Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ama Kaka

Mundur dari hiruk-pikuk Kompasiana untuk menenangkan diri.

Pahit Manis Wisata Gunung Kawi

REP | 22 May 2013 | 09:05 Dibaca: 434   Komentar: 13   1

Apa yang engkau dicari di Gunung Kawi, Malang? Macam-macamlah. Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu? Jalan-jalan. Penasaran. Ciamsi. Nguri-uri budaya. Cari rezeki. Ingin kaya. Cari jimat pesugihan. Entah 101 alasan lagi.

Apa pun kritik, kecaman orang, sejak zaman dulu objek wisata Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur, tetap lancar jaya. Selalu ada pengunjung dari dalam dan luar negeri. Bahkan, di kalangan Tionghoa yang senang ciamsi, Gunung Kawi punya kelebihan khusus. Apa itu?

“Namanya juga usaha, kita orang harus cari jalan. Kalau memang hoki, baguslah,” kata seorang Xiangshen dari Surabaya. Dia pernah gagal usaha, kemudian belakangan mulai jalan lagi.

Setelah minta restu eyang-eyang di kawasan Wonosari, Malang?

“Ke Gunung Kawi thok ya gak iso. Kita orang harus usaha, kerja keras,” kata tuan Tenglang  itu seraya tersenyum. “Sampeyan pigi Gunung Kawi 100 kali, kalo gak kerja, masak iso kaya… Haaaa?”

Bicara Gunung Kawi ini tak akan ada habisnya. Pengalaman dan persepsi orang berbeda-beda. Tuan Huang, kelahiran Surabaya yang sudah puluhan tahun tinggal di Tiongkok, mengatakan kepada saya lewat e-mail bahwa dia tak pernah lupa berziarah ke Gunung Kawi. Dia punya banyak kenangan dengan tempat pesarean ini di masa mudanya.

“Lha, untuk apa lagi ke Gunung Kawi? Sampeyan kan sudah mapan di Cungkuo?” saya bertanya via email.

“Saya ke Gunung Kawi tidak pernah mempunyai maksud tertentu. Diajak teman-teman dan saudara, ya ikut saja, jalan-jalan dan tamasya. Di kala mereka slametan dan sembahyang, ya saya mengikuti semua ritual itu, sehormat-hormatnya,” ujar sang laopan.

Pengalaman Mr Huang ini termasuk netral. Ada lagi Pak Hoki (nama samaran) yang belum lama ini nyekar ke Gunung Kawi. Sampai sekarang dia trauma karena digarap mafia-mafia untuk mengeruk duit besar. Pola rayuannya sama. Dilakukan orang-orang Wonosari dan sekitarnya yang tahu persis psikologi pengunjung yang ingin cari kekayaan atau kelancaran usaha.

Begini ceritanya:

“Sesudah sampai di area parkir Mbah Jugo, saya didekati oleh seorang penduduk setempat yang menyarankan sebaiknya saya mengunjungi Keraton bila ada permintaan khusus. Mungkin karena sudah kelelahan sehingga kewaspadaan saya rendah, saya menurut saja ajakan ‘guide’ tersebut.

Setelah naik ke dalam hutan, tibalah kami di sebuah bangunan. Kami diisarankan cuci muka terlebih dulu. Kami tidak mampir di bangunan kelenteng yang ada pada posisi lebih di bawah, tapi langsung naik ke bangunan paling tinggi. Di area tengah-tengah kami melihat ada 3 makam dan di atasnya ada lagi 3 makam.

Belum ada perasaan curiga meskipun sebelum naik kami tegaskan kepada ‘guide’ bahwa kami tidak ada permintaan khusus. Kami akan pulang bila kami digiring untuk mengucapkan janji-janji tertentu. Oleh guide, dibilang bahwa gak ada korban manusia. Kami (lima orang) belum mengerti maksudnya, tapi gak ada janji-janji membuat saya naik ke bangunan tertinggi itu.

Kami kemudian disuruh masuk ke dalam dengan sekantung alat sajen yang ada dupanya. Sekitar 15 menit anak sulung saya di dalam, lalu dia keluar dengan muka pucat. Dia memberi kode bahwa sebaiknya saya, istri, dan adik-adiknya jangan masuk ke dalam seperti rencana semula. Kami lalu memutuskan untuk segera turun.

Anak sulung saya yang sudah berada agak ke bawah dipanggil kembali oleh orang yang berada pada ruangan tertutup itu, yang biasa dipanggil MBAH KUNCEN. Anak saya cerita, orangnya belum terlalu tua, berbaju batik. Ini semacam hipnotis. Anak sulung saya dipalak. Tapi saya tidak punya keberanian untuk memanggil anak saya, sampai kemudian anak saya keluar dengan muka lebih pucat lagi.

Dengan buru-buru dia mengatakan agar secepatnya meninggalkan tempat itu. Kami pun agak panik bergegas kembali ke mobil.

Di mobil anak saya agak histeris. Dia sangat ketakutan, karena di dalam ruangan tertutup itu ada sebuah kuburan. Anak saya dipaksa untuk menyetor uang Rp 6 juta membeli kambing hitam. Dan itu harus dilakukan sebanyak 7 ekor kambing (7 x 6 = Rp 42 juta).

Anak saya yang tidak bisa menyanggupinya. Akhirnya, anak saya dipaksa untuk menyerahkan sejumlah uang dengan alasan utk sesajen di sana. Semua uang yang ada di dompet anak saya sebesar Rp 170 ribu harus berpindah tangan…Untung hanya segitu.

Kami pun bergegas meninggalkan wilayah Gunung Kawi dengan perasaan takut.  Bungkusan yang diberikan oleh Mbah Kuncen itu pun kami ludahi dan dibuang keluar mobil. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk kami menetralisir perasaan mencekam. Kami pun kemudian makan siang di Malang… dan berusaha melupakan  peristiwa itu.”

Masih banyak lagi cerita-cerita semacam ini dari para pelacong setelah mengunjungi Gunung Kawi. Ada yang manis, pahit, asin, masam.

Yang paling penting, eling lan waspada, tawakal pada Gusti Allah. Bukan malah mencari pesugihan ke Eyang Jugo, Eyang Kawi, Eyang Subur, dan eyang-eyang yang lain. (FOTO: detiksurabaya.com)

1369204312738851372

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Pernahkah Ini Terjadi di Jaman SBY …

Gunawan | 3 jam lalu

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 7 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 8 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: