Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amie Andari

Pecinta travelling, fotografi, dan masih terus belajar dalam menulis. Mimpi terbesar adalah ingin menimba pengalaman selengkapnya

Inilah Amman, Kota Cantik The Hashemite Kingdom

HL | 18 May 2013 | 16:14 Dibaca: 935   Komentar: 21   7

Berjalan kaki sejauh hampir 9 km berkeliling Petra membuat kaki kami semua pegal-pegal. Sebenarnya masih butuh istirahat satu malam lagi tapi tidak mungkin. Hotel di Amman sudah kami booking. Itenary-nya memang hanya satu malam saja di Wadi Musa.

Saya harus memastikan apakah sopir kami yang baik sudah bisa melanjutkan perjalanan ke Amman. Ternyata dia sangat siap untuk duduk dibelakang kemudi selama 5 jam. Dia memang sopir yang hebat hehehe…

Sebelum berangkat, kami harus makan siang dulu. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, belum terlambat untuk makan siang. Kami memilih mampir ke sebuah warung syawarma pinggir jalan, sudah agak jauh dari tourist center.

Warung kecil, hampir tak memiliki tempat untuk makan. Kami berniat membungkusnya tapi si pemilik warung mempersilahkan kami untuk ke atas. Ahaa! Ternyata ada ruangan di atas, walaupun sempit tapi cukup lega untuk menikmati syawarma dengan rasa yang cukup lezat. Lumayanlah istirahat lagi di sini.

Harga makanan di warung kecil ini cukup murah, seporsi syawarma (roti dan irisan daging, mirip burger) hanya 1,5 JOD. Kalau di kawasan tourist center harganya bisa 2 kali lipatnya. Total 8 JOD untuk 5 porsi syawarma plus air mineral besar. Menu ini sudah cukup membuat perut kami kenyang.

Di sebuah minimarket kecil dekat warung, kami mampir untuk beli cemilan dan air mineral untuk bekal di jalan nanti. Harga air mineral botol besar hanya 0,25 JOD. Wah! Ini sih seperempat harga yang di Petra tadi. Koq jadi survey harga gini ya? Hehehe…

Sebelum meninggalkan Wadi Musa, kami ingat harus isi bensin mobil dulu. Sejak berangkat dari Amman kami sama sekali belum mengisinya. Saat kami sewa, bensin memang sudah full dan aturannya saat mengembalikan nanti, bensin juga harus kembali full. Istilahnya full to full.

Harga premium di Jordan adalah 0,75 per liter, sekitar Rp. 10.000, lumayan mahal kan? Kami isi 20 liter saja sudah penuh karena memang belum habis sama sekali. Jadi kemarin lewat jalan alternatif yang sejauh kurang lebih 400 km plus jalan-jalan seputar kota Wadi Musa hanya butuh 20 liter premium. Irit kan?

Pukul 14.15 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Amman. Sangat berharap Kings Highway tidak ditutup seperti saat berangkat. Bayangan lamanya perjalanan, sudah membuat kami lelah. Ingin sekali segera sampai di Amman biar bisa segera istirahat di hotel. Inilah resiko traveling dengan mengemudi mobil sendiri.

Sampai di kota Ash-Shawbak, yaitu persimpangan antara jalan alternatif lewat Tafilia dengan Kings Highway jalan tidak dijaga polisi. Itu artinya, tidak ditutup. Alhamdulillah, kalau begitu perjalanan bisa lebih cepat. Perjalanan kali ini memang berbeda. Jalan yang kami lewati nyaris tanpa belokan. Lurus dan mulus. Kalau kemarin melewati desa-desa dengan pepohonan yang hijau, kali ini yang kami lihat hanya hamparan padang pasir nan luas. Sesekali melewati kota kecil.

13688663091180511178

Hampir sepanjang jalan Kings Highway seperti ini..

Inilah Amman

Setelah 2 jam perjalanan, kami sudah melewati simpang Karak. Lebih cepat dari perkiraan.  Itu artinya, sudah hampir sampai Amman. Peta kota sudah siap-siap digeber, maklum kami tidak pakai GPS. Butuh keterampilan untuk membacanya. Bapak yang punya keahlian dibidang baca peta ini. Sang navigator hanya bertugas menemani saja biar dia tidak ngantuk. Hihihi..

Memasuki kota Amman, saya dibuat takjub. Kota ini hampir 180 derajat berbeda dengan Kairo. Jalannya rapi dengan garis marka yang jelas. Lampu lalu lintas berfungsi dengan baik. Rambu petunjuk arah juga sangat jelas. Tidak bising dengan suara klakson memecah kemacetan, tidak ada orang teriak dan parkir sembarangan di pinggir jalan. Saya tidak melihat mobil-mobil di sini penyok seperti di Kairo, mulus semuanya.

Kota dengan kontur berbukit-bukit ini tertata amat rapi. Apartemen tingginya mungkin tidak lebih dari 9 lantai saja. Dicat seragam, yaitu berwarna putih. Paduan warna hijau pepohonan dengan bangunan warna putih membuat harmonisasi menawan. Pokoknya kota ini indah.

13688666971154225685

Masuk kota Amman

13688664421484716432

Dalam kota Amman yang bebas macet

Jalan utama di kota berpenduduk 6,5 juta jiwa ini tertata sangat rapi. Karena ruas jalan yang memadai, maka kami tak menemukan kemacetan di kota ini. Banyak jalan layang yang cukup membingungkan terutama untuk pelancong seperti kami. Melihat peta tak juga membuat kami paham jalan. Tapi orang-orang Jordan sangat ramah dan welcome terhadap orang baru. Jadi sering-seringlah bertanya kalau di jalan.

Saya selalu tertarik mengamati setiap kota di negara yang kami kunjungi. Setiap kota jelas berbeda. Dari sejarah, geografi sampai tipikal orangnya semua punya sisi menarik. Tentang Jordan yang mendapat julukan The Hashemite Kingdom ternyata adalah kelanjutan kerajaan Hijaz, bisa dibaca di sini.

13688676581164430299

View Amman menjelang Maghrib dari hotel

Hotel tempat kami menginap berada di jalan Queen Noor, dekat stadion nasional. Sempat bingung karena jalan yang rumit tapi setelah beberapa kali bertanya dan berputar-putar. Akhirnya hampir jam 5 sore sampai juga di hotel .Tempat istirahat kami selama 3 hari ke depan. Ahhh… akhirnya bisa merebahkan diri di tempat tidur.

Oh iya kami punya teman yang tinggal di Jordan. Teman kerja Bapak waktu di Libya. Walaupun dia sedang tidak di Jordan, kami diberikan nomor telepon kakaknya, Ibrahim namanya. Untuk bertanya tentang tempat menarik yang ada di Amman.

Berburu Makanan Enak

Setelah beberapa saat melepas penat, dan menyegarkan tubuh dengan mandi air hangat, kami bersiap jalan keliling kota Amman sekaligus mengisi perut untuk makan malam. Dengan menelpon Ibrahim kami bertanya tempat makan paling populer di Amman.

Kalau mau cari tempat  ramai waktu malam, ada di City Center. Di sana ada tempat shopping juga ada tempat makan enak, Jafra namanya,” terang Ibrahim melalui telepon.

Memang agak susah cari tempat parkirnya karena ramai. Jadi kalau sudah ada tempat yang kosong, langsung saja parkir. Lanjutkan dengan jalan kaki, tanyakan Jafra pada orang di sana mereka semua akan memberitahumu, “lanjut Ibrahim

Setelah mendapat penjelasan dari Ibrahim, langsung saja kami meluncur ke tempat yang ditunjukkannya, City Center. Tidak sulit mencari petunjuk arahnya. Hanya 10 menit kami sudah sampai di sebuah tempat yang cukup ramai dengan lalu lalang orang dan kendaraan yang berseliweran. Banyak toko berjejer di sepanjang jalan. Benar kata Ibrahim, sulit mencari tempat parkir, beruntung kami menemukan tempat kosong untuk parkir. Lalu berjalan kaki.

Karena keburu ingin makan malam, jadi kami melewatkan saja toko-toko yang kebanyakan menjual abaya khas Jordan ini. Tidak lama berjalan kami bertanya pada orang, di mana warung Jafra. Orang tersebut langsung menujukkan tempat yang kami maksud.

Ahaa!! Ternyata warung ini berada di lantai 2 sebuah toko DVD. Dan setelah kami perhatikan, warung-warung  makanan khas Jordan memang hampir semua berada di atas toko. Tidak seperti di Mesir yang justru hidup saat malam hari. Di Amman toko-toko tutup setelah Isya’ atau paling malam pukul setengah sepuluh. Tapi tempat makan itu agak sedikit lebih malam tutupnya.

Ternyata warung Jafra ini merupakan warung lama, kalau melihat gayanya mungkin sekitar tahun 60 sampai 70an. Kebanyakan orang-orang yang nongkrong di warung ini menikmati sisya, kegemaran hampir semua orang Arab. Ramai juga pengunjungnya sampai kami harus ngantri. Baru ingat kalau malam ini Kamis, besok weekend tak heran kalau ramai begini.

13688853951698050616

Warung Jafra yang ada di lantai atas sebuah toko DVD

1368885458799410811

Butuh kesabaran untuk bisa duduk di tempat ini hehehe..

Setelah 5 menit mengantri, akhirnya kami dapat tempat juga. Di warung ini menu makanannya ternyata cukup beragam, dari namanya sudah terdengar lezat. Sepertinya ini lebih karena faktor kelaparan hehehe…

Menu yang kami pesan, adalah pizza, beef kofta griil, dan daging oven (lupa namanya). Pizzanya berbeda rasanya dengan pizza yang ada di restaurant cepat saji, lebih garing dan crispy. Duh enak banget deh.. Kofta dan daging ovennya apalagi. Citarasanya tidak seperti makanan Mesir yang cenderung asin, yang ini pas sekali dengan lidah Indonesia kami. Terbayang-bayang sampai sekarang. Hiks..

Harganya tidak terlalu mahal, 3 menu yang kami pesan plus minuman tidak sampai 20 JOD.

1368885531764400871

Ini dia daging oven yang bikin kebayang sampai sekarang, lupa nanya resepnya :D

13688856121799455611

Makan ditemani musik live khas Arab

Setelah memanjakan lidah sekarang saatnya memanjakan tubuh, kami harus istirahat untuk perjalanan selanjutnya esok hari. Kesan kami tentang Amman, kota cantik dengan kuliner yang juga nikmat.

Jordan masih belum habis dieksplor, cerita tentang Jerash tak kalah menariknya dengan Petra. Ditunggu ya.. ;)

___________________

Cerita sebelumnya :

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 7 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 8 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: