Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Usman D. Ganggang

Berawal dari cerita, selanjutnya aku menulis tentang sesuatu, iya akhirnya tercipta sebuah simpulan, menulis adalah selengkapnya

Wadu Pa’a di Bima NTB, Situs Sejarah Hadirkan Decak Kagum

OPINI | 21 February 2013 | 22:19 Dibaca: 2274   Komentar: 0   0

13614587851505085156

Bima  merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara  Barat (NTB). Kabupaten yang satu ini, punya potensi dalam sektor kepariwisataan. Apalagi dekat dengan Pulau Komodo yang  kadal raksasanya (baca: buaya darat), sudah mendua.  Paling tidak, Bima yang terima pertama para wisatawan sebelum ke Komodo Kab.Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satu yang menjadi incaran wisatawan, adalah situs sejarah yang penuh dengan cerita masalah lalu.Dan kali ini, saya mengangkat situs sejarah. Nah, kalau ditanya di manakah lokasi wisata bernilai sejarah di Bima itu?  Jawabannya, kalau tidak di Lambitu, atau di Pandede, maka salah satunya yang bernilai sejarah adalah “Wadu Pa’a” (= batu pahat). Iya kawasan Wadu Pa’a adalah tempat favorit bukan saja buat anak-anak sekolah di Bima atau Dompu, tetapi juga wisatawan Nusantara (Wisnu) dan Wisatawab Mancanegara (wisman).

Lokasi ini memang cocok untuk dijadikan lokasi wisata. Selain keindahan alam sekitarnya terutama, alamnya yng indah, suasana yang damai - tenang, juga yang paling penting adalah di sana ada peninggalan sejarah zaman lampau. Di sana terdapat batu yang terukir tentang, patung, tentang tulisan yang berhuruf Sansekerta. Sayang sekali, tahunnya tidak tertulis, sehingga pengunjung agak bingung menetukan kapan ajaran Hindu masuk di Bima. “Dapat dperkirakan, sekitar abad kedua setelah Hindu masuk di Indonesia”, demikian komentar  Drs Dahlan, MA yang sempat diwawancari penulis belum lama ini.

1361458933213052746 Tetapi terlepas dari itu, lokasi ini,  memberi warna tersendiri buat warga Kab. Bima Pemerintah Kota (Pemkot) Bima,  yang cinta pada peninggalan sejarah. Apa buktinya, lokasi ini, dapat dijadikan selain pelepas lelah tetapi juga mau melihat dari dekat tempat bersejarah ini. Setiap orang ke sana, selalu berdecak kagum, bukan main. Lukisan huruf dan patung tersebut tidak terkena abrasi. Padahal sudah berabad-abad lamanya.”Luar biasa!” komentar para pengunjung yang ditemui penulis .

Kalau dicermati letak lukisan itu, semuanya tidak mengarah ke timur. Lebih banyak mengarah ke selatan, sebab kalau mengarah ke Timur, demikian Pak Syamsuddin, pakar geografi di Bima, pahatan tersebut akan mudah terkena abrasi (pengikisan karena air laut). “Mereka hebat sekali!” ujar seorang pengunjung ketika saya ke sana kemarin bersama generasi muda yang haus akan sejarah peninggalan zaman lampau.

Kegiatan yang dilakukan generasi muda yang jumlahnya tertampung dalam 3 bus itu, berlama-lama di Wadu Pa’a. Setelah mereka mengitari lokasi ini, mereka berkumpul mendengarkan ceramah para gurunya terkait kehadiran lokasi bersejarah ini. Selain guru sejarah, guru lainnya seperti guru geografi, guru sastra, guru soiologi turut ambil bagian dalam memberikan info buat generasi muda ini.

Lokasi Wadu Pa’a ini sebuah potensi pariwisata Bima, tentu harus dilestarikan oleh generasinya, sehingga mereka dan generasi selanjutnya bverusaha menguasai sejarah di daerahnya. Ini penting, karena fakta riil menunjukkan, sudah banyak yang sudah mengabaikan kehadiran sejarah. Semoga tulisan ini bermanfaat***)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 5 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: