Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rahmadiyanti Rusdi

Pengguna setia angkot, bajaj, bus kota, kereta

Masjid Agung di Tanah Vatikan

REP | 03 July 2013 | 10:21 Dibaca: 1099   Komentar: 7   3

Tak jauh dari Vatican, pusat agama Katholik, berdiri salah satu masjid terbesar di Eropa yang pembangunannya melibatkan sebuah komite lintas negara.

1372822021538365487

la Moschea di Roma - Masjid Agung Roma (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

Gerbang masjid masih terkunci saat saya tiba. Jam sepuluh. Masih cukup pagi memang untuk berkunjung. Selama sekitar lima belas menit saya melihat-lihat dan mengambil gambar dari sela-sela pagar Masjid dengan perasaan agak kecewa karena tidak bisa masuk. Pak Hamim, Atase Pertanian Kedubes RI di Roma yang menemani kunjungan saya bersama sang istri, Bu Lulu, tiba-tiba berteriak memanggil saya. Seorang pria baya berwajah Timur Tengah membuka gerbang. Ternyata selama saya mengambil gambar, Pak Hamim berbincang dengan seseorang di ruang jaga. Meski belum masuk memasuki waktu shalat, tapi mereka mengizinkan kami untuk melihat-lihat Masjid. Senang sekali. Sebab sejak berencana travelling ke Italia, La Moschea di Roma alias Masjid Agung Roma inilah yang menduduki daftar pertama tempat yang sangat ingin saya kunjungi.

Alkisah saat Raja Faisal dari Arab Saudi berkunjung ke Italia sekian puluh tahun lalu, Raja ingin shalat di masjid, tapi penasihat Raja menginformasikan bahwa tidak ada masjid di Roma. Raja Faisal kaget dan tak percaya. Pada tahun 1969, 23 negara Islam dan negara berpenduduk Muslim berkumpul (salah satunya Indonesia). Berkolaborasi dengan pemerintah Italia, komite ini merencanakan pembangunan masjid yang juga akan dijadikan sebagai pusat kebudayaan Islam. Untuk menentukan arsitektur Masjid, dilakukan lomba desain masjid yang dimenangkan oleh arsitek Italia, Paolo Portoghesi. Paolo kemudian berkolaborasi dengan Vittorio Giglioti dan Sami Mousawi, arsitek keturunan Irak, untuk merampungkan desain Masjid Agung Roma.

Perlu waktu 20 tahun hingga akhirnya Masjid ini rampung. Atas lobi intensif Raja Faisal, pada tahun 1974 Dewan Kota Roma mengizinkan tanah seluas 30.000 meter persegi di daerah Acqua Acetosa, sebelah utara kota Roma, sebagai lahan pembangunan masjid. Tahta Suci Vatikan sendiri pada tahun 1963 mengeluarkan dekrit yang berisi pernyataan bahwa Vatikan tidak menentang pembangunan masjid di Roma, sepanjang masjid dibangun di lokasi yang tidak terlihat dari St Peter’s Basilica atau Basilika Santo Petrus, tempat suci umat Katholik. Syarat lainnya, menara masjid juga tidak boleh lebih tinggi dari dome (kubah) Santo Petrus.

Sebenarnya pembangunan masjid bisa dimulai pada bulan Juli 1979, tapi dibatalkan karena alasan sosial dan politik. Pada tahun 1983, komite mengajukan kembali rencana pembangunan dengan revisi rancang bangun termasuk pengurangan tinggi menara. Kali ini, Dewan Kota Roma menyetujui. Pada 11 Desember 1984, sepuluh tahun setelah lahan tersedia, peletakan batu pertama pun resmi dilakukan. Hadir presiden Italia saat itu, Alessandro Pertini. Biaya pembangunan Masjid sendiri sepenuhnya dari Kerajaan Arab Saudi. Dan akhirnya pada 21 Juni 1995, Masjid Agung Roma pun diresmikan.

13728221191308164831

Arsitektur megah Masjid Agung Roma (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

“Coba cek, Mbak, ada nama Indonesia di situ,” kata Pak Hamim menunjuk sebuah plakat dari marmer yang dipasang di dinding dekat tangga utama Masjid. Saya teliti, nama Indonesia ada di urutan kesembilan. Untuk menghormati komite negara-negara yang membantu pembangunan Masjid, dibuat semacam prasasti berbahasa Arab dan Italia. Kedua puluh tiga negara itu adalah: Aljazair, Arab Saudi, Bahrain, Bangladesh, Brunei Darussalam, Indonesia, Irak, Kuwait, Libya, Malaysia, Maroko, Mauritania, Mesir, Oman, Pakistan, Qatar, Senegal, Sudan, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Yaman, dan Yordania. Melihat banyaknya negara yang terlibat dalam pembangunannya, bisa dibilang Masjid Agung Roma merupakan perpaduan beragam kultur serta simbolisasi persatuan Islam. Bukan hal aneh di Eropa dan juga Amerika, banyak masjid yang mengkhususkan jamaahnya, misalnya masjid khusus Sunni, Syiah, atau masjid dengan jamaah negara tertentu.

13728222681104064481

Prasasti negara-negara komite pembangunan masjid (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

Perpaduan kultur juga terlihat dari desain eksterior dan interior Masjid yang terletak di Viale della Moschea (Jalan Raya Masjid). Paolo Portoghesi memadukan arsitektur Roman dan Islam dalam desainnya. Menaiki tangga utama menuju bagian utama Masjid, saya seperti dibawa pada kemegahan bangunan-bangunan Romawi Kuno. Selasar memanjang dengan tiang-tiang berjajar seperti batang pohon palem. “Jajaran pohon” juga kita dapati di ruang utama masjid. Bukan pohon asli tentu. Portoghesi mendesain pilar-pilar yang menopang ruang utama Masjid seperti pohon korma. Megah. Ada sekitar 32 pilar di bagian dalam dan 136 pilar di bagian luar Masjid. Karpet biru muda di ruang shalat terasa begitu tebal saat kaki saya menginjaknya. Lampu-lampu hias yang besar dan indah menambah kemegahan Masjid.

13728224071578175336

Selasar masjid yang seperti jajaran pohon kurma (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

“Shalat dhuha, yuk,” ajak Bu Lulu. Pak Hamim sudah lebih dahulu shalat di bagian belakang. Karena sepi, hanya kami pengunjung Masjid saat itu, saya pun shalat di bagian tengah Masjid. Seusai shalat, saya maju ke bagian mihrab Masjid. Sebuah mimbar dari kayu dengan tangga terletak di sisi ini.

Dua orang petugas tampak tekun membersihkan masjid. Tak heran, Masjid ini begitu bersih. Karpet seperti tak berdebu karena rajin divakum. Selasar Masjid yang dilapisi lantai batu merah berseling marmer juga tampak . Terasa sangat sejuk, meski udara di luar lumayan panas. Tak heran, sebab Masjid ini memang dirancang dengan sistem udara terbuka. Dibangun juga taman dengan beragam tumbuhan di sekitarnya. Letak Masjid yang memang dekat dengan hutan kota juga menambah keteduhan.

13728214151496808035

Bagian dalam masjid (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

13728214991868027493

Alhamdulillah, bisa menjejak masjid terbesar di Eropa (foto: Rahmadiyanti Rusdi)

Usai melihat-lihat ruang dalam Masjid, kami pun beranjak. Sebelum menuruni tangga yang seperti aliran sungai, beberapa saat saya melepas pandangan dari selasar, menyaksikan dengan lebih saksama keindahan wilayah sekitar Masjid. Subhanallah wa alhamdulillah. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 7 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 11 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 15 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: