Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nahariana P

segelas coklat panas dan sepotong muffin

Ke Ponorogo, Datanglah Saat Purnama

REP | 19 April 2013 | 16:19 Dibaca: 383   Komentar: 6   1

Ke Ponorogo? Datanglah Saat Purnama

By: NP

1366359906798599155
Ternak nila, Ngebel. LOVE

Travelling, backpacker, jalan-jalan? NO WAY! RA SUDI, wegah. Jujur, aku sama sekali nggak gitu suka sama yang namanya travelling. TRAVELLING, sodarah-sodarah! Secara gitu loh. Setelah acara travelling selesai, aku jadi nggak suka nahan diri sendiri untuk tidak cerita pada keluarga, temen, tukang sayur, tukang ojek hingga gelas-gelas kaca dan tembok bisu kamarku. Kok bisa? Lah iya, secara akunya dolan secara gelandangan, pindah dari transportasi umum satu ke yang lainnya hanya karena satu hal … eh, dua ding, aku tidak lanyah dan tidak punya kendaraan (masalah lo!). Sensasinya asoy geboy tauk.
Di Ponorogo, alat transportasi paling nyaman dan paling uhuy-able adalah motor. Selain bisa dipakai kapan saja, kemana saja dan di mana saja medannya, tarifnya juga ramah di kantong. Sayangnya, ketika aku ingin merasakan dejavu di sepanjang jalan kenangan (halah?!), ‘tukang ojek’ pribadiku sedang sakit. Sedangkan ‘tukang ojek’ langganan sedang ingin kencan kuliner nila bakar di area wisata telaga Ngebel.

Mbok bayar pira e, aku wegah. Soale arep bablas neng Ngawi, mancing,” begitu jawabnya.

Jadilah hari itu aku merayap on foot keliling Ponorogo. Sendirian (uhuk, jomblo niyehhh). Bayangkan, bayangkaaaaannnn! Trus, trus, dari terminal Seloaji, nunggu bus jurusan Purwantoro/ Slahung/ Pacitan yang melewati area makam Batoro Katong lamanya seperti nunggu jodoh turun dari langit (derita lu, mblo).

Mendaratkan kaki di jalan Ki Ageng Mirah tepat di STMJ (Sekolah Teknik Menengah Jenangan) alias SMKN 1 Ponorogo, mulailah penjelajahan ke makam leluhur “Betoro Katong”. Beliau adalah sosok yang mbaureksa, pendiri Kabupaten Ponorogo dan juga merupakan Adipati pertama Ponorogo, utusan Kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo (sumber di sini).

Entah apa yang ada dalam tempurung otakku saat itu_selain makan, fesbukan, twiteran, chattingan, ngegame (loh?!). Yang jelas, mengumpulkan serpihan-serpihan mood jepret dan mbolang yang hilang gara-gara jalan sendirian itu rasanya sangat siswatuh Ujian Basional 2013. Memasuki area makam dan mengucap “Assalamu alaikum, yaa ahlul kubur“, langsung aja kebiasaan ’selonong boy’-ku muncul.

1366359988742323793

Seumur-umur, memasuki area makam yang biasanya enjoy-enjoy saja (soalnya rumah ebes-emes dekat dengan makam umum_dulu sering nyari bekicot di area makam lohhh … eh), hari itu terasa ‘mak sengkring‘ bulu roma iramaku berdiri. Padahal aku sudah copot sepatu loh saat masuk jalur bertegel putih bersih di depan masjid Setono itu (apa hubungannya coba?). Mengingat ini makam leluhur dan tentu saja ada aturan main untuk tidak sembarangan masuk, kecuali dengan maksud yang jelas terlebih ada surat pendamping dari instansi, maka aku mengurungkan niat untuk melangkah lebih dalam. Sebagai gantinya, aku menikmati rumah masa depan itu di area luar atau pintu masuk yang selatan dekat kelas VI, MI Setono, di mana mataku juga  menemukan ‘Harap Tenang, Ada Ujian’.

Alhasil, keluar makam dengan tangan hampa itu aku malah disuguhi pelang milik juru makam. Tau gitu, tadi izin dulu kan ya. Ya sudah, karena perjalanan belum usai, dengan legawa_lega, lila, ora kuciwa_ aku lanjutkan perjalan menuju alun-alun. Lagi-lagi on foot. Sekali lagi, bayangkan sodara, bayangkan! Cewek single, pacarable (ato nggak laku ya? ah beti), keci abis, wise, meyakinkan, tapi … sendirian. Apa kata dunia?

“Cewek, swim suitttt.”

“Tindak pundi, Mbak?”

“Ojek, Dik?”

“Pasti jomblo!”

Nah, yang paling sering kudengar adalah yang paling bawah. Batinku langsung teriak, ‘Iya nih, jomblo akut, udah SNI loooh. Puas? Puas?’ Mana belum sarapan pula, duh! Padahal berangkatnya udah jam 10-an.

Matahari yang berada di atas kepala, membuatku berbelok ke Indo***, membeli minuman dan dua potong roti. Berharap bekal ini lebih dari cukup sampai malam nanti dan tidak membuatku kekurangan gizi. Azaz iritisasi sekali.

Berjalan dari makam Betoro Katong hingga Pasar Pon, berlanjut jalan Batoro Katong sampai Bundaran dilanjut ke barat sampai pasar Songgo Langit (alias pasar Legi, sebelum renovasi akibat kebakaran beberapa tahun lalu) benar-benar membuat telapak kaki kram. Serius. Karena memang sebelumnya mata kaki kanan sedikit bermasalah saat hiking. Eh, sebelumnya isoma dulu di mushola belakang pasar. Terasa banget kan ya, ini jalan-jalannya niat banget. Jalan dalam arti sebenar-benarnya berjalan.

1366360096444679005

Menurut mataku, jalur paaaaaanjang yang aku lalui tadi lumayan nyaman, lumayan luas, lumayan bersih, lumayan asri/ rindang meski trotoar sering dikorup sama angkringan/ warung tenda/ kios. Mungkin, jalan kaki tidak menjadi budaya sebagian manusia di Ponorogo (bahkan di negara ini? lebay) sehingga trotoar kurang terawat dan sebagian ada lubang yang hanya ditutupi anyaman bambu (sama halnya dengan nasib trotoar di kota lain yang sempat aku singgahi). Mengingat, motorlah yang menjadi raja jalanan, dikarenakan kredit motor begitu mudah (dan murah). Dengan duit cepek pun bisa membawa pulang motor baru. Keserampangan berkendara bagi seragam putih_biru atau putih_abu-abu makin membuatku parno naik motor (sabar, meeeen, sabar). Lagian, kalo kreditan macet, paling banter motornya ditarik dealer. Yang penting udah ngreyen motor baru, begitu alasannya. Nah.

Masuk pasar tradisional bertingkat sambil nenteng kamera adalah pemandangan ganjil tentu saja. Seharusnya kan di tanganku ada seikat kangkung, seledri, ebi, tomat, kentang, makroni (eh, jadi belanja beneran?) … Risih diperhatikan layaknya Lady Gaga berkostum daging segar, kondisi pencahayaan yang tidak mendukung, bingung nggak bisa nawar buat beli vas bunga, setengah kilo kacang hijau, masing-masing seperempat kilo ketan hitam dan putih, gula jawa (ini nggak ngerti ukurannya) serta kelapa tua yang banyak santannya, aku naik lantai atas yang malah ditawari daster dan gerabah. Aku pun keluar pasar dengan tangan hampa. Jepretan pun tidak ada yang bener.

Mempersingkat waktu (ihhh … salah kaprah! Mana ada waktu disingkat), aku lanjutkan jalan-jalannya menuju pasar loak di belakang SMPN 1 (kalo belum pindah). Masalahnya, menuju pasar loak itu aku harus melewati jalan Pahlawan. Di sana ada deretan toko buku. Perintah otak dan kaki yang tidak seiring sejalan ini benar-benar bikin senewen. Ajojingnya, serial buku anak-anak yang fulkolor fulgambar membuatku horny. Setan bener. Mana dompet ketinggalan pula (nah, ketahuan kan alasan utama jalan kaki sejauh itu. Duit transportasi, meeeen, duit). Dengan uang seadanya, aku mengambil sebuah buku (yang saat ini belum selesai kulahap). Apa? Lu minta gue ngereview? Wani pira? #Eh.

Setelah bayar, aku langsung buka sampul plastik dan membolak-balik buku di depan mbak jilbaber lebar yang ehem itu. Sekedar membolak-balik halaman buku sih yang akhirnya masuk ransel tanpa dibaca_hingga dua hari lalu, lupa kalau pernah beli buku ini. Film aca-aca are-arenya Syahrukh Khan versus Kharisma Kapoor (bener nggak artisnya mereka) di pojok toko mengiringi kepergianku dengan tarian ‘Dil to pagal hai’. Serius, ini pilem kapan cobak? Oh, Bollywood.

Sepotong roti yang kumakan sebelum keliling pasar Songgo Langit tadi sudah tidak berbekas. Melihat siswa-siswi SMP 6, SMP 1 dan mungkin SMP 3 yang letakknya satu komplek, yang sedang duduk-duduk sambil makan siomay, cilok, pempek, es teh, eS eMPe dan makanan gak jelas lainnya itu bener-bener penyiksaan duniawi. Kejam. Awas ya kalo gue udah nggak jomblo, pasti saat kelaparan gini gue ditraktir sama aa gue, di tempat romantis, makan minum dan wifi gratis, di sebuah Kafe di sebelah rumah sakit jalan Dr. Sutomo (tapi kapan, mblo? Masalahnya, makan elu tuh kayak kuli pasar tetapi badan elu kayak pasien busung lapar!)

Sebodo teuing. Langkah pun melaju alun-alun kota. Anehnya, kaki ini mengantarku ke Pedopo kabupaten. Jlep! Aku ternganga dengan keteguhan acra putri Kediri, Dewi Songgolangit yang berdiri di belakang blok M (blok macan_ yang merupakan patung seorang pria gagah perkasa memesona seluruh umat manusia yang sedang mencambuk patung macan). Arca/ patung dewi ini sebenarnya berdiri, sendiri, di atas air mancur. Namun, ketika ke sana airnya sedang tidak mancur (lah air apa dong? Air cinta aja ya). Sttt, hanya sekelumit area itu saja loh yang bisa diakses bebas sekarang.

Rupanya, sejak dua tahun area pendopo kabupaten sudah TIDAK UNTUK UMUM lagi. Jalan beraspal melingkar dengan dua jalur di kiri dan kanan, kini hanya bisa diakses dari pintu kanan saja. Menurut satpam, Santoso, yang mengijinkan aku masuk (hanya karena melihat penampilanku yang kalem, innocent dan confidence sepertinya *ngakak tendang-tendang), area itu sempat menjadi area berdua-dua muda-mudi. Padahal kan kalo muda-mudi berdua, ketiganya adalah … SNIPER aka PHOTOGRAPHER (eh). Bahkan, dulu penjual bakso gerobak pun sering mangkal di blom M. Dengan penutupan jalur ini serta perizinan yang tidak ribet (kecuali sowan ke Bupati), aku pun bebas melenggang di sana. Kantor berbagai dinas di Ponorogo berjajar di sepanjang jalur memutar itu termasuk musholla dan ‘rumah’ satpol PP.

1366360155776281707

Reyog, Resik Endah hYang Omber Girang-Gumirang, itu yang kurasakan ketika memasuki pendopo. Slogan yang diboomingkan pada masa pemerintahan Bupati Markum Singa Dimeja tersebut memiliki arti bersih indah ketuhanan lapang gembira-menggembirakan. Dulu, pada waktu tertentu, pendopo ini ramai dengan pameran seni lukis. Tapi pameran itu kini beralih ke DinPar di jalan Pramuka (ujar Santoso ketika aku ajak berbincang. SKSD atau modus, mblo? … Arghhh, bawel-able sih lu). Rumah dinas Bupati pun lebih senyap lagi dengan sebuah gardu di sebelah timur rumah dinas yang bertuliskan ‘tamu harap lapor’. Kebetulan_atau memang garis Tuhan (dihhh), saat itu bebarengan segerombolan mas-mas potograper yang sedang ngonsep (entah prewedd/ model) di area pendopo. Aku sudah harus pergi ketika mereka baru datang.

Alun-alun adalah destinasi wajib yang musti di kunjungi. Sebagaimana alun-alun yang menjadi identitas di beberapa daerah di Jawa, alun-alun Ponorogo menganut tata kota di mana menempatkan daerah pemerintahan di sebelah utara, daerah hiburan di sebelah timur (Apollo), pusat perbelanjaan di sebelah selatan (Poper) dan tempat ibadah di sebelah barat (masjid Agung). Sayangnya, ciri khas pohon beringin di tengah alun-alun sudah tidak ada lagi. Berganti dengan tiang bendera. Padahal akunya kan belum say hai goodbye sama beringin tua itu? Tega.

Bila dulu alun-alun sangat hijau dengan keasrian rumputnya, kini tanaman yang tak lebih tinggi dari 10 senti itu berganti dengan stand makanan, pakaian, arena bermain dan panggung pementasan Reyog Bulan Purnama (di bagian selatan), yang bila sore tiba berubah fungsi menjadi arena sepak bola. Hanya di beberapa tempat saja yang terlihat hijau. Secara makhluk hidup itu akan enggan survive/ berkonspirasi jika harga dirinya diinjak-injak. Terlebih makhluk hidup bernama rumput itu sama sekali tidak dihargai dan dilecehkan keberadaanya. Barangkali perhitungannya di akhirat nanti (inih ngomong apah sih?).

13663602042045190190
Reyog Bulan Purnama

Beberapa malam sebelumnya, tepat pada malam purnama penuh, di panggung permanen ini ada pertunjukan Reyong Bulan Purnama (RBP) dari Grup Reyog ‘Singo Bilowo’ Kecamatan Pulung. Acara ini rutin diadakan setiap bulan pukul 8-10 malam, tepat pada malam purnama dengan grup reyog yang tidak sama tiap bulannya. Selain menarik wisatawan, menggeliatkan ekonomi dengan pasar malamnya (meski pasar malam tiap hari juga ada), RBP sangat sukses meregenerasi kesenian reyog. Bahkan beberapa pejabat, sesepuh warok dan kakang sendhuk Ponorogo duduk di antara kursi undangan yang ditempatkan khusus di depan panggung RBP, berpagar besi pula. Serius. Keinginanku makin menggelegak guna menembus batas/ pagar itu terlebih melihat beberapa fotografer, salah satunya memakai rompi visit Indonesia, mengabdikan momen itu. Nyatanya, jepret malam di lapangan dengan objek bergerak-gerak memakai digcam itu siswatuhhhh cekaleee.

Kepada petugas keamanan di bawah panggung sebelah kanan, aku meminta izin untuk merangsek ke area undangan untuk keperluan jepret. Kalo diizinkan syukur, nggak diizinkan yaa nekat (huaaa parah). Ada atraksi tari tradisional yang tidak kupahami namanya, tari merak, jathil, warok bahkan rata-rata anggota grup itu adalah anak-anak dan kawula muda. Tetua warok masih mendampingi kok, tapi berada di antara pengiring musik dan acara inti yakni saat muncul dadak merak (topeng kepala singa dan bulu merak) seberat 50 kilogram yang disangga dengan gigi. Kerennn. Ajibbb. Mistis.

13663602521788611376
Ada nuansa Cina di sana

Kembali kepada jalan-jalan sendirian tadi, aku melanjutkan langkah hingga batas alun-alun bagian selatan di jalan Jend. Soedirman. Mataku disuguhi karangan bunga. Ladalah, siapa yang wassalam?

Ternyata saat itu sedang ada perayaan Poper (Ponorogo Permai) 22th anniversary. Ahik ahik, ada artisnya, artis lokal sih, yang menurutku ketika mendengarkan salah satu penampilan peserta cewek (mungkin masih sekolah berseragam abu-abu) suaranya lumayan juga. Yang bikin ilfil cuma make-upnya yang kayak topeng (eh kayak lu bisa dandan aja). Wajah putih tapi leher berwarna. Juga model cowok yang dempeeeet terus sama penyanyinya. Ih, kesempatan banget kan ya. Padahal mbak penyanyinya itu udah ngelepas genggaman tangan. Tapi si model cowok maksa, megangin lagi. Mending ganteng, kaya, beriman dan berketurunan. Lah ini, perut doang dimajukan. Asik bener tuh ulah ‘model’ cowok yang cuma modal kacamata hitam doang! (Lu cemburu karena ga bisa gitu kan, mblo? Ngaku aja deh.)

Telinga lelah dengan lagu-lagu yang dinyanyikan, aku pergi ke masjid Agung (eh, ini mirip ksatria yang gagal godaan dunia lalu bertaubat kepada pencipta?) Masjid ini didirikan pada tahun 1858 didirikan oleh Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro. Pada bangunan masjid depan terdapat 9 kubah kecil berwarna hijau, yang menandakan 9 wali yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Sepanjang jalan antara menara dan masjid terdapat deretan pohon sawo yang merupakan ciri khas bangunan Islam di Ponorogo (sumber di sini). Menara masjid berada di pojok depan bagian kiri itu menjulang tinggi layaknya pemancar di area utara masjid.

1366360298592554670
Masjid Agung Ponorogo

Kuliner yang sempat aku cicipi HANYA es dawet Jabung (masih ingat, kan, ini gara-gara dompet ketinggalan?) Aku menikmatinya di sebuah warung tenda bakso dan dawet asli Jabung yang telah mangkal di alun-alun bagian barat itu sekitar 15 tahun, milik pak Edi. Seharga dua ribu rupiah seporsi, cendol dawet ini dibuat dari tepung ganyong (catat ya, ini nama salah satu umbi-umbian, g-a-n-y-o-n-g, ganyong … yang mirip bahasa Korea itu loh, ganyong hasaeo *plak). Dikatakannya, bila ganyongnya sudah cukup umur, maka cendolnya nanti akan terlihat bening seperti kaca dan teksturnya kenyal. Sedangnya cendol yang kunikmati ini agak lembek dan berbintik abu-abu yang menandakan ganyongnya masih kimcil. (Nah, ketahuan produsennya pedophil.)

Porsi santan dan olah masaknya pun harus memakai trik sendiri mengingat santan bisa basi menjelang sore hari. Oleh karenanya, ia hanya menjual es dawet dari jam 10 pagi- sore atau lebih cepat bila stok habis. Juga tentang pemanis yang digunakan yang berasal dari teresan nira. Itu menurut resep asli yang dikatakan Edi. Namun, tidak semua pedangan dawet jabung memakai original recipe mengingat bahan baku tidak selalunya tersedia di tiap daerah di luar Ponorogo, lanjutnya. Tempat penyajian bahan utama es dawet dari gentong/ gerabah tanah liat, mempermanis penampilan. Aih, manis, mirip aku banget kan (lari ke toilet trus … *hoek).

Hujan yang seakan hendak menemani perjalanan sendiri ini menggantung di langit. Titik-titik air itu sudah memberatkan gulungan awan. Dalam hitungan menit, tepatnya ketika aku menikmati kios ikan hias dengan niat merekam ikan cupang, basahlah seluruh tubuh yang tanpa dilengkapi payung atau jas hujan. Sukses, hari itu pulang dengan kaki kram, kelaparan dan sangat kedinginan. Sendirian.

Disimpulkan:

  • Jika mau jalan-jalan, usahakan tidak sendirian. Ini penting, mengingat tradisi penduduk kita masih kepo alias pengen tau aja bahkan pengen tahu banget urusan orang. Entah karena efek infotainment atau hal lain, yang jelas, jika cewek jalan sendiri pasti dibilang jomblo frustasi (nah, kejam banget kan ya *curhat hikhikhik. Padahal kan enggak, engak keliru maksudnya. Loh?). Yang paling nggak asik tuh disiulin gerombolan cowok-cowok ketika kita melintas di depan mereka. Masih mending ditawari ojek, ya kan?
  • Tentukan destinasi, kenali cuaca, kuliner hingga urusan birokrasi (bila perlu). Ini untuk mengefektifkan manajemen waktu. Misalnya ke Ponorogo pas ada ivent grebeg Suro 1 Muharam atau ivent Reyog Bulan Purnama. Kan lebih berkesan tuh. Apalagi yang sengaja membawa senjata tembak berupa ‘gentong’ atau ‘tremos’ untuk hunting putuh-putuh, haruslah menyelaraskan dengan cuaca yang cerah ceria. Jangan sampai menyesal karena terguyur hujan atau warna langit ngeflat tanpa CPL alias CaPek Loh (*plakplak). Wisata kuliner wajib diagendakan guna memanjakan lidah yang lelah dengan menu instant atau junk food. Akan lebih baik jika kita punya kenalan di destinasi tersebut, entah kenalan di dunia nyata atau modus kopdaran dari dunia maya (siul-siul). Siapa tahu dapet penginapan gratis, makan gratis, kendaraan/ transportasi gratis dan kalaupun sedang apes tanpa gratisan, setidaknya kita bisa dapet guide gratis (ahing-able).
  • Pastikan sudah harus lulus D3, Duit-Dokumen-Dokumentasi. Ga bawa dompet nggak apa-apa kok asal bawa duit, bawa kartu kredit, KTP, SIM, STNK, BPKB, sertifikat tanah, serfikat rumah (lah … mau digadaikan?). Yang nggak perlu adalah bawa surat nikah (lu kan nggak punya, mblo).
  • Bawa juga bekal secukupnya, terutama obat penahan sakit dan air putih. Boleh juga ditambah makanan ringan, seperti permen karet (ini makanan juga?), coklat bar, risoles, martabak, dadar gulung, bakpia, lumpia, bikang, serabi, nasi kucing, nasi pecel, nasi uduk … (stop, stop, bikin lapaaar kakaknyahhh). Yaaa, maklum saja, aku kan ‘ususnya panjang’. Nadiku berisi makanan dan saraf-sarafku berisi minuman.
  • Dan jangan lupa, HP (direkomendasikan ada aplikasi kompas, GPS dan aktiv internet) serta membawa peta (direkomendasikan peta dari DinPar destinasi setempat). Yang ter-update ya petanya, jangan yang keluaran jaman kumpeni. Tak perlu malu bertanya meski banyak tanya banyak tersesatnya. Ingat, usahakan SKSD sama warga setempat terlebih untuk menanyakan tarif angkutan kalau tidak ingin dipatok pada harga selangit. (Yaaa, modus lagi).

Gimana? Capek ya bacanya? EGP! Tulisan iseng ini bukan bermaksud mengolok-olok pribadi atau instansi tertentu. Ini murni untuk mengabadikan kenangan jalan-jalan yang paling enggak boleh ditiru.

13663630371376103990

Bukan ngiklan

Dari lapangan, kampretos region Ponorogo, melaporkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: