Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Yohan Rubiyantoro

Pria Jogja, besar di Jakarta. Belajar politik dan pemerintahan di Unpad, Bandung. Mantan wartawan ekonomi selengkapnya

Mengintip Bisnis Prostitusi di Bangkok dan Chiang Rai

HL | 09 March 2013 | 17:51 Dibaca: 7245   Komentar: 0   0

1362825405333473995

Deretan lokasi massage di Chiang Rai. Sejumlah lokasi menjadi kedok bisnis prostitusi.

Bangkok: city of angel, city of freedom. Begitulah ucap seorang kawan di Thailand membanggakan tentang negaranya. Terdengar berlebihan memang, namun bagi Anda yang kerap menyambangi negeri gajah putih ini, tentu ucapan tersebut “sedikit” ada benarnya.

Thailand memiliki banyak gadis berparas cantik dan berpakaian seksi. Hiburan malam di negeri tersebut juga menjamur. Gerai yang menawarkan jasa pijat juga bertebaran di jantung kota. Teman saya menyebut, ada pijat putih dan ada pijat hitam. “Tetapi sebagian besar hitam,” ucapnya tertawa.

Beberapa pekan lalu saya mengintip bisnis prostitusi di Bangkok, di sela-sela tugas kantor. Kebetulan saya mendapat penginapan di area Shukumvit. Hampir di setiap simpang jalan terdapat tempat spa, Thai Massage, dan sejumlah tempat hiburan.

Tempat-tempat pijat tersebut sangat beragam, mulai dari bangunan sederhana, hingga yang menempati gedung-gedung mewah. Sebagian besar hanya dilengkapi lampu temaram. Tempat massage yang besar biasanya dihiasi papan besar bergambar sponsor minuman keras.

Jika anda menyambangi Shukumvit Bangkok di atas jam 10 malam, akan sangat mudah untuk menemui para terapis yang menawarkan jasa pijat. Mereka berjejer di depan lokasi. Pakaiannya pun sangat minim. Sebagian besar mereka menggunakan rok mini dan baju ketat.

Kalau anda hanya ingin pijat putih, tarifnya berkisar mulai 500 Baht atau sekitar 150 ribu rupiah. (1 Baht ekuivalen dengan Rp 300). Tetapi kalau anda memilih layanan lebih, tarifnya bakal meroket menjadi minimal 1.500 Baht. “Di Thailand, prostitusi adalah bisnis yang legal,” klaim kawan saya.

Bila anda telah sesuai dengan harga dan jenis layanannya, Anda akan diajak masuk. Lantas naik ke lantai dua atau tiga.

Bisnis Prostitusi di Chiang Rai

Provinsi Chiang Rai di belahan utara Thailand juga tak lepas dari bisnis hitam prostitusi. Hanya 1 jam menumpang pesawat udara dari Bangkok, Anda sudah dapat menyambangi daerah yang dipadati turis asing ini.

Tak ubahnya Bangkok, di provinsi ini juga bertebaran bilik yang menawarkan jasa pijat. Lagi-lagi, pijat putih maupun pijat hitam. Saya pun setengah bingung dan tak percaya, bisnis prostitusi berkedok massage seolah begitu legal di Thailand.

Anda bayangkan, tempat saya menginap di Chiang Rai adalah hotel bintang 4. Namun, mereka menawarkan jasa pijat plus-plus kepada para tamunya, layaknya hotel gurem. Yang membuat saya kaget, di lantai satu belakang hotel. Persis di sisi kolam renang terdapat lokasi Thai Massage.

Saya iseng mencoba masuk, dan ternyata tersua sebuah “aquarium” besar. Di dalamnya berjejer para terapis dengan pakaian sangat amat minim. Pemandangan yang juga saya temui di gang Doli Surabaya. Bedanya, “aquarium” di Chiang Rai jauh lebih besar, dan hampir seluruh terapisnya berparas cantik.

Begitu masuk, seorang pria berjas rapih dan berdasi menghampiri saya. Ia menawarkan layanan dari para terapis. Anda harus merogoh kocek 2.700 Baht untuk mendapatkan layanan tersebut. “Untuk tamu hotel, Anda mendapat diskon 10 persen. Terapisnya akan memberikan layanan spesial sesuai keinginan Anda,” ucap pria berbadan tambun itu.

Itulah hasil “intipan” saya atas bisnis prostitusi berkedok massage di Bangkok dan Chiang Rai. Terserah Anda, apakah akan memilih jasa pijat putih, hitam, atau mungkin abu-abu di Thailand?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 11:15

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia, Berapa? …

Bambang Trim | | 31 August 2014 | 12:37

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | | 31 August 2014 | 11:24

Senja Kala Laut Mati …

Andre Jayaprana | | 31 August 2014 | 13:15

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Sisi Lain Kasus Florence Sihombing …

Yeano Andhika | 3 jam lalu

Jokowi Melakukan Kebodohan Politik Besar? …

Daniel Yonathan Mis... | 6 jam lalu

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 8 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 10 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mudahnya Membelah Cologne Dalam Hitungan …

Gaganawati | 8 jam lalu

Ahmad Hanafi Rais, Embrio Regenerasi …

Adrianus Malaloi | 8 jam lalu

Pemanasan Global dan Perubahan Keseimbangan …

Dino Fitriza | 9 jam lalu

Berjodoh, Ditangan atau Kehendak Tuhan? …

Lindung Pardede | 9 jam lalu

Hukumlah Florence di Media Sosial, Jangan …

Jonminofri Nazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: