Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mawan Sidarta

Saya suka travelling, alam dan lingkungan. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di selengkapnya

Kisah Tragis Prabu Kalagemet di Candi Bajang Ratu Mojokerto

HL | 14 April 2013 | 18:34 Dibaca: 3561   Komentar: 10   6

13659371531515863589

Meski terbuat dari batu bata merah, Candi Bajang Ratu tetap memperlihatkan pesonanya

Kerajaan Majapahit menjadi potret Bangsa dan Negara Indonesia di masa lalu. Jatuh bangunnya negara ini juga pernah dialami Majapahit kala itu. Masa pemerintahan Raja Jayanegara yang singkat menjadi contoh yang baik bagi generasi sekarang.

Dari perempatan jalan besar Trowulan. Perjalanan kami bagi dua tahap. Pertama kami dahulukan kunjungan ke komplek kekunoan yang terletak di bagian utara perempatan itu.

Di daerah ini ada kekunoan antara lain Candi Bajang Ratu, Wringin lawang dan Kolam Segaran. Tahap berikutnya di bagian selatan perempatan Trowulan, kami mengunjung Candi Gentong dan Brahu.

Gapura Bajang Ratu terletak di desa Temon. Menurut penjelasan juru kunci yang kami temui. Ada pendapat yang menarik mengenai bangunan candi ini. Bajang Ratu berasal dari Bahasa Jawa. “Bajang” berarti tidak jadi atau kerdil. Sedangkan “Ratu” berarti raja.

13659376761248002652

Candi Bajang Ratu terlihat dari depan

Pendapat ini dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Jayanegara yang relatif singkat karena timbulnya banyak pemberontakan di dalam negeri Majapahit.

Bahkan Jayanegara yang punya nama lain Kalagemet itu tewas ditangan tabibnya sendiri. Tabib Tanca namanya.

Menurut ahli purbakala dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan pintu gerbang bernentuk “Paduraksa” yaitu gapura yang memiliki atap.

Candi ini terbuat dari batu bata, kecuali ambang atas pintu dan tangga masuk terbuat dari batu gunung (andesit).

Candi ini memiliki sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Pada kaki candi terdapat hiasan panil yang menggambarkan cerita “Sri Tanjung”.

Di bagian atas tubuh candi terdapat ambang pintu yang di atasnya terdapat hiasan kala dengan ornamen sulur-suluran.

Sedangkan bagian atas atau atap candi bentuknya bertingkat-tingkat  dengan puncaknya berbentu persegi.

Pada atap candi terdapat ornamen kepala kala diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda dan relief bermata satu.

13659381821166368696

Pada sayap kanan terdapat dinding berbentuk panil sempit dengan relief cerita Ramayana yang digambarkan dengan perkelahian raksasa melawan kera.

Sayap kiri ada ornamen berupa binatang bertelinga panjang.

Para ahli purbakala mengatakan bahwa Gapura Bajang Ratu merupakan pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk mengenang Prabu Jayanegara yang dalam kitab Negarakertagama disebut kembali ke dunia Wisnu tahun1328 Saka. Berdasarkan relief binatang bertelinga panjang dan relief naga diperkirakan Bajangratu berasal dari abad 13 – 14.

dibangun gapura ini belum pernah dipugar,  kecuali usaha-usaha konsolidasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915.

Pada tahun 1989, Gapura Bajangratu mulai dipugar dan selesai tahun 1992. Dari kejauhan Candi Bajangratu tampak menawan dipadu pepohonan dan taman bunga yang tertata  dan terawat apik semakin menambah pesona candi yang lebih mirip gapura ini.

Perjalanan kami tidak berakhir sampai di sini saja. Tanpa menunggu berlama-lama kami bergegas menuju candi-candi peninggalan Majapahit lainnya. Untuk melengkapi pengalaman travelling kami.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 12 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: