Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Marceline Yudith

typically INTJ :) I'm small and may not look like it, but I chase my selengkapnya

Indahnya Keramahan Portugal

HL | 11 September 2013 | 01:39 Dibaca: 1211   Komentar: 9   11

Memilih tujuan wisata ke Eropa

1378837894169096781

Ketika orang ingin pergi jalan-jalan ke Eropa dan memilih negara tujuan, Portugal biasanya kalah pamor dengan Italia atau Perancis. Bahkan teman-teman kuliah saya di Jerman, semuanya lebih memilih untuk berkunjung ke Spanyol ketika memutuskan untuk jalan-jalan ke Eropa Selatan. Padahal Portugal sebenarnya juga tidak kalah indah lho. Saya kira, alasannya adalah, Barcelona sudah lebih terkenal, semua teman sudah pergi kesana dan mereka bilang bagus. Banyak orang yang sekiranya memilih tempat tujuan liburan yang lebih terkenal. Karena terkadang memilih tujuan wisata itu seperti membeli barang, kalau sudah lebih terkenal brand-nya, ya itu yang dipilih. Apalagi kalau ke Eropa, semua bilang kan keren, habis itu buru-buru foto lalu upload di facebook. Bener nggak tuh. Kalau saya sih, justru lebih senang mengunjungi tempat yang orang lain belum banyak mengunjungi.

Alasannya sederhana, berlibur kan ingin merasakan suasana yang berbeda. Untuk saya yang sedang kuliah dengan jadwal yang sangat padat dan sebetulnya tidak punya libur karena seluruh waktu libur digunakan untuk mengerjakan laporan riset sebagai pengganti ujian, saya lebih suka suasana yang lebih sepi, tapi tetap indah. Kesempatan itu datang ketika sebuah layanan airline memberikan tawaran murah untuk beberapa negara tujuan, dan Portugal termasuk diantaranya.

Maka berangkatlah saya ke Portugal. Disana saya tinggal selama empat hari. Sebagian besar waktu saya habiskan di kota kecil bernama Porto. Kota ini kecil tapi indah, pantai dan kota tua semuanya dekat dengan jangkauan Metro. Saya memilih untuk tidak berkunjung ke ibukota karena selain jauh, saya justru ingin berkunjung ke Agueda, kota terpencil yang memiliki satu jalan kecil penuh payung warna-warni. Jalan ini dikenal dengan nama Umbrella Road, dan hanya dibuka dari Juli hingga September. Saya kira ini unik, dan karena kota ini kecil, kemungkinan besar bahkan lebih sepi dari Porto. Satu rahasia kecil, sebetulnya saya sudah lama kepincut dengan jalanan penuh payung warna-warni tersebut, jadi ini adalah tujuan utama saya.

13788374311240828280

Keramahan Portugal terhadap turis

Salah satu faktor yang sering dilupakan orang ketika berwisata adalah, keramahan orang-orangnya. Kan nggak enak berwisata ke tempat indah tapi penduduk lokalnya kurang welcome. Padahal saya yakin salah satu alasan wisatawan yang sudah pernah ke Indonesia dan ingin kembali adalah keramahan orang-orangnya. Tapi Portugal tidak hanya memiliki orang-orang yang sungguh ramah, juga fasilitas yang sangat ‘ramah’ untuk wisatawan. Contohnya, walaupun di kota kecil ini tidak begitu banyak yang bicara bahasa Inggris dengan lancar, jika anda berhenti di jalan untuk bertanya ke warga setempat yang merasa kurang bisa membantu anda dalam bahasa Inggris, ia akan berusaha mencari orang lain yang bisa membantu anda. Setidaknya, sepengalaman saya sih begitu. Menurut saya, dibandingkan negara-negara Eropa lain yang pernah saya kunjungi, penduduk Portugal jauh lebih ramah.

13788379901511295758

Saya teringat cerita sahabat saya dari Yunani yang saat itu berkunjung ke negara sebelah. Rupanya penduduk di negara tersebut kurang ramah terhadap turis bahkan terkadang agak kasar. Ketika ia bertanya alasannya kepada tour guide, jawabannya begini: “Karena kami dulu dijajah banyak negara, sekarang kami dijajah turis.” Saya kaget. padahal saya kira, jika memang hidup dari turis, bukankah seharusnya lebih ramah terhadap turis supaya lebih banyak yang berkunjung di masa mendatang? Hal ini membuat saya lebih kagum lagi terhadap Portugal. Porto mungkin bukan tujuan utama wisata karena ia hanya kota terbesar kedua di Portugal, dan orang mungkin belum banyak memilih kesana karena jauh dengan Lisbon. Tapi Porto membuat saya kagum karena bahkan hal kecil seperti ini membuat turis lebih betah, dan mencerminkan bahwa mereka sadar income mereka banyak datang dari turis, sehingga mereka juga harus siap menerima turis dengan baik. Saya kira, ini hal yang patut dicontoh oleh negara-negara yang salah satu pendapatannya dari pariwisata, termasuk Indonesia.

Bukti tidak hanya saya dapatkan dari penduduknya. Ketika saya berkunjung ke pantai, udara sedang panas-panasnya, kurang lebih 35 derajat C. Seolah mengerti kebiasaan turis yang senang sunbathing dan mandi air laut, pantai ini menyediakan tenda-tenda kecil untuk istirahat dan ganti pakaian secara gratis. Inilah yang saya maksud. Bayangkan jika kita ingin menghabiskan waktu di pantai seharian di hari yang sangat panas tanpa tenda, dan ingin mandi air laut. Air laut saat itu sedang dingin, dan kombinasi air yang dingin dan udara yang panas mungkin akan membuat kita merasa tidak nyaman ketika ingin mengeringkan tubuh dan ganti pakaian.

Merasa seperti di Jogja

13788380391534151160

Keramahan Portugal di Porto juga bisa dinikmati di sekitar sungai besar Douro. Daerah ini membuat saya sedikit merasa berada kembali di kota asal saya, Jogja. Daerah ini merupakan daerah port (pelabuhan). Sesuai namanya, Porto jika diterjemahkan kurang lebih artinya pelabuhan. Di daerah pelabuhan ini suasananya sangat nyaman, turis berjalan kaki dengan santai. Jika lapar atau haus, di tepi jalan selalu ada kafe kecil yang juga menjual wine khas Porto. Selain itu juga banyak toko suvenir yang murah, dan bahkan terkadang bisa ditawar. Sepintas saya merasa sedang berada di Malioboro-nya Eropa. Waktu itu saya sedang ngubek-ubek sebuah toko souvenir, mencari oleh-oleh untuk adik saya di Indonesia. Ketika si penjual menyadari saya tidak menemukan apa yang saya cari, si penjual bertanya sambil menunjuk serenteng gelang, “Tidak ada yang cocok? Untuk adiknya ya? Dia suka tidak yang seperti ini?” Saya jadi tambah teringat Malioboro dan pedagang-pedagang kaki limanya. Untuk pertama kalinya, saya jadi ingin pulang ke Indonesia. Padahal selama hampir satu tahun disini, saya belum pernah merasa homesick. Mungkin suasana yang nyaman dan segala keramahan Portugal, membuat saya merasa kembali berada di Jogja.

PS. Semua foto asli, diambil tanpa filter.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 7 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 11 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Semangat Kondektur Kopaja Wanita dan Tukang …

Yos Asmat Saputra | 8 jam lalu

Melatih Berpikir Dengan Cara Bertanya …

Ramlan Effendi | 8 jam lalu

Mt. Rinjani, The Second Day …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Di Kabupaten Tasikmalaya;”Yang …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: