Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Win Ruhdi Bathin

saya seorang penulis, belajar menulis…..suka memoto, bukan fotografer…tinggal di pedalaman Aceh sana. orang gunung (Gayo). selengkapnya

Wisata Kopi? Yuk ke Tengah Aceh

REP | 24 April 2013 | 18:08 Dibaca: 245   Komentar: 1   2

Wisata Kopi? Ke Gayo Aza

1366799643131516847

Pagi Berkabut di Danau Luttawar dengan nelayan yang pulang menjaring ikan depik (rasbora tawarensis)

Jika anda pecandu atau penikmat kopi, anda wajib mencoba sensasi rasa dan aroma kopi gayo di tengah provinsi Aceh. Kawasan ini merupakan kawasan pegunungan di Aceh yang berada pada ketinggian 1200 dpl.

Sebagai dataran tinggi, oleh Muyang datu warga gayo, kawasan ini disebut Nenggri Antara yang hingga kini maknanya masih misteri. Tapi banyak orang menyebut gayo sebagai ‘Serpihan Tanah Syurga yang Telempar ke Dunia”.

Julukan itu tidak berlebihan manakala pagi hari tiba. Awan akan dengan mudah dilihat diseputaran kota Takengon (Takengen) yang dipagari perbukitan dengan Danau Luttawar berada di ujung Timur Kota dingin ini.

Bahkan , Takengon kerap ditutupi awan sehingga jarak pandang menjadi terbatas dan tentu saja menimbulkan sensasi sendiri bak di Negeri Awan. Selain memanjakan mata dengan lenskep yang apik dengan kabut paginya, udara di pegunungan ini juga masih segar.

Beberapa wisatawan yang pernah berkunjung ke gayo menyebut kemiripan Dataran Tinggi Gayo dengan ciri pinus mercusinya sebagai “Swiss Van Gayo”. Tapi sesungguhnya, dibalik semua keindahan ini, kopi merupakan daya tarik utama.

Jika hendak ke dataran Tinggi Gayo, bisa diakses dari Medan, Sumut menggunakan armada darat jenis L300 atau mobil besar yang berbangku 2-1. Dengan waktu tempuh sekitar 9-10 jam. Atau menggunakan penerbangan pesawat kecil dari Medan menuju Bandara Rembele Bener Meriah dengan jadwal seminggu dua kali.

Sementara jika ditempuh dari Banda Aceh-Takengon, banyak kenderaan cepat L300 yang berangkat pagi dan malam dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam. Biasanya para turis yang datang setelah mengunjungi Sabang, menuju Takengon-Gayo Lues-Ketambe Kutacane-Medan.

1366799532945134576

Pagi hari, Dataran Tinggi Gayo kerap ditutupi awan. Ciri khas wilayah pegunungan

Kopi arabica gayo merupakan komoditas utama pegunungan gayo. Tak ada lahan yang kosong kecuali berisi baris-baris kopi yang rapi dengan naungan yang membentuk ekosistim tersendiri yang apik.

Sensasi rasa dan aroma kopi arabica, diakui dunia sejak era pra Indonesia merdeka. Bahkan Belanda yang mengintroduksi kopi pertama sekali ke Takengen tahun 1908 yang ditanam di bagian Utara Danau (kawasan Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan), sudah melakukan eksport kopi.

1366799982820554816

Perkebunan Kopi Arabica Rakyat Gayo yang ditutupi awan

Secara profesional, Belanda membuat dan memetakan perkebunan kopi arabica gayo yang hasilnya dieksport. Perkebunan tersebut antara lain, Belang Gele, Burni Bius dan Bergendal Teritit serta Blok C di Lampahan.

Mahdi Usati, pakar citarasa kopi gayo dari Gayo Cuppers Team menilai kopi gayo masuk kelas spesialty.Dari berbagai uji citarasa yang pernah dilakukan Mahdi bersama timnya, GCT, menunjukkan bahwa arabika gayo memang sangat spesial.

“Kopi arabicca gayo asal-asalan saja sudah ena sekali . Apalagi grade 1 dan yang spesialty”, kata Mahdi yang bekerja untuk sebuah perusahaan eksport kopi gayo. Kopi gayo banyak dieksport karena disukai konsumen Amerika , Jepang dan Erofa, karena kopi gayo mempunyai aroma yang khas dengan perisa (flavor) yang komplek serta kekentalan (body) yang baik.

13668001131774782120

Setiap kopi yang dijual sudah melewati uji araoma dan rasa (cupping) oleh sebuah tim profesional Gayo Cuppers Team Bersertifikat Internasional hingga sampai ke gelas anda

Hasil Cupping kopi arabika gayo berjumlah antara 86-90. Menurut SCAA , asosiasi kopi spesialty Amerika , kopi dengan skor diatas 80 dikategorikan sebagai kopi spesialty. Kenikmatan kopi arabica gayo disebabkan Wilayah Dataran Tinggi Gayo dimana kopi ini tumbuh tersembunyi diwilayah dereten pegunungan Bukit Barisan yang membentang Sumatera.

Berada di tengah hutan tropis Sumatera dan bersinggungan dengan kawasan Ekosistim Leuser, membuat kawasan ini dijadikan penjajah Belanda sebagai kawasan peristirahatan dan perkebunan mereka. Apalagi di gayo, banyak lokasi perkebunan kopi yang berdekatan dengan gunung api aktip serta yang sudah pernah meletus.

Kopi Arabika Gayo dikenal dengan rasa dan aroma yang kuat. Kaya akan varietas dan masuk kopi jenis spesialty

Belanda menamai kopi sebagai “Tanaman Masa Depan”. Dan menyatakan masyarakat gayo sangat cepat menerima masuknya komoditi baru seperti kopi. Kawasan perkebunan kopi ini kemudian menjadi perkampungan baru yang berkembang baik hingga saat ini.

Estimasi produksi kopi dari dua kabupaten gayo, Takengen dan Redlong berjumlah 65.625 ton pertahun. Sehingga kawasan perkebunan kopi gayo disebut sebagai lahan terluas untuk kopi arabika di Asia.

Selain kondisi geografis yang sangat mendukung optimalnya pertumbuhan serta rasa dan aroma kopi gayo, kesuburan tanah juga sangat mendukung ditambah berbagai varietas kopi gayo yang dimiliki.

Bukan itu saja, petani kopi gayo juga mengolah panen kopi dengan cara yang tidak biasa dilakukan petani kopi di belahan dunia lainnya. Cara ini disebut semi washed (tidak cara basah dan kering). Metode ini sangat khas yang menghasilkan kopi mutu eksport.

1366800726737688551

Masyarakat gayo dengan kehidupan tradisional yakni menggemablakan ternak kerbau yang disebut Peruweren. Kearifan lokal ini sudah ada sepanjang sejarah gayo. Tak heran jika anda melihat kaum wanita menggembalakan ternak kerbau

Menurut Mahdi Usati, kopi gayo jenis spesialty biasanya memiliki score (nilai) setelah di uji rasa diatas angka 85. “Padahal dengan score 83 saja , kopi sudah masuk kategori spesialty. Kopi gayo biasanya scorenya diatas angka ini”, imbuh Mahdi.

1366800504143847571

Petani Kopi Gayo menggantungkan semua biaya kehidupan mereka dari bertani kopi arabica gayo. Dari sembako,sekolah,rumah, mobil hingga naik haji

Dikatakan, hal ini yang membuat kopi gayo sangat disukai para pecandu kopi diberbagai belahan dunia. Menjawab kopi spesialty yang kini permintaannya terus meningkat dari gayo, Mahdi menyatakan banyak kriteria spesialty.

“Kopi spesialty itu banyak ragamnya. Ada yang menjadi spesial karena tingginya score cupping . Ada yang spesialty karena cara penanganan atau pengolahannya serta sejumlah spesial lainnya”, jelas Mahdi.

Saat ini luas tanaman kopi di dua kabupaten gayo memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia yaitu dengan luasan sekitar 94.800 hektar. Masing-masing di Kabupaten Aceh Tengah 48.000 hektare yang melibatkan petani sebanyak 33.000 kepala keluarga (KK), Bener Meriah 39.000 hektare (29.000 KK) dan 7.800 hektare di Kabupaten Gayo Lues dengan keterlibatan petani sebanyak 4.000 KK.

Kopi gayo memang lebih populer dan dikenal di luar negeri. Kopi gayo di regional Aceh sendiri kurang dikenal . Sementara di Sumatera Utara, kopi gayo dieksport dengan nama lain, tapi bahan bakunya merupakan arabica gayo.

13668002531085514808

Kopi tersaji dengan alat modern mesin espresso sehingga hasilkan rasa sempurna bagi pecandu kopi dunia

Perkebunan kopi rakyat gayo biasanya berada di perbukitan dan gunung. Dengan jenis kopi arabika gayo yang dikenal dengan Gayo 1 dan Gayo 2.

Kopi gayo yang berbasis arabika memiliki paling tidak lima sertifikasi Internasional sebagai jaminan kualitas arabica gayo.Sertifikat itu antara lain Fair Trade , Organik, Rain Forest dan lain-lain.

‘Saat ini, beberapa istilah gayo sudah populer di dunia perdagangan kopi Internasional. Seperti kopi gayo asalan, Gayo Fair Trade dan Berizin yang berarti Terima kasih dalam bahasa gayo”, kata Mustawalad, Ketua Produser Fair Trade Indonesia.

1366801638218758282

Masyarakat gayo dikenal dengan keramahan dan kekayaan alamnya membuat banyak wisman yang betah berlama-lama

Nikmatnya rasa dan aroma kopi gayo antara lain karena sudah terblending (campur) secara alami. Artinya dari luasan satu hektar kebun kopi, banyak varietas yang ditanam paling tidak ada tiga varietas kopi disana. Seperti, Gayo1, gayo2,Ateng super, Ateng jaluk, Ramong, Bergendal , Ateng janda dan Jember.

Saat panen tiba, kopi-kopi dari varietas berbeda ini tidak dipisahkan petani, tapi disatukan sehingga masing-masing karakter rasa dan aroma tercampurkan langsung paska panen. Pun begitu, banyak juga petani yang menanam hanya satu varitas kopi saja (single Origin).

Jika dahulu, semua kopi terbaik ini dijual dalam bentuk greenbean, kini tidak lagi. Banyak kafe moderen di gayo yang menyediakan kopi terbaik ini yang diolah secara modern dengan menggunakan mesin saji espresso atau penyajian moderen lainnya.

Sehingga kopi segar dan nikmat ini bisa disajikan kapan saja. Langsung di tanah perkebunan kopi terluas arabica gayo di Asia ini. Soal harga jangan kuatir. Karena harga kopi disini, tidak semahal gerai kopi ternama.

1366801497990128614

Letak geografis menjadikan gayo Syurga bagi pehobi sepeda gunung dan juga juru kodak

Satu gelas espresso dengan krema yang menggoda dan body yang kuat, hanya dihargai Rp.6000 (gelas kucak-bahasa gayo) ,-. Black Coffee (Item kelet-gayo) Rp. 7000, Cappucino (kupi koboh) Rp.11.000,- saja. Sementara segelas kopi musang (luwak), percupnya Rp.25 ribu.

Dua kabupaten di tengah Aceh ini, Redlong dan Takengen, 80 persen lebih penduduknya menggantungkan hidupnya dari bertani kopi. Mereka hidup ditengah kebun kopi. Karena daerah ini sangat dingin, hampir disemua rumah petani tersedia dapur perapian untuk pendaringan (Muniru-gayo).

13668003782061666735

Kopi arabica gayo Diseleksi dari buah terbaik, ke cangkir anda

Tak ada hamparan, kecuali ditanami kopi dan sayuran. Dari hasil kopi arabika gayolah, penduduk pegunungan di Aceh ini menyekolahkan anaknya hingga Perguruan Tinggi, naik haji, membeli mobil bahkan membuat rumah.

Jadi jika anda ke Aceh, tidaklah lengkap sebelum datang ke gayo dan menikmati aroma dan rasa kopi gayo yang selama ini hanya dinikmati orang Amerika dan Erofa serta Jepang. Jika anda pecinta sepeda gunung dan fotographer, inilah tempat dimana udara bersih dengan panorama memikat yang tidak pernah habis sudut pandangnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Hikmat -Bijak Yang Sakti, Ahok …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Spongebob Dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | 7 jam lalu

Alasan Surat Pengunduran Jokowi Lama …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Melihat Mahasiswinya Nge-DJ di Diskotik, …

Fariz Falcon | 8 jam lalu

Influenza? Maskernya Tolong Dipakai, Ya …

Find Leilla | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: