Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ahmad Suhijriah

aktivis bidang lingkungan dan perubahan iklim

Manusia Penguasa Laut

REP | 14 May 2013 | 14:20 Dibaca: 155   Komentar: 0   0

Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan ke Indonesia Timur biasa disingkat Intim. Perjalanan menuju ke Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara. Rute perjalanan dari Jakarta menuju Makasar dan dari daerah angin mamiri naik peswat kecil bermuatan 25 penumpang. Dari Makasar menuju Wakatobi ditempuh sekitar 30 menit.Setibanya di Wakatobi kami berkunjung ke perkampungan Suku Bajoe. Populasi mereka cukup banyak dan kehidupan mereka cukup unik. Bahkan menurut penduduk setempat Suku Bajoe yang ada di Wakatobi merupakan pusat perkampungan suku bajo yang ada di setiap kepulauan di Indonesia bahkan di dunia. Karena pengakuan dari Presiden Bajoe Internasional bahwa sukunya banyak menyebar di NTT, NTB, Pesisir Pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Malaysia, Philipina. Namun mereka belum bisa menetap di benua eropa, mungkin karena cuacanya yang tidak cocok seperti cuaca dingin yang ekstri dan bersalju.

Selama di perkampungan suku Bajoe, saya banyak mendapatkan cerita-cerita yang membuat saya terpana dan takjub. Certia itu mulai dari seluruh aktivitas personal hingga aktivitas dan interaksi alam dan sosial diantara suku Bajoe dan masyarakat sekitar suku Bajoe. Tulisan ini saya sajikan dalam bentuk petikan wawancara langsung dari beberapa orang di perkampungan suku Bajoe.

Kenapa suku Bajoe bangun rumah di atas laut?

Karena dunia kami adalah laut bukan daratan, laut adalah segalanya bagi suku bajoe. Apa saja bisa kami dapatkan dari laut, bahkan orang darat selalu membutuhkan laut dan isinya. Selain itu membangun rumah diatas laut belum ada larangan dari pemerintah. Dengan laut kami lebih hidup bebas dan menyatu dengan alam, kami bangun rumah di atas laut sangat membahagiakan karena belum ada orang melakukan jual beli kapling di laut beda dgn didarat banyak orang jual beli kapling tanah. Selain itu belum ada pajak rumah diatas laut dan bangunan berbeda dengan di darat ada pajak tanah dan bangunan. Kalau kami sudah merasa tidak betah kami cari lokasi pinggiran laut yang lain dan kami bangun rumah disitu. Konstruksi bangunan rumah kami sangat alami sekali tidak menggunakan batu atau semen kami menggunakan semuanya dengan kayu yang hidup dipinggir laut.

Apakah benar rumah yang ada bangun tidak memiliki kamar?

Iya kami suka dengan rumah yang berbentuk ruang besar persegi, hanya ada dua bagian ruang, depan dan dapur. Kami berkumpul di rumah hanya sebentar karena kami sering hidup dilaut mencari ikan dan lain-lain yang dibutuh orang di darat.

Lalu bagaimana kalau anak-anak tidur di malam hari?

Kita semua tidur suka melantai apa adanya.

Kami dengar suku bajo kalau menyelam untuk tangkap ikan bisa berjam-jam didalam laut tanpa ada tabung oksigen?

Iya betul itu, kami sudah terbiasa menyelam tanpa tabung oksigen, namun belakangan kami pakai kompresor untuk membantu menyelam.

Apakah benar jika menangkap ikan dengan menggunakan Bom ikan?

Sekarang tidak lagi, kalau dulu kita orang belum tahu bahwa bom itu bisa merusak isinya laut.

Kami pernah dengar cerita, Jika ibu-ibu suku bajo melahirkan, apakah benar anak yg baru lahir langsung di lempar kelaut?

Mungkin itu dulu, kalau sekarang kan sudah beda. Dulu memang ada kepercayaan jika anak yang baru lahir kita lempar ke laut dan bayi itu bergerak berarti dia memang manusia pilihan bagi suku kami, jika tidak bergerak berarti dia akan menjadi penghuni laut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | 8 jam lalu

Takut Pada Presiden Jokowi, Malaysia Bongkar …

Febrialdi | 8 jam lalu

Melihat dari Film II …

Nilam Sari Halimah | 8 jam lalu

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 8 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: