Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Regy Kurniawan

Tourist, adventure photographer, and environment consultant. www.avonturir.com

Legenda Danau Tolire

REP | 18 June 2013 | 19:54 Dibaca: 229   Komentar: 0   1

tolire

Versi Tidak Senonoh

Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, menurut cerita masyarakat setempat, dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk menjadi danau oleh penguasa alam semesta, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri.

    Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamili itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis. ~ wikipedia

    Itu legendanya. Dan kampung tempat bermukim bapak dan anak itulah yang berubah jadi danau. Uh, gara-gara dua orang itu, kakak penguasa alam semesta menghukum orang sekampung. Show off. Ngapain coba tanahnya dibikin runtuh, kan lebih gampang bikin si bapak kena gatal-gatal atau tititnya dipindah di jidat?

    Danau Tolire Besar Danau Tolire Besar

    Versi yang lebih lengkap menyebutkan kalo si bapak adalah kepala suku dari desa yang dihuni lebih dari 1.000 jiwa. Ceritanya di suatu malam, penduduk desa itu berpesta dan mabuk-mabukan. Saat pesta usai, om kepala suku yang udah mabuk berat ini masuk ke rumah lalu ‘nganu sama anaknya.

    Ketika subuh tiba, terdengar kokok ayam sebanyak tiga kali. Salah satu nenek penghuni desa ngasih pengumuman ke warga kalo itu pertanda bahwa desa mereka akan tenggelam, entah dasar pemikirannya dari mana, entah ngumuminnya lewat toa masjid atau brodkes mesej. Mungkin karena hipotesis si nenek tidak memiliki dasar yang kuat, warga desa cuek dan tetap bobok. Hingga akhirnya dari samping rumah om kepala suku mendadak keluar air yang sangat banyak. Warga panik!

    Om kepala suku bergegas lari, eh tapi doski mampir dulu ke mata air itu trus mata airnya diinjak. Bukannya berhenti mengalir, tanah di sekitar mata air langsung amblas dan air pun muncrat menenggelamkan desanya. Crut, jadilah danau Tolire Besar. Anaknya lari ke arah pantai, sayang, tanah yang dipijaknya juga amblas dan menjadi danau Tolire Kecil.

    Danau Tolire Kecil Danau Tolire Kecil

    Versi Senonoh

    Buku “Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api” punya cerita sendiri mengenai danau ini.

    Pulau Ternate seluas 1.118 km2 ini sejatinya adalah bagian tubuh Gamalama, yang kakinya berada di dalam laut. Ketinggian gunung ini jika diukur dari permukaan laut hanya 1.715 meter. Namun, jika diukur dari dasar laut, ketinggan Gamalama mencapai 3.000 meter. Letusan Gamalama pernah terjadi di permukiman saat pembentukan danau Tolire Jaha (Tolire Besar) tahun 1775.

    Tolire Jaha terletak di barat laut Ternate, berjarak 4 km dari puncak Gamalama dan 500 meter dari pantai. Petaka itu dimulai dengan gempa bumi beruntun yang mengguncang Desa Soela Takomi pada tanggal 5 September 1775. Desa ini terletak 1,5 km dari Kelurahan Takoma saat ini. Gempa tektonik itu memicu erupsi Gamalama hingga terjadi letusan uap panas selama beberapa jam pada 7 September dini hari.

    Suara gemuruh menyertai erupsi yang berlangsung hingga hari terang. Saat warga sekitar Desa Soela Takomi menengok kampung itu pada siang hari, mereka hanya mendapati lubang kawah yang menganga lebar.

    Sebanyak 141 warga desa hilang bersama tenggelamnya desa mereka.

    Masih banyak versi lain tentang asal-usul danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, misalnya versi On The Spot. Ada juga versi anak tambang yang meyakini kalo kedua danau Tolire adalah bekas lubang pertambangan terbuka. Gue punya keyakinan sendiri. Danau-danau tersebut adalah bekas kamehameha.

    Siluman Buaya Putih dan Mitos Lempar Batu

    Ini side story-nya. Di danau Tolire Besar yang luasnya sekitar 5 hektar itu ada siluman buaya putih yang nongolnya jarang banget. White Crocs Legend. Crocs Su-Chen. Ukurannya super gede, menurut cerita penduduk panjangnya mencapai 10 meter. Men, ini bukan legenda. Buaya itu beneran ada. Gue pernah dikirimin foto si Crocs Su-Chen dari kakak ipar gue (nanti bakal gue taro disini kalo file-nya udah ketemu). Warnanya juga gak putih tapi coklat kehitaman. Di Youtube gue malah nemu videonya nih.

    [youtube=http://www.youtube.com/watch?v=vorTUK-0wdI]

    Nah, di danau Tolire Besar ada aktivitas lempar batu. Ini semacam tempat latian melempar jumroh kali ya. Katanya, sekuat apa pun lemparan kita, batu itu gak bakal nyampe ke danau dan menghilang secara misterius. Boong. Sumpah mandul, lemparan gue nyemplung dengan ganteng di permukaan danau Tolire. *bangga*

    IMG_0480

    Aktivitas lempar batu ini jadi bisnis buat warga. Mereka menjual batu untuk dilempar seharga Rp 1.000 per set, isinya 5 biji. Akibatnya batu-batu dengan bentuk bagus jadi menghilang di sekitar danau, jadi harus jeli mencari kalo pengen gratisan dan cepet naik haji.

    Sebagai turis, rasanya kurang lengkap postingan ini kalo belum ada bagaimana kesananya dan apa yang boleh/gak boleh dilakukan disana. Here it is.

    How To Get There

    Nyewa kendaraan. Berbagi rejeki dengan penduduk lokal.

    Jangan sok gembel kalo punya duit, ntar dikutuk buaya Tolire jadi kere beneran. Ingat prinsip Blackberry Messenger, “Berbagi Itu Indah.”

    DOs and DON’Ts

    1. Lemparlah batu ke arah danau, jangan ke arah penjualnya.
    2. Jangan pesta sambil mabuk-mabukan trus masuk rumah, bahaya.
    3. Jangan pake sendal Crocs kalo kesini, udah gak jamannya lagi.
    4. Hafalin gerakan SKJ ‘88 sebelum punah.

    Tags:

     
    Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
    Siapa yang menilai tulisan ini?
      -
    Processing data ..
    Tulis Tanggapan Anda
    Guest User


    HEADLINE ARTICLES

    [Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

    Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

    Percuma Merayakan Hari Ibu! …

    Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

    Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

    Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

    Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

    Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

    Melatih Anak Jadi Kompasianer …

    Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


    TRENDING ARTICLES

    Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

    Bambang Setyawan | 5 jam lalu

    Akankah Nama Mereka Pudar?? …

    Nanda Pratama | 7 jam lalu

    Kasih Ibu dalam Lensa …

    Harja Saputra | 8 jam lalu

    Hebatnya Ibu Jadul Saya …

    Usi Saba Kota | 9 jam lalu

    Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

    Gaganawati | 10 jam lalu


    Subscribe and Follow Kompasiana: