Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Jelajah Nesia

Penikmat wisata dan perjalanan yang tinggal di Kota Tuban - Jawa Timur. Artikel2 perjalanan saya yang selengkapnya

Penampakan Hantu Menyeramkan Di Yogyakarta

REP | 22 June 2013 | 17:52 Dibaca: 746   Komentar: 0   0

Kawasan Nol Kilometer di Yogyakarta ternyata tak hanya ramai oleh warga dan wisatawan yang ingin bersantai dan cuci mata saja.

Tetapi kawasan yang berlokasi di sekitar Monumen Serangan Oemoem 1949 ini juga ramai dan disukai disukai oleh sekawanan hantu.

Pada hari-hari tertentu ketika sore hingga malam hari, bisa dipastikan disana Anda akan menjumpai sekawanan hantu dengan sosoknya yang menyeramkan.

Mulai dari hantu bermata melotot, kuntilanak, pocong, suster ngesot, zombie, mumie, nenek sihir, buto ijo dan sebagainya menampakan wujudnya. Selain menarik perhatian, tak jarang mereka beraksi dengan  menggoda siapa saja yang lalu lalang disana.

Bahkan untuk hantu kuntilanak sering beraksi dengan berdiri di dekat traffic light dengan suaranya yang khas dan menyeramkan.

Banyak pula wisatawan yang merasa bergidik melihat wajah hantu itu dari dekat.Bertemu dengan hantu-hantu itu di satu sisi  tentu cukup menegangkan dan menyeramkan. Tetapi di sisi lainnya ternyata bisa menjadi pengalaman wisata dan liburan di Yogyakarta.

Apalagi bagi mereka yang suka berfoto ria dan bernarsis ria di jejaring sosial, berfoto dengan hantu-hantu itu tentu sangat sayang untuk dilewatkan. Anda atau rekan bisa memotret sendiri atau meminta bantuan sang hantu yang memotretnya.

Saya menjumpai sekawanan hantu itu ketika menampakkan dirinya di sana. Beberapa diantaranya tampak bergantian melayani sesi foto bersama dengan wisatawan. Penampilan hantu-hantu itu merupakan kegiatan dari komunitas Body Face Painting Jogjakarta.

Menurut Sony yang saat itu menjadi hantu Zombie, komunitas ini sebenarnya merupakan penerapan dari ilmu  tata rias wajah yang mereka pelajari secara otodidak. Karena pada umumnya anggota yang bergabung gemar akan kisah tentang sosok-sosok hantu, menjadikan penampilan dan dandanan ala  hantu menjadi ciri khas komunitas ini.

Komunitas hantu ini sendiri sudah eksis sejak 1,5 tahun yang lalu. Pada awalnya, hanya ada 3 orang yang merintisnya. Termasuk diantaranya adalah Sony sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, anggota komunitas juga bertambah yang berasal dari berbagai kalangan. Dari sekian banyak anggota, ada sekitar 9 orang yang selalu aktif tampil dengan aksi-aksi hantunya.

Tak ada persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya. Hanya saja, setiap anggota harus mau untuk berganti karakter dan tata rias wajah secara giliran agar bisa mengalami , merasakan dan menjiwai karakter setiap hantu.

Untuk merias wajah ala hantu itu sendiri, setiap anggota sudah bisa meriasnya sendiri. Dan selanjutnya Taraaa…, tak sampai satu jam, penampilan mereka pun berubah menjadi sosok hantu yang lengkap dengan segala atributnya seperti payung orang mati, tiruan makam,kembang setaman,  sapu terbang, pedang dan sebagainya.


Ada juga tas yang berisi lembaran-lembaran uang kertas yang merupakan donasi dari warga dan wisatawan yang berfoto bersama dengan hantu-hantu itu. Ada juga yang berasal dari mereka yang simpati dengan aksi danpenampilan yang unik itu.

Sony menuturkan, dana yang terkumpul itu bukan untuk berhura-hura. Tetapi dana itu digunakan untuk membeli peralatan tata rias yang cukup mahal harganya. Karena peralatan tata rias yang digunakan itu bukan produk yang murahan,  tetapi merupakan produk yang bermutu dan berkualitas.

” Kami juga berpedoman untuk menggunakan produk tata rias yang aman bagi wajah. Karena pernah mengalami menggunakan produk yang asal-asalan justru malah merusak wajah seperti muncul banyak jerawat, terasa gatal dan sebagainya, ” ujar Sony sambil menunjukkan sebotol kecil  pewarna wajah yang harganya mencapai Rp 60.000.

Tak jarang dalam penampilan satu malam saja, tata rias para hantu yang tampil itu membutuhkan dana sampai Rp 400.000 hanya untuk kebutuhan make up saja. Rias wajah dan berganti kostum  ala hantu itu mereka lakukan di lokasi.

Sebagian dana yang terkumpul juga digunakan untuk membuat patung-patung hantu yang menurut rencana akan ditempatkan di beberapa titik di kota Yogyakarta.

Mereka berharap kelak beberapa patung hantu itu bisa menjadi ikon seni yang baru di kota yang bertag line Jogja Never Ending Asia ini.

Dengan penampilannya yang unik, komunitas ini sering menjadi liputan berbagai media cetak dan online.
Mereka juga sering mendapatkan undangan untuk tampil di even-even yang bertema hantu seperti yang diadakan di Jakarta, Semarang, Surabaya dan sebagainya.

Karena itu , bila Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa untuk mendapatkan kenangan dan sensasi baru dengan berfoto ria bersama hantu-hantu itu.

Aksi mereka bisa Anda jumpai disana  pada saat-saat weekend atau hari libur mulai jam 16.30-22.00

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 9 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 10 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 10 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Menerobos Batas Kelam …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Nangkring Cantik: I am Beautifull …

Elisa Koraag | 8 jam lalu

Wanita dalam Sebuah Keluarga …

Aulia Fitrotul | 8 jam lalu

Mama, Pak Melmi Masuk TV …

Cay Cay | 8 jam lalu

Teman Datang saat Butuh Saja? …

Ois Meyta Rahayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: