Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Wandra Aira

Travel writer yang tinggal dan bekerja di bidang Migas di Balikpapan. Baginya semua impian bisa selengkapnya

Geliat Tari Perut di Atas Kapal Pesiar Sungai Nil

REP | 16 May 2013 | 16:27 Dibaca: 1837   Komentar: 4   2

Tak terlupakan. Itulah kenangan yang tersisa dan mungkin sulit dihapus setelah mengarungi dan membelah keindahan sungai Nil di Mesir pada malam hari itu.

DSC02855

Sungai yang terpanjang di dunia ini mengalir dan membelah tak kurang dari Sembilan Negara di Afrika termasuk di Mesir tentunya. Sungai Nil yang identik dengan negeri Cleopatra ini  memiliki arti dan peranan penting dalam peradaban, kehidupan dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu.

Kapal-kapal dagang banyak berlayar sepanjang sungai  yang memuat banyak sejarah agamis. Saya tak akan membahas mengenai hal tersebut namun yang pasti pada masa kini, juga banyak kapal – kapal  pesiar untuk wisata yang memanfaatkan sejarah sungai Nil sebagai komoditi pariwisata mereka.

Pun kami pada malam itu, tak melewatkan kesempatan untuk berlayar mengarungi keindahan sungai Nil dengan menggunakan kapal pesiar besar Nile Cruise bertarif $30 per orangnya. Dengan tarif ini kami dapat menikmati makan malam prasmanan yang lumayan spesial diatas kapal pesiar dengan suguhan hiburan khas Mesir dalam durasi sekitar dua jam lamanya.

Sempat terjadi adu pendapat dan sikap antara  ustadz yang turut dalam rombongan dengan Ahmed, Tur Leader lokal yang menemani kami dalam pelayaran malam itu. Pak ustadz sedikit keberatan jika kita mengadakan cruise menggunakan kapal yang salah satu tariannya adalah tari perut khas Mesir tersebut.  Namun karena merasa bahwa tarian yang akan dibawakan adalah ciri khas Mesir dan hanya sebagian dari pertunjukan, banyak peserta yang merasa sayang untuk menghilangkan kesempatan itu. Lagipula, soal penafsiran Tari Perut, menurut mereka itu adalah tergantung sudut pandang dan pemikiran masing-masing individu.

Akhirnya atas kesepakatan bersama, secara mufakat ditentukan bahwa kita tetap akan pergi berlayar dengan  kapal cruise, namun para lelaki boleh meninggalkan sementara ruang makan tempat acara jika ada tarian perut yang dimaksud.

DSC02830

Sebenarnya, saya pun memiliki rasa penasaran yang dalam tentang tarian perut.  Banyak pro kontra yang saya baca sebelumnya mengenai tarian yang mempertontonkan bagian tubuh perut wanita ini. Sejatinya, dahulu tarian ini dipergunakan sebagai tarian persembahan untuk dewa dan firaun (raja). Masyarakat Mesir menganggap tarian ini sebagai warisan budaya leluhur kuno yang harus dilestarikan dan akhirnya menjadi komoditi wisata bernilai tinggi (terlepas dari cara pandang masing-masing orang yang melihatnya dari berbagai sudut).

Wanita cantik yang mengenakan pakaian minim yang kurang lebih sama dengan pakaian Belly Dance, mulai muncul ke tengah arena show up dan sedikit demi sedikit menari lincah meliukkan perutnya diiringi irama mendayu dari sekumpulan pemain musik Mesir di sudut panggung. Penari ini belakangan diketahui bernama Manar. Berusia sekita tigapuluhan tahun. Info ini tentu saja saya dapatkan dari Ahmed, yang rupanya sudah kenal betul dengan situasi dan kondisi kapal pesiar karena terbiasa membawa tamunya kesana.

DSC02835

Liukan perut penari perut

Namun yang jarang diketahui, sebenarnya selain tarian perut ini, masih ada lagi tarian tradisional Mesir yang juga tak kalah menakjubkan. Setelah penari bernama Manar itu tampil dalam durasi sekitar limabelas menit, muncul penari lain yang ternyata seorang laki-laki. Penari ini mengenakan baju tradisional gemerlap yang bagian bawahnya nampak seperti rok lebar payung.

Dengan diiringi musik tradisional khas Mesir, ia lalu menari  Tannura seperti tarian Dervish Dance atau tarian Darwis yang berasal dari Konya, Turki. Rok lebar berwarna warni cerah tadi diliukkan dalam tarian dan nampaklah pemandangan indah yang dihasilkan dari berputarnya penyanyi tersebut. Bahkan di salah satu atraksi, penari bertubuh proporsional ini menyalakan lampu-lampu di bajunya sehingga semakin gemerlaplah kostum yang ia kenakan. Setelah menari berpuluh-puluh menit dalam aneka atraksi, tidak terlihat sedikitpun kalau penari itu pusing. Hebat !

DSC02845

Tannura Dance, persis Dervish Dance / Tarian Sufi

Saat pertunjukan Tannura, Pak ustadz dan beberapa lelaki lain yang tidak ikut menyaksikan tarian perut kembali masuk ruangan dan duduk bersama melihat si penari menunjukkan penampilan terbaiknya. Terlihat kalau mereka sudah santai dan tenang turut membaur. Namun, alangkah mengejutkan dan tak terduganya kala kemudian Manar kembali masuk dan mulai kembali menari. Pakaian yang dikenakannya sudah berganti dan terlihat lebih seksi menonjolkan bagian perut dan dadanya.

OMG … Saya lirik bapak-bapak anggota rombangan kami termasuk pak Ustadz  yang kemudian mengalihkan pandangan ke jendela kapal cruise, menyibukkan diri dengan menatap pemandangan sungai Nil di malam hari yang penuh lampu. Tampak serba salah karena sudah terlanjur masuk lagi kedalam ruangan.

Sedangkan pengunjung lain, mulai kembali sibuk turut bergoyang pelan mengikuti irama musik yang mendayu-dayu. Si penari terus meliuk liukkan perutnya yang gemuk dan mungkin sudah pernah memiliki anak. Tapi tetap saja, para lelaki yang berasal dari aneka bangsa yang memenuhi ruang pertunjukan tak mengalihkan pandangan mereka ke liukkan tubuh penari sampai di akhir pertunjukan. Dan ketika musik berakhir dan Manar berlalu, jamuan makan malam yang berupa aneka menu khas makanan Mesir pun dimulai.

DSC02851

Kudapan lezat yang lezat

Dari kejauhan, di pintu masuk pertunjukan, Ahmed nampak tersenyum penuh makna. Puas rupanya si Tur Leader berbakat ini karena telah berhasil membawa kami untuk menyaksikan pertunjukan kebanggaan negerinya. Pertunjukan yang berhasil memberikan pemasukan yang sangat lumayan bagi devisa negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

7 Perilaku Buruk Berlalu-lintas di Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 21 December 2014 | 09:10

Blusukan ke Pasar Pengalengan, Pasar Sayur …

Thamrin Sonata | | 20 December 2014 | 23:42

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 3 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 4 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: