Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rifqy Faiza Rahman

Traveller, Backpacker, Travel Writer at respectbywalk.blogspot.com, President of Gamananta Community at gamananta.blogspot.com. selengkapnya

Catatan Perjalanan: Gunung Arjuno, Kini Muncul di Balik Kabut

REP | 27 March 2013 | 21:51 Dibaca: 1290   Komentar: 6   1

Arjuno oh Arjuno, nama itu selalu terngiang-ngiang semenjak gagal mendaki pada 23 November 2012 lalu (artikelnya ada di sini ). Terlebih terkadang sosoknya yang muncul di balik kabut tebal yang terlihat dari kampus kami, seolah-olah mengajak kami dan menantang kami untuk menghampirinya kelak. Hingga akhirnya kesempatan itu datang juga, di bulan Maret 2013. Mari sejenak membaca runtutan histori silaturrahmi kami dengan gunung yang terkenal sering membuat orang-orang penasaran karena seolah-olah sering tak mau didatangi pengunjung.

Setelah berulang-ulang kopdar membahas tanggal dan teknis keberangkatan, akhirnya disepakati bahwa kami akan berangkat pada hari Kamis, tanggal 14 Maret 2013 (maju 1 minggu dari rencana awal). Persiapan perlengkapan dan logistik sudah dibagi tugasnya oleh masing-masing peserta, tinggal latihan fisik yang agak kedodoran karena kesibukan akademik. Oh iya, peserta pendakian “Ekspedisi GARWE (Gunung Arjuno-Welirang)” ini adalah:

  1. Rifqy (perencana perjalanan)
  2. Muchlis
  3. Rizky (penanggung jawab ekspedisi dan perlengkapan)
  4. Roni
  5. Zaki
  6. Fandi
  7. Norma
  8. Ike (penanggung jawab logistik)
  9. Lita

Kamis, 14 Maret 2013

Foto bersama di meeting point sebelum berangkat


Yup! Setelah semuanya siap, maka selanjutnya kami berkumpul di meeting point, yaitu selatan gedung Samantha Krida UB. Dari rencana awal kumpul jam 14.30, molor hampir 5 jam gara-gara ada yang masih keperluan akademik, lupa membawa perlengkapan yang tertinggal, dan kendala teknis transportasi. Tepat setelah kumandang adzan isya’, kami berkumpul, berdoa bersama dan berangkat dengan 5 motor, saya di depan sendirian, Rizky dengan Ike, Zaki dengan Norma, Roni dengan Fandi, dan Muchlis dengan Lita.

Malang - Pos Tretes

Perjalanan relatif lancar karena lalu lintas tidak terlalu padat. Setelah melewati Singosari, Lawang, Purwodadi, Purwosari, Sukorejo, Prigen, Pandaan, 1,5 jam kemudian kami sampai di Pos Tretes yang terletak di samping Hotel Surya dan depan Hotel Tanjung Plaza. Bagi orang yang pertama kali ke sini biasanya kebingungan karena lokasi pos perizinannya menjorok ke dalam. Di pos perizinan, kami dilayani oleh Pak Syokir, orangnya ramah sekali. Beliau juga yang punya rumah di samping pos perizinan sekaligus menerima penitipan sepeda motor atau mobil. Untuk contact person beliau dan tarif pendakian akan dijelaskan di bawah artikel ini. Setelah registrasi, kami segera sholat Isya’, repacking, dan pemanasan. Tepat pukul 22.30 WIB, kami start berangkat dari Pos Tretes, dengan target nge-camp di Pos Kokopan.

Pos Tretes - Pet Bocor

Trek awal berupa aspal yang dimulai dari sebelah utara pos, ke kiri dengan medan relatif landai, kemudian pelan-pelan menanjak sampai pintu gerbang. Setelah pintu gerbang, jalanan aspal mulai menanjak tajam, berkelak-kelok. Kammi bertemu pertigaan yang mana ke kanan adalah ke Air Terjun Kakek Bodho, sedangkan yang ke kiri adalah ke Gunung Arjuno-Welirang. Baru beberapa meter berjalan, terjadi insiden kecil namun cukup menegangkan. Lita, yang baru kali ini naik gunung besar, merasa capek teramat sangat dan bernafas tersengal-sengal. Bahkan dia berkata kalau tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju pos Kokopan. Suasana menjadi terasa tegang, karena capek yang dialami Lita seperti tidak biasa terjadi. Entah kaget karena jalur begitu sangat menanjak atau karena hal non-teknis lain, kami tidak tahu. Saya, Muchlis, dan Rizky saling berpandangan heran sekaligus khawatir, apakah pendakian kali ini gagal untuk kesekian kalinya gara-gara salah satu personel sudah menyatakan menyerah. Tidak! Pendakian kali ini harus berhasil. Tugas untuk kami mengembalikan semangat dan spirit mental Lita agar mau melanjutkan perjalanan. Setelah mengucap doa-doa ditambah guyonan teman-teman yang mencairkan suasana, akhirnya beberapa menit kemudian si Lita kembali sumringah dan mau melanjutkan perjalanan. Entah mendapat energi atau dorongan dari mana, si Lita kembali kuat berjalan. Kami pun sampai di Pet Bocor setelah berjalan 45 menit dari pos Tretes, termasuk istirahat lama karena insiden tadi.

Pet Bocor (Shelter I)

Pet Bocor - Pos Kokopan

Setelah istirahat sekitar 10-15 menit, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalan tetap beraspal, sebagian dicor semen. Beberapa menit kemudian, kami sampai di perbatasan yang menunjukkan kami akan memasuki kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R. Soerjo, ditandai dengan gapura dan pos jaga di sebelah kanan jalan. Setelah itu, jalur berganti menjadi berbatu alias makadam. Perlu diingat, sepanjang jalur pos Tretes sampai pos Pondokan bisa dilalui oleh jeep penambang yang biasa mengangkut belerang dari atas. Jalur awal dari Pet Bocor masih dinaungi beberapa vegetasi seperti pisang dan tanaman-tanaman lain. Jalurnya berputar-putar, ketika sampai di ujung tanjakan akan berbelok kanan, maka akan kembali dijumpai tanjakan yang seolah tak habis-habis. Berbatu, terkadang terjal, benar-benar menguji kesabaran fisik dan mental. Kami sempat merasa lega ketika mendengar suara aliran air, kami kira Kokopan sudah dekat, ehhh ternyata masih jauh. Kembali jalur berputar-putar. Kemudian jalur mulai terbuka sehingga angin terasa dingin. Kalau berjalan di siang hari akan terasa sangat panas. Setelah hampir 4,5 jam berjalan dari Pet Bocor, akhirnya kami sampai di Pos Kokopan, waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Malam ini kami tidak menyempatkan foto karena sibuk segera mendirikan tenda plus kedinginan. Kami harus segera istirahat karena paginya kami harus berjalan lagi ke pos Pondokan. Setelah 3 tenda berdiri, kami masuk ke tenda masing-masing dan segera beristirahat.

Jum’at, 15 Maret 2013

Tidak sempat menikmati sunrise! Gara-garanya kami sudah kecapekan dan begitu terlelap menikmati tidur yang hanya 3 jam saja. Kami segera bangun, mempersiapkan sarapan oatmeal dengan campuran gula dan susu coklat (nikmaattt…..!!!), mie instan, kopi, dan susu coklat hangat. Yang saya suka di Kokopan ini adalah ada warung untuk berteduh (karena tempatnya begitu terbuka dan panas), sumber mata air yang sangat segar, dan pemandangan yang luar biasa indah di mana Gunung Penanggungan dan gugusan Gunung Semeru dapat kita lihat dari sini.

Tenda kami di Pos Kokopan (Shelter II)

Sumber mata air di Pos Kokopan

Gunung Penanggungan terlihat dari Pos Kokopan

Setelah sarapan, kami segera bergantian repacking. Benar kata orang-orang, cuaca di kawasan Gunung Arjuno-Welirang cepat berubah-ubah. Baru jam 08.00, kabut sudah silih berganti datang menghampiri, setelah itu cerah lagi. Dan saat kami bersiap akan berangkat, cuaca malah mendadak mendung dan berkabut. Mau tak mau, kami harus segera cepat berkemas daripada kehujanan sebelum berangkat.

Repacking sebelum berangkat ke Pondokan

Foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan

(Kiri-kanan: Roni, Zaki, Fandi, Muchlis, Rifqy-saya, Lita, Ike, Norma

Fotografer: Rizky)

Pos Kokopan - Pos Pondokan

Setelah semua siap, kami segera berkumpul dan berdoa. Tepat pukul 09.30 WIB, kami start berangkat menuju pos Pondokan. Baru beberapa meter berjalan, tanjakan demi tanjakan sudah siap menyambut kami. Berkelak-kelok tak pernah habis menghajar kaki kami. Sekitar 20 menit berjalan, kami menemukan sebuah pos jaga dan beristirahat sebentar di dalamnya. Beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Hampir tidak ada bonus trek yang memanjakan kami. Karena itu setiap bertemu jalur yang agak datar dan lapang, kami beristirahat. Tak jauh dari pos tersebut, kami memasuki kawasan hutan Alas Lali Jiwo yang terkenal sering menyesatkan pendaki. Kalau baru pertama ke sini, lebih baik kita mengikuti jalur penambang yang lebar dan tidak dianjurkan untuk potong kompas. Memang lebih lama, tapi yang penting pelan-pelan asal selamat. Setelah bertemu di ujung jalur, kami dihadapkan jalur yang begitu menanjak dan sangat menguras tenaga. Badan saya terasa gemetar dan meminta break kepada teman-teman. Ya, di tengah jalur menanjak, kami beristirahat sambil makan roti tawar selai kacang plus gula merah untuk memulihkan energi kami.

Istirahat di tengah perjalanan

Setelah dirasa kembali pulih energi kami, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pondokan. Akhirnya kami sampai di ujung jalur curam ini begitu panjangnya. Namun, penderitaan kami belum berakhir. Berbelok dari ujung jalur, kembali dihadapkan tanjakan berbatu yang membuat mata nanar seolah-olah meminta kami menyudahi perjalanan. Tidak! Kami tidak boleh menyerah. Toh, perlahan-lahan berjalan lama-lama juga sampai. Akhirnya kami menemukan bonus trek yang cukup panjang, masih di dalam kawasan Alas Lali Jiwo. Cukup jauh juga jalur landai ini kami telusuri. Sampai kami menemukan tanjakan lagi dan samar-samar terlihat sebuah gubuk beratap jerami. Yes! Sebentar lagi kami sampai di pos Pondokan. Dua tanjakan lagi! Setelah berjalan 5 jam, kami sampai di pos Pondokan. Sepi sekali di sini, hanya 1 orang penghuni pondok yang terlihat. Dari sini, terlihat rambu-rambu kalau ke Gunung Welirang kita berjalan lurus melewati pondokan, dan Gunung Arjuno belok kiri, ke arah Alas Lali Jiwo menuju Lembah Kijang.

Pos Pondokan (Shelter III)


Plang penunjuk arah antara Gunung Welirang dan Gunung Arjuno

Di sini, kami beristirahat cukup lama karena kaki terasa gempor dihajar tanjakan berbatu, serasa diterapi lutut dan telapak kaki secara overdosis. Di Pondokan ini airnya agak keruh. Lebih baik bila mau ke Gunung Arjuno, isi ulang air dan camp di Lembah Kijang. Sedangkan apabila meneruskan ke Welirang lebih baik camp agak berjauhan dari pondok untuk menghindari friksi sosial dengan para penambang yang menurut orang-orang kurang welcome dengan para pendaki. Karena tujuan pertama kami adalah Gunung Arjuno, maka kami harus belok kiri ke arah Lembah Kijang. Setelah 30 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Lembah Kijang. Dari Pondokan ke Lembah Kijang, dapat kami tempuh hanya 20 menit saja, melalui jalan setapak. Dua puluh menit kemudian kami sampai di Lembah Kijang yang begitu indah dan sunyi. Dari sini sebenarnya puncak Gunung Arjuno bisa terlihat, namun saat itu tertutup kabut tebal. Lembah Kijang ini merupakan padang rumput yang luas di tengah-tengah kawasan Alas Lali Jiwo. Total dari pos Kokopan ke Lembah Kijang, lama waktu yang ditempuh adalah 6 jam perjalanan termasuk istirahat.

Sesampainya kami di Lembah Kijang, kami segera mendirikan tenda dan mengeringkan pakaian yang basah. Beberapa dari kami mempersiapkan logistik untuk masak makan malam. Menu makan malam kali ini istimewa, yaitu sayur sop dengan lauk nugget plus sambal kecap. Malam ini kami harus makan banyak sebagai pemulih energi kami, karena dinihari nanti kami akan summit attack ke puncak Gunung Arjuno. Oh iya, sumber air di Lembah Kijang ini sangat jernih dan segar, disaring oleh ranting-ranting dan seresah, lalu ditempatkan botol untuk memudahkan pengambilan air.

Persiapan masak untuk makan malam

Kiri-kanan: Muchlis, Rizky, Lita

Menu sayur sop lauk nugget plus sambal kecap siap saji

Setelah puas makan malam bersama, semua personel bersiap untuk sholat dan istirahat. Kami harus segera tidur untuk mengembalikan energi yang terkuras selama perjalanan sebelumnya. Menurut perkiraan, dari Lembah Kijang menuju puncak Gunung Arjuno membutuhkan sekitar 4-5 jam perjalanan. Karena itu target kami persiapan mulai pukul 02.00 dan berangkat pukul 03.00. Jika kami terlalu terlambat summit, maka kami hanya akan menjumpai kabut tebal di atas. Sekitar pukul 20.00, kami semua sudah bersiap tidur di tenda masing-masing.

Sabtu, 16 Maret 2013

Pukul 02.00 WIB, alarm handphone kami berdering, menandakan kami harus segera bersiap untuk summit attack. Sembari persiapan, kami juga mempersiapkan roti tawar selai kacang untuk bekal sarapan di puncak. Karena si Roni sudah pernah ke puncak Arjuno, dia menawarkan untuk tetap tinggal di Lembah Kijang menjaga tenda. Jadi, kami ke puncak berdelapan, kecuali Roni. Dalam perjalanan ke puncak, kami membawa sekitar 4 botol air mineral 1,5 liter plus platipus milik Muchlis yang masih tersisa 1,5 liter. Ditambah dengan 3 daypack untuk menampung logistik selama perjalanan. Selain berbekal peralatan “tempur” seperti jaket, sepatu, kupluk, headlamp/senter, sarung tangan, raincoat, dan lain sebagainya untuk menghadang angin yang sangat dingin, juga berbekal kamera digital untuk fase narsis nanti selama perjalanan dan di puncak, hehehe.

Lembah Kijang - Puncak Gunung Arjuno: Summit Attack!

Setelah berdoa dan Ji! Ro! Lu! Budal!, kami berangkat menuju puncak. Sepanjang perjalanan kami banyak bershalawat dan berdoa memohon perlindungan, kekuatan, keselamatan, dan dihindarkan dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan kami. Kami akui, Alas Lali Jiwo benar-benar terkesan seram dan wingit ketika malam hari. Alas Lali Jiwo juga terkenal sebagai alasnya para jin di Jawa Timur.

Jalur dimulai dengan mengikuti petunjuk “Puncak” di Lembah Kijang, melewati sumber air dan mengikuti jalan setapak dengan rumput-rumput yang tumbuh cukup tinggi. Terkadang di beberapa titik menutupi jalur dan terhalang beberapa kayu maupun pohon tumbang. Petunjuk berupa tali rafia atau plastik yang diikatkan di ranting-ranting pohon dan rumput cukup membantu navigasi kami dalam perjalanan ke puncak. Jalur awal relatif datar dan setelah melewati hamparan rerumputan yang basah karena embun, jalur mulai menanjak naik. Terkadang terdapat banyak batu-batu berserakan, menandakan bahwa gunung ini dulunya gunung aktif. Jalur yang menanjak cukup membuat kami ngos-ngosan. Kami sempat salah jalur ketika Muchlis berbelok kiri menaiki bebatuan yang cukup curam, karena jalur lurus nampak tertutupi oleh semak-semak. Ketika dilakukan orientasi jalur kembali, ternyata yang benar adalah lurus melewati semak-semak dan bebatuan. Beberapa jalur harus melewati gigiran tipis yang mana kanannya adalah jurang.

Beristirahat di tengah perjalanan ke puncak

Perlahan-lahan jalur menanjak naik cukup tajam, beberapa bahkan harus membuat kami sedikit memanjat berpegang pada batu-batu atau akar-akar pohon. Beberapa juga harus menerabas rimbunnya semak-semak dan ranting, karena mungkin jalur ini belum sempat dibersihkan atau dipulihkan oleh pihak pengelola, sehingga apabila berjalan di malam hari seperti ini harus berhati-hati dan tetap waspada. Kami juga menemui pertigaan yang mana ke kanan adalah jalur ke Gunung Welirang atau Cangar melalui Gunung Kembar I dan II, sedangkan ke kiri adalah jalur menuju puncak Arjuno. Selepas itu kami mulai memasuki hutan pinus yang cukup rapat vegetasinya. Harap berhati-hati dan tetap memperhatikan petunjuk ikatan tali, karena apabila salah jalur, Anda bisa bergeser ke kanan jalur yang tak lain adalah jurang. Kami membayangkan seandainya tidak ada petunjuk jalur seperti tali tersebut, maka kemungkinan kami akan kebingungan mencari jalan naik, apalagi turun.

Matahari mulai menampakkan sinarnya setelah sekitar 2 jam kami berjalan. Kami tetap harus berjalan meskipun agak perlahan-lahan dan tertatih-tatih, karena tanjakannya minta ampun, menanjak terus! Hingga akhirnya kami menjumpai batu besar dan tempat datar cukup untuk melaksanakan sholat Subuh di sana. Seusai sholat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalur kembali naik, hingga kami bertemu dengan sebuah dataran yang cukup lapang yang ketinggiannya hampir sama dengan puncak Arjuno.

Gunung Welirang nampak mengeluarkan asap dan

Gunung Penanggungan di belakang terlihat kecil

Yang mana pasar Dieng, yang mana puncak Arjuno?

Kebingungan melanda kami karena kami belum menemui tanda-tanda kuburan sebagai tetenger Pasar Dieng. Dan dari dataran tempat kami berpijak tadi sempat melihat ada dua orang di atas batu-batu besar jauh di sana. Kemungkinan itu puncak dan mereka naik lewat jalur Purwosari atau Lawang. Namun, kok tidak ada bendera merah putih yang berkibar? Hal itu semakin membingungkan kami, karena itu kami harus terus berjalan padahal stamina kami sudah cukup terkuras. Hingga akhirnya kami menemukan kuburan yang dimaksud, berarti inilah kawasan Pasar Dieng. Di sini terdapat tanah lapang untuk mendirikan cukup banyak tenda namun rawan terkena angin kencang dan badai karena sangat terbuka. Sesampainya di sini kami semakin yakin bahwa di depan kami puncak sudah hampir sampai. Jalur ke puncak dari Pasar Dieng menurun terlebih dahulu baru kemudian menanjak. Hanya dibutuhkan waktu 15-20 menit untuk mencapai puncak Arjuno dari Pasar Dieng.

Yes! Inilah Ogal-Agil, Puncak Tertinggi Gunung Arjuno!

Setelah berjalan kurang lebih 4,5 jam dari Lembah Kijang, akhirnya sampailah kami pada ketinggian 3.339 mdpl, puncak tertinggi Gunung Arjuno. Segala lelah dan capek terbayar sudah. Setelah berbulan-bulan menanti kesempatan itu, akhirnya tibalah saatnya kami menyentuh batu ogal-agil di puncak Gunung Arjuno. Saya segera sujud syukur mencium batu-batu besar itu, tanpa terasa air mata keluar pertanda begitu terharunya saya dapat menggapai puncak ini bersama teman-teman. Yang membuat kami begitu bersyukur adalah sepanjang perjalanan cuaca sangat cerah, hanya beberapa saat terhalang kabut.

Suasana di puncak Arjuno saat itu begitu indah dan cerah. Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Pemandangan di sekitarnya begitu cantik. Gugusan Gunung Semeru nampak gagah nun jauh di sana, berselimutkan awan dan sesekali mengeluarkan asap. Gunung Argopuro dalam gugusan Pegunungan Hyang Timur juga nampak terlihat. Gunung Penanggungan juga terlihat begitu kecil. Nampak pula Gunung Welirang yang selalu mengeluarkan asap belerang, perlahan-lahan mulai tertutup kabut. Kami segera berfoto-foto sebanyak-banyaknya karena 15 menit setelah kami di puncak, kabut nampaknya mulai naik. Cukup seram juga di puncak Arjuno ini, karena di sisi lain langsung berhadapan jurang dalam nan terjal.

Dinamakan Ogal-Agil karena batu-batu besar tersebut berserakan dan akan bergerak apabila tersapu angin yang sangat kencang. Yang sangat disayangkan adalah adanya aksi vandalisme coret-coret batu oleh mereka yang bangga mengatasnamakan diri sebagai pendaki atau pecinta alam. Saya berjalan menuju ke batu tertinggi dan akhirnya saya menemukan seonggok tiang bendera merah putih berkarat yang ternyata tumbang tersapu angin rupanya. Segera saya tegakkan dan meminta teman-teman untuk berfoto dengan bendera dwi warna kebanggaan kita semua, menunjukkan bahwa Gunung Arjuno dan alamnya adalah milik Indonesia. Foto-foto keren pun dihasilkan teman-teman, kala bendera merah putih berkibar tersibak angin. Begitu gagah.

Batu Ogal-Agil dan lautan awan di puncak Gunung Arjuno

Pemandangan dari puncak Gunung Arjuno

Para cewek tangguh di puncak Gunung Arjuno

Kiri-kanan: Lita, Ike, dan Norma

Para pendekar di bawah naungan merah putih

Foto keluarga session I

Foto keluarga session II

Istirahat di Pasar Dieng


Pertigaan menuju Gunung Welirang dan Gunung Arjuno

Foto keluarga di Lembah Kijang sebelum menuju tenda

Kabut mulai beranjak naik dan terlihat tebal. Kami harus segera turun sebelum badai menerpa kami. Segera teman-teman bersiap turun dan berencana sarapan roti selai kacang di Pasar Dieng sembari memulihkan stamina yang saya akui memang sangat terkuras. Badan saya terasa gemetar lagi, pertanda tubuh ini sudah lelah. Setelah mencium merah putih saya pun menyusul mereka turun. Di Pasar Dieng saya merebahkan diri dan terlelap sejenak karena saking capeknya. Roti selai kacang tiga lapis cukup untuk memulihkan energi kami. Biskuit-biskuit pun dilalap habis. Benar-benar kelelahan. Namun perjalanan kami belum usai, perjalanan turun masih jauh. Pukul 09.30, kami meninggalkan Pasar Dieng menuju Lembah Kijang. Memasuki kawasan pinus gerimis rintik-rintik mulai turun. Begitu cepat cuaca berubah di sini, tidak terduga. Setelah 3 jam berjalan, akhirnya sampai juga kami di Lembah Kijang, dan segera berganti pakaian plus mempersiapkan makan siang. Sungguh, badan ini rasanya remuk dihajar tanjakan semenjak dari Pos Tretes. Bagi saya, Gunung Semeru kalah maut tanjakannya, karena di sana lebih banyak bonus trek, kecuali selepas Kalimati menuju puncak Mahameru.

Selepas makan siang dengan menu kare telor, kami kembali memasak untuk makan malam. Saat itulah dibahas apakah melanjutkan perjalanan ke puncak Welirang? Setelah dipertimbangkan dengan matang, karena faktor kurangnya stok baju kering personel, fisik yang sudah drop, dan keterbatasan logistik pribadi, maka diputuskan kami menunda perjalanan kami ke Welirang. Kami memilih stay di Lembah Kijang semalam lagi, dan besok pagi kembali pulang ke Tretes. Menu makan malam kali ini adalah sayuran sehat, oseng-oseng tempe. Sempat bermain kartu remi, pukul 20.30 WIB kami memutuskan untuk segera tidur karena sangat letih.

Minggu, 17 Maret 2013

Pagi kami terbangun, terasa remuk redam badan ini. Setelah sholat Subuh, kami mempersiapkan sarapan dengan menu istimewa, yaitu omelet telor plus minuman susu coklat hangat. Para cowok memasak, sedangkan para cewek malah bermain di Lembah Kijang, berarti mereka kebagian tugas cuci piring, hahaha. Ternyata foto-foto para cewek keren juga, Lembah Kijang begitu hijau dan indah di pagi hari. Nampak juga di atas sana puncak Gunung Arjuno yang sesaat tertutup kabut lagi.

Cuci piring di pinggir aliran sumber air Lembah Kijang

Puncak gunung Arjuno terlihat dari Lembah Kijang

Potret Lembah Kijang

Setelah sarapan siap, kami segera melahap dengan nikmat makanan masing-masing. Setelah sarapan, kami segera bergantian repacking agar tidak terlalu malam sampai di pos Tretes. Setelah packing beres, kami segera berkumpul dan berdoa untuk keselamatan jalan pulang. Pukul 10.45 WIB kami berangkat. Jalan pulang terasa cepat, karena teman-teman berjalan begitu ngebut saking inginnya segera sampai kos dan beristirahat. Lembah Kijang ke Pondokan kami tempuh hanya 10 menit. Di Pondokan kami bertemu dengan beberapa penambang, di antara mereka ada yang ramah dan ada juga yang bersikap dingin dengan kehadiran kami.

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Kokopan. Baru beberapa meter berjalan, kabut sudah begitu tebal menemani kami dalam perjalanan. Meskipun turun terasa cepat, tapi turun juga terasa berat dan menyiksa, karena kami harus menahan beban dengan kaki dan lutut kami di atas bebatuan. Terasa seperti pijat refleksi namun membuat betis cukup ngilu. Setelah berjalan 3 jam, kami sampai di Pos Kokopan. Di sini kami beristirahat 1 jam untuk memasak oatmeal plus menghabiskan logistik karena sudah cukup kelaparan plus untuk memperingan beban. Di sini kami bertemu dengan seorang pendaki dari Sidoarjo yang sendirian saja nampaknya. Kami sempat memberikannya sebotol susu coklat hangat.

Istirahat di Pos Kokopan

Pukul 15.00 WIB, kami beranjak dari pos Kokopan menuju pos Tretes. Kembali jalur berbatu yang menurun ini menyiksa kami tanpa ampun. Sekitar 2 jam 15 menit kemudian kami akhirnya sampai di Pet Bocor. Sedikit lagi kami sampai di pos Tretes. Setelah rehat sejenak, saya dan Zaki pun berlari turun menuju pos Tretes. Rizky ikut juga berlari selepas pintu gerbang. Akhirnya tepat pada pukul 17.30 WIB, kami sampai di pos Tretes. Buru-buru kami segera sholat Ashar karena sebentar lagi Magrib. Saya segera melapor ke pak Syokir dan mengambil KTP saya. Setelah berfoto bersama, kami berpamitan pulang tepat saat adzan Magrib berkumandang.

Meninggalkan jejak Gamananta

Berfoto bersama Pak Syokir di pos Tretes sebelum pulang

Perjalanan pulang ke Malang menempuh waktu hampir 1,5 jam. Kami kembali berkumpul di Samanta Krida untuk mengumpulkan barang-barang sewaan yang akan dikembalikan. Evaluasi menyeluruh baru kami lakukan pada hari Rabu, tanggal 20 Maret 2013 di tempat kopdar kami biasanya. Alhamdulillah, walau kami gagal menggapai Gunung Welirang, pencapaian kami di Gunung Arjuno harus disyukuri. Salam Respect!

Special Thank’s to:

Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW

Orang tua masing-masing

Pak Syokir (08121788956) dan Pak Suryono (085856052510) atas bantuan dan keramahannya dalam informasi pendakian lewat jalur Tretes

Crew Ekspedisi GARWE Gamananta

NB:

  1. Jaga sikap dan tingkah laku selama pendakian
  2. Jaga kelestarian alam dan lingkungan selama pendakian
  3. Kalau ingin menanyakan status pendakian Gunung Arjuno-Welirang bisa ditanyakan ke Pak Syokir dan Pak Suryono melalui nomor terlampir di atas (lebih sopan telepon)
  4. Jangan memaksakan diri ke puncak kalau cuaca tidak mendukung

Biaya-biaya:

  • Tiket masuk plus asuransi: Rp 7.500,00/orang (14 Maret 2013)
  • Parkir motor hari Jum’at-Minggu: Rp 15.000 ,00 (14 Maret 2013)
  • Biaya-biaya kelompok lain-lain cek di Katalog Perjalanan

Penulis: Rifqy Faiza Rahman

Dokumentasi: GAMANANTA

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: