Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Fujie Qadariah

If Allah Say Kun Fayakun Impossible is Nothing, Live simply. Dream big. Be grateful.Laugh lots. selengkapnya

Ada Surga Tersembunyi di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah

OPINI | 17 August 2013 | 13:39 Dibaca: 3261   Komentar: 2   0

“Kota ini milik kalian, negeri ini milik kalian, Sumber daya alam ini milik kalian”
Begitu suara yang saya dengar dari layar kaca yang tak jauh dari pandangan mata.
Kali ini saya akan merekam bagian dari cerita dan pengalaman dari perjalanan nge-Travellers di salah satu kota kecil yang terletak di Jawa Tengah yaitu Wonosobo. Mungkin sebagian dari teman teman ada yang belum tahu tentang kota Wonosobo, baiklah akan saya uraikan sedikit mengenai kota kecil ini.
Wonosobo (bahasa Jawa: Hanacaraka; Latin Wånåsåbå) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.
Kabupaten Wonosobo berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter).
Ketika memasuki kota tersebut rentetan kejadian, persona dan bahkan perjalanan silih berganti dalam pikiran saya layaknya sebuah jepretan foto yang menampilkan kisah kisah unik dalam cerita unik berpetualangan. Berikut akan saya sajikan segenak keistimewaan yang terekam lewat pandangan saya mengenai kota ini :
Wonderfull, tempat ini indah sekali, ketika pertama kali menjejakkan kaki disana pendangan saya tertuju pada 2 buah gunung yang setia berkolaborasi menjadi satu membentuk suatu keindahan yang tiada tara. Sejenak saya berfikir, terlalu banyak surga surga keindahan yang tersembunyi di Negeri kita, dan merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya karena sudah 22 tahun menjadi anak Indonesia seutuhnya dengan sejuta kekayaan alam yang ada
Coba lihat disana dataran tinggi yang berbentuk bak sebuag gunung, ditumbuhi dengan rapi tanaman tanaman sayur mayur yang menjadi komuditas utama masyarakat. Disini saya bisa menyaksikan secara langsung sayur mayur yang tumbuh secara subur, tertata dan berjejer dari koloninya masing masing. Suatu apresiasi tersendiri kepada petani kreatif yang punya cara jitu membentuk deretan tanaman tersebut menjadi suatu bentuk yang indah di pandang mata. Subhanaullah, menambah kebanggaan saya menjadi bagian dari Indonesia.
Tanggal 14 Agustus 2013, hari itu saya merasakan makna merdeka yang sesungguhnya ketika melihat pepohonan dan tanaman yang kelihatannya hidup dengan tenang. Saya berkesimpulan bahwa makhluk hidup yang hidup berdamai dengan manusia tidak pantas di jajah, biarkan ia merdeka, tumbuh tumbuh dah terus tumbuh menjadi bagian dan bersahabat dengan manusia.
Pohon pinus yang ada di dataran tinggi  Dieng, menjadi salah satu saksi yang akan bercerita tentang dingin dan pandangan orang orang yang berkunjung disana. Semua terkesan mengindahkan ketika milihat secercah dataran tinggi dengan segenap pohon pohonnya dan di tengah dataran terletak pula sebuah candi candi peninggalan kerajaan masa silam.
Disana terdapat beberapa candi candi kecil yang sangat unik, orang orang menyebutnya dengan Candi Dieng. Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut. Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya.

Candi Dieng pertama kali diketemukan kembali pada tahun 1814. Ketika itu seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga. Pada tahun 1956, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen. Ane numpang narsis ya gan, mumpung ada kesempatan berada di tempat klasik seperti ini. hehhe

Mungkin saja Tuhan menciptakan keindahan keindahan alam yang kadang tersembunyi dan terletak di paling ujung agar tangan manusia tidak dengan mudah merusaknya.
Di perjalanan kali ini saya menemukan surga tersembunyi di pertengahan pulau jawa. Indonesia harusnya bangga memiliki SDA alam yang indah dan melimpah seperti ini. Wajar jika negara asing iri & pelan pelan ingin jadi penyamun di negeri kita
Sepertinya belum terlambat bagi kita untuk lebih peduli, dan melestarikan warisan warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang zaman dahulu. Sebelum semuanya di cekal oleh negara negara pengintai yang pelan pelan dengan trik dan tekhniknya mencuri keindahan alam dengan segenap warisan budaya milik kita. Pun jika itu terus terjadi sia sia lah semua nya. Sepertinya negara ini sudah bosan menjadi boneka atas penegakan, pertahanan atas kelailaian pemerintahan di negeri sendiri.
Di hari kemerdekaan ini 17 Agustus 2013 dengan gigihnya para pahlawan revolusi 1945 dahulu rela bermati matian  memerdekakan Republik Indonesia.
Apakah kita masih saja duduk diam seperti lembuk cucuk hidung ? seperti patung patung yang selalu pasrah terkena debu jalanan ? ah sudahlah. Kali ini saya tidak akan memaki hamun kejelekan terbuka yang ada di Negeri ini. Cukup, Negeri ini sudah terlalu lelah, sudah saatnya ia merdeka, merdeka, merdeka dari tangan tangan penjajah, merdeka dari korupsi, merdeka dari krisis mental, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari terorisme, merdeka atas nama diri kita sendiri dengan pembenahan moral yang lurus dan sejalan dengan Pancasila.
Harapan saya terhadap generasi selanjutnya semoga terus menjadi ujung tombak di negeri ini. Kita boleh saja mempromosikan keindahan di negeri kita dengan negara negara lain, TAPI INGAT kita juga perlu waspada, dan antisipasi jangan sampai pencurian pulau pulau kecil di Indonesia ini terus terjadi. Sedikit pencerahan sebaiknya Kita harus peka terhadap mata-mata asing.

Merdeka Negeriku,
Merdeka Indonesiaku,
Bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Sekian dari saya,

Fuji Qadariah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: