu utama Belut atau Warung Makan Rajungan Kaplok Sandal ini lain kali kalau ke Tuban lagi.

13610027401471734196

Dengan menu nasi putih atau nasi jagung plus belutnya yang agak jumbo dengan sambalnya yang kata Arya “orang Tuban Gila” karena pedasnya nendang habisssssssssssssssss tapi muantap.

1361002809762090420

Sumber: Nasi Jagung

Tuban mulai ditinggalkan, komposisi penghuni Landy dan Frodo berubah, Arya pindah ke mobil kokonya, kamipun menuju arah barat melangkah pasti meninggalkan Jawa Timur untuk menembus Jawa Tengah dimulai dengan kabupaten Rembang, bangunan khas Jawa Tengan mewarnai perjalanan kami, atap joglo serta ukiran di atas genteng yang jadi penghias rumah, melewati Lasem yang terkenal dengan batiknya dan melihat bangunan perpustakaan yang unik. Matahari semakin condong menjangkau sore, Landy dan Frodo singgah di:

Masjid Demak

Kami meluruskan kaki, membasuh muka sembari menengadahkan doa menghadap sang Pencipta untuk isi daftar hadir di sore itu, tidak lupa narsis didepan Mesjid yang kaya akan cerita penyebaran agama islam di Jawa Tengah. Pengunjung Mesjid lumayan agak membludak maklum selain libur anak sekolah juga banyak penziarah yang sengaja datang.

13610028971891581871

Sumber: Narsis di depan Masjid Demak

“Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan oleh wali sembilan atau Wali Songo.Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai histories seni bangunan arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, kharismatik, mempesona dan berwibawa” (byWikimedia)

Perut mulai mengajak ngobrol minta diisi tapi dilihat dari rencana perjalanan makan siang di sate kambing depan:

Gereja Blenduk

Gereja ini merupakan ikon Semarang mungkin hampir sama halnya dengan Pintu Air Wonokromo di Surabaya atau Gedung Sate di Bandung.

13610029791254134471

Sumber: Gereja Blenduk

“Gereja Blenduk adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal dikota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 33. kubahnya besar, dilapisi perunggu dan didalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur didalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1984 oleh W. Westmass dan H.P.A de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini masih dipergunakan setiap hari Minggu”(byWikimedia)

Sampai didepan tempat makan yang dituju ternyata tutup alias tidak buka saudara-saudara, jadi isi perut dengan foto-foto didepan gereja sambil mencari pilihan yang tepat untuk mengisi perut.Paling semangat foto-foto didepan gereja adalah Oktin, karena dari bulan lalu di pingin foto didepan gereja sambil mengacungkan 2 jari ( penyakit gila no sekiannnnnnnnnnn).

Daerah sekitar Gereja Blenduk dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua yang asyik untuk dinikmati bagaikan pindah keabad belakang, bangunan lama yang cantik dengan ornamen-ornamen yang buat ngiler untuk difoto aja dech daripada aku sebut diembat, diembat idenya nggak apa-apa kan?.

Perut yang meronta diisi diputuskan untuk diisi ditempat makan yang masuk ketujuan wisata kuliner Semarang yaitu:

Babat Gongso dan Nasi Goreng Babat

Sate tidak ada untuk disantap pilihan jatuh pada Babat Gongso dan Nasi Goreng Babat, untuk pencinta jeroan ini mungkin tempatnya dengan mengesampingkan kolestorel dan penyakit usia lainnya, es jeruk dan air jeruk panas sebagai pendamping makanan utama boleh diacungi jempol tapi sayang ketika minta tambah lagi, jeruknya habis.

1361003070927902872

Sumber: Nasi goreng plus babat gongso

Rombongan kecil meneruskan jejak langkah yang masih harus ditempuh dengan menyisihkan waktu mampir di:

Loenpia Mbak Lien

13610031451541789473

Sumber: Loenpia Mbak Lien

Loenpia makanan khas Semarang yang menjadi oleh-oleh para pelancong ketika menginjakkan kakinya di kota ini, pembeli memenuhi kedai Loenpia ini, salah satu ciri bahawa kedai ini memang TOP. Dan kamipun dibuat bersabar untuk mengantri meramu serta digoreng plus pelayannya yang kurang sedikit cekatan menjadikan beberapa pesanan orang sedikit kalang kabut.

13610032241724276780

Sumber: Proses membuat loenpia Mbak Lien

Kita sempat kehilangan kepala suku setelah mengantongi Loenpia, kita tunggu di mobil tidak berapa lama, kepala suku terlihat keluar dari Mall sebrang Landy parkir, kemanakah gerangan ?????? TP TP kali

Jalan masih panjang jangan ucap janji bahwa kita akan sampai tujuan dengan kedipan mata, hujan yang mulai mengguyur dengan lebatnya menemani perjalanan kami, dari kota Semarang kami menuju selatan arah Srondol, Ungaran, Klepu, Bawen, Ambarawa, Secang, Parakan, Kledung, Kretek. Sepanjang perjalanan arah sebaliknya lumayan padat dipenuhi oleh kendaraan luar kota Semarang, yang mungkin kayak kami-kami ini untuk melancong, sebenarnya dilihat dari rencana ada acara singgah di museum kereta api Ambarawa tapi waktu yang sangat tidak memungkinkan, waktu yang merambat malam, kami hanya bisa melihat lokomotif didepan arah jalan masuk museum dan jalan kereta yang dipergunakan untuk wisata kereta dengan kereta tua diatas jalan raya yang kita lewati, setiap papan petunjuk jalan mulai menunjukkan arah Wonosobo dan sampailah di:

Hotel Kresna Wonosobo

“Hotel Kresna adalah hotel bersejarah yang dulu bernama Merdeka, dan sebelumnya bernama Dieng” (By milis Jalansutra)

13610033311746031784

Sumber: Hotel Kreshna

Landy dan Frodo tiba duluan dibanding  Badag, cek in lalu mapping tempat, antri mandi, terdengar samar-samar suara Mbak Ade dari kamar, ehmm Badag sudah merapat dan siap bergabung berpetualang, kubuka jendela kamar dan ternyata benar Mbak Ade sama Pak GH sudah bersama bapak kepala suku.

Buka panti pijat judulnya, Pak Kum membawa alat pijat electric buat punggung dan leher, jadi antrilah kita untuk dipijat. Sembari kumpul dikamar ada Pak Juki, Badag team plus Jasmine (keponakan Pak GH), sambil berceloteh tentang perjalanan kita masing-masing lalu satu persatu keluar kamar untuk istirahat.

Nina bobo ohhh nina bobo kalau tidak bobo digigit keboooooo Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzhmmmmmmzzzzwrrrrrrr

Senin, 28 Desember 2009

Selamat Pagi dunia mari kita sambut hari dengan semangat menjelajah negeri ini yang penuh dengan tempat berbahaya kalau tidak dikunjungi karena keelokannya.

Sarapan pagi menjelang siang, cuaca yang dingin mendinginkan suasana panas dan penatnya Surabaya. Kita bergiliran sarapan dan mandi karena ada putra putri raja yang mandinya pake luluran dan cari wangsit di kamar mandi . Ruang makan dengan gaya arsitektur lama alias jaman baheula begitu pula dengan ruangan-ruangan di depan serta lorong-lorong dan perlatan atau hiasan –hiasan dinding yang berupa alat-alat makan jaman kuno, menandakan hotel ini adalah peninggalan masa lalu, surga para penikmat seni kuno dengan tegel-tegel bermotif, jadi kangen bongkar gudang kakek nenek.

Di ruang ini kita berkenalan sama Uni Non kakaknya Pak GH, ibunya Jasmine, yang menyebutkan tim Bandung sableng ( ReMiDeSo ituuuu), berdasar cerita Pak GH pastinya tentang kelakuan para pelancong itu sewaktu TRIP EDAN maret 2009 lalu.

Selesai pemanasan mulut di ruang makan kita pindah ke ruang depan, kita berkenalan lagi sama Eyang, ibunya Pak GH dan Kang Cecep kakak Ipar Pak GH yang katanya inohong ti Bojongrangkong eh lepat ti Bayongbong sanes kitu Kang?.Gurita Landy akan semakin meluas dari trip ke trip melahirkan persaudaraan baru dengan berbagai pertanyaan pastinya, ketemu dimana? Kenal dimana? Insya Alloh cara silahturahmi ini akan memperpanjang umur, memperbanyak rejeki serta menyehatkan jiwa dan raga Amienn.

Siap-siap menjadi si Bolang ( Bocah petualang yang sudah bukan bocah lagi) dengan memulai foto keluarga di depan hotel Kresna, para petualang duduk manis dikendaraan, para jagoan check sound di masing-masing handy talky, tancappppppppp menuju:

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu)

136100344589231076

Sumber: Gapura Selamat Datang di Dieng Plateu

“Nama Dieng berasal dari kata: diyang atau di-hyang yang artinya tempat Hyang/Dewa. Hyang sendiri artinya arwah leluhur. Sumber lain mengatakan nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Sunda Kuna “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dengan demikian berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang 600 daerah itu berasa dalam pengaruh politik Kerjaan Galuh. Dataran tinggi dieng merupakan dataran yang terbentuk oleh kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah jelas terlihat dari dataran yang terletak ditengah dikelilingi oleh bukit-bukit. Sebelum terjadi dataran , area ini merupakan danau besar yang kini tinggal bekas-bekasnya berupa telaga. Bekas-bekas kawah pada saat ini kadang masih menampakkan aktivitas vulkanik seperti kawah Sikidang yang menghasilkan berupa gas/uap panas bumi yang bisa terlihat dari pipa-pipa yang besar sebagi media untuk mengalirkannya”(sumber : wikimedia & file BatMus)

Jalan yang kita lewati untuk menuju tempat - tempat yang mau dikunjungi menawarkan keindahan sisi asli kehidupan orang Indonesia kebanyakan yaitu kehidupanpara petani dengan tanah pertaniannya, yang hasil utamanya sayur mayur seperti kentang, tomat, kubis, rawit dsb.

Jalan yang menanjak dan berkelok lumayan buat ketar ketir dan sempat Landy punya 2 pengemudi, kerjasama yang baik antara Pak Kum sama Bu Karla menghasilkan Arya eh salah saling bahu membahu antara pereli dan navigatornya agar Landy tidak mandek ditengah jalan seperti yang pernah dialami waktu ke Bromo bersama anak-anak sableng itu, kami sebagai penumpang cuma komat-kamitberdoa demi kelancaran perjalanan ini dan segera mendapat jodoh hehehe www.maksa.com. Kamipun dibuat deg-degan kembali kala melewati jembatan kayu yang hanya bisa dilewati satu arah, yang sampingnya jurang, dengan bunyi kretek kretek gruduk gruduk terlindas ban mobil, napas ditahan lalu tunggu beberapa lama, sampailah disebrang jembatan keluarkan napas tapi jangan dari bawah nanti ada yang semaput, begitupun ketika perjalanan sebaliknya.

Perkampungan-perkampungan yang terlihat dari jalan – jalan yang kita lewati, menempati lembah –lembah yang bentuknya memang tidak seragam seperti kampung-kampung daerah perkebunan, kalau kata Pa Juki seperti sebaran sampah. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah:

Komplek Candi Hindu

13610035371920630804

Sumber: Komplek Candi Hindu

“Secara historis percandian di Dieng Plateau dapat dikategorikan sebagai candi tertua di Jawa Dwipa ( Pulau Jawa), selain percandian di Gedong Songo. Tarikh relative dari kedua percandian ini adalah abad ke-7 Masehi, yang berarti 1 abad sebelum candi-candi di sekitar Prambanan. Gaya seni/langgam seni percandian Dieng termasuk dalam apa yang disebut dengan langgam percandian Jawa Tengahan. Terdapat beberapa komplek candi didaerah ini, komplek candi Dieng dibangun pada masa agama Hindu, dengan peninggalan Arca Dewa Siwa, Wisnu, Agastya, Ganesha dan lain-lainnya bercirikan Agama hindu. Candi-candi yang berada di dataran tinggi Dieng diberi nama yang berkaitan dengancerita atau tokoh-tokoh wayang purwa dalam lakon Mahabarata misalnya candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Dwarawati, candi Bima, candi Semar, Candi Sembadra, candi Srikandi dan candi Puntadewa. Nama candi tersebut tidak ada kaitannya dengan fungsi bangunan dan diperkirakan nama candi diberikan setelah bangunan candi tersebut ditinggalkan atau tidak dipergunakanlagi. Tokoh yang membangun candi tersebut belum bisa dipastikan, dikarenaklan informasi yang terdapat di 12 prasati tidak ada satupun yan menyebutkan siapa tokoh yang membangun.” (by Wikimedia)

Udara yang sejuk dengan sedikit mendung, semilir angin pegunungan menyapa kami pagi menjelang siang itu. Foto-foto adalah hal yang wajib dan jangan sampai terlewat plus Arya yang jeli dengan susunan batu candi yang tidak matching antara kiri dan kanan, serta atas dan bawah yang menandakan kurang jelinya juga para pemugar candi. Tidak ketinggalan Eyang menerangkan tokoh-tokoh pewayangan yang merupakan nama-nama candi dikawasan itu, karena hobi Eyang membaca cerita wayang.

Puas keliling di candi kita menuju tujuan berikutnya yaitu:

Kawah Sikidang

13610036271508523046

Sumber: Berpose di Kawah Sikidang

“kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas”(by wikimedia)

Bau belerang yang menyengat, menusuk hidung, menghujam dada menjadikan kami jadi Zorro mendadak dengan menggunakan syal menutup hidung dan hanya menyisakan lubang disekitar mata.

Air Kawah yang meletup-letup kayak air yang mendidih di kuali yang sangat besar, ngeri lihatnya. Sampai kita membahas musimnya bunuh diri dari lantai atas sebuah mall, mendingan bunuh diri di kawah Sikidang biar langsung direbus daripada cari sensasi bunuh diri di mall.

Setelah menikmati bau belerang yang sempat membuat Bu Karla mual, lalu kita kembali ke parkiran lalu ngobrol – ngobrol, diselingi visit kamar mandi lalu mengganjal perut makan siang dengan Pop Mie, kue pisang dan rambutan bekalnya Eyang buat Pak GH yang dari pohon sendiri, istilahnya orang betawi kate “ ini mateng dari puun ndiri”, Popmie tandas, rambutan nyemplung ke perut, siap bergerak ke:

Telaga Warna

13610037782118406272

Sumber: Melayang di atas Telaga Warna

“Telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih dan lembayung” (by wikimedia)

Sebelum menikmati keindahan telaga warna, harus ternoda oleh kelakuan kroco pejabat yang tidak jelas, dengan pengawalan polisi ada satu keluarga, tidak jelas pejabat apa, yang jelas pejabat RT ( Rumah Tangga), masuk tanpa bayar padahal harga tiket cuma 2000 perak. Sebenarnya kami tidak kalah pamor, aku bawa keluarga pejabat juga, keluarga gubernur Jatim (P’ de Karwo gadungan) sama Keluarga Ambasador.Aku sempat teriak didepan petugas karcis, pada melongo dan keluarga pejabat RT tidak terlihat lagi ketika sudah didalam, sembunyi di hutan kali daripada aku kasih KulTuM.

Adanya wahana flying fox di pinggir telaga warna membuat ngiler untuk dijajal, setelah mencoba yang 100m di Trawas kali ini mencoba yang lebih pendek yaitu 70m tapi dengan suasana yang ditawarkan berbeda, murah sih cuma 10 ribu satu kali terjun, ehm dengan gaya Superman ngejar maling jemuran aku coba, lumayan bisa teriak melepaskan penat, pinginnya berkali – kali tapi naik keatas pohonnya tidak pake lift jadi cape, yach sudah lah 2 kali cukup untuk kali ini. Oktinpun menjajalnya untuk menuntaskan dendam tidak bisa flyng fox sewaktu di Trawas.

Waktunya makan siang dihari itu, makan ditempat wisata tidak memungkinkan dan teringatlah kita akan maksud dan tujuan wisata kuliner Wonosobo yaitu:

Restoran Mie Ongklok

1361003848386765804

Sumber: Mie Ongklok

“ Mie Ongklok sejenis mie rebus seperti yang sering kita temui di Jogja, kuahnya nyemek – nyemek , pekat oleh bumbu serta air kaldu, taburan suwiran ayam dan menurut paririmbon biasa dimakan dengan sate sapi”(by milis Jalansutra)

Mie Ongklok merupakan jawaban dari pergulatan batin Pak Kum dan Bu Karla tadi malam tentang makanan khas Wonosobo, pertanyaan tidak pernah terlontar secara jelas sebenarnya, Pak Kum ngeyel soto khasnya, Bu Karla bilang bukan soto tapi apa??? Jawaban soal kebingungan tersebut terjawab sudah ketika tadi pagi sewaktu menuju ke Dieng ada restoran di sebelah kanan jalan dengan judul “Mie Ongklok”, nah itu maksudnya!! kata Pak Kum, kayak anak-anak main tak umpet menemukan temannya yang sedang sembunyi atau ketika Pak Kum menemukan gula merah es kelapa muda di RM Mang Engking, kami yang di Landy senang, riang, kami gembira hore…hore…jawabannya ketemu, sebenarnya dari kemarin aku juga mikir apa makanan khas wonosobo selain olahan jamur dan dendeng sapi, soalnya kamus Jalan Sutra Wonosobo lupa simpan dimana.

Makan siang menjelang sore dengan rata-rata kita semua memesan mie Ongklok special kalau kata Mbak Ade namanya Mie Oplok, untung aja bukan mie kaplok, pokoknya mie ogklok ini agak susah pelapalannya diantara kita beberapa kali salah sebut. Mie ongklok yang kita pesan muncul dibawa pelayannya yang ternyata porsinya cukup untuk menyapa perut tidak sampai menendang apalagi buat team kuliner yang makannya tidak cukup sebakul, jadi kita pada pesan yang lainnya juga termasuk nasi unik yaitu nasi megono yang kayak nasi tutug kalinya dengan dibentuk kerucut, ditambah ada kacang juga urap sayuran, selain itu ada juga yang memesan sate sapi, sate ayam, ca kangkung, beef steak. Restoran ini masih baru tapi untuk makanannya cukup bisa dinikmati dan disebarkan ke warga dunia wisata kuliner lainnya. Setelah ISHOMA ( Istirahat Sholat Makan) diselingi ngobrol-ngobrol sambil menunggu antrian sholat, dan kami ditraktir ama Eyang, makasih banyak Eyang.

Mbak Oktin! terdengar teriakan seseorang memanggil Oktin, alahhhhh terlalu sempit dunia ini, Oktin ketemu adik angkatannya ketika kuliah dulu, orangnya lansung digandeng kebawah karena akan lahir pertanyaan jalan-jalan ama siapa, ketemu dimana? Kok bisa? Dll dll, pertanyaan yang akan terus terulang sampai silsilah itu jadi dan difotokopi lalu dibagikan ke setiap orang yang bertanya.

Eyang mau beli oleh – oleh khas Wonosobo jadi tujuan berikutnya adalah:

Pusat oleh – oleh Wonosobo

Di toko ini kita temukan beberapa oleh-oleh khas Wonosobo seperti carica (manisan dari pepaya), keripik jamur, teh Tambi, kacang koro serta oleh-oleh khas Jawa Tengah Jogja lainnya.

Tidak lupa pesanan favoritenya Kang Cecep yaitu jamu (mitos) ‘Purwaceng’ atau menurut penjelasan ramuan itu adalah ‘gingseng Wonosobo’ yang berkhasiat sebagai jamu meningkatkan daya tahan tubuh atau sehat laik-laki, katanya!!. Nanti akan aku tanyakan ke Kang Cecep seperti apa reaksinya??!! Atau sekedar oleh-oleh untuk mengerjakan teman sejawat???.

Ditoko itu dijual pula sapu lidi yang gagangnya panjangdengan gagang berwarna merah, akupanggil Bu Karla karena sejak dari Tuban kemarin mau beli sapu gagang panjang untuk membersihkan sarang laba-laba di pojok-pojok dinding atas rumah, ternyata bukan sapu lidi yang dicari tapi sapu ijuk, ehh malah Mbak Ade yang akhirnya beli, mau terbang bagai Harry Potter yach Mbak?. Alasan terkuat beli sapu itu adalah karena gagangnya merah, warna kesukaannya Badag Fam coba ada warna orange aku beli juga, lumayan buat nambah koleksi.

Oleh-oleh di packing dalam dus-dus lalu masuk mobil, semua siap di kendaraannya masing-masing, Wonosobo siap untuk dikenang dan tidak bosan untuk kembali. Landy, Badag, Frodo dan Kabayan melaju menuju:

JOGJAKARTA kami datanggggg

Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu

Tiap sudut menyapaku bersahabat (by Kla Project)

Malam semakin larut laju mobil rombongan yang didera lelah ( maksudnya para jagoan dibelakang stir) mulai merambat masuk Jogjakarta dimulai dengan kabupaten Sleman, lalu jalan Magelang, masuk Jl. Mangkubumi terus menuju selatan sampailah kami di Hotel BIFA di Jl. Perintis Kemerdekaan dipinggir kota Jogja hampir merapat dengan daerah kotagede, rencana disini 2 malam untuk menikmati kota Jogja sekitarnya, masuk ke kamar masing-masing, beres-beres hampir tengah malam kami ( Pak Kum, Bu Karla, Arya, Pak GH, Mbak Ade, Oktin dan Aku) dengan Landy jalan-jalan menuju kota Jogja dengan terlebih dahulu salah menerjemahkan geografi Oktin ( nilai geografinya anjlok tapi daya jelajah tinggi pretttt).Keliling-keliling jalan ring road yang titiknya sama, masih mending keliling dunia ini keliling pesisir kota Jogja walaupun kita sempat lihat ada Landy yang sedang dielus pemiliknya.

Tibalah waktunya menikmati pulau kapuk.

Selasa, 29 Desember 2009

Hari ini jadwalnya wisata candi dan keraton, ditengah-temgah kami sarapan tiba- tiba Mbak Non ngajak nonton Sendratari Ramayana di Prambanan nanti malam.Hampir 3 tahun di Jogja sewaktu kuliah dulu, Prambanan adalah Candi yang sering dilihat dan dilewati tapi tidak pernah nonton pertujukkan ini, yang terpatri di otakku pertunjukkan Sendratari Ramayana adalah diluar ruangan, dengan menikmati Candi Prambanan di waktu malam pasti akan menyuguhkan sesuatu yang lain dibanding nonton didalam ruangan, karena ada waktunya untuk diluar ruangan ( Maret – Oktober) dan didalam ruangan ( Oktober – Februari), berdasarkan musim daerah tropis, kalau musim hujan didalam dan kalau musim kemarau diluar, akhirnya kita semua ikut nonton kecuali Frodo fam karena ada Mei Mei itupun setelah Mbak Non bolak-balik olahraga naik tangga hotel untuk memastikan tempat duduk mana yang akan kami tempati, terbagilah 2 group, Eyang dan Jasmine di VIP, sisa rombongan tagonian dari Tasikmalaya di kursi tambahan karena karcisnya habis untuk festival eh kelas biasa.

Setelah sarapan Bapak Kepala Suku memutuskan untuk ke Prambanan ambil tiket pertunjukkan lalu ke Borobudur begitu rencananya, melajulah kami ke:

Candi Prambanan

13610039481933822476

Sumber: Candi Prambanan

“Candi Prambanan adalah candi terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m. kompleks candi ini teridir dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.

Candi Rara Jongrang atau Lara Jongrang yang terletak di di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.”(by Wikimedia)

Pengunjung candi Prambanan lumayan penuh, banyaknya anak – anak berseragam sekolah karena memang musim liburan semester seperti halnya Arya dan Jasmine. Cuaca yang panasnya sampai ubun-ubun karena kami disitu hampir tengah hari sekitar pukul 11.00 WIB. Ada tambahan live music buat para pengunjung, lumayanlah ada hiburan, akupun minta lagu “Jogjakarta”nya Kla Project, dan langsung dimainkan sewaktu minta lagu lawas lainnya, bandnya belum belajar, takut salah katanya.

Candi utama di kompleks candi Prambanan belum bisa di dekati karena masih dalam tahap renovasi akibat gempa Jogja beberapa waktu lalu, tidak bisa lihat patung Roro Jongrang, kami cukup menikmati candi sekitar plus main-main ditanah lapang, Mbak Non sama Mbak Ade mempraktekan Yoganya ama Jasmine juga, P’ GH break dance apalah itu namanya, coba bawa bola kami!, main bolalah kami. Masa kecil terlalu bahagia jadi ingin selalu mengulanginya.

Setelah bermain – main dilapangan kita menuju lapangan parkir lalu menuju kantor pengelola Candi Prambanan untuk ambil tiket pertunjukkan Sendratari Ramayana nanti malam, dengan menemu pak Widodo, ‘ Widodo elok bagai lukisan oh sayang’ begitu bunyi lagu Widuri yang dinyanyikan Bob Tutupoly.

MakSi….MakSi….waktunya makan siang parkirlah kami di:

Ayam Kalasan

Makan disini terlalu banyak Kalasan eh alasan yang tidak begitu mengenakkan padahal ini restoran lama dan makanannya lumayan nyaman dilidah.Hampir terjadi perang dunia antara para penikmat eh team kelaparan sama penyaji makanan.

Karena waktu yang tidak memungkinkan serta sore yang merambat tanpa terasa, Candi Borobudur di coret hari ini, kami menuju Malioboro untuk menunggu waktu pertunjukkan Sendaratari Ramayana malam nanti, kami parkir dihalaman:

Benteng Vredeburg

13610040212096826425

Sumber: Di Balik Terali Benteng Vredeburg

“Benteng Vredeburg Jogjakarta berdiri terkait erat dengan lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, yang pada hakekatnya perjanjian tersebut adalah perwujudan usaha VOC untuk memecah belah Kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.Segera setelah Kerajaan Mataram terbagi dua, Kesultan Yogyakarta segera membangun kraton, melihat kemajuan sangat pesat akan kraton yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, sehingga pihak Belanda mengusulkan membangun sebuah benteng didekat kraton. Pembangunan benteng dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton padahal ada maksud tertentu yaitu untuk memudahkan mengontrol segala perkembangan yang terjadi dalam kraton. Letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya menghadap jalan utama menuju kraton menjadi indikasi bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blockade. Dapat dikatakan bahwa berdirinya benteng tersebut adalah berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu sultan memalingkan muka memusuhi Belanda.

Benteng dibangun tahun 1767 selesai tahun 1787 dibawah pengawasan Ir. Frans Haak ahli bangunan dari Belanda.Sebelum bernama benteng ‘Vredeburg” adalah bernama benteng “Rustenburg” yang berarti benteng peristirahatan. Nama ini berganti ketika terjadi gempa bumi dahsyat tahun 1867 yang merusak beberapa bangunan utama di Yogyakarta termasuk benteng, setelah benteng selesai di bangun kembali berubah nama jadi benteng ‘Vredeburg’ yang berarti benteng Perdamaian’, nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan kesultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu”.(by Wikimedia)

Berkunjung kami ke benteng Vredeburg tidak tercantum di tujuan kunjungan, kami sekedar cari parkir plus mau cari mushola, lalu ke Mirota Batik, sama jalan-jalan disekitar Malioboro, menunggu waktu untuk kembali ke Prambanan.

Waktu kunjungan ke benteng Vredeburg sudah tutup, pintu gerbang yang seperti pintu penjara sudah tertutup rapat tapi aku lihat Pak Kum didalam benteng, kami masuk pelan-pelan kayak maling, dengan catatan tutup kembali gerbangnya, begitu masuk ke dalam kita dapat ceramah dari satpam penjaga benteng katanya kalau orang Belanda pada nurut kalau sudah tutup tidak berani masuk, maksudnya apa coba? Ngomong gitu!, apa karena kita GPK. Mbak Arni sampai jawab “ ya iya Belanda nurut karena yang buat benteng mereka”, jawaban yang bagosssssssssssss, kena tuch satpam, padahal didalam benteng itu ada pameran fotografi anak-anak UGM yang berjudul “Urban Attack”, yang mana pengunjung boleh masuk benteng dengan catatan ke pameran, kamipun ke pameran, lebih menarik lihat pameran daripada lihat benteng jadinya. Sudah begitu satpamnya masih ngomel, katanya alasan mau ke Mushola tapi tidak tahu orang itu kemana hanya sekedar alasan masuk benteng, aku jawab” orang ke Mushola itu mau mabok Pak”.Sakit jiwa no berapa tuch satpam.

Puas berkeliling pameran dan futu – futu didaerah yang masih boleh diinjak pada jam itu, kita keluar area dalam benteng.Keliling di area luar benteng sambil lihat stand pameran produk-produk makanan tradisional, lalu lihat pertunjukkan band di monumentpojok benteng, untuk mengisi perut disore yang gerimis kami ( Landy Fam, Oktin dan aku) cangkruk alias nongkrong di:

Soto Solo + Jahe kencur

Tempat makan ini adalah salah satu stand pameran yang ada diluar area benteng, dengan tempat makanannya terbuat dari gerabah menarik untuk dicoba, pilihan jatuh pada soto ayam dan minumannya jahe kencur, dan yang baru bagiku dan Bu Karla adalah istilah rolade untuk daerah Solo, aku dan Bu Karla rolade itu gulungan daging yang dimasak semacam semur, kalau di solo rolade itu tahu isi yang isinya daun singkong ohhhhh baru tahu, satu nama beda bentuk dan rasa.

Sotonya Mak Nyus juga minumannya yang membuat hangat badan dengan tambahan batang sereh sebagai alat pengaduk.Arya sangu/bekal hotdog untuk nanti, apabila ditengah – tengah pertunjukan perut minta diganjal.

Landy dan Kabayan melaju kembali ke Prambanan, Frodo pulang ke hotel. Candi Prambanan terlihat anggun disinari lampu sorot, tempat parkir di sekitar area pertunjukkan lumayan penuh, dan kamipun siap menonton:

Sendratari Ramayana

1361004106648176590
Sendratari Ramayana

Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama, dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaries karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukkan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di Candi Hindu tercantik mirip dengan cerita tradisi lisan India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Kita diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan penari untk mengetahui jalan cerita, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas”(by Wikimedia)

Akhirnya nonton juga Sendratari Ramayana, sangat menarik dan tidak akan terlupakan serta masih penasaran dengan pertunjukkan diluar ruangan, yang pasti akan lebih asyik karena dengan latar belakang Candi Prambanan, panggung yang lebih luas, para pemain yang lebih banyak.Tapi puas kok dengan melihat para penari yang luar biasa, kalau kata Mbak Ade yang paling jagoan di Sendratari ini adalah para sinden yang duduk dengan melipat dua pahanya kebelakang, dengan pakaian kebaya plus jarik plus kondean dimana selama pertunjukkan tidak merubah gaya duduknya ckckckck hebat gila.Kalau aku ama Oktin suka dengan pemeran burung, yang diperankan anak kecil mungkin murid SD, dia bermain sangat lincah, ketikaadegan dimana para pemain semua duduk atau berdiri dengan terdiam tanpa gerakan, dia masih bergerak baik tangan, kepala maupun mimik muka, pokoknya lucu dan keren.Karena Eyang dan Jasmine menonton di kursi VIP yang langsung berhadapan dengan panggung, dua kali Jasmine di sambangi sama Rahwana dan Hanoman, untung Jasmine tidak sedang makan pisang, bisa-bisa pisangnya disambar Hanoman.Pak Kum, Pak GH dan Pak Cecep sibuk dengan kameranya masing-masing untuk mengabadikan adegan per adegan.

Seusai pertunjukkan penonton dikasih kesempatan untuk berfoto bareng para pemain, yang banyak diburu sama penonton laki-laki adalah pemeran Shinta yang memang parasnya cantik, tapi untuk pemeran Rama kurang begitu di buru oleh kaum hawa, malah pemeran Lesmana yang tidak bisa turun dari panggung karena melayani yang mau foto bersama, ini dikarenakan pemeran Lesmana lebih cakep daripada pemeran Rama.Mbak Non lebih memilih peran Rahwana atau peran yang unik untuk foto bareng, tapi sayang sudah pada ganti kostum ketika kita kejar ke ruang ganti.

Akuberharap candi Prambanan masih diterangi oleh lampu, untuk menikmati keelokannya di malam hari, tapi sayang lampunya sudah dimatikan, hemat listrik kali yach!!! Sebelum cabut, kita foto keluarga dulu di depan gerbang tempat pertunjukkan.

Makan malam menjelang tengah malam, restoran tradisional Jogja sudah pada tutup, jadi kami ke:

KFC

aku lari dari rombongan dengan Oktin tanpa tujuan jelas, kupanggil becak lalu kami naiki sampai buat bingung tukang becak, pokoknya belok kanan belok kiri tapi nggak sampai blok M. kami turun berjalan ke utara tanpa arah sampai ketemu kerumunan. Kirain ada acara pagelaran ternyata ada acara polisi. Sempat kutanya seorang nenek yang duduk di pinggir jalan, ada apa gerangan ada keramaian disitu, ternyata nenek itu sedang berduka baru kehilangan cucunya di tempat itu 2 hari yang lalu. Jadi keramaian diatas itu adalah rekontruksi kejadian yang dilakukan oleh polisi, pelaku dan saksi.

Sampai hotel sudah tengah malam dan bantalpun menempel dengan kepala hmrrrr …hmerrrr…hmerrrr

Rabu, 30 Desember 2009

Pak Kum memutuskan untuk menghapus Candi Borobudur dari tujuan kami ( Landy dan Frodo) , cukup keliling- keliling kota Jogja saja. Sarapan dengan menyaksikan Mei Mei di gendong Pak Kum tanpa mau merapatkan tangannya, padahal bukannya sudah jinak atau Mei Mei tidak mau cuci tangan pake tanah ( ampun Pak Kum…..ngacirrrrrrr), ada cerita nanti kalau Mei Mei sudah gede, walaupun pada akhirnya Mei Mei nyaman digendong Pak Kum, sayang sayembara satu tumpeng bagi yang bisa gendong Mei Mei sudah tidak berlaku, karena Mei Mei sudah mau digendong oleh siapapun yang sudah jinak tentunya.

Pak Cecep main wayang – wayangan dengan memerankan Arya dan Jasmine dalam satu percakapan, karena sejak mereka bertemu tidak ada adegan mereka pada ngobrol padahal mereka adalah junior-junior diantara kita yang gerang-gerang, satu almamater lagi! yaitu Al Azhar walaupun Jasmine di Al Azhar pusat Jakarta dan Arya sekolah di Al Azhar Surabaya, malah Bu karla dan Mbak Non yang rapat lintas PMOG, saling tukar pikiran soal sekolah masing-masing.Tapi siapa tahu mereka sudah saling tukar no HP dan alamat email hehehe. Tahu-tahu muncul di facebook.

Siap – siap cek out, ada kejadian lucu dimeja resepsionis ketika Pak Kum bayar hotel, lalu Arya nongol di samping Pak Kum, petugas nanya,’anaknya Pak?’, iya kata Pak Kum, eh si petugas hotel itu dengan enteng menimpali,’anaknya kok ganteng beda sama bapaknya!’, aku sama Oktin yang lagi duduk didekat situ, ngakak habisssssss, Mbak – mbak sampeyan iki piye toch?, ngomongin tamu tanpa tedeng aling-aling, Pak Kum menjawab kembali ‘kenapa? Lebih mirip sama yang pake baju hitam ( Pak Juki Maksudnya)’, aku ikut nimbrung ‘ Mbak, Pak Rudi dulunya sewaktu kecil mirip Arya, cuma seiring waktu jadi berubah wkwkwkwk’, si mbak segera meralat ‘ohhhh mungkin bapaknya kebanyakan off road’, petugas hotel itu mengidap penyakit gila no ??.aku ceritakan ke Bu Karla kejadian tadi, Bu karla bilang, si Bapak itu kebrangas yaitu kalau masak minyaknya kepanasan, telat diangkat.

Sebelum ke keraton Pak Kum mau mengajak kami melihat:

Industri Perak Kota Gede

Aku menghubungi Ardi teman semasa kuliah dulu minta petunjuk jalan menuju Kota Gede, sekalian aku GPK Ardi untuk datang ke hotel dan menjadi petunjuk jalan serta mampir dulu ke rumahnya untuk melihat workshopnya.Sampai di rumahBIG ( panggilan sewaktu kuliah), kami diajak berkeliling melihat proses produksi kerajinan tangannya selain perak tentunya, ada yang terbuat dari tanduk kerbau untuk bahan cincin, serat pisang abaca untuk karpet, serat eceng gondok untuk kursi. Hasil – hasil kerajinan ini semua untuk ekspor ke Kanada, Jepang, Jerman, Big mengimplementasikan ilmu – ilmu kuliah dulu, sukses selalu buat Big, dari rumah Big kami ke:

HS Silver

Kota Gede merupakan area yang terkenal dengan industri kerajinan peraknya, setelah dari rumah Big melihat proses produksi, Big mengajak kami ke salah satu toko hasil kerajinan perak yang terkenal yaitu HS Silver, dengan bangunan tua yang ciamik ,area parkir yang luas, display yang menarik, kamipun berkeliling, disini Mbak Non dan Eyang yang belanja buat oleh-oleh.Sembari menunggu yang belanja kami nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul diparkiran HS Silver sambil makan rujak manis, lumayan buat bangunin mata, setelah personil trip lengkap, perjalanan di teruskan ke:

Keraton Jogjakarta

1361004238657399822

Sumber: Mejeng di dalam area Keraton

“Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta dikenal secara umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerajaan nusantara. Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1950 ketika pemerintah Negara bagian Republik Indonesia menjadikan Kesultanan Yogyakarta ( bersama-sama Kadipaten Paku Alaman) sebagai daerah berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti 1755.lokasi keraton ini konon adalah bekas Pesanggrahan yang bernama Garijawaari. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram ( Kertasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri.Versi lainnya menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, umbul Pacethokan, yang ada ditengah hutan beringin. Secara fisik istana para sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler ( Balairung Utara), kamandhungan ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan kidul dan Siti Hinggil Kidul.Selain itu keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Disisi lain, keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya.Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.” (by Wikimedia)

Ingin kubuktikan cerita darah biru yang mengalir di keturunan para penggede kerajaan, tapi tidak mungkin kulakukan perang sabit di area keraton, malah Arya yang merasa berhasil membengkokan teori guru disekolahnya, menurut gurunya alis seseorang itu tidak bisa panjang tetapi Arya menemukan alis seseorang yang panjang pada guide kami, seorang bapak tua yang kalau kata Oktin tidak bisa dikasih kacang karena burung kakatua, lalu menurut Bu Karla tidak bisa merokok karena tidak ada tempat untuk menyelipkan, aduhh maafkan kami Pak Tua ( lupa namanya) hanya sekedar bergurau tanpa maksud menghina.

Karena kepikiran teori yang salah dari gurunya, Arya sampai minta foto bareng sama Pak Tua itu, yang hasilnya akan ditunjukkan ke gurunya.Aku lupa ngomong ke Pak Kum sewaktu foto, ada foto yang diambil alisnya saja.

Rombongan akan berpisah untuk sementara sampai trip berikutnya tahun depan,hujan rintik rintikmenangisi perpisahan kami di trip ini, Landy dan Frodo akan melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya melalui jalur selatan Solo-Sragen-Ngawi-Caruban-Nganjuk-Mojokerto-Surabaya, sedangkan Badag dan Kabayan akan kembali ke Semarang dengan menyempatkan ke Candi Borobudur dulu, dari Semarang Badag akan kembali ke Surabaya, Kabayan akan kembali ke Jakarta, masing-masing lewat Pantura tapi beda arah yang satu ke timur dan yang satu ke Barat.

Jadi suka melow kalau ada kata berpisah, mudah-mudah tidak ada yang menyesal dengan perjalanan ini, tapi terekam dengan jelas di otak kami-kami akan kenangan – kenangan indah yang patut diulangi lagi ditrip berikutnya.

Selain wisata budaya, beli kerajinan tangan dan tidak lupa kalau ke Jogja mampir ke:

Dagadu

Dagadu Malioboro Mall menjadi pilihan kami untuk mencari kaos dengan gambar dan cerita plesetan unik, kaos yang dicari Pak Kum tidak ada, Mbak Arni mau beli tapi tulisannya membuat orang berpikiran agak miring, aku tentunya cari warna orange tangan panjang tidak ada pula, Arya dan Mei Mei yang belanja jadinya.

Didekat counter Dagadu ada stand souvenir yang terbuat dari keramik dengan gambar laki-laki jawa dengan baju adatnya memegang alat gamelan, diantara patung-patung itu terselip patung mini sepasang pengantin dengan adegan pijat memijat, aku tarik tangan Bu Karla untuk melihat patung unik itu, ealah Bu Karla langsung beli patung itu, untuk Pak GH dan Mbak Ade katanya, sebagai alasan kenapa kita sempat-sempatnya ke Mall.

Kami sempat menyebrang ke tempat peralatan outdoor di sebrang Malioboro Mall tapi sayang pelayan tokonya mengidamkan di semprot kata-kata gila, mukanya asem ditambah kecut, seasem sekecut sayur kemarin pagi yang lupa dipanasin atau disimpan di kulkas.

Keluar dari parkiran MM hujan mengguyur Jogja semakin deras, Pak Kum mengarahkan mobil mencari:

Bentara Budaya

Dari awal perjalanan Pak Kum menanyakan Bentara Budaya Jogja itu dimana? bayanganku adalah gedung yang sebelah gelangggang tempat digelar acara-acara kesenian tradisional dan diskusi mahasiswa, aku tidak kepikiran kalau Bentara Budaya itu selalu berdekatan dengan kantor Kompas, lha kalau dari awal sadar akan hal itu, tadi malam kita melewati gedung itu, seperti halnya Bentara Budaya Palmerah Jakarta yang berdekatan dengan Kantor Kompas Gramedia yang di Palmerah.Ketemu dech tempat yang dicari, sedang ada pameran lukisan digelar di tempat ini, disamping ada buku – buku yang dijual, Pak Kum dan Bu Karla borong buku disini, aku cuma dapat 2 buku, dan hanya buku itu yang mengerti bahasanya, karena kebanyakan berbahasa jawa.

1361004375271886676

Sumber: Ruang Pamer Bentara Budaya

Segera kami tinggalkan Jogja menuju arah Solo, Prambanan dilewati kembali, Kartasurapun terlalui,Surakarta alias Solo sudah didepan mata, Landy belok kiri masuk kesebuah kompleks perumahan dan parkir didepan sebuah rumah, Bu Karlapun turun dari Landy, yang menurut Pak Kum kita mau mampir ke temannya sewaktu SMP.Bel rumah tersebut di pijit keluarlah laki-laki yang menanyakan mencari siapa? Tidak lama kemudian munculah orang yang dicari yaitu Mbak Bintari alias Indri, Bu Karla cipika cipiki sama teman SMP Pak Kum dan Pak Juki, ketika kuliah bareng sama Bu Karla begitu ceritanya, yang berarti teman Paman Gembul dong yaitu bosku di kantor, aduhhhhhhhhhhhhhhhh gurita lagi dech, cape dechhhhhhhhhhhh.

Arya sudah menanyakan makan malam dimana? Lalu menculik Mbak Indri bergabung dengan kami di Landy, makan malam plus reuni diantara mereka di:

Special Sambal Solo

13610045072103820331

Sumber: Segala Sambal Siap Santap

Pilihan menu yang beragam dengan 23 jenis sambal, 14 jenis lauk, 8 jenis sayuran, 20 jenis minuman, ditambah kerupuk yang punya masalah dengan harga. Lumayan diskusi lama hanya untuk menentukan menu yang akan dipilih, karena hampir semua jenis sambal tergoda untuk dicicipi, kalau pilihan lauk dan minuman standar, seperti : belut junior beda sama belut seniornya Tuban, udang, empal, telur dadar, teh tawar, teh manis, es jeruk, jeruk panas, kata Mbak Indri jangan pilih jus, kurang nendang katanya.

1361004595805141522

Sumber: The Reunion

Sebenarnya yang mau dicari di Solo itu gudeg ceker tapi baru buka jam 11.00 malam, jadi di coret dari daftar idaman kuliner Solo.

Judul obrolan mereka adalah ‘kisah kasih di sekolah’, sebagai pendengar lucu juga ceritanya, bisa jadi bahan celaan.Mr. Huh hah pun kami tinggalkan, ketika baru mau jalan, Pak Kum dapat SMS:

Inna lilahi wa inna ilaihi roji’un

13610047531918612997Gus Dur bapak Pluralisme

SMS yang diterima kepala suku memberitakan bahwa Bangsa ini telah kehilangan salahsatu anak terbaik yang terlahir, besar dan wafat di negeri ini yaitu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan presiden ke 4 negeri ini. Bangsa ini menangis untuk beliau yang dulu sering membuat kita tertawa serta Indonesia kehilangan salah satu seorang terbaik bangsa sekaligus terlucu.

Jadi teringat cerita bapak Ambasador dan Nyonya, kenangan tentang Gus Dur , ketika di New York setiap pagi minta disediakan pisang dan singkong, sewaktu di Italia membuat bingung polisi sana. Presiden yang unik yang dimiliki bangsa ini.

Ngruki Solo

Landy dan Frodo menuju arah Ngruki mau mondok di pesantren M Baasyir eh salah mau nyambangi keluarga adik iparnya Pak Kum.Disini lumayan agak lama sambil nonton berita meninggalnya Gus Dur, ngopi, visit kamar mandi.Dan terjadi lagi kejadian, ‘kok Arya sama bapaknya beda yach?’ haha..haha Pak Kum, Pak Kum nasibmu. Arya belum ada kumisnya????, pertanyaan itu pula yang ditanyakan Pak GH di SMS, ‘adiknya Pak Kum, ada kumisnya nggak?’, kita sudah ketemu waktu di Malang, malahan disini tidak ketemu karena masih di Madiun.Memang trade mark tuch kumis, Pak Rudi terkenal di seantero jagad raya karena kumisnya.Yang aneh bin ajaib, aku dikiranya anaknya Pak Juki, gubrakkkkkkk kok bisa sih!!!!! Kembali silsilah itu harus aku terangkan, aku dipungut darimana, Mbak Indri pun penasaran, kamu tuch temannya Karla atau Rudi?, aku jawab aja, aku tuch dipungut di pinggir tol.

Mbak Indri dikembalikan ke kosannya, Tole minta pindah mobil dari Frodo ke Landy kembali, di enyek melulu kali sama kokonya!!, akupun pindah ke Frodo karena aku kan anaknya Pak Juki dan juga biar Tole bisa tidur terlentang di Landy .Sudah waktunya untuk kembali ke awal perjalanan, Surabaya yang panas siap dihuni kembali oleh penduduknya yang sempat menghilang beberapa hari untuk jalan-jalan.

Lampu merah di daerah Magetan jadi saksi tuch di malam itu, padahal kita tidak ada yang menghitung waktu menunjukkan

11.59 WIB lampu kuning menandakan hati –hati siap-siap berhenti

Kamis, 31 Desember 2009

00.00 WIB lampu merah memerintah kita berhenti, laju landypun terhenti, kita yang di Frodo menyaksikan adegan prikitiw prikitiw, ehm…ehm… pokoknya diantara 2 kursi depan landy itu ada bayangan kata yang menghambur “kristal –kristal cinta, yang menyatu dalam hatiku, takkan pudar selamanya, sampai akhir hayatku, cinta kita kekal selamanya” bukan begitu Pak Kum, kami yang di Frodo hanya mengandai-andai dan berusaha menterjemahkan saja ucapan bapak kepala suku.

Selamat ulang tahun Bu Karla semoga selalu diberkahi rahmat dan rejeki dari Alloh SWT. Kamipun yang di Frodo bergantian mengucapkan selamat ulang tahun Bu Karla.Cipika cipikinya sewaktu kita istirahat disalah satu SPBU.

Dua kali Landy dan Frodo menginap sementara di losmen SPBU untuk memejamkan mata yang telah sulit diajak kompromi. Sehabis shubuh dimana gelap mulai berganti terang, perjalanan pulang pun kembali ditempuh. Petunjuk arah menuju Surabaya sudah kerap ditemui di sepanjang jalan, ketika sampai di pertigaan arah tol Mojokerto menuju Surabaya dan arah kota Mojokerto, Landy mengambil arah lurus menuju kota Mojokerto, kami yang di Frodo timbul tanda Tanya, eh eh eh mau kemana tuch Landy kok lurus, tidak belok arah Surabaya. Ternyata kita mampir dulu untuk sarapan di:

Depot Anda Mojokerto

Tempat makan ini salah satu tujuan wisata kuliner di Mojokerto dengan menu yang banyak dipilih yaitu sop buntut, selain itu di daerah Mojokerto ada warung makan Asmunidengan jagoan makanan rujak cingur atau jejeran pedagang makanan di stasiun Mojokerto kala malam hari.

1361004859899762486

Sumber: Nasi Buntut Goreng Depot Anda Mojokerto

Dengan menu yang serba daging kecuali pecel, Pak Kum milih rawon, makanan yang dibenci Oktin, Bu Karla dan Arya milih sop buntut goreng, Pak Juki dan Nyonya milih nasi pecel, aku tergoda oleh gulai kambing untuk menghangatkan badan di pagi ini.Teh hangat yang dibayangkan Mbak Arni tadi pagi dalam perjalanan, sudah terhidang di meja, siap mengaliri tubuh yang dingin akibat AC mobil.

Sepanjang jalan menuju Surabaya, diarah sebaliknya dari kami, dipenuhi oleh-oleh jejeran masyarakat yang menunggu lewatnya iring-iringan jenazah Gus Dur , polisi ditemui disetiap beberapa meter,Patroli Satuan Pengawal mulai membersihkan jalan yang akan dilalui iring-iringan, tidak lama kemudian lewatlah mobil dengan No Pol

RI 1

RI 2

RI berikutnya

Mobil para pejabat tinggi Negara serta para pejabat daerah beriringan menuju Jombang. Kok mobil jenazah tidak ada????? Radio kebanggaan masyarakat Surabaya sekitarnya yaitu radio SS mulai dihidupkan di Landy untuk memantau lalu lintas, dan ternyata berita yang disiarkan seputar jalan yang akan dilewati iring-iringan jenazah Gus Dur , dan jenazahnya baru mendarat di Bandara lama Juanda. Ohh berarti iring-iringan jenazah itu belum lewat.

Landy dan Frodo berpisah di tol, Landy ambil arah ke Surabaya lalu Frodo menuju arah Sidoarjo, sampai ketemu lagi Frodooooooooooooooooo.

Pak Kum memarkirkan Landy di pinggir jalan, kirain mau memejamkan mata sesaat karena rasa kantuk dan lelah yang mendera, ternyata kita menunggu iring-iringan jenazah Gus Dur yang akan lewat tidak lama lagi.Aku nongkrong diatas Landy sama Bu Karla dan Arya, Pak Kum naik ke atas jalan tol yang belum jadi.Satuan Patroli Pengawal mulai membersihkan jalanan dari para pengendara. Tidak lama iring – iringan jenazah lewat.

Selamat Jalan Gus Dur

13610049571443985974

Sumber: Selamat Jalan Gus Dur

Jasamu akan selalu kami kenang

Kamipun melanjutkan perjalanan dan sampailah di tempat aku 4 hari lalu di jemput.

Terima kasih banyak untuk Landy sekeluarga, Frodo sekeluarga, Badag sekeluarga dan Kabayan sekeluarga, sampai bertemu lagi di:

Next Trip

@nuke168

foto-foto quertesy from Rudi Juliswanto and Nuke Patrianagara colection

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: