Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Esang Suspranggono

saya ini hanya orang bodoh yang selalu ingin belajar, bermimpi untuk dapat melihat keindahan setiap selengkapnya

Bernostalgia dengan Sang Jendral

HL | 09 May 2013 | 19:38 Dibaca: 608   Komentar: 0   3

…..Seorang Jendral besar di negeri ini yang kediamannya sungguh memperihatinkan dari semangat anak muda jaman sekarang. Padahal perjuangan yang beliau lakukan untuk negara ini melebihi idola anak muda jaman sekarang. Sekarang rumah itu hanya menjadi sebuah kenangan yang dilupakan generasi jaman sekarang….

13680999291211388169

museum Jendral Sudirman yang begitu sepi pengunjung

Berawal dari rasa ingin tahu  mengunjungi satu museum kini menjadi hobi dan keinginan untuk mengunjungi berbagai museum. Salah satu keinginan mengunjungi museum Sang Jendral yang lama terpendam tersebut yang kini telah terwujud.

Banyak orang yang melewati depan museum Jendral Sudirman ,namun sangat sedikit yang mengunjungi rumah Sang Jendral Besar untuk melihat isi dalam rumah tersebut. Museum yang terletak di Jalan Bintaran Wetan no 3 Yogyakarta memiliki konsep rumah Joglo dengan sebuah patung Jendral Sudirman yang Berkuda di depannya. Sebuah patung yang menjadi ciri khas museum ini selain dengan bentuk rumah yang besar dan sepi. Sungguh sangat disayangkan sebuah museum yang megah akan nilai sejarahnya kini hanya menjadi rumah yang sepi pengunjung.

Beragam Sejarah dengan nominal seikhlasnya.

13681001951651259336

halaman museum Jendral Sudirman

Seikhlasnya mas...itulah harga tarif yang dikenakan kepada setiap pengunjung. Sungguh tarif yang sangat murah bukan bila dibandingkan dengan tarif menonton bioskop atau dengan harga tarif parkir di Mall bukan?

Dan selamat datang di museum Jendral Sudirman ! Seperti biasanya mengunjungi museum, kami selalu diharuskan untuk mengisi buku tamu. Sedikit malu bila melihat daftar tamu museum, selalu sedkit orang yang terekam melalui buku tamu.

Museum Jendral Sudirman terbagi menjadi tiga bagian ruangan. Ruangan pertama terletak sebelah kiri ruang tengah, kemudian ruang kedua terletak sebelah kanan ruang tengah dan ruangan tengah adalah kediaman Jendral Sudirman selama bertugas di Jogja. Itu adalah rute yang kami lalui ketika mengunjungi museum hehehe.

1368100413705139184

kursi yang menjadi saksi bisu sejarah Panglima Besar Sudirman

1368100945305707650

Ketika anda memasuki ruangan sebelah kiri, di dalam ruangan anda akan disuguhi satu set kursi rotan tamu di mana ruang itu pernah menjadi ruang rapat pengusulan kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar. Tidak begitu banyak pemandangan di dalam ruang pertama karena di ruang tersebut mungkin di setting sebagai appetizer. Terdapat pula beberapa jenis senjata perang yang digunakan dalam perang kemerdekaan bangsa ini yang kalau tidak salah buatan Inggris. Selai itu terdapat banyak foto tokoh – tokoh militer negeri ini. Sungguh unik foto – foto tersebut dengan kwalitas gambar hitam putih membawa kita ke suasana yang klasik.

1368101069640051586

Foto Jendral Sudirman dan foto beberapa tokoh kemerdekaan lainnya

13681011832008976831

beberapa telegram bela sungkawa yang masih bisa terbaca

Sengaja saya dan pacar saya tidak langsung menuju ruang tengah dan melanjutkan perjalanan waktu kami ke ruang sebelah kanan. Di bagian belakang terdapat banyak sekali kartu pos berisikan ucapan bela sungkawa terhadap wafatnya Jendral Sudirman. Beragamtelegram banyak terpajang di dinding belakang gedung sebelah kanan. Sayang surat – surat tersebut hanya dipajang dalam pigura dan kini tulisan tersebut mulai luntur tidak terbaca.

Sepengetahuan saya gedung sebelah kanan ini merupakan tempat khusus perlengkapan Jendral Sudirman selama aktif sebagai tentara Indonesia. Mulai dari baju safari, baju perang, sepatu dinas bahkan tandu yang ia gunakan selama perang gerilya pun masih tersimpan rapi di ruangan yang cukup membuat merinding. Satu hal yang membuat saya merasa terharu yaitu ketika saya membaca surat Jendral Sudirman dari Presiden Soekarno. Dimana dalam surat tersebut beliau menggunakan kata – kata yang sangat lembut, layaknya seorang kakak yang berbicara dengan adiknya dengan menggunakan “Adinda”.

Sungguh di ruangan ini perasaan anda akan diaduk – aduk melalui foto, benda – benda, kemudian peta gerilya Jendral Sudirman. Seorang yang sedang sakit namun semangat untuk membela negeri ini tidak pernah membuat ia merasa sakit. Banyangkan saja rute gerilya Jendral Sudirman tidak hanya di Jogja saja melainkan hingga ke Jawa Tengah dan ia bergerak dari satu tempat ke tempat lain hanya menggunakan tandu. Di ruangan ini anda juga dapat menyaksikan banyak sekali tokoh sejarah seperti Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh Hatta, Sri Sultan HB IX memberikan penghormatan terakhir kepada sang Jendral.

13681014461419207811

tandu yang pernah di pakai beliau perang gerilya

13681016511499982068

beberapa barang peninggalan beliau yang masih terawat

Dan di ruang tengah menjadi akhir perjalanan waktu kami bernostalgia dengan Sang Jendral. Di ruang tengah ini menjadi rumah tempat tinggal Jendral Sudirman. Sebuah ruang tamu tertata rapi lengkap dengan perabotnya mengisi ruangan yang sangat besar sekali. Terdapat pula beberapa piagam penghargaan yang pernah dimiliki Jendral Sudirman. Rumah yang begitu besar ini cukup membuat merinding ketika memasuki setiap ruangan. Terdapat beberapa ruang rumah mulai dari ruang kerja beliau, ruang keluarga, kamar ibu dari Jendral Sudirman dan kamar Jendral Sudirman. Semuanya masih terjaga rapi bahkan tempat tidur beliau pun masih bisa kita lihat disana. Seakan - akan disini kami melihat sisi Jendral Sudirman sebagai seorang kepala keluarga dengan barang - barang yang ada.  Banyak sekali kenangan – kenagan beliau di museum ini. setiap ruang memiliki kisah dan sejarah masing – masing yang rugi bila anda tidak kunjungi.

1368101829291034098

peta gerilya Jendral Sudirman

13681023151461566748

salah satu piagam yang diberikan Presiden Soekarno terhadap Jendral Soedirman

Jas Merah ?

Sebuah kata – kata yang begitu sering diucapkan namun sedikit bahkan tidak pernah diterapkan “ Jangan Sekali – kali Melupakan Sejarah”, seakan hanya menjadi slogan di hari kemerdekaan saja. Padahal untuk mengingat sejarah banyak sekali cara yang dilakukan salah satunya dengan berkunjung ke museum perjuangan. Dulu waktu semasa  kecil saya diajarkan mengenang sejarah dengan berkunjung ke museum, namun nampaknya budaya itu telah luntur. Banyak orang tua yang lebih suka mengajak anak untuk pergi ke mall, ke tempat wisata namun untuk ke tempa sejarah nampaknya itu hanya dilakukan jika ingat saja.

Saya kadang berfikir betapa mudahnya kultur bangsa ini larut dalam budaya barat. Lihat saja anak muda jaman sekarang yang begitu hebohnya menggandrungi artis dibandingkan dengan tokoh pahlawan kita. Kok anak muda, anak kecil jaman sekarang kalau ditanya tentang tokoh perjuangan pasti akan berpikir lama bahkan tidak tahu bila dibandingkan ditanya siapa artis paling top jaman sekarang. Apakah kurikulum pendidikan kita sudah bergeser hanya untuk menciptakan manusia yang berpikir hanya untuk lulus UN saja dengan mengesampingkan pendidikan lainnya. Padahal setahu saya di luar negeri museum banyak dikunjungi masyarakatnya dan menjadi tempat berlibur keluarga. Berbeda di negara ini…….

salah satu piagam penghargaan Jendral Sudirman yang diberikan oleh Presiden Soekarno

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 12 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 15 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 16 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: