Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Wandra Aira

Travel writer yang tinggal dan bekerja di bidang Migas di Balikpapan. Baginya semua impian bisa selengkapnya

Ada ‘Rumah Cinta’ di Artemis, Ephesus

HL | 04 March 2013 | 10:21 Dibaca: 664   Komentar: 0   3

Dikisahkan bahwa ternyata pada jamannya,  Ratu Cleopatra pernah berbulan madu di kota Ephesus pada suatu saat di musim semi.

Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, kota Selçuk, Provinsi Izmir. Kota ini adalah salah satu dari dua belas kota dari liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani kuno.

DSC01628

Depan Ottoman Clock Tower, Izmir

Sebelum perjalanan menuju  kota kuno Ephesus, dalam perjalanan kami singgah sebentar di Ibukota Provinsi Izmir yaitu Kota Izmir. Kota ini terkenal dengan para wanita cantik. Saking banyaknya, sampai-sampai mereka mengibaratkan, diantara sepuluh wanita di Izmir, maka yang cantik ada sebelas orang. Masa iya sih ? yah, buktikan saja sendiri. Yang pasti, memang banyak sekali wanita cantik yang terlihat di sepanjang perjalanan kami di kota Izmir.

DSC01632

Salah satu gadis Izmir yang tertangkap kamera :)

Kami juga menyempatkan mampir sejenak untuk foto stop di depan patung Meryem Ana (Siti Maryam/Bunda Maria). Sebagian teman-teman yang lain juga berkesempatan mengunjungi rumah Meryem Ana yang berada di satu kawasan dengan Ephesus pada satu hari sebelum kunjungan ke Ephesus.

Rumah Bunda Maria atau disebut “Panaya Kapulu” terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bülbül yang tenang dan berpemandangan indah. Pada awalnya,  Meryem Ana dibawa  ke kota ini oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Meryem Ana ditinggal  dan  akhirnya wafat di tempat ini. Baru pada akhirnya tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich yang konon di dapat melalui penglihatan lewat mimpi.

DSC01666

Patung Meryem Ana

Perjalanan kemudian dilanjutkan esok harinya ke Ephesus. Disini ada candi terkenal dengan nama candi Artemis. Candi yang selesai dibangun 550 SM, merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan di perebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya karena  Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya. Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM.

Seperti diceritakan di awal narasi, bahwa Kaisar Romawi Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung pada musim semi ke Ephesus pada 33 SM untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi dan sejak inilah Ephesus berkembang menjadi kota besar masa itu.

Tur yang kami lewati berawal  dari puncak bukit, dimana sejarah kota yang mencapai puncak kejayaan  pada abad ke-2 Masehi ini berawal. Pilar-pilar marmer berjejer di sepanjang jalanan masuk yang juga terbuat dari batu marmer. Kota kuno yang masih terawat meskipun gempa dasyat tercatat pernah menghancurkan kawasan ini.

DSC01678

Ada beberapa bangunan utama di kawasan kota kuno ini diantaranya yang sempat saya ingat;

1. Odeon –  teater yang dibangun oleh Vedius Antonius di tahun 150 Masehi merupakan ruang perjamuan dan pertunjukan.

2. Candi Hadrian – yang mengalami pemugaran pada abad ke empat dan telah didirikan kembali  dari bongkahan  reruntuhan yang masih selamat. Relief bagian atasnya adalah imitasi, dan aslinya ada di pajang di Museum Arkeologi Selçuk Kusadasi,Turki. Dapat disimak pula dalam gambar mata uang Turki pecahan 20 Lira.

DSC01680

3. Candi  Domitian –  Theater atau stadion multi. Selain sebagai tempat pendidikan juga untuk pertunjukkan budaya dan gladiator.  Menjadi tempat dimana dulu para Gladiator saling bertarung. Gladiator adalah budak petarung dan konon, budak tersebut bisa membeli kebebasannya jika telah memenangkan seratus pertarungan.

DSC01693

Mendaki tangga-tangga menuju Domitian / Gladiator

Gladiator,  tugasnya hanya untuk bertarung melawan sesama Gladiator maupun binatang buas. Mereka adalah para petarung yang sangat kuat di zaman Romawi Kuno. Pertarungan mereka menjadi konsumsi publik yang exclusive di jaman itu dan sangat dinantikan. Semakin cepat mengalahkan lawannya, maka semakin hebat Gladiator itu dan tepuk tangan akan semakin membahana dan bergemuruh.

DSC01697

Tempat Gladiator

Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang kami lewati termasuk diantaranya reruntuhan pasar kuno, juga sarana-sarana umum lain seperti perpustakaan Celsus, jalan-jalan kota dengan pilar-pilar di kiri kanannya, rumah sakit, Hamam (pemandian umum), ‘Rumah Cinta’ yang berseberangan dengan perpustakaan. Diketahui kemudian bahwa ternyata ditemukan lorong bawah tanah yang menghubungkan antara Perpustakaan Celsus dengan ‘Rumah Cinta’ ini. Jadi ketika para istri ke pasar, para lelaki pamit ke Perpustakaan, tapi mereka sebenarnya berkunjung ke para wanita di ‘Rumah Cinta’.  Hmm, dari jaman dulu ternyata banyak juga laki-laki hidung belang ya. :P

DSC01686

Perpustakaan Celsus

Kisah tentang Perpustakaan dan Rumah Cinta ini sempat membuat kisruh. Haha, para ibu-ibu di rombongan yang kebetulan melakukan perjalanan bersama suami-suami mereka terlihat saling menyikut para suami. Sesungutan lalu berkata, ” dasaar ya bapak-bapak ini… gak dulu gak sekarang, IDEM…”

Untung saja, muka cemberut yang mereka tampilkan hanya sekedar gurauan, karena berikutnya serentak mereka tertawa bersama lalu mulai beranjak ke area Artemis berikutnya.

Area yang juga menjadi ciri khas kota  Romawi kuno ini adalah toilet umum yang dibuat hanya untuk para bangsawan dan orang-orang kaya saja. Dudukannya berdekatan tanpa sekat, dan dikaki mereka mengalir air buat -maaf- cebok. Kasihan ya orang yang berada di paling ujung, menggunakan air bekas orang-orang sebelumnya. Jadi kebayang mereka buang air sambil melihat orang disebelahnya juga melakukan kegiatan yang sama ;)

Selcuk_20110604_0106_Ephesus

Di akhir kunjungan, kami sempat menyaksikan suguhan theatre di alam terbuka di arah perjalanan keluar dari area Artemis. Pertunjukan yang berlangsung singkat ini menampilkan aktivitas kerajaan di masa pemerintahan kuno di masa itu lengkap dengan busana Romawi Kuno yang khas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 5 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 5 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 6 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: