Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Yusran Darmawan

Tinggal di Pulau Buton. Belajar di Unhas, UI, dan Ohio University. Blog: www.timur-angin.com

Gadis Jerman Kepincut Pantai Buton

REP | 06 June 2013 | 10:20 Dibaca: 1017   Komentar: 3   0

1370488122660956319

pemandangan di Pantai Nirwana di kota Baubau yang terletak di Pulau Buton

SERING kali kita tak menyadari bahwa kita tinggal di atas kepingan surga. Ketika orang lain melihat sisi surga itu, barulah mata kita membuka, barulah nalar kita tersentak. Ketika belajar di kelas riset ilmu sosial, seorang profesor pernah memberi tahu, kamu tak akan pernah menyadari bahwa kamu tinggal di atas gunung, ketika kamu tak pernah turun gunung. Benarkah kita sedang tak sadar jika sedang memijak negeri surga?

Setahun silam, ketika masih berumah di Athens, Ohio, seorang sahabat Amerika mengajak saya mengunjungi Lake Hope, danau yang menjadi tempat wisata di Ohio. Ia berpromosi setinggi langit tentang tempat itu. Ketika tiba di Lake Hope, saya terkejut karena ternyata tempat itu hanyalah sebuah danau biasa yang airnya berwarna coklat dan pantainya berlumpur. Hanya saja, tempat itu dikelola dengan baik. Fasilitasnya lengkap, termasuk perahu kayak.

Ketika teman saya bertanya, bagaimana dengan danau atau pantai di negerimu? Saat itu saya terdiam. Dari sisi keindahan, saya tak sanggup membandingkannya sebab jelas tak sebanding. Di tanah air, pantai dan danau memiliki keindahan yang tak terlukiskan. Pantai dengan pasir putih, lautan biru, langit biru, serta pohon-pohon kelapa adalah komninasi yang sangat pas untuk sebuah keindahan. Nampaknya, Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Indonesia.

Kemarin, saya memajang beberapa foto Pantai Nirwana di Baubau yang terletak di Pulau Buton pada situs jejaring sosial. Saya sengaja mengambil gambar suasana pantai yang mash perawan, dalam pengertian belum terjamah oleh tangan-tangan kekar kapitalisme seperti jasa perhotelan atau para pengusaha rakus yang suka mengkapling-kapling pantai. Saya memotret Pantai Nirwana yang amat indah, di mana semua warga Baubau bebas untuk datang dan mandi, lalu membangun istana pasir.

Seorang gadis asal Jerman, Kim Mi, lalu memberikan komentar. “It’s amazing. I’m absolutely jealous. You live in a paradise.” Saya lalu merespon komentarnya. Saya kisahkan padanya bahwa banyak warga Buton yang justru menganggap Eropa dan Amerika adalah segala-galanya. Tiba-tiba saja, Kim lalu mengirimkan link foto tentang Jerman yang sedang dilanda banjir. Ia seolah berpesan bahwa negerinya bukanlah surga. Buktinya, banjir bisa menenggelamkan negeri itu. Terakhir ia kembali berpesan, “Tell them that they actually live in a paradise.”

13704882951041818030

Pantai Nirwana di Baubau

1370488495520219941

perahu tradisional

Dialog dengan Kim sangatlah menarik. Banyak warga di tanah air yang sering tidak menyadari betapa beruntungnya tinggal di negeri tropis ini. Ada jutaan orang yang bermimpi setinggi langit untuk menginjakkan kaki di negeri empat musim. Niat mereka tak selalu terkait dengan keinginan untuk mengasah pengetahuan, namun banyak yang menganggapnya sebagai tantangan, refleksi dari hasrat untuk menjelajah dunia, atau mungkin hanya untuk sekadar memasang foto di situs jejaring sosial. Pada titik ini, negeri lain selalu dianggap lebih ideal ketimbang negeri sendiri. Yang parah adalah ketika beberapa orang berada pada titik yang merendahkan negeri sendiri.

Memang, di megeri kita tak ada salju. Tak ada pohon mapple dengan daun yang berwarna-warni dan mengikuti musim. Juga tak ada gedung-gedung pencakar langit sebagaimana New York. Namun negeri kita justru menyimpan begitu banyak pemandangan eksotik yang justru amat digilai masyarakat luar. Di antara pemandangan eksotik itu adalah pantai berpasir putih dan laut biru.

Bagi masyarakat Amerika, berpesiar ke pantai dengan pasir putih adalah sesuatu yang amat mewah. Maklum saja, demi menemui laut dan pasir putih, mereka mesti menempuh penerbangan yang jauh. Kalaupun di dalam negeri, mereka mesti terbang ke Miami atau Florida, yang ongkos penerbangannya cukup mahal bagi banyak kalangan. Perjalanan ke sebuah pulau tropis yang terdapat pasir putih dan laut biru adalah hal yang amat mahal bagi warga Amerika. Ketika ada seseorang yang melakukannya, maka orang itu dianggap kaya sebab mengeluarkan banyak ongkos demi perjalanan tersebut.

Ketika masih belajar di Ohio University, seorang dosen pernah bertanya pada semua mahasiswa, jika memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan, tempat favorit apa yang ingin mereka kunjungi? Lebih separuh mahasiswa menyebut pantai di wilayah tropis, yang setiap hari matahari menyengat, dengan pasir putih, laut biru, serta pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

Mendengar keinginan mereka, saya tersentak. Betapa tidak, tempat yang ingin mereka jangkau adalah halaman belakang rumah saya di Pulau Buton. Bagi kami, warga yang tinggal di pulau, pasir patih dan laut biru adalah kenyataan sehari-hari yang tak lagi mendatangkan impresi. Banyak warga yang bersekolah ke kota-kota besar, serta berkeinginan untuk menjangkau Eropa. Padahal, sebagaimana dikatakan Kim, Eropa tak selalu nyaman. Di sana justru sedang bergelut derngan krisis, banjir, serta berbagai permasalahan sosial lainnya.

1370488561537210351

matahari terbenam di Pulau Buton

Kita sering tak menyadari betapa menakjubkannya tanah tempat kita berpijak. Pernyataan warga dunia tentang surga itu bukanlah sebuah isapan jempol. Selama merantau ke luar negeri, ada banyak hal yang saya anggap[ sebagai surga di tanah air.

Selain pantai berpasir putih yang asri dan amat elok dipandang mata, surga di tanah air adalah kuliner yang demikian kaya atau beranekaragam di berbagai daerah. Kekayaan tradisi berupa makanan itu menjadi keunikan dari beragam daerah yang sukar dicari tandingannya. Sayangnya, pengusaha kita belum berkeinginan untuk memperkenalkan khasanah kuliner itu di dunia luar. Ini sangat beda dengan masakan khas Thailand yang tersebar di banyak kota di Eropa dan Amerika.

Mengapa kita sering tak menyadari kenyataan bahwa kita sedang memijak negeri surga? Sebab kita lahir dan besar di negeri ini sehingga semua kenyataan berlalu begitu saja dan menjadi hal yang biasa saja. Kita tak merasakan betapa dahsyatnya pantai berpasir putih, jika kita tak pernah merasakan bagaimana danau-danau di Amerika yang berpasir hitam dan penuh lumpur. Kita tak merasakan nikmatnya makanan sea food di tanah air jika tak pernah merasakan bagaimana hidup di luar negeri, di mana pilihan ikan hanyalah ikan air tawar yang tak berasa sama sekali.

Mungkin pula peribahasa ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ berlaku di sini. Kita hanya sibuk memperhatikan nikmatnya mereka di negeri barat sana, tanpa menyadari bahwa negeri kita begitu dahsyat, memiliki garis pantai terpanjang di dunia, memiliki pemandangan yang mengagumkan dan hanya bisa dikhayalkan bagi sebagian besar masyarakat barat.

13704886831893823946

sisi lain Pantai Nirwana

Ternyata, tak hanya warga kita yang bermimpi ke negeri lain. Warga negeri lain pun memelihara mimpi yang sama untuk berkunjung ke negeri kita dan melihat langsung pemandangan yang selama ini hanya bisa mereka khayalkan. Mimpi bagi sebagian orang barat untuk ke negeri kita juga berubah menjadi rasa cemburu serta iri untuk turut menikmati surga tropis, sesuatu yang setiap hari kita rasakan. Saat menulis artikel ini, saya masih terkenang dengan kalimat sahabat Kim Mi, “I’m absolutely jealous!”

Yah. Saya bahagia tinggal di pulau. Saya bahagia menikmati sesuatu yang hanya bisa dibayangkan mereka di negeri sana. Saya bahagia karena berumah di atas kepingan surga. Saya bangga dengan keadaan ini. Apakah Anda berpikir sama dengan saya?

Baubau, 5 Juni 2013

BACA JUGA:

Mereka yang Merawat Sejarah Jakarta

Makassar yang Semakin Kasar

Kisah Manusia Batu di Tepi Jakarta

Yang Akan Saya Rindukan dari Amerika

Kopi Sumatra, Kopi Termahal di Amerika

Jeruji Kenangan Saat Wisuda

Melihat Perahu Bugis di Amerika

Wayang Bali Terbang Hingga Ohio

Menantang Badai di Pulau Buton

Kisah di Balik Obama from Java

Bule Amerika Cinta Indonesia

Peggy Gish: Setetes Embun di Kota Athens

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 11 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 14 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah Untuk …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Usul Mengatasi Kemacetan ” Kiss and …

Isk_harun | 8 jam lalu

Kakek Moyangku Seorang Pelaut …

Sunu Purnama | 9 jam lalu

Harga Mahasiswa …

Muhammad Nur Ichsan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: