Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nathaniel Mangunsong

A lawyer, a son, a brother, a husband, a father and a servant

Kunjungan ke Kota Manado dan Refleksi Ke-Indonesiaan

OPINI | 12 August 2013 | 22:36 Dibaca: 203   Komentar: 7   0

Pada tanggal 6-9 Agustus 2013, ketika teman2 merayakan Hari Raya Idul Fitri, saya dan keluarga berkesempatan untuk berkunjung ke Manado dan sekitarnya. Memang sudah menjadi kerinduan saya untuk menjelajah beberapa daerah di tanah air, setelah secara pribadi maupun bersama-sama saya berkesempatan untuk menjelajah ke Amerika, Eropa, dan beberapa daerah di Asia Timur maupun Asia Tenggara.

Terus terang, saya sedikit malu bahwa saya jarang berkunjung ke beberapa daerah di tanah air. Kalau dihitung-hitung, selain Pulau Jawa dan Bali (yang sudah saya jelajahi baik dengan jalan darat maupun udara sejak kecil), saya hanya pernah ke Pulau Bangka, Medan sampai Danau Toba (daerah asal leluhur saya), Pulau Batam, Pontianak, dan Makassar. Selain itu, saya belum pernah sama sekali ke daerah-daerah lainnya. Memang pekerjaan dan keluarga saya lebih banyak di Jakarta, sayapun kelahiran Jakarta, sehingga tidak dirasakan suatu keperluan untuk pergi ke daerah lainnya.

Saya agak terkaget-kaget ketika sampai di Kota Manado dan mendarat di Bandara Sam Ratulangi. Kaget karena melihat perkembangan ekonomi yang begitu pesat di Kota Manado. Setelah sekitar 2 jam lebih di pesawat, ternyata saya melihat suatu kota yang cukup sejahtera, dengan jenis-jenis mobil yang serupa dengan kota-kota di Pulau Jawa, bahkan di Jakarta. Kota ini mengingatkan saya akan berbagai kota yang sudah saya kunjungi, jalanan sempit yang macet dengan angkot seperti Kota Bandung, jalan yang berkelok-kelok di bibir pantai seperti Kota Phuket di Thailand, dan dari pusat kota dapat dilihat dengan jelas pemandangan Pulau Bunaken dan Pulau Manado Tua yang seperti gunung menjulang diatas bukit.

13763229111394035076

Kota Manado dari atas bukit

Terlepas dengan ciri khas kota yang sedikit berbeda, dan juga dengan dialek Bahasa Indonesia yang sedikit dipengaruhi bahasa daerah, saya tetap merasa ada KeIndonesiaan di Manado ini yang berjarak 2 jam lebih dengan pesawat dari Jakarta. Mungkin ungkapan ini terasa aneh, tapi untuk seseorang seperti saya yang pernah satu tahun bekerja di Singapura, saya selalu merasa aneh melihat perbedaan kultur yang cukup besar ketika saya kembali ke Singapura dari Jakarta atau Pulau Batam, atau dari Johor Bahru, Malaysia. Mungkin memang perasaan dan persamaan keIndonesian ini yang menyatukan kita semua di Republik Indonesia yang luas ini dari Sabang sampai Merauke.

Di hari-hari berikutnya saya berkesempatan untuk menjelajahi Pulau Bunaken, Kota Tomohon dan Danau Tondano. Kembali saya menemukan suatu kemakmuran di daerah-daerah ini. Jalan yang berkelok-kelok tetapi mulus. Perekonomian lokal yang menggeliat, dari kerajinan berbasis kayu dari kelapa dan rumah kayu, dan flora seperti bunga. Turisme berbasis lokal dan kemasyarakatan dengan kuliner lokal yang sungguh nikmatnya. Rasanya daerah ini kaya sekali baik dalam budaya, wisata alam dan materi. Memang belum seperti Pulau Bali yang sudah melegenda di dunia internasional akan tetapi cukup bersaing untuk skala nasional dengan potensi dikembangkan secara skala internasional.

Pada waktu saya kembali di pesawat dari Manado ke Jakarta saya merefleksikan apa yang sudah saya alami bersama keluarga. Rasanya saya optimis sekali dengan Indonesia dan potensi yang kita punya. Kalau kita sungguh-sungguh daerah-daerah lainnya pun bisa berkembang seperti Jakarta dan Pulau Jawa, tanpa melunturkan kekayaan budaya lokal berbasis kemasyarakatan. Malahan, kekayaan budaya lokal inilah yang mendorong perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu yang sudah saya lihat dengan mata saya sendiri adalah Kota Manado dan Propinsi Sulawesi Utara. Mudah-mudahan ada kota-kota, kabupaten-kabupaten dan propinsi-propinsi lainnya yang juga maju sehingga sebagai suatu kolektivitas bangsa, kita pun bersama-sama maju dan sejahtera.

Bhinneka Tunggal Ika - Berbeda-beda tetapi tetap satu, Bersatu kita maju dan sejahtera. Sejahtera kotaku, propinsiku, dan Indonesiaku

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Matinya Filsafat, Matinya Kemanusiaan …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 8 jam lalu

Belajar Ungkapan (Idiom) Amerika - Part 7 …

Masykur | 8 jam lalu

Sempatkan Berwisata ke Sumatra Barat …

Nurul Falah Elyandr... | 8 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: