Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Oktavianus Teguh P

Seorang pengembara dunia dan kehidupan, berbagi untuk saling mencerdaskan sesuai jati diri sebagai anak Indonesia

Catatan perjalanan ke Gua Maria Nusakambangan

REP | 27 May 2013 | 09:23 Dibaca: 302   Komentar: 3   0

Salam sejahtera bagi siapa saja yang memuliakan Tuhannya dengan mengasihi sesamanya tanpa limit…

Seturut pengalaman berkunjung ke Gua Maria Nusakambangan, saya akan berbagi tips yang mungkin bisa digunakan bila ada teman-teman dari komunitas Katolik yang akan berkunjung ke sana. Ini adalah ‘main-main’ pertama kali saya ke gua Maria yang konon sudah dibuka sejak 2002, walau saya adalah putra asli Cilacap dengan 100% berstatus ngapakers. Diawali dari jam 07.00 pagi 25 Mei 2013 sehari sebelum pilgub Jateng, perjalanan dimulai dari penyeberangan Sleko Cilacap dengan kapal motor kayu bermesin buatan China.

Yang memakai tongkat adalah Romo Pak Yadi

Duduk di bagian belakang (karena depan dan tengah telah penuh dan di bagian tengah yang teduh karena diberi peneduh) diisi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dan mayoritas berusia lanjut. Sungguh awalnya tersiksa merasakan getaran mesin dan bising suaranya plus bonus asap knalpot. Tapi semua sirna saat di ’service’ Tuhan dengan ciptaanNya sepanjang 2-3jam perjalanan ke tujuan. Hamparan hutan mangrove yang sebenarnya tidak sempurna karena pembalakan, sangat menakjubkan. Apalagi kalau hutannya masih belum dirusak, pasti sangat sangat mengagumkan. Beberapa fauna Aves terbang dan hinggap di ranting-ranting mangrove (orang lokal bilang pohon tancang). Bahkan sempat melintas burung Alap-alap yang di masa kecilku sering terbang berkelompok mencari merpati yang sedang apes atau menyambar unggas piaraan. Mungkinkah ‘Gank Terbang’ ini semakin langka karena ‘razia’ ? Malah gank motor yang merajalela.

Ini adalah salah satu penjara di P. Nusakambangan

Perjalanan ini pun akan melalui sebuah kampung yang pernah terkena wabah demam berdarah akut, namanya adalah Kampung Laut. Waktu saya SD (saat wabah itu menerjang) konon rumah di sana ada di atas permukaan air namun karena pendangkalan, sekarang rumah-rumah sudah ‘berpijak’ di tanah antara yang semi permanen sampai permanen atau pun gubug.

Singkatnya, sampailah di dermaga KLACES, sebuah dermaga kecil. Di sambut oleh warga lokal yang siap menawarkan jasa ojek. Dan senyum seorang anggota keamanan dari ALRI (Marinir) yang dengan ramah menawarkan toilet di posnya dengan gratis. Sempat berbincang sekedarnya dengannya soal Muenchen vs Dortmund, bertanya jawab tentang keunggulan dan kelemahan kedua tim dan juga pasar taruhan. Yang terakhir ini bukan berarti saya suka memasang taruhan lho ya…sekedar tahu saja. Paling tidak, suasana bisa cair dan akrab kalau kita bisa sedikit memegang topik dan teman bicara ternyata juga suka.

Ojek ? Mau ziarah a.k.a jalan salib kok naik ojek. Itu dipikiran saya. Masih tergambar kondisi gua Maria di tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Ya sudahlah, awalnya terpaksa percaya bahwa medannya cukup berat. Dengan 2 lembar 20 ribuan yang dibayarkan setelah penjemputan, saya naik sebuah motor yang saya pikir tidak standar. Rantai berkarat dengan gir belakang sudah upgrade size-nya, tanpa lampu apalagi lampu riting. Pijakan kaki yang sudah sebatang kara, pijakan rem yang posisinya sudah tidak standar, stang yang hasil modifikasi seadanya…”Ah sudahlah”. Naik saja, percaya saja kasih Tuhan masih standar dan tak termodifikasi. “Alamak !!!” Dalam kondisi motor yang sudah jauh di bawah standar, tukang ojeknya melajukannya dengan kencang di jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua motor beriringan. Kebayang kan jika ada motor dari depan lalu saling senggolan ? Tiga menitan sejak dari dermaga, tersajilah sebuah medan yang di luar bayangan tentang area jalan salib yang biasa ada di sebuah tempat ziarah gua Maria. Jalan berbatu kapur dan tanah liat. Mendaki dan terpaksa penumpang turun agar motor ojek bisa naik. “Edan !!” Jalan terjal dan berbatu tukang ojeknya tidak memakai helm apalagi penumpangnya. Ada lagi yang cuma bertelanjang kaki. Ternyata memang tak ada tempat pemberhentian. Kami semua (beberapa ada yang jalan kaki) dibawa menuju sebuah gua. Masih kepikiran juga di dalam gua ritual jalan salib akan berlangsung. Ternyata tidak. Setelah panitia lokal menyalakan mesin genset untuk penerangan dalam gua, langsung kami dipersilakan masuk. Jalan masuknya pendek tapi cukup curam. Langsung terhampar sebuah ruang yang cukup lapang. Dan oleh pendamping dari Paroki St. Stephanus Cilacap (Bu Yuni) dijelaskan asal muasal gua tersebut dijadikan tempat peziarahan termasuk tidak adanya patung Bunda Maria maupun aksesoris lain yang biasanya dijumpai di gua Maria di lain tempat.

Setelah kami semua berkumpul setelah doa pribadi, Bu Yuni menawarkan apakah akan melakukan misa dulu atau bersama dengan menunggu rombongan dari Jakarta. Jika mendahului, maka nanti Romo yang mendampingi yaitu Romo Pak Yadi harus memimpin misa lagi untuk tamu dari Jakarta karena saat itu Romo-Romo dari St. Stephanus Cilacap sedang menghadiri upacara kaul kekal juniornya di Novisiat OMI Condong Catur Yogyakarta. Akhirnya sepakat menunggu, supaya bisa melakukan misa bersama. Setelah misa, kami diberi kesempatan untuk berkeliling melihat isi gua sambil mendengar cerita-cerita dari porter lokal baik cerita misteri, sejarah maupun tantangan yang dihadapi. Konon, tantangan paling besar adalah dari komunitas anti toleran yang menyebarkan isu Kristenisasi walau sampai sekarang isu itu tak berdasar karena kenyataannya warga tetap setia dengan ke-Islam-annya.

Setelah puas, saya dan rombongan dari Jogja keluar dari gua dan sudah ditunggu oleh tukang ojek yang tadi mengantar (tipsnya, saat diantar…ingatlah wajah tukang ojek atau paling tidak motornya). Mereka cukup baik dan sopan dengan ciri khas ngapak-nya yang sangat kental. Penjemputan ini akan mengantar kami ke rumah Pak Dusun untuk menikmati makan siang (termasuk dalam paket ziarah). Beberapa menu harus kita bayar karena memang tidak termasuk dalam paket, kebetulan saat itu ada menu kepiting. Wah…dengan rentang harga 25ribu-50ribu, merasa tidak rugi menikmati masakan kepitingnya.

Setelah puas menikmati hidangan dan bersih-bersih diri, kami menuju dermaga berjalan kaki. Ternyata air sedikit sudah surut dan terlihat ikan GLODHOK, jenis ikan yang yang hidup di rawa-rawa dan mampu hidup di darat dan seakan mampu berjalan bahkan mendaki akar pohon bakau.

Perjalanan pulang, kembali harus merasakan getaran mesin kapal yang made in China, asap knalpotnya dan sekarang ditambah panas terik. Tapi, sekali lagi semua sirna dengan suguhan pemandangan. Dan belajar dari pengalaman, sedikit saya tutup telinga menggunakan earphone.

Sekedar catatan :

  1. Persiapkanlah fisik dan mental saat merencanakan akan melakukan perjalanan ke Gua Maria Nusakambangan. Yang sering mengeluh, latih dan aturlah kebiasaan mengeluh itu.
  2. Ojek di sana jangan dianggap melunturkan sisi rohani sebuah jalan salib. Ternyata, jasa ojek dilakukan untuk menambah penghasilan warga lokal yang memang pendapatannya tidak bisa diprediksi dan hanya bisa berharap meningkat pada bulan Mei atau Oktober dimana umat Katolik rajin ziarah. Jadi, iman juga berkaitan dengan masalah empati dan berbagi. Bukan berarti dianjurkan tidak jalan kaki, silakan yang kuat fisik dan mental untuk jalan kaki. Saya sarankan untuk tidak menawar ojek terlalu murah. Bukan masalah nominal, tapi manfaat bagi mereka. Adrenalin saat naik ojek juga bisa melatih kita bahwa hidup itu berharga.
  3. Berkoordinasilah dengan paroki setempat (St. Stephanus Cilacap) agar dipermudah koordinasi dengan pihak keamanan dan warga lokal.
  4. Tunjukkan iman Katolik kita dengan menjaga kebersihan dan etika. Di sana kita akan disuguhi dunia nyata tentang masyarakat nelayan, jadi kalau ketemu kamar mandi yang berair keruh…terimalah. Itulah kondisi air di sana.
  5. Kalau perlu, bawa bekal air putih (mineral) yang cukup.
  6. Bawa juga senter karena di dalam gua beberapa bagian tidak tercakup sinar lampu.
  7. Bagi ibu-ibu yang membawa tas, bisa minta tolong untuk dibawa dan dijagakan. Di sana ada beberapa anak kecil yang siap membantu (tapi ya beri ala kadarnya), bahkan siap membantu untuk mengambilkan air dari kolam alami.
  8. Kalau dari Timur Cilacap, menyeberang melalui pelabuhan Sleko dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam, sedangkan dari barat (Bandung, Jakarta, dll) bisa naik dari Majengklak (hanya 20 menit menuju Klaces)

Sampai ketemu di Gua Maria Nusakambangan. Nikmatilah dan resapilah iman kita dengan ’sesuatu’ yang ada diluar pikiran selama ini. Semoga iman kita semakin bertumbuh.

Cerita lain bisa di simak di blog ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 3 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 6 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 7 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: