Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Jelajah Nesia

Penikmat wisata dan perjalanan yang tinggal di Kota Tuban - Jawa Timur. Artikel2 perjalanan saya yang selengkapnya

Camilan Ampo yang Terbuat dari Tanah

REP | 16 July 2013 | 18:18 Dibaca: 258   Komentar: 2   0

Tanah ternyata bisa dimakan dan menjadi semacam Camilan yang dikenal dengan nama Ampo dan sudah menjadi Tradisi secara turun-temurun. Di beberapa daerah lainnya di Jawa Timur, Jawa tengah, Jogjakarta dan lainnya Ampo masih bisa dijumpai.

Salah satunya adalah di Kabupaten Tuban - Jawa Timur. Tepatnya di Desa Trowulan Kecamatan Semanding. Sekitar 8 km arah selatan dari Pusat Kota Tuban atau 5 km dari Pasar Baru Tuban.


Di desa ini terdapat pembuat ampo yang hanya tersisa 3 wanita berusia lanjut saja yaitu Ramani (80), Darmini (70) dan Rasimah (55). Dari tiga wanita itupun hanya Darmini dan Rasimah saja yang sampai saat ini masih aktif membuat ampo. Sedangkan Ramani karena kondisi usia lanjutnya dan kesehatannya yang sering sakit-sakitan sejak tiga tahun yang lalu sudah tidak lagi membuat ampo.

Dalam seminggu, kedua wanita yang masih aktif membuat ampo itu hanya membuat ampo 2-3 kali saja.Berbeda jauh dengan Masa Kejayaan ampo pada sekitar tahun 1980an dimana mereka bisa membuat ampo 5-6 kali dalam seminggu.

Cara membuat Ampo sangat Sederhana dan mudah sekali. Hanya saja Tanah yang digunakan sebagai bahan baku membuat ampo tidak bisa menggunakan tanah sembarangan. Tanah itu harus berjenis tanah liat yang bertekstur lembut dan bebas dari Pasir, kerikil atau Batu.

Dari tanah yang sudah terkumpul itu kemudian dibentuk menjadi semacam adonan berbentuk kotak atau bentuk tertentu lainnya dengan penambahan Air secukupnya agar adonan tanah menjadi kalis. Cirinya adonan tidak lengket pada Tangan.

Untuk membuat adonan kotak itu dengan menambahkan tanah sedikit demi sedikit dengan sesekali menumbuknya dengan alat semacam palu besar yang terbuat dari Kayu.

Setelah adonan berbentuk kotak siap, proses berikutnya tinggal mengikis atau menyerut tanah di bagian atas adonan itu sedikit demi sedikit dengan menggunakan bilah pisau bambu Hasil serutan tanah yang berbentuk seperti ‘ wafer stick/roll ‘ dengan panjang 6-8 cm itu lah yang disebut ampo yang kemudian dikumpulkan dan ditempatkan di semacam periuk dari Gerabah tanah liat untuk diasapi dengan pembakaran di tungku yang menggunakan kayu bakar.

Setelah diasapi beberapa lama dan ampo sudah matang dengan tanda ampo bisa dipatahkan, ampo pun diangkat dari tungku dan setelah didinginkan beberapa saat, Ampo itupun siap untuk disajikan dan disantap.
Ampo terasa hambar dengan sensasi asap karena memang terbuat dari tanah yang diasapi.Sejak jaman dahulu begitulah bentuk dan rasanya ampo. Melihat bentuk dan warna ampo yang seperti Cokelat, Ada gurauan yang mengatakan ampo adalah Cokelat Ala Jawa atau Cokelat Van Java.
Biasanya Ampo itu mereka jual ke Pasar Baru Tuban dengan harga Rp 5000/kg. Pelanggan mereka adalah penjual batu kapur dan para penjual bunga setaman untuk keperluan ziarah dan sesajen.
Dari penuturan langganannya di pasar, Darmini menngatakan bahwa ternyata konsumen yang membeli ampo justru banyak ibu yang sedang hamil. Ibu hamil itu ‘ ngidam ‘ yang cukup aneh yaitu ingin dibelikan dan memakan ampo sebagai camilan. Entah apa sebabnya dan kenapa ibu-ibu yang sedang hamil itu justru ngidam ingin makan ampo.
Ada ibu hamil yang ngidam Ampo dan memakannya.Setelah itu dia merasakan perutnya terasa dingin dan sejuk sekali seperti minum air yang keluar dari kendi tanah liat. Tanpa ada pengaruh buruk akibat makan ampo. Sedangkan penjual kembang untuk keperluan ziarah menjual ampo untuk keperluan sesajen.
Karena pernah ada orang yang kesurupan saat membuat sesajen akibat dia lupa menyiapkan ampo di sesajennya. Saat ini tak ada generasi muda yang teratrik dan menggeluti untuk membuat ampo. Karena itu, kepunahan tradisi membuat ampo di Tuban ini hanya menunggu waktu saja.
Kelak, kisah tentang ampo di Tuban ini hanya bisa menjadi cerita nostalgia lintas generasi saja.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 4 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 6 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 7 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: