Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Jelajah Nesia

Penikmat wisata dan perjalanan yang tinggal di Kota Tuban - Jawa Timur. Artikel2 perjalanan saya yang selengkapnya

Indahnya Gua Maharani di Lamongan

REP | 09 July 2013 | 19:18 Dibaca: 460   Komentar: 1   0

Beberapa bulan yang lalu publik sempat dihebohkan dengan seorang wanita yang bernama Maharani dari Jakarta  terkait dengan kasus skandalnya dengan tokoh partai politik. Tetapi berbeda dengan nama Maharani yang satu ini.

Maharani yang berasal dari daerah Lamongan dan juga menghebohkan publik ini adalah nama sebuah gua yang berada di kawasan wisata Zoo dan Gua Maharani.

Selain karena memiliki berbagai bentuk stalaktit dan stalakmit yang indah, penataan cahaya di dalam gua yang menimpa bebatuannya meruapakan sebuah pesona keindahan tersendiri. Nama Maharani  memang identik dengan sosok dan nama seorang putri atau wanita yang cantik dan menawan.

Untuk masuk ke wisata ini tiket masuknya Rp 30.000 per pengunjung yang bisa menikmati semua wahana di  kawasan ini, termasuk juga Zoo Maharani dengan berbagai satwanya.

Tiket masuk itu bisa naik menjadi Rp 40.000 saat musim liburan.Seperti halnya nama Maharani yang berarti cantik, gua yang berada di kecamatan Paciran dalam kompleks wisata Maharani Zoo dan Goa ini memang benar-benar sangat cantik dan menawan.

Lokasinya berada di bagian tengah kawasan wisata Maharani yang  berdekatan dengan  wahana White Lion dan  Gallery Gem Stone.
MENGAGUMKAN !
Begitulah impresi atau kesan pertama yang terucap ketika melangkahkan kaki memasuki  gerbang Goa Maharani yang berhias ornament  sepasang Naga yang bermahkota  di sebelah kanan dan kirinya.
Betapa tidak, di belakang gerbang masuk itu membentang hamparan berbagai stalaktit dan stalakmit yang menarik. Pendaran  bearneka warna cahaya  lampu penerang  dengan penataan yang artistik dan sangat kuat  semakin  memperindah tampilan  dan suasana di dalam gua.

Lorong dan relung dalam Gua Maharani cukup luas. Di antara bebatuan stalaktit dan stalakmitnya itu tampak rembesan air yang menetes tiada henti.

Prof Dr. KRT. Khoo , ahli perguaan internasional dari Yayasan Speleologi Indonesia di Bogor dalam penelitiannya mengatakan bahwa stalaktit dan stalakmit di gua Maharani masih tumbuh dengan pertumbuhannya mencapai sekitar 1 Cm per sepuluh tahun.

Menurutnya, keindahan gua Maharani ini bisa disejajarkan dengan Gua Altamira di Spanyol, Gua Mamonth di Amerika Serikat dan Gua Carlsbad di Perancis.

Goa Mahara­ni ditemukan pada tanggal 6 Agustus 1992 oleh 6 penggali tanah coral  yaitu bahan fosfat dan pupuk dolomit . Luasnya kurang lebih 2.500 m2 dengan kedalaman 25 m dari permukaan tanah. Gua Maharani diresmikan sebagai obyek wisata pada tanggal 10 maret 1994 oleh Bupati Lamongan yang saat itu dijabat oleh Muhammad Faried.

Menikmati keindahan relung dan lorong Gua Maharani  dengan meniti  lintasan jalan  yang disemen di dalam  gua sungguh sangat menakjubkan.

Apalagi beberapa stalaktit dan stalamit itu memiliki bentuk-bentuk yang unik seperti bunga, mahkota, tanaman, gigi dan sebagainya.

Namun sayang karena ternyata lorong di dalam gua Maharani tidak terlalu panjang dengan bentuk yang memutar.

Karena itu banyak pengunjung yang melintasi lorong itu lebih dari sekali karena tidak sadar dan menganggapnya sebagai bagian lorong lanjutan di Gua Maharani.

Untuk masuk atau keluar gua Maharani melewati gerbang yang sama yang dengan  ornamen NagaBermahkota. Ada rasa prihatin ketika melihat ornament Naga itu.

Di satu sisi ornamen itu mungkin dibangun untuk mendramatisir Legenda tentang Gua Maharani dengan kisah Istana Maharaninya yang gemerlapan dan dijaga oleh sepasang naga raksasa yang bermahkota.

Namun di sisi lain, ornamen yang terkesan  dipaksakan sebagai pemanis tampilan  itu sebenarnya justru merusak keindahan alami  Gua Maharani. Melangkahkan kaki keluar dari Gua Maharani terasa meninggalkan kenangan yang kuat tentang pesona keindahannya.

Rasanya sebuah kerinduan yang abadi untuk bisa kembali datang dan berwisata lagi ke Gua Maharani.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Terapi Cahaya PINK di Rosereve Plaza …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Menanti …

Rizki Fujiyanti | 8 jam lalu

Let’s Do Together …

Ayumulya | 8 jam lalu

Jokowi: Buah Demokrasi atau Kegagalan Total …

Jaka Pujiyono | 8 jam lalu

Banjir Melanda SMP Rehoboth Formasi …

Jurnalis Warga Samb... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: