Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rokhmah Nurhayati Suryaningsih

Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis untuk mengisi waktu luangnya.

Mudahnya Pergi Haji dari Amerika

REP | 11 October 2013 | 10:53 Dibaca: 998   Komentar: 35   20

13814583711551042678

Menikmati makan malam di kapal pesiar mengelilingi Sungai Nile (Nile River Cruise), sebelum berangkat (doc: pribadi)

Kejadian ini sebenarnya sudah cukup lama, tahun 1994. Namun aku ingin sedikit berbagi pengalaman, bagaimana suka dukanya sampai aku bisa ke tanah suci. Pada awalnya memang tidak ada niatan sama sekali untuk menunaikan ibadah haji dari Amerika. Karena aku merasa masih muda dan belum menikah. Sementara anggapan banyak orang adalah orang mau pergi haji seringnya sudah berumur dan berkeluarga. Makanya aku belum menanamkan niat untuk menjalankan ibadah haji waktu itu. Bagiku kebutuhan  untuk menuntut ilmu jauh lebih kuat daripada untuk menyempurnakan rukun Islam yang ke 5.

Namun ternyata Allah berkehendak lain, akhirnya aku pun dapat menunaikan kewajiban itu. Bahkan lebih dari itu. Aku keluar negeri tidak hanya untuk belajar, tapi bisa pergi haji ke tanah suci. Sekaligus dengan jalan-jalannya. Betapa tidak? Karena waktu itu aku masih sendiri, sementara beasiswa yang aku terima sama dengan mereka yang sudah menikah atau bawa keluarga. Praktis pengeluaranku jauh lebih sedikit dibanding mereka yang berkeluarga. Makanya aku bisa menabung banyak setiap bulannya. Untuk apalagi kelebihan uang yang kumiliki? Sebagian memang untuk ditabung dan sisanya tentu untuk bersenang-senang, termasuk jalan-jalan dan beli mobil. Jadi aku menganggap kehidupanku di rantau boleh dibilang berkecukupan.

Singkat cerita aku relatif bisa jalan kemana-mana. Termasuk pada suatu hari ada seorang teman yang sedang bersekolah di Florida, mengirimkan email dan mengajakku untuk menunaikan ibadah haji. Aku sendiri sedikit kaget dan tidak percaya, ha! pergi haji? Dengan siapa saja dan bagaimana caranya? Itulah pertanyaan awalku karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia pun kemudian menjelaskan detailnya. Dia mengajakku untuk mengumpulkan teman-teman yang ingin pergi haji biar bisa berangkat bareng, dan kami  bisa ada mahramnya.

Membaca email teman dari Florida itu, aku sempat kaget darimana dia bisa menghubungiku. Usut punya usut, dari teman ke teman akhirnya namaku bisa sampai juga ke telinga teman di Florida. Begitulah kecanggihan internet. Pada waktu itu pun, aku sudah bisa merasakan nikmatnya berkomunikasi lewat internet. Aku yang tinggal di Binghamton, New York dengan teman di Florida bisa terhubung. Padahal sebelumnya kami tidak pernah berkomunikasi, apalagi saling bertemu.

Seru dan tegang juga untuk persiapannya, karena berita yang kudengar begitu mendadak. Bukan karena biaya yang menjadi masalah, tapi urusan administrasinya, karena Pemerintah Saudi sangat teliti dalam memeriksa document dan surat-suratnya. Aku terus bergerak cepat untuk memberesin biaya dan keperluan administrasi, termasuk Surat Kuasa dari orang tua karena belum menikah. Komunikasi kami kemudian dilanjutkan dengan  telpon dan email untuk mempercepat proses, karena tuntutan waktu yang semakin mendesak.

Akhirnya kami sepakat untuk pergi. Niatan mulai kutanam dalam diriku, sambil terus mencari cara bagaimananya. Aku pun berhasil mengajak teman yang sedang kuliah di Columbia University, New York.  Maka jadilah kami seperti tiga bersaudara (Tiga Serangkai) yang semuanya masih single. Dengan berjalannya waktu, ada  dua teman lagi yang ikut bergabung dari Wisconsin pergi bersama istri dan anak-anaknya. Sedangkan teman dari Kentucky pergi bersama istrinya. Maka lengkaplah persyaratan kami untuk mendapatkan mahram. Paling tidak di atas kertas.

Setelah lengkap, semua persyaratan termasuk biaya dan imunisasi meningitis aku serahkan. Dalam waktu kurang lebih 1 - 2 minggu, visa haji pun keluar. Betapa bahagianya aku pada waktu itu, karena keinginanku yang mendadak untuk pergi haji sudah terbuka dan tinggal kami menyiapkan berbagai keperluan untuk keberangkatan dan juga ibadahnya. Disini kami belajar sendiri tata cara berhajinya. Dengan siapa lagi kalau tidak baca dari buku-buku, termasuk diskusi diantara kami maupun saran dari orang tua bagaimana sebaiknya. Kebetulan kedua orang tuaku juga sudah menunaikan ibadah haji beberapa tahun sebelumnya. Jadi mereka bisa memberikan saran dan nasehat, termasuk mengirimkan buku Manasik Haji.

Sungguh suatu keberkahan luar biasa yang aku peroleh, karena di usiaku yang masih muda, sudah diberi kesempatan untuk menunaikan rukun Islam ke 5. Jadi boleh dikatakan suatu hal yang langka dalam keluarga besarku, karena kebanyakan mereka yang berangkat sudah berkeluarga dan punya anak. Hal ini disebabkan karena biaya yang cukup mahal, sehingga mereka harus menabung untuk jangka waktu yang cukup lama, baru kemudian bisa menyempurnakan ibadahnya.

Pada hari yang sudah ditentukan, kami semua berkumpul di John F Kennedy Airport, NY sebagai meeting point keberangkatan. Tentunya dengan berbagai persiapan sendiri-sendiri yang sudah semaksimal mungkin. Aku dengan temanku yang di New York City bisa berangkat bareng untuk pergi ke airport nya, karena kami sama-sama tinggal di New York, cuma beda kotanya. Jadi aku berangkat lebih dulu, kemudian menginap di rumah temanku itu untuk kemudian berangkat bareng ke airportnya. Pada jam yang sudah ditentukan, para jemaah dari berbagai daerah berdatangan, karena pesawat yang akan membawa kami segera boarding. Ternyata ada tambahan lagi rombongan dari Indonesia yang datang dari Canada berjumlah 6 orang. Jadi lumayanlah group dari Indonesia pada waktu itu. Selebihnya mereka berasal dari berbagai negara, seperti Pakistan, India, Amerika dan sisanya kebanyakan dari negara Timur Tengah. Total mungkin mencapai 500 orang penuh dalam satu pesawat.

Dalam perjalanan keberangkatan, pesawat yang membawa kami singgah di Cairo, Mesir untuk transit karena kami menggunakan Agen Travel Haji dari Mesir. Keuntungannya kami mendapatkan bonus untuk menikmati makan malam, dengan menggunakan kapal pesiar mengelilingi Sungai Nile, sambil melihat sunset yang dikenal dengan Nile River Cruise. Sebelum akhirnya kami terbang ke tanah suci pada malam harinya.

Berikut foto kenangan-kenangan  yang masih tersimpan sebagai kenangan.

1381458493497608060

Berfoto bersama dengan teman-teman yang dari Canada (doc: pribadi)

13814587751250067817

Karena jalanan sangat berdebu, maka kami terpaksa menutup mulut. Persiapan kami mau ke mesjid di Madinah (doc: pribadi)

13814593351731066803

Kami mengunjungi mesjid Quba (doc: pribadi)

1381459228847842269

Kami mulai menggunakan pakaian ihram (doc: pribadi)

1381463088485123952

Saat kami sedang bersantai di Arofah (doc: pribadi)

1381459488935958747

Kami juga mengunjungi Gunung Uhud (doc: pribadi)

Alhamdulillah, terkadang air mataku pun menetes, kalau mengingatinya. Betapa tidak? Aku yang bukan siapa-siapa dan juga bukan dari keluarga kaya, namun kesempatan itu sudah pernah kunikmati. Untunglah sudah banyak sekali kenikmatan yang aku rasakan dulu sewaktu masih muda. Kini  rasa syukur yang mendalam sering kupanjatkan dengan berbagai kenikmatan yang telah aku terima. Walaupun kadang aku ingin mengulangi keinginanku untuk bisa bepergian ke tanah suci. Tapi aku tahu itu butuh perjuangan, karena tidak mudah untuk mendapatkannya. Aku harus menunggu sampai 10 tahunan. Luar biasa. Beruntunglah aku sudah menyempurnakannya. Jadi keharusan itu sudah gugur, alias tidak perlu dipikirkan sekali, kecuali kalau aku sendiri pingin umroh yang bisa dikerjakan kapan saja.

Sekedar mengenang kembali perjalanan ke tanah suci tempo dulu dari Amerika. Praktis tidak ada hambatan sama sekali, asalkan uang sudah tersedia, kita bisa segera berniat untuk menunaikannya. Sedikit menghalangi keberangkatan kami, karena perlu surat kuasa dan mecari teman untuk dijadikan mahram, karena waktu itu belum nikah. Makanya kami berusaha mencari teman untuk diajak pergi bareng ke tanah suci. Bagi yang sudah berkeluarga, semua persyaratan itu tidak diperlukan lagi. Tinggal kontak agen travel haji, mereka akan membantu dalam pengurusannya. Tentunya harus memilih travel haji yang bonafide yaa, biar kita ada kepastian dan tidak ditipu. Sama halnya di Indonesia, kalau kita memilih travel agent juga harus mencari yang benar-benar bagus atau bonafide agar hati menjadi tenang.

Sekali lagi selamat bagi mereka yang diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Semoga bisa pulang kembali dengan selamat dan memperoleh haji yang mabrur, aamiin.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

Asyiknya Asia Tri ke-9 Jogjakarta …

Esang Suspranggono | | 02 October 2014 | 15:45

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 4 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 8 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: