Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Harja Saputra

http://www.harjasaputra.com

Berburu Ular Berekor Ikan di Pulau Ular

HL | 28 July 2013 | 06:16 Dibaca: 1740   Komentar: 38   24

1374964145302278736

Pulau ular, Bima, NTB (harjasaputra)

Siang itu, Jumat (26/7), jarum jam menunjukkan pukul 14.30. Setelah mengantar bos ke bandara, mobil segera diarahkan menuju ke tempat yang katanya unik. Tempat yang sudah direncanakan untuk dikunjungi setelah mendengar deskripsi lengkap dari penduduk setempat yang kebetulan mengunjungi bos saya pagi harinya. Hmm..seperti apa ya tempatnya? Tempat yang isinya hanya ular. Kebun binatang kah? Bukan kok.

Pulau Ular. Dari namanya saja sudah terdengar sangat unik. Sudah terbayang di pikiran membayangkan sebuah pulau yang isinya berjejal hanya ular semua. Wih, ngeri sekali kedengarannya. Tidak salah bayangan itu, karena memang begitu adanya. Namun, kalau belum melihat sendiri pulau itu, bisa jadi imajinasi kita lebih liar. Meskipun realitas asli pulau itu sendiri tidak seseram apa yang dibayangkan.

Berlokasi di Desa Pai, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, NTB. Daerah pedalaman yang masih sangat asri dengan pemandangan alamnya yang sangat ‘cantik dan berwibawa’. Dari Kota Bima berjarak 58 km dan dapat ditempuh dengan mobil selama 2.5 jam.

Perjalanan ke Pulau Ular membutuhkan energi dan niat yang kuat. Jika tidak, setengah perjalanan yang dilalui, Anda bisa-bisa akan mengurungkan niat dan memutar balik kendaraan. Karena apa? Karena jalannya yang sangat menguji kesabaran: menanjaki jalan melingkari pegunungan dengan tingkat kemiringan jalan sangat miring, bahkan jika dilihat dari bawah, banyak tanjakan yang hampir terlihat tegak berdiri. Belum lagi kondisi jalan yang naik-turun, di kiri-kanan dipenuhi pemandangan tebing curam. Bebatuan sebesar kepala kambing berserakan di tengah jalan menutupi jalan berlubang. Di banyak tempat aspal jalan terlihat sudah banyak terkelupas. Inilah deskripsi dari apa yang saya sebut pemandangan alam yang ‘berwibawa’.

1374964242747470993

Jalan yang tangguh menguji ketangguhan nyali dan kesabaran (harjasaputra)

Bagi Anda yang suka kena mabuk darat, menempuh jalan ini besar potensinya untuk terkena mabuk darat. Itu juga yang dialami oleh salah seorang teman saya. Kepalanya pusing. Hampir muntah-muntah. Itu disebabkan posisi duduk di kendaraan seperti dikocok: goyang kanan-kiri dengan intensitas yang sering dan keras. Mirip milkshake mungkin isi perutnya.

Jalan ke Pulau Ular ini bisa ditempuh melalui dua jalan: melalui Kecamatan Sape atau langsung melalui Kecamatan Wera. Tapi, atas saran penduduk setempat yang ikut bersama kami, lebih baik lewat Kec. Sape karena jalannya tidak begitu terjal. Bayangkan bagaimana kalau Lewat jalan satunya, ketika kami lewat jalan yang disarankan pun sudah sangat mengocok perut. Jalannya sangat tangguh dan menguji ketangguhan nyali kita.

Memasuki Desa Pai, jalanan sangat sempit dan menganga jurang curam di kiri-kanan jalan. Jika menengok ke bawah jalan, terlihat hamparan laut luas. Sesekali terlihat juga hamparan sawah luas yang dikelilingi oleh bukit tinggi. Pemandangan yang sangat indah dan ‘menggetarkan iman’. Tak lama, di kejauhan terlihat satu pulau kecil berbentuk memanjang.

“Itu Pulau Ular sudah terlihat”, ujar Gumilar, penduduk desa setempat yang ikut kami, sambil menunjuk ke pulau kecil tersebut.

Ketika sudah sampai ke tempat tujuan suasana akan berubah. Rasa penat dan mabok darat setelah dikocok selama dua jam lebih sirna, berganti dengan kekaguman pada indahnya pantai sekitar Pulau Ular. Apalagi ketika melayangkan pandangan ke seberang pantai. Dari sinilah deskripsi “cantik” saya dapatkan.

Di seberang sana, sekitar 100 meter dari pantai, terlihat jelas Pantai Ular seakan memanggil kita untuk ke sana.

Bentuk Pantai Ular sangat unik. Tidak terlalu besar dan tidak ada rumah penduduk satu pun. Bentuknya mirip sebuah kapal panjang dan tinggi. Ada dua pohon kamboja tinggi yang tertancap di pulau itu. Menyerupai tiang kapal yang berdiri kokoh dari kejauhan.

1374964373230108877

Cantik dan uniknya Pantai Ular (harjasaputra)

Selalu ada cerita di balik fenomena. Selalu ada dongeng di balik hal-hal unik. Selalu ada hikayat di balik keajaiban alam. Persis seperti Kapten James Cook dalam pelayarannya yang ketiga mengelilingi dunia ke Kepulauan Polinesia  pada tahun 1777, ia menemukan banyak cerita dari suku Apache, baik cerita magis maupun perbuatan-perbuatan yang dilarang dilakukan. Penemuan Kapten Cook ini kemudian melahirkan istilah baru dalam ilmu antropologi yang disebut dengan “Tabooed” (Tabu), baik tabu tindakan (act tabooed) maupun tabu ucapan (word tabooed).

Begitu pula dengan Pulau Ular. Pulau ini mengandung cerita magis. Ada hal-hal tabu juga yang tidak boleh dilakukan.

Pulau ini, menurut kepercayaan masyarakat Desa Pai dan telah menjadi dongeng yang diceritakan turun-temurun, dulunya adalah sebuah kapal dari penjajah Belanda yang mencoba masuk ke wilayah Bima. Ketika hendak berlabuh, Sultan dari Kerajaan Bima tidak merestui karena mengetahui niat tidak baik dari para awak kapal tersebut. Segera ia mengutuk kapal itu (sampai saat ini kerajaan Bima masih eksis dan Sultannya pun ada, tetapi tidak lagi memiliki kekuasaan teritorial). Kapal yang sudah dikutuk itu berubah menjadi pulau karang dan awak kapalnya semuanya berubah menjadi ular.

Dari cerita itu muncullah tabu, khususnya tabu tindakan (act tabooed), bahwa ular yang ada di pulau itu tidak bisa dibawa ke luar pulau. Meskipun dibawa ke luar pulau pasti akan balik lagi ke pulau itu dalam seketika. Dan, siapa saja yang mencoba membawa ular itu akan sakit dengan penyakit yang tidak lazim.

“Pernah saya coba sendiri. Ular dari Pulau itu meskipun dibawa ke luar pulau akan balik lagi. Saya pernah tangkap dan diberi ciri dengan tali rafia ekornya. Terus dibawa menyeberang. Keesokannya saya liat lagi ke pulau itu, ular yang sudah diberi ciri sudah ada lagi di pulau itu”, ujar Gumilar, penduduk asli dekat Pulau Ular.

Hal itu dibenarkan juga oleh Pak Lukman, RW di lingkungan Desa Pai yang berdekatan rumahnya dengan Pulau Ular.

“Cerita Pulau itu dulunya kapal penjajah yang dikutuk itu sudah cerita dari nenek moyang. Lihat saja sekarang bentuknya mirip kapal kan. Itu ada tiang kapalnya yang sekarang berubah jadi pohon kamboja tinggi. Dan, ularnya itu tidak boleh dibawa, siapa saja yang bawa akan kena sakit”, jelas Lukman dengan bahasa Bima yang diartikan maksud ucapannya oleh teman yang kebetulan bisa bahasa Bima.

13749645721715605465

Perjalanan dengan perahi ke Pulau Ular (harjasaputra)

Untuk sampai ke Pulau Ular, harus sewa perahu kecil selama 10 menit. Biaya sewa 50 ribu rupiah. Bisa memuat 8 orang. Umumnya mereka adalah nelayan yang selain bermata pencaharian penangkap ikan juga pengantar ke pulau ular. Mereka juga bisa bertugas sebagai penangkap ular yang ada di Pulau itu, karena mereka sudah hapal di mana saja tempat-tempat ular berkumpul. Ada di tebing-tebing karang, di sela pohon, maupun di balik rerumputan.

Bagian ini yang sangat menarik perhatian saya. Ular yang ada di pulau ini aneh. Dipercaya tidak akan menggigit dan bentuknya beda sekali dengan ular biasa. Ekornya berbentuk ekor ikan, tidak lancip seperti kebanyakan ekor ular yang ada di daratan. Tidak sama juga dengan ular laut. Karena ular laut terkenal dengan bisanya yang mematikan. Hal ini mungkin cara ular-ular untuk beradaptasi. Bermutasi sesuai dengan alamnya. Atau, entah karena ular kutukan. Alasannya setelah saya tanya-tanya ke para nelayan itu:

“Ular-ular ini makannya apa ya? Kan jauh dari daratan, di pulau terpencil gitu”, tanya saya.

“Makannya ikan-ikan kecil”, ujar salah seorang nelayan.

Akhirnya saya berasumsi sendiri: ekor ular yang berbentuk segi empat dan lunak seperti ekor ikan itu disebabkan mereka harus berenang untuk memburu makanannya. Satu proses evolusi yang apik.

Penasaran ingin membuktikan. Ketika berhasil menangkap seekor ular, tentunya bukan oleh saya tapi oleh salah seorang nelayan, karena saya takut dipatuk. Setelah diyakinkan bahwa ular itu tidak akan menggigit akhirnya saya berani pegang dan bahkan mendekatkan mulut saya ke mulut ular itu. Posisi mencium ular. Wooow..langsung dijepret oleh kamera (tidak kena banget sih, karena takut juga kalau beneran cium..hehee).

13749656401403007578

Ular berekor ikan, bentuk ular laut tidak begini. Ular darat juga tidak begini. (harjasaputra)

Setelah dipegang, ular itu lalu dilepas di air. Ternyata benar. Cepat sekali mereka berenang dengan mengibaskan ekornya di air. Padahal dari tubuhnya itu tubuh ular darat.

Di seberang Pulau Ular, terlihat pegunungan dengan lekukan bukitnya yang luar biasa cantik. Terlihat sunset muncul di balik bebukitan itu dibalut hamparan awan rendah. Inilah keajaiban alam Indonesia yang layak disyukuri.**[harja saputra]

13749661191380453697

Sunset di Pantai Ular (harjasaputra)

13749664221748007258

Ular di Pantai Ular (harjasaputra)

13749665311849801457

Berburu ular di puncak Pulau Ular, harus menaiki tebing karang curam (harjasaputra)

137496665631962191

Ular sembunyi di mana-mana, di balik karang juga (harjasaputra)

13749667291839794545

Setelah berpetualang ke Pulau Ular, giliran berbuka puasa dengan para nelayan yang mengantar dengan penuh keakraban (harjasaputra)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 18 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 18 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 21 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: