Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Maila Al-ja'fari

Hanya setitik upil pada luasnya jagad raya

Penggusuran PKL Terjadi Juga di Roma

REP | 30 April 2013 | 04:05 Dibaca: 232   Komentar: 0   0

1367268596176802885

Jembatan Malaikat dan Benteng Santo Angelo di Roma-Italia (dokumen pribadi).

”Banyak jalan menuju Roma’’. Sebuah pribahasa yang sangat terkenal di dunia. Memang banyak sekali jalan-jalan besar hingga gang-gang sempit yang terhubung satu sama lain di Roma. Sehingga bagi pelancong memang kudu wajib membawa peta kalau tidak mau ‘‘ngawur‘‘ berjalan-jalan. Lebih dari itu, makna pribahasa tersebut adalah sebuah penyemangat bahwa banyak cara menggapai asa dan cita-cita.

Roma memang salah satu kota yang memiliki sejarah terbentang panjang sejak dari pusat kerajaan Romawi hingga kekaisaran Romawi hingga hampir 2.800 tahun. Dan saat ini dijadikan sebagai ibu kota Itali. Selama rentang waktu yang panjang itu pula, peradaban manusia dari kebudayaan, ekonomi dan perdangangan, politik dan pemerintahan tumbuh subur pada zaman itu di Roma. Tak salah bila Roma menjadi kota dambaan masyarakat Itali pada zamannya. Pun barangkali sampai saat ini.

Terbilang sebagai kota yang aktif, padat dan termasuk yang paling banyak dikunjungi turis di dunia, Roma seakan tak akan pernah berhenti berdenyut. Barangkali itu pula bagi manusia-manusia dari antah-berantah menjadikan Roma sebagai puncak harapan. Sebuah realitas hidup tersaji di kota ini. Sebagai ibu kota, dinamika kehidupan memberi warna-warni, semakin sibuk dengan laju industri pariwisata.

Seperti ibukota lainnya, kehidupan manusia di dalamnya tidak mengenal timbangan sama rata. Ada yang kaya, ada pula yang miskin. Ada yang beruntung, ada pula yang naas. Begitu juga di Roma, yang kaya pasti ada, tapi yang harus mengais rezeki demi hidup esok, juga banyak. Sedihnya, bila saat-saat mencari beberapa Euro itu disertai pula dengan razia dan penggusuran. Seperti hari itu, 20.07.2012, tak disangka-sangka aku mendapat pemandangan yang biasanya sering kudapati di kota-kota di Indonesia. Tapi ternyata hal ini ada juga di Roma.

Seluruh pedagang yang tadinya menggelar lapak, menjajakan berbagai produk mulai dari tas bermerek (palsu), jam tangan terkenal (palsu), cenderamata, perhiasan etnik, kacamata hitam, t-shirt, syal dan lainnya di sepanjang Jembatan Malaikat (Angel bridge—Bahasa Inggris, Angel Brücke–Bahasa Jerman) tiba-tiba tersentak ketika seorang pedagang yang lain berteriak memberi peringatan: ‘’Polizia..polizia…’’ Kontan saja para pedangang lainnya menggulung dagangan yang tadinya sudah digelar dan berlarian tunggang langgang tak tentu arah.

13672680901490254501

Salah seorang pengamen di jembatan Malaikat, Roma-Italia (dokumen pribadi).

Termasuk pedagangan lukisan yang kebetulan ada di depanku. Tanpa memperdulikan kehadiranku, dia bergegas merapihkan lukisannya ke dalam koper besar. Sesempatnya dia berkata dengan logat khas Itali yang berat, “Sorry.. The army of ambulanti abusivi comes“ mungkin maksud dia, semacam petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Indonesia lagi razia, sebelum akhirnya dia berlari sambil menggeret koper plastik itu sementara di tangan lainnya dia mendekap bawaan lainnya seperti tikar dan payung.

Sementara para turis yang semula mengamati keindahan bangunan benteng Santo Angelo, atau sibuk mengambil momen dengan foto-foto, sempat juga terperanjat dengan kejadian barusan. Tak ingin kehilangan momen yang menarik itu, saya siap-siap membidikan kamera ke arah beberapa petugas yang turun ke lapangan mengejar beberapa pedagang kaki lima, namun seorang petugas, menyodorkan lima jarinya sambil berkata “No“. Saya pun mengalah atau memang tak mau membuat masalah.

Kejadian itu, masih saja menggelantung di pikiran saya meski sudah beberapa jam berlalu. Betapa hidup sungguh kompleks: kaya dan miskin seakan memang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Bersama anak-anak, saya menelusuri tepi kiri arah selatan Sungai Tiber. Tidak jarang kami berpapasan dengan pejalan kaki lainnya, orang yang sedang joging, atau kelompok orang bersepeda. Sementara anak-anak belum mau berhenti menceritakan kembali apa yang mereka ketahui, lihat dan rasakah selama dua hari di Roma: Dari kisah para kaisar Roma terutama Gaius Julius Caesar, Koloseum dan kisah para gladiator hingga mengenai ketangguhan legioner Roma yang terkenal dengan tekhnik pertempuran dengan berbagai formasi.

Setelah sampai di Pulau Tiber yang sekarang berfungsi sebagai Rumah Sakit, kembali anak-anak berebut menawarkan ceritanya seputar pulau yang berbentuk kapal itu. Mereka memang paham betul sejarah Roma dari literatur-literatur yang jadi bahan bacaan sebelum menjelang tidur.

Ketika senja merambat ke permukaan bening sungai Tiber, kami menelusuri jalan di tepian saungai kembali ke hotel. Beberapa kali melewati jembatan, saya melihat orang-orang menggelar kardus atau semacamnya dan nyantai bahkan rebahan di bawah kolong jembatan. Mungkin saja mereka..ah..entahlah…

Berada di pusat kota, hotel tempat saya menginap tidak jauh dari Palazzo Montecitorio, sebuah istana sangat luas yang dibangun pada 1650 lewat rancangan Gian Lorenzo Bernini. Malam hari itu menelusuri jalan sempit Villa Della Convertite sesudah makan malam, saya menyinggahi penjul bunga. Mata saya lalu tertarik dengan penjual buku yang menggelar daganngannya di atas meja memanjang. Ternyata buku bekas. Saya memilih beberapa buku yang menawan hati saya. Semuanya buku tentang lukisan. Penjual buku itu, rupanya tertarik menanyakan asal saya, bisa jadi karena rupa yang juga Asia sepertinya. Tak disangka, untung tak dapat ditolak, dia menawarkan diskon.

Selanjutnya, dia juga menyatakan asalnya dari Bangladesh. Ia sendiri saja tinggal di Roma sejak tiga tahun terakhir, sementara keluaganya masih tinggal di kampung halamannya. Matanya nanar, terlintas raut murung ketika dia mengucapkan itu. Penasaran, aku tanyakan juga kenapa dia tidak membawa saja keluarganya? Menurutnya, tidak mudah melalui kehidupan di Roma. Meski saat ini dia mendapatkan izin tinggal dan pekerjaan tetap di sebuah pabrik dan malam harinya membuka usaha jual buku bekas, namun biaya hidup di Roma sangatlah mahal.

Ia masih lebih beruntung dibanding manusia lainnya, seperti para imigran gelap yang juga banyak yang berasal dari Negara yang sama dengannya bahkan, akunya, ia kenal. Begitulah, laki-laki itu seakan memuntahkan kata-kata bijak bak seorang Seneca untuk dirinya sendiri justru ketika merasakan bayang-bayang Schopenhauer selalu menghantui kehidupannya dan manusia lainnya yang ia kenal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 8 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 8 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 8 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: