Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nusa Putra

Syukuri dan nikmati hidup

Senja Tanah LOT

REP | 18 April 2013 | 16:47 Dibaca: 250   Komentar: 0   0


Awan membungkus matahari. Langit mulai menghitam, dan laut tampak bergerak dalam gulita. Ombaknya seperti anakonda bergumul berkejaran dan menghempaskan diri di Tanah Lot. Pukulannya lemah karena laut sedang surut. Tanah Lot tampak tinggi menjulang, ada cahaya lampu berpendar pada dindingnya. Terdengar suara doa memenuhi langit senja. Sejumlah orang, lelaki dan perempuan, berjalan pelan menaiki tangga menuju tempat ibadah di puncak Tanah Lot. Di bagian bawah ratusan wisatawan bergerombol mencoba mencari sudut pengambilan gambar dengan latar belakang Tanah Lot.

Tanah Lot terlihat kokoh berdiri. Suara ombak semakin bergemuruh, angin bertambah kencang, dan hari makin gelap. Dikegelapan senja, Tanah Lot kelihatan semakin unik. Bentuknya yang membesar ke atas dan berdiri di dalam laut memberi kesan eksotis. Alam membentuknya bagai seonggok batu berdiri tegak di dalam air.

Bagi orang moderen yang sepenuhnya rasional-empiris, Tanah Lot adalah fenomena alam biasa seperti fenomena alam lainnya. Tentang bentuk dan tempatnya bisa dijelaskan dengan penelitian. Misalnya bentuk Tanah Lot yang membesar ke atas, tidak lebih merupakan efek dari pukulan ombak yang terjadi terus menerus. Orang moderen yang rasional-empiris memang enggan memasuki wilayah abu-abu yang tak dapat direngkuh oleh pemikiran rasional dan pembuktian dengan pengindraan. Bagi mereka, Tanah Lot ya sekedar fenomena alam, tidak lebih dan tidak kurang.

Sikap manusia moderen yang rasional-empiris ditunjukkan dengan baik dalam Avatar James Cameron. Mereka adalah fihak yang berusaha mengambil material berharga yang ada di bawah pohon besar. Material itu merupakan bentukan alam berharga mahal dan bisa mendatangkan keuntungan luar biasa. Mereka tidak peduli pada keyakinan penduduk asli tentang Pohon Kehidupan. Didorong libido kerakusan kapitalisme, mereka hancurkan Pohon Kehidupan demi material berharga itu. Mereka tak pernah menyadari, Pohon Kehidupan itu bukan sekedar pohon, ada sesuatu di balik pohon itu.

Begitulah kebanyakan orang Bali menghayati Tanah Lot. Tanah Lot bukanlah sekedar tanah yang berdiri di laut. Tanah Lot adalah tampakan luar dari sesuatu yang lebih spiritual. Tanah Lot merupakan penampakan dari kekuatan yang Menciptakan dan Mempertahankan keberadaannya. Tanah Lot merupakan cipta karya dari Kekuatan itu. Pastilah Kekuatan itu tidak dapat direngkuh oleh pengindraan, tetapi dapat dirasakan dengan sangat jelas oleh iman. Iman seringkali tak butuh pembuktian empiris yang berakar pada pengindraan. Iman berakar pada denyut hati, melampaui pemikiran rasional dan pembuktian empiris. Ini bukan soal ada bukti atau tidak, tetapi soal percaya atau tidak.

Bagi orang beriman, apa yang tampak bukanlah segalanya. Apa yang tampak hanyalah pertanda, bukan tanda pada dirinya sendiri. Apa yang tampak memberi tanda pada Sumber dari segala penampakan, semua keberadaan. Karena itulah sebagai pengakuan dan rasa syukur Tanah Lot dijadikan pura, tempat menunjukkan bahwa manusia sekedar keberadaan yang bergantung pada Sang Maha Penentu.

Rasa syukur tentu tidak cukup ditunjukkan dengan ucapan. Rasa syukur itu harus diaktualisasikan dengan cara yang konkrit. Menjadikan Tanah Lot sebagai pura adalah salah satu bentuknya. Karena di pura setiap hari secara teratur Sang Penentu disambangi, dipuji, dan dengan tulus sang hamba menundukkan diri. Bersamaan dengan itu sekaligus ditegaskan jangan ganggu Tanah Lot. Tanah Lot sebagai sebuah pertanda keberadaan Sang Ada mesti dipelihara. Namun, bila ada manusia, siapa pun dia yang ingin menikmati keindahanya, silahkan saja.

Keberadaan Pura Luhur Tanah Lot pada hakikatnya menjelategaskan sebuah konsep kunci dalam semua agama. MANUSIA HARUS MENJAGA KESELARAS AN DAN HARMONI SEKALIGUS DENGAN SANG MAHA ADA, SESAMA MANUSIA DAN ALAM SEMESTA.

Hanya dengan menjaga harmoni dan keselaran itu hidup dapat dipertahankan, ditumbuhkembangkan dan diberi makna. Hidup bermakna bagi orang beriman adalah hidup yang berarti bagi orang lain dan semesta di bawah cahaya Sang Maha Ada.

Malam menjelang di Pura Luhur Tanah Lot. Para wisatawan berangsur meninggalkannya. Pura Luhur Tanah Lot kembali pada sepi, terdengar lantunan doa dibawa sepoi angin, ada wangi dupa di udara terbuka. Suara ombak laut pecah membentur pantai. OM SHANTI, SHANTI, SHANTI OM………..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Rahasia Mantan …

Witri Prasetyo Aji | 7 jam lalu

Kompasiana …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Menelusuri Pusat Keramaian Pusat Kota Malang …

Muhammad Azamuddin ... | 8 jam lalu

Perawatan Penyakit pada Sistem Pernapasan …

Meli Yunita Agustin | 8 jam lalu

Dari Pameran Foto Arsip …

Ade Aryana Uli Pan... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: