Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Teguh Hariawan

Guru Fisika Pecinta Sejarah. Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang : (Nancy K Florida)

Bantengan, Seni Tradisional Bernuansa Majapahit yang Harus Dilestarikan

HL | 25 April 2013 | 22:21 Dibaca: 1560   Komentar: 26   9

13669028871111889800

Kepala Banteng, dibuat dari Tanduk sapi yang paling bagus lengkungnya (dok pribadi)

Bunyi 2 kendang ditabuh dengan rancak. Diikuti dengan pukulan Jidor (semacam bedug mini) sebagai pemutusnya. Di arena nampak 2 pasangan Bantengan siap “ditandingkan”.  Kepala Banteng saling ditautkan.  Dan begitu Cemeti besar dipukulkan, bunyinya yang keras menandakan “aduan” dua  Banteng dimulai.

Ya, itulah seni tradisional Bantengan yang masih bisa dijumpai di kawasan lereng Gunung  Welirang - Arjuno dan Gunung Penanggungan. Di Desa Pecalukan dan Lumbangrejo Kecamatan Prigen, serta beberapa desa di Trawas dan Mojokerto,  seni Bantengan masih tetap hidup sampai sekarang ini.  Masyarakat di kawasan itu masih konsisten berlatih dan menampilkan seni Bantengan untuk menyemarakkan  beberapa even. Misalnya, mengiringi arakan pengantin, sunatan,  pawai kemerdekaan, Festival Bantengan, ritual Sedekah Bumi dan sebagainya.

Disebut Bantengan, karena unsur utama kesenian ini adalah berupa Kepala Banteng, yang dibuat dari tanduk Sapi yang dibuatkan kepala dari kayu. Kemudian, Kepala Banteng itu dilengkapi dengan selubung kain panjang hitam menyerupai penutup. Diperlukan 2 orang untuk memainkan  Bantengan ini. Seorang bertugas sebagai pemegang Kepala Banteng, sekaligus sebagai bagian kaki depan Bantengan. Orang yang lain, bertugas sebagai ekor, sekaligus kaki belakang Banteng.

136690294096350522

Persiapan…. (dok pribadi)

136690296993251326

Awas….. (dok pribadi)

13669029932063568115

Yach… mulai… tak tung tak dur tak tung tak dur (dok ptibadi)

Untuk memainkannya, kedua orang tadi, masuk ke dalam pakaian bantengan. Di kanan kirinya ada 2 oarng lagi yang memegang tali, seakan-akan bertindak sebagai pengembala Banteng. Agar kesannya lebih menarik, 2 pasang bantengan disiapkan dan keduanya “diadu”. Untuk mengetahui “pemenang”, biasanya diketahui dari siapa yang muncur duluan. Tentu mereka mundur karena  kepayahan. Tapi bisa jadi, tidak ada yang kalah dan menang karena kedua regu pemain Bantengan kerasukan. In Trance, begitulah.

Nah, saat kesurupan ini, betindaklah sesepuh/ pemimpin kesenian  untuk segera menyadarkan dengan tindakan yang mereka kuasai. Memakai mantra, lalu meniup keras-keras telinga pemain. Saat tersadar, terlihat pemain yang baru bangkit itu matanya merah , seakan baru bangun dari tidur nan panjang. Entahlah. Ini kerasukan atau hanya halusinasi semata. Karena pemain Bantengan berada dalam selubung kain hitam dalam waktu yang lama. Mereka terus bergerak sesuai iringan musik.  Bahkan suatu ketika diadu-adu. Disoraki oleh penonton. Tentunya, menimbulkan tekanan yang luar biasa. Tapi apapun itu, yang pasti pemain Bantengan lah yang merasakan.

Sebelum memainkan bantengan, biasanya perlu diadakan ritual dan menyiapkan ubo rampe, yang oleh masyarakat disebut Sandingan. yakni seperangkat hidangan dari sisir  pisang matang dilengkapi dengan kembang-kembang. Juga diadakan ritual doa-doa memohon kelancaran dan keselamatan.

Biasanya Bantengan ini dilengkapi dengan Bujang Ganong, Jaran Kepang atau Topeng Monyet dan Topeng Harimau. Pemain pendukung, jumlahnya lebih dari 10 orang, biasanya diseragamkan sesuai ciri khas daerah masing-masing. Tapi umumnya cenderung memakai kaos lurik merah putih. Kaos khas Madura dipadu dengan celana gombor warna hitam.

13669030222086548114

In Trance

Melihat atraksi Bantengan, nampaknya seni ini masih mampu menjadi daya tarik dan mempunyai nilai jual tinggi bagi masyarakat atau wisatawan. Untuk itu, sangatlah mengembirakan bila, hari Sabtu, 27 April - Minggu 28 April 2013 nanti Pemerintah Kecamatan Trawas menyelenggarakan Festival Bantengan. Selain untuk menghidupkan seni itu sendiri, tentu saja ada tujuan wisata di dalamnya.

Konon, Bantengan ini erat kaitannya dengan budaya Majapahit. Untuk menghibur dan menarik simpati masyarakat, pembesar Majapahit biasanya menggelar  Bantengan. Namun selain untuk hiburan, Seni Bantengan, yang erat dengan seni Pencak Silat, juga termasuk salah satu cara untuk menunjukkan kepiawaian dalam ilmu kanuragan. Bukan untuk pamer. Tapi,  dalam masa Majapahit kuno, kemampuan seperti ini tentu sangat berkembang, selain untuk  membela diri juga membela dan mempertahankan wilayah kerajaan. Tak mungkin Majapahit menjadi kerajaan besar kalau tidak mempunyai pasukan yang pilih tanding.

13669030481952247531

Pendukung Bantengan (dok pribadi)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 6 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 8 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: