Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Petani Ikan Waduk Cirata Perlu Pertolongan Pemerintah

HL | 20 June 2013 | 11:31 Dibaca: 1043   Komentar: 27   9

1371694903715990195

Ikan mati di waduk Cirata, foto tanggal 18 Juni 2013, difoto oleh Kusmanto

Sejak 7 tahun saya sering wisata ke Waduk Cirata.  Kadang kala saya datang dari arah Bandung atau dari arah Cianjur, maupun dari arah Purwakarta. Saat kunjungan kali ini saya memilih arah Purwakarta, jalannya sudah mulai bagus. Dari Jakarta saya butuh sekitar 4 jam untuk sampai ke waduk Cirata dengan perjalanan yang santai dan dua kali istirahat di tempat yang nyaman.

13716952191394553733

difoto oleh Kusmanto

13716976351188699964

Pemandangan dari atas waduk Cirata. Difoto oleh Kusmanto

1371695315885159807

Bapak Rahmat di foto oleh Kusmanto

Sekitar 7 tahun yang lalu, saya mengenal bapak Rahmat di Mesjid Agund Puncak dan terus kami sampai saat ini rutin bertemu dan kami sering berkunjung ke waduk Cirata. Kegiatan seharian bapak Rahmat adalah petani ikan, walaupun sebelumnya pernah hidup lama di Jakarta dan pernah pula aktip dalam cikal bakal film si UNYIL. Tetapi waktu dan siksal telah membawa bapak Rahmat menjadi petani ikan.

Tiap kali saya mampir ke waduk Cirata, saya melihat perkembangan yang sangat pesat dalam ekonomi keluarga beliau. Terlihat pula keramahan maupun keberhasilannya beliau sebagai petani ikan di waduk Cirata.

Tetapi situasi berubah 180 drajat pada  minggu lalu saya berkunjung. Saat saya datang dari arah Purwakarta dan melewati jembatan bendungan, tampak di tengah danau seperti pulau. Saya pun agak heran, mengapa di musim hujan dengan air danau yang berlimpah, masih terlihat daratan hijau. Dataran itu sangat luas, mungkin ada 10 hektar hamparan hijau di tengah danau.

Tanpa mengerti kondisi itu, saya melaju terus menuju rumah bapak Rahmat. Dan bertemulah kami dengan sukacita, setelah 18 bulan tidak bertemu.

1371695455363698245

Bapak Poridin Girsang, pensiunan DEPKES. Difoto oleh Kusmanto di lokasi kerambah milik bapak Rahmat.

Seperti biasanya, langsung kami menuju tengah danau, menuju kerambah milik bapak Rahmat. Tetapi kali ini kecerahan wajah bapak Rahmat berbeda. Sambil berdayung menuju tengah danau, diceritakan tentang kondisi waduk Cirata.

1371696358652857525

Pemandangan kolam ikan di waduk Cirata. Di foto oleh Kusmanto

1371696691267895224

Pemandangan waduk Cirata. Difoto oleh Kusmanto

13716970651686325806

Waduk Cirata yang tercemar limbah dan eceng gondok. Difoto oleh Kusmanto

1371697344768011428

Eceng gondok sudah taraf mengganggu kesehatan waduk. di foto oleh Kusmanto

Saat ini banyak kendala di waduk Cirata tetapi bapak Rahmat masih bisa  bergurau ria. Saya melihat eceng gondok sangat banyak sekali. Dan saya baru sadar bahwa pulau hijau di tengah danau adalah kumpulan eceng gondok. Tentu saja kita paham, bahwa eceng gondok sangat cepat berkembang biak dan bisa menutupi permukaan air dan menggangu kesehatan waduk.

Walau katanya sudah ada upaya dari otorita waduk membeli dari pengumpul eceng gondok, akhirnya tidak di lanjutkan. Kewalahan, yah, istilahnya otorita waduk kewalahan bersihkan eceng gondok. Karena pertumbuhannya lebih cepat daripada pembersihan, sehingga eceng gondok makin berlimpa tidak terkendali.

13716996451783201357

Ikan mati di waduk Cirata. Di foto oleh Kusmanto

Selain eceng gondok, juga kualitas air yang makin buruk. Limbah makin banyak, belum lagi limbah kimia. Seperti yang juga pembuangan limbah warna warni di hulu sungai. Dan lengkap sudah penderitaan petani ikan, terutama saat cuaca mendung dan sirkulasi air waduk menjadi kotor. Air dan kotoran dari dasar danau naik ke permukaan sehingga ikan menjadi mati.

1371700363289244887

difoto oleh Kusmanto

13717005671759825712

difoto oleh Kusmanto

Saat ini petani ikan di waduk Cirata perlu bantuan pemerintah. Akibat harga ikan yang jatuh harganya, membuat hasil kerja mereka hanya cukup untuk hidup sehari hari saja. Terbukti bahwa anak bapak Rahmat yang biasanya menjaga kolam ikan, telah kembali ke Jakarta untuk bekerja.

Dan pak Rahmat pun sedang berpikir pikir untuk mencari peluang bisnis yang lebih baik di “darat” karena “kolam” makin hari makin sulit. Keputusan yang berat dan masih terus di kaji secara grafik. Sudah diamati oleh bapak Rahmat sejak beberapa tahun terakhir bahwa pendapatan dari waduk Cirata, makin hari makin tidak bisa diandalkan.

Dalam diskusi kami tentang dinas peternakan ikan dan otoritas waduk, memang tampaknya belum optimal.  Apakah petani juga segan membayar iuran nya atau pula pihak berwenang melihat pajak pengolahan keramba ikan sangat tidak mengguntungkan.

Yang pasti saudara saudara kita di waduk Cirata perlu pertolongan dari pemerintah. Kasihan mereka disana, harus bertani secara manual dan mandiri tanpa pengetahuan teknologi maupun ilmu peternakan ikan yang memadai.

Semoga Waduk Cirata bisa segera medapatkan perhatian dari pemerintah. Karena dari satu waduk ini saja terdapat mungkin 500 ribu atau sampai 1 juta kotak kerambah berukuran 7 x 7 meter. Hasilnya panen perharinya sungguh luar biasa, bisa ratusan ribu ton ikan di jual. Sekali lagi saya tulis, ratusan ribu ton sehari. Sungguh luar biasa.

Belum lagi airnya yang berasal dari waduk Saguling, turun ke waduk cirata dan turun lagi ke waduk   Jatiluhur, kemudian melalui Kali Malang menuju sumber bahan baku air minum di Jakarta. Bila saja pencemaran terjadi di perjalanan air menuju Jakarta, pasti pula orang Jakarta mendapatkan sumber air minum yang sudah tercemar. Bahaya segera datang untuk orang Jakarta !.

Setelah kami makan ikan yang langsung dari kolam, maka tak terasa hari sudah sore. Akhirnya kami pulang ke jakarta lewat Cianjur, Puncak dan menuju Jakarta. Kami berangkat dari Jakarta jam 8 pagi dan kembali lagi ke Jakarta pada jam 24. Lain waktu pasti kami kembali ke Waduk Cirata. Semoga waduk Cirata sudah menjadi waduk andalan untuk wisata maupun untuk petani ikan.

13717011331256039241

difoto oleh Kusmanto

13717024271267020257

Rute Perjalanan, datang dari Purwakarta dan pulang lewat Cianjur. Image milik Kusmanto

137170258682852466

Rute wisata waduk Cirata, Image milik Kusmanto

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: