Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dian Yulia

Penikmat alam, kuliner dan menyukai dunia tulis-menulis

Eksotisme Pirla Kendari

REP | 30 April 2013 | 18:25 Dibaca: 321   Komentar: 15   3

Ada sebuah daerah yang jadi andalan sekaligus pusat keramaian di Kendari, Sulawesi Tenggara.

PirLa atau Pinggir Laut begitu sebutan masyarakat setempat untuk teluk ini. Pirla ini adalah ceruk yang langsung berhubungan dengan laut, dibatasi dengan semen yang menyerupai waduk, dimana pinggirnya ada kapal-kapal nelayan bersandar.

1367320258501507482

Pirla

13673201741228516013

Dermaga di Pirla Kendari

Perjalanan saya pagi itu menyisiri Pirla, beruntung saya menemui Nelayan tengah menangkap ikan dengan jaringnya. Setelah saya tanyakan ternyata si Nelayan itu bukan Nelayan sungguhan melainkan PNS yang gemar menangkap ikan kala weekend datang. Hasilnya? tentu saja untuk para penunggu setia di rumahnya, istri dan anak-anaknya.

1367320411655159124

Nelayan

1367320567103068517

Ternyata memancing dengan jaring itu tidak mudah lho

13673205041061678208

Sisi jalan di depan Pirla

1367320969106301467

Laut kendari

Lalu langkah saya terhenti kala melihat Ibu paruh baya menjemur ikan di semen pembatas laut dengan jalan raya itu, sontak saya hampiri dan menanyakan apakah ikan itu akan dijualnya di pasar. Lagi-lagi jawabannya mengejutkan saya, ternyata ikan itu hanya untuk konsumsi pribadinya. Hmm.. menarik, masyarakat sekitar Pirla memanfaatkan kekayaan lautnya untuk konsumsi pribadi saja.

13673208771298798337

:)

Di malam hari Pirla ini berubah nama, seolah punya dua sisi berbeda ketika malam dan pagi hari. Saat malam datang Pirla berubah menjadi Kebi (dibaca dengan logat Indonesia Timur lho ya).

Kebi lagi-lagi adalah singkatan Kendari Bliss, karena memang suasana riuhnya ketika malam. Sepanjang pantai kita bisa temui tempat karaoke “dadakan” ala tenda kaki lima, dengan lampu redup dan tirai-tirai yang dipasang setengah badan saat kita berdiri. Lagu yang dimainkan pun beragam, mulai dari dangdut koplo, house musik sampai dangdut ala goyang Pantura kalau di Jawa.

Hiburannya? sudah pasti ala hiburan malam seperti di kota-kota lainnya. Perempuan-perempuan rata-rata usia 20-30′an duduk di depan tenda agar menarik hati supaya berkunjung ke tendanya.

Saya pun berhenti di salah satu tenda. Bukan untuk bernyanyi tapi untuk makan Pisang Epe. Ternyata tidak jauh berbeda dengan kolak. Musik dengan volume besar dan kontras di kanan kiri telinga saya membuat saya kurang nyaman berlama-lama disana. Saya juga tidak berani mempublikasikan Kebi di malam hari, karena takut akan memancing hal tidak menyenangkan, hehee… (masih amatir nih)

13673863701848288448

Pisang Epe

Keesokan harinya perburuan saya berlanjut ke atap hotel tempat saya menginap. Katanya kita bisa melihat view kota Kendari dari atas. Dan ternyata benar, saya yang phobia ketinggian sekejap berdiri bulu kuduknya kala sampai di atap hotel. Saya rogoh kamera saku saya dan langsung mendokumentasikan langit yang sedang indahnya.

13673866351806864416

Tampak menara masjid yang katanya menjadi icon khas Kendari

Tempat favorit saya lainnya adalah Kopkit (Kopi Kita). Coffee Cafe tempat anak gaul Kendari biasa menghabiskan waktu sekedar buat nongkrong atau nonton bareng pertandingan Bola.

Sayang karena terlalu asyik menikmati Ice Cappucino yang rasanya sampai sekarang masih berkesan di lidah saya, saya lupa mempublikasikan keadaan di dalam Kopkit, lebih parahnya lagi saya meninggalkan camera pocket di hotel. Waktu itu saya terlalu larut membahas pekerjaan dengan rekan kerja saya, rasa caffeine yang khas juga sepertinya membuat saya lupa sampai disana 2.5 jam tanpa satupun foto di dalam! Menyesal juga rasanya.

13673865031359037580

Beruntung masih bisa memakai camera smartphone untuk foto Kopkit dari luar

Saya paling suka awan indah di Kendari saat siang, ketika tengah berkendara motor, tangan saya tidak lepas dari kamera, menangkap setiap sudut jalan di Kendari Kota Seratus Ruko. Memang saat ini banyak sekali ruko dan pemukiman dibangun disana.

13673867587636994271367386801353026430

Langit Kendari begitu indah, saat saya take off pun saya masih tidak ingin melepas momen melihat indahnya Kendari dari atas awan. Sungguh pemandangan luar biasa. Saya ingin kembali lagi suatu saat nanti, bukan hanya mengunjungi Kendari, tapi juga Wakatobi. Konon jauh lebih indah lagi pemandangannya :)

136738695593898072

Daratan Kendari sesaat setelah meninggalkan Bandara Haluoleo

Tags: bekpeker freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 3 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 3 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 9 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: