Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Taufik Petunjuk

Seorang dokter yang suka jalan-jalan,makan-makan,baca-baca dan nulis-nulis

Perjalanan Singkat ke Palembang

REP | 11 March 2013 | 23:31 Dibaca: 910   Komentar: 0   0

Jumat siang, dipertengahan bulan November yang kelabu.

Aku dan seorang teman berangkat dengan menumpang travel dari Padang menuju Palembang. Perjalanan darat ini akan kami tempuh selama 18 jam. Jantung pulau Sumatera sudah terlelap ketika deruan mobil kami membelah malam. Di kota Muara Bulian, travel mengambil jalur kearah selatan menuju Palembang. Gerbang perbatasan propinsi Jambi dengan propinsi Sumatera Selatan hilang ditelan kelam. Tak terasa, Subuh pun datang menjemput, matahari pagi menyeruak diufuk timur ketika travel menjamah kota Palembang.

Agenda kami di Palembang adalah mengunjungi pesta pernikahan seorang teman kuliah keesokan harinya (hari Minggu). Oleh karena perjalanan darat ke Palembang membutuhkan waktu yang cukup lama, maka kami mempercepat waktu keberangkatan. Kami memutuskan untuk menikmati kota Palembang seharian dengan ditemani oleh seorang teman kuliah lain (bersama suaminya) yang berdomisili di Palembang.

Sabtu siang kami memulai city tour dengan memakai mobil rental. Mengunjungi pusat kuliner Palembang ditepian Sungai Musi menjadi agenda pertama. Sungai MusiĀ  mengular merambati jantung kota Palembang. Sungai yang berhulu di propinsi Bengkulu ini merupakan salah satu sungai sejarah di pulau Sumatera. Airnya yang menderas keruh adalah detak nadi Palembang dari masa ke masa. Jembatan Ampera yang menghubungkan Seberang Ulu dengan Seberang Ilir merupakan maskot propinsi Sumatera Selatan, khususnya kota Palembang. Banyak pemukiman warga yang masih mempertahankan arsitektur tradisionalnya dipinggiran Sungai Musi.

Setelah traktus gastrointestinal ini puas dimanjakan oleh berbagai kuliner Palembang yang khas seperti mpek-mpek dan segala macam makanan keturunan mpek-mpek, otak-otak, srikayo dan lain-lain, kami mengunjungi benteng Kuto Besak dan museum dipinggir Sungai Musi. Empek-empek adalah citarasa Palembang. Empek-empek hadir pada setiap waktu makan, karena lidah Palembang yang sudah sehati dengan asam cuko. Aku yang terbiasa dengan beratnya masakan Padang, menganggap menu mpek-mpek masih sebagai makanan selingan. Aku bukan penyuka ikan, khususnya ikan air tawar, akan tetapi aku suka mpek-mpek. Mungkin karena mpek-mpek tidak menyajikan ikan dalam wujud asli makanya lidahku tertipu.

Saya rasa Sungai Musi dan Empek-Empek adalah jati diri Palembang sepanjang hayat. Sungai ini tak kan pernah kering sebagaimana tak kan pernah keringnya kehadiran asam cuko didalam menu khas Palembang.

Kerajaan Sriwijaya yang bermula pada abad ke 7 diduga ahli sejarah berpusat di Palembang, sehingga kota Wong Kito Galo ini dikenal juga sebagai bumi Sriwijaya. Jadi bisa disimpulkan, Palembang secara sejarah sudah merupakan kota semenjak ia berdiri. Musi adalah sumber kehidupan mulai saat ditemukannya sungai ini oleh Dapunta Hyang. Hari ini, Palembang menjelma sebagai kota Internasional.

Dari sekian banyak tempat yang kami kunjungi selama di Palembang, tempat-tempat bernuansa sejarah adalah hal yang selalu menarik minat saya. Situs-situs purbakala yang membahas kerajaan Sriwijaya memang tidak banyak, namun saya percaya sejarah, bahwa dimasa lalu Sriwijaya memang pernah Berjaya dan Palembang adalah penerusnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: