Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mawan Sidarta

Saya suka travelling, alam dan lingkungan. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di selengkapnya

Perangi Narkoba Ala Sunan Ampel dan Kisah Shonhaji yang Bisa Melihat Ka’bah dari Surabaya

REP | 14 April 2013 | 13:01 Dibaca: 609   Komentar: 2   0

Perkembangan Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa tidak lepas dari jasa para wali atau pejuang Islam lainnya. Surabaya termasuk kota yang disebut-sebut punya andil besar dalam perkembangan Agama Islam di Pulau Jawa.

Dulu di kota yang mendapat  julukan Kota Pahlawan ini pernah hidup seorang aulia/wali Allah sekaligus penyebar Agama Islam yang bernama Sunan Ampel atau Raden Ahmad Rahmatullah.

Bukti perjuangan Sunan Ampel dalam mengembangkan Agama Islam di Pulau Jawa hingga kini masih bisa kita saksikan keberadaannya di kawasan Ampel Suci – Surabaya.

1365917116991170247

Masjid Agung Sunan Ampel yang sudah berusia ratusan tahun

Jumat pagi kami berangkat dari rumah menuju kawasan Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya. Kebetulan ada seorang tetangga dekat rumah meminta tolong kepada kami untuk membelikan ia sandal kulit.

Kami ingat bahwa di daerah Ampel Surabaya selain terkenal dengan pertokoan yang menyediakan berbagai kebutuhan umat Islam. Di salah satu stannya juga ada penjual yang memajang sandal dan sepatu dari bahan kulit asli.

Makanya kami bergegas berangkat ke kawasan Ampel lebih pagi supaya lebih leluasa memilih sandal pesanan tetangga kami dan lebih menikmati perjalanan ke kawasan wisata religi makam sunan Surabaya ini.

Bagi wisatawan yang berdatangan dari luar kota, untuk mencapai kawasan wisata Ampel ini cukup dengan hanya naik becak dengan tarif  Rp. 5000,- dari terminal Jembatan Merah menuju lokasi Ampel yang berjarak  kira-kira 1 kilometer.

Pengunjung bisa melihat-lihat pemukiman di sepanjang  Jalan Panggung dan Jalan Sasak yang sekaligus dijadikan tempat berusaha (toko) oleh orang-orang Arab.

Umumnya mereka berjualan bibit-bibit minyak wangi,  juga barang-barang  lainnya. Kemudian sampailah kami pada sebuah kampung menuju masjid dan makam Sunan Ampel yang bernama kampung Ampel Suci.

1365917403790098862

Kampung Ampel Suci menjadi pusat bisnis yang menyediakan berbagai kebutuhan umat Islam

Kampung Ampel Suci sendiri  merupakan pusat bisnis (pertokoan) yang sebagian besar pemiliknya didominasi oleh orang-orang Arab. Beberapa tempat juga ada penjual asongan yang berasal dari etnis Madura dan Jawa.

Di tempat ini tersedia secara lengkap kebutuhan umat Islam. Mulai dari baju muslim,  kopyah,  minyak wangi,  alat-alat kesenian Islam,  buku-buku Islam,  kurma, juga jajanan khas daerah ini “Pukis Ampel dan “gulai kacang ijo”.

13659178071411071517

Kue khas Ampel. Pukis yang rasanya manis

Masjid dan Makam Sunan Ampel setiap hari ramai dikunjungi orang.  Mereka berdatangan dari dalam dan luar kota. Mungkin saat kami berkunjung bertepatan dengan hari Jumat

sehingga komplek wisata ini berjubel,  penuh sesak dengan penziarah dan jamaah yang sedang menunaikan ibadah Sholat Jumat.

1365918199551367645

Berdoa, membacakan Yassin dan Tahlil di pusara Sunan Ampel

Sunan Ampel atau yang bernama lain Raden Ahmat Rahmatullah merupakan pejuang dan penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Beliau dikenal sebagai Bapak dari wali-wali yang ada di Pulau jawa.

Ajarannya yang sangat terkenal dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang yakni “Emoh Limo”  (tidak mau 5 hal).  Lima hal yang dilarang itu ialah : berjudi, minum minuman keras, mencuri, memakai ganja/narkoba, berzina.

Di dalam komplek makam Sunan Ampel terdapat petilasan (jejak kaki para wali sembilan) dan beberapa makam yang konon memiliki cerita yang unik dan menarik.

1365918496595471650

Makam Shonhaji atau Mbah Bolong. Murid kesayangan Sunan Ampel ini konon bisa melihat Ka

Misalnya kisah tentang Mbah Bolong, juru kunci menceritakan bahwa Mbah Bolong atau Shonhaji adalah murid Sunan Ampel. Makamnya terletak di sebelah depan Masjid Agung Sunan Ampel.

Saat pendirian masjid kala itu Beliau yang dipercaya Sunan untuk mengatur letak pengimaman. Setelah masjid berdiri,  sebagain teman Shonhaji ini masih meragukan letak kiblatnya.  Lalu bertanyalah mereka kepada Shonhaji “Apa betul letak kiblat masjid ini ?”.

Kemudian Shonhaji melubangi dinding pengimaman di sebelah barat,  seraya berkata “Lihat melalui lubang ini Ka’bah dapat terlihat”.

Teman-teman Shonhaji lalu berdatangan dan melihat ke arah lubang ternyata tampak oleh mereka bangunan ka’bah. Setelah peristiwa yang menakjubkan itu Shonhaji dijuluki Mbah Bolong.

Satu lagi keajaiban yang diceritakan juru kunci, yakni kisah tentang Mbah Sholeh. Beliau semasa hidupnya sebagai seorang tukang sapu Masjid Ampel. Makamnya ada sembilan yang kesemuanya merupakan makam Mbah Sholeh, dan terletak di sebelah timur masjid.

Ketika Mbah Sholeh wafat dimakamkanlah Beliau  di depan masjid. Suatu ketika lantai masjid kotor, berkatalah Sunan Ampel kala itu “Andai saja Mbah Sholeh masih hidup tentu masjid ini terjaga kebersihannya”.

Tiba-tiba Mbah Sholeh hidup dan terlihat sedang menyapu di pengimaman. Beberapa bulan kemudian Mbah Sholeh wafat dan dimakamkan di sebelah timur makamnya yang dulu.

Kalimat yang sama diucapkan kembali oleh Sunan Ampel sehingga Mbah Sholeh hidup kembali.  Setelah makam beliau ada delapan maka wafatlah Sunan Ampel.

Beberapa bulan kemudian Mbah Sholeh wafat sehingga jumlah makamnya sebanyak Sembilan. Makam terakhir beliau inilah yang berada paling timur.

Begitulah cerita tentang keajaiban Mbah Bolong dan Mbah Sholeh secara turun-temurun hingga terdengar sampai sekarang.

Di antara para wali (wali songo = wali Sembilan) yang ada di Pulau Jawa, Sunan Ampel termasuk yang dianggap paling tua.  Guru dari para sunan yang ada.

Sunan Bonang (Tuban) dan Sunan Drajad (Lamongan) merupakan anak-anak beliau dari hasil pernikahannya  dengan Dewi Condrowati (putri Majapahit).

Sementara itu Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Raden Fattah merupakan anak menantu karena anak-anak perempuan Sunan Ampel diperistri oleh sunan-sunan tersebut.

Pantas kiranya bila Sunan Ampel dijuluki sebagai Bapak para wali/sunan di Pulau Jawa.

Di dalam area makam,  sebelum masuk ke makam Sunan Ampel pihak pengelolah juga menyediakan gentong-gentong yang berisi air yang sudah diproses terlebih dulu melalui purifikasi dan sterilisasi sehingga siap minum.

Bagi para pengunjung tidak perlu khawatir kehausan dan bisa membawa pulang air minum Sumber Ampel ini atau untuk bekal minum di perjalanan.  Diyakini air dari sumur Ampel ini berkhasiat obat dan membuat awet muda.

Satu hal yang bisa kita petik dari wisata religi kali ini ialah, bahwa ajaran Sunan Ampel tentang “Emoh Limo” menjadi inspirasi  dan pegangan bersama yang sangat relevan bagi perikehidupan modern dimana moralitas sering dipertanyakan dan kemaksiatan sudah menjadi hal biasa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: