Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ngesti Setyo Moerni

Berusaha mengurangi yang berakibat rusaknya Lingkungan, dimulai dari diri ku sendiri dan Keluarga

Masuk Warung Remang-Remang

REP | 21 May 2013 | 16:20 Dibaca: 1830   Komentar: 9   1


Pengalaman tak terlupakan
ketika terpaksa masuk lokasi warung remang-remang
tempat sopir truk melepas lelah dan bersantap malam


1369122847196064138

Gue aje Kali (ilustrasi)



Musibah memang tidak dapat diduga, ketika mendengar berita bahwa teman semasa SMA menjalani operasi pengangkatan kandungan, kami bertujuh semasa teman sesama SMA berencana untuk menjenguk, padahal lokasinya tidak satu kota, yaitu di Ciamis, dari tujuh teman yang niat pergi, ternyata terseleksi oleh alam tinggal tiga orang termasuk aku, menurut yang membatalkan ikut, alasannya karena lokasi terlalu jauh.


Jarak tempuh Jakarta – Ciamis +/- 256 km, di Jawa Barat, perbatasan dengan Jawa Tengah, melalui Cileunyi - Nagrek - Tasikmalaya. Tidak seberapa jauh dibanding Jakarta – Surabaya, memang yang berangkat hanya ibu-ibu bernyali dan peduli teman, sebab minta ijin kepada suami-suami agak berat. Rencananya setelah dari Ciamis kami akan menginap di Bandung satu malam, akomodasi sudah siap kebetulan ada yang memfasilitasi hotel berbintang, rencana ingin menikmati suasana kota Bandung.


Dengan Memohon izin-NYA kami bertiga berangkat, di sepanjang jalan didalam mobil ramainya seperti burung Cucak Rowo, ngoceh mengenang masa sekolah di Kampung Halaman (di Jawa tentunya). Aku hanya bisa manggut-manggut mengiyakan seperti sopir layaknya, karena harus konsentrasi dalam mengendarai mobil. Seperti biasa, sebagai sajen khusus untuk Mak Sopir sudah ada persediaan Satu thermos kecil kopi dan kacang goreng sangan (yang digoreng tanpa minyak). Menghindari kolesterol, kopi dan kacang untuk mencegah kantuk di perjalanan.


Singkat cerita sampailah kami dengan selamat di Kota Ciamis, pertemuan yang mengharukan, walaupun kita sudah terpisah lama, namun rasa persaudaraan masih melekat erat, karena kami merasa kenangan masa SMA adalah kenangan yang indah.


Serunya pertemuan nostalgia itu …. sayang, empat orang yang membatalkan ikut tidak punya daya juang pergi, kami berceloteh ngalor-ngidul serta menghibur yang sakit, sambil sebentar-sebentar memasukkan sesuatu kedalam mulut masing-masing untuk dikunyah.


Setelah santap siang ala makanan Kota Ciamis, dan Sholat, hari sudah menjelang sore, kami bersiap- siap untuk kembali dan menginap di Kota Bandung. Tapi ada yang aneh teman yang kami tengok justru ingin ikut sampai Bandung (istilah Jawanya KLAYU artinya tidak mau ditinggalkan, masih ingin bersama-sama) masih kurang puas rupanya pertemuan itu.


* Sebagai catatan, di daerah Ciamis ada tempat pariwisata yang sangat cantik, terkenal dengan Green Canyon Indonesia tak kalah dengan Grand Canyon Negara Paman Sam Amerika. Lokasi tepatnya antara Ciamis Pangandaran).


Karena tujuan utamanya adalah mengunjungi teman yang sedang terkena musibah, tentang wisata ke Green Canyon di tunda dulu.


Perjalanan kembali ke arah Bandung smakin Heboh karena tambah Cucak Rowo yang satu ini orang nya supel banyak cerita. Sampai lagu-lagu keroncong yang sudah kubawa hampir tidak ternikmati dengan dengan nyaman.


Ketika tepat saat Magrib kami sudah berada di sekitar Arah Nagrek setelah meninggalkan kota Tasikmalaya. Kata teman-teman perjalanan kami sangat cepat, Pada waktu itu hujan lebat, dikiri kanan tidak ditemukan rumah penduduk, tetapi tanah kebun yang luas, sepertinya milik perorangan, tidak terlihat rumah satu pun. Kebun yang rindang penuh pepohonan besar-besar, padahal menikmati pemandangan seperti itu, membuat hati menjadi sejuk anyles.


Pada saat di dalam mobil tertawa-tawa dan membahas kelakuan kawan-kawan yang aneh lucu masa lalu dan membuat suasana semakin riuh saja empat cuca Rowo berkicau, tiba-tiba mobil kami terjeblos lubang jalanan yang cukup dalam, suaranya keras sekali, sementara mobil berlari dengan kecepatan cukup tinggi, lubang itu tertutup oleh genangan air, tidak terlihat dari jauh bahwa genangan itu ada lubang, tidak terlalu dalam, tapi tetap saja ban mobil kami sampai pecah.


Semua berteriak terkejut. Cuca rowo yang ada didalam mobil ketakutan dan panik.


“Ngesti … terus piye iki?? Mana sudah gelap dan hujan lagi” bahkan Cuca rowo yang satu sudah mulai menangis ketakutan. Jujur hati sempat berkebit juga bagaimana perasaan tidak kebat-kebit. Lokasinya tidak memungkinkan untuk membongkar ban, bisa-bisa disatroni orang tak dikenal, ditengah kebun penduduk, tidak ada sesiapa pun?


Karena seringnya menghadapi keadaan darurat pada pengalaman ketika bekerja di Penerbangan sebagai Flight-Attendant, keadaan seperti itu tidak terasa terlalu merisaukan. Nyali ini sudah teruji (asal jangan di uji dengan situasi computer yang error, tulisan artikel tiba-tiba menghilang terpotong sebagian sehingga penyampaiannya tidak memenuhi target isi penyampaian, membuat panik saja…. hmmmm).


Kuputuskan saja mobil harus tetap berjalan perlahan, mencari tempat berteduh untuk membongkar dan mengganti ban, paling korban satu ban hancur dan velk bengkok, dari pada bertemu tamu tak dikenal, yang pasti terhindar dari segala sesuatu yang tidak di inginkan.


“Sudah tidak usah menangis, lebih baik berdoa” saya usulkan pada cuca-cuca rowo didalam mobil, yang pada gundah.


Agak lumayan jauh perjalanan, baru terlihat seberkas sinar dengan lampu temaram, ternyata warung. Begitu mobil kami parkir, kami semua terkejut, ada beberapa wanita berdandan menor dengan pakaian yang aduhai seksi. Teman-teman semakin ribut, “Ngesti kita keluar lagi saja, itu warung remang-remang, tempat mangkalnya wanita kupu-kupu malam” celoteh mereka, suara larangan mereka terdengar seperti kaum ibu sedang memarahi anak-anaknya, berdengung seperti kumbang.


“Sudah! Mau nginap di Hutan apa di Hotel?” teriakku “Aku yang memutuskan segala sesuatunya, kalau gengsi menginjakkan kaki di tempat ini semua didalam mobil saja, ga usah turun! ini keadaan darurat tidak usah memakai gengsi.” Geli saja seperti skenario sinetron, atau cerita pendek.


Pertama-tama, kulonuwun kepada yang punya warung. Mamih-mamih, senyum-senyum sambil mengulum batang rokok dibibirnya. Di hutan begini ada mamih. Pingin ngobrol sama para wanita yang bahenol seksi disitu, tapi tugas kerja membongkar ban menunggu. Karena PDKT (pendekatan) kita bagus mereka welcome saja bahkan menawari kami minum.


Semua tidak ada yang berani turun bahkan membantuku pun tidak berani. Hati nuraniku berkata. “Sudah niat ingsun dan Bismillah” sambil berbasah-basah mulailah montir dadakan beraksi, dengan di bantu oleh tukang parkir anak kecil, hanya kusuruh membantu menggotong ban serep dan memayungi.


Didalam warung, wanita-wanita cantik itu cekikikan, mentertawaiku menjadi tukang ban atau dia punya bahan untuk cekikikan, entah kagum entah melecehkan. Masalah buat dia?.


Sedang asyiknya mbongkar ban, benar saja ada sebuah truk masuk, parkir tepat didekat mobil kami, dengan senyum-senyum nakal mereka menawarkan jasa untuk membantu mbongkar pasang ban. Tapi ku tolak saja, “Sudah pak terimakasih, Bapak kan juga sudah kecapaian, lebih baik istirahat saja” Tidak lama lagi datang lagi Truk-truk yang lain dan parkir, beberapa truk sudah berada disekitar mobil kami. Malam itu mereka mendapat tontonan gratis sebuah akrobat ada perempuan yang bongkar pasang ban dilokasi mereka bersantap malam.


“Mari mbak dibantu saja, kasihan bajunya kotor semua” kata sopir yang berani merangsek mendekati ku sok akrab dan hampir mengambil paksa kunci palang yang kupegang.


Agak kikuk, risi di lihat para Abang beraneka tampilan, beberapa laki-laki bertubuh kekar sudah berada didekatku bekerja, sambil menebarkan aroma minyak wangi beraneka rasa, namun demikian tawaran itu tidak kuterima, sudah hampir selesai, tinggal buka dongkraknya beres dan masukkan ban yang sobek dan alat ke dalam mobil. Lucunya bocah kecil yang memayungiku rela berbasah-basah kena hujan hanya untuk memayungi badanku, walau sering tercium aroma dari ketiak bocah kecil ini, sepertinya kurang rajin mandi, tidak apalah. Penting kepalaku tidak terguyur gerimis hujan.


“Ban mbak tadi terjeblos di lubang dekat pagar yang tinggi ya?” Ada laki-laki yang mendekati entah siapa dia. “Disitu sering kejadian lo, seperti mbak gini, bahkan ada yang menabrak tembok pagar, mbak ga apa-apa kan? Dibalik pagar itu ada makam anker mbak” sambil memandangi ku dengan penuh selidik, maksudnya apa ya. Dan aku hanya manggut-manggut saja, sedang malas menanggapi.


Setelah usai semuanya, tiga cuca rowo yang ada didalam mobil mengucap Syukur, bahkan menciumi ku, “Ngesti, … awakmu kok ora brubah, masih tetep gesit jadi tukang.” “Iya tahu nih pangkat tidak naik-naik jadi tukang dan sopir melulu”. Biasa melampiaskan kebahagyaan mereka semua puja-puji diarahkan kepada diriku. Muka-muka mereka terlihat bahagya, bahkan sudah mulai berkicau, “Tadi ada supir truk ganteng yang naksir Ngesti tu, deketi terus, padahal dia kan sudah lapar juga rindu sama kupu-kupunya, hahaha”. Canda mereka, sudah mulai cerah kembali, dasar Cuca Rowo.


Dengan gaya sok akrab sama mereka aku lambaikan tangan ber da…dah ria, setelah pamit sama Mamih pemilik warung, dan mobil kularikan kearah Bandung.


Pelajaran yang paling berharga, adalah dimana saja kita berpijak, kita ikut situasi yang ada sambil tetap waspada, tidak usah merasa kita paling bersih, diantara teman-teman kita yang kurang beruntung menjadi kupu-kupu malam, kalau ada pekerjaan yang halal, mereka juga tidak mau menjadi seperti itu, tetap saja kita harus menghormati mereka beri senyum yang manis niscaya mereka tidak akan takut tersaingi, eiiiiit bukan begitu maksudnya.


-Kinanti Sekar Djagad-


editor: Mio

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 9 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 14 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Noise Penyebab Miskom Dalam Organisasi …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Rindu untuk Negeri Intimung …

Riza Roiyantri | 8 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

Akankah, Fatin Go Kompasianival? …

Umar Zidans | 8 jam lalu

Menteri yang Diharapkan Bisa Profesional …

Yulies Anistyowatie | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: