Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rahmadiyanti Rusdi

Pengguna setia angkot, bajaj, bus kota, kereta

Mengenang Masa Keemasan Islam di Mezquita Cordoba

REP | 24 October 2013 | 18:52 Dibaca: 153   Komentar: 4   2

Oh, holy place of Cordoba!

From passion, your presence

Passion wholly eternal

In which there’s no going and coming

Sacred for lovers of art, you are the glory of faith,

You have made Andalusia pure as a holy land!*

Kedua mata saya mengembun tak lama setelah memasuki La Catedral De Cordoba alias Mezquita Cordoba alias Masjid Cordoba. Beragam rasa mengaduk. Rasa syukur karena bisa menjejak tempat yang sejak saya kecil telah begitu lekat di pikiran dengan segala keagungan dan rangkaian kisah yang ada di baliknya. Takjub dengan ratusan pilar-pilar yang masih berdiri kokoh, khas dengan garis-garis merah di tiap lengkungannya. Dan, ini yang mungkin yang paling membuat batin saya tercekat hingga kemudian meneteskan air mata, rasa sedih bahwa saya tak bisa shalat di “masjid” ini. Bahwa setelah 450 tahun berdiri, masjid ini kini adalah sebuah katedral….

Menuju Cordoba

Untuk menghemat waktu, saya menggunakan kereta Renfe Altaria dari kota Madrid ke Cordoba. Tiket seharga 57 euro saya beli sehari sebelumnya di stasiun Madrid Atocha. Jarak Madrid-Cordoba sejauh 400 km ditempuh hanya dalam waktu 2 jam.

1382613817399801602

Stasiun Cordoba

Sampai di stasiun Cordoba Central jam 10 pagi saya langsung mencari pusat informasi turis. Setelah membeli peta seharga 1 euro dan mendapat penjelasan cara menuju ke Mezquita, saya menitipkan koper di luggage left. Seorang pria baya tinggi besar dengan ramah menyambut kami dan berkata, “From Indonesia?”. Ah, jarang sekali dalam perjalanan Eropa ada yang menebak dengan tepat bahwa saya berasal dari Indonesia. Seringnya ditebak sebagai orang Malaysia. Pria itu kemudian bercerita kalau dia punya teman baik dari Indonesia bernama Indira. Setelah membayar biaya titip tas, si Bapak memberi cokelat, dan saya pun bergegas menuju halte bus yang akan membawa ke Old City. Tujuan utama adalah The Mezquita of Cordoba, Masjid Agung Cordoba.

Mendung yang sempat membuat khawatir saat tiba di stasiun kereta, menyingkir saat saya sampai di Old City. Panas menyengat. Langit begitu biru dan bersih. Sepuluh menit berjalan dari halte bus, saya sampai di perbatasan antara gerbang dan Jembatan Romawi yang melintasi sungai Guadalquivir. Menara Mezquita, yang sekarang menjadi bell tower, terlihat di kejauhan.

1382613900200221802

Gerbang Romawi dekat Sungai Guadalquivir

Alunan biola menyambut saya. Seorang gadis cantik berdiri tepat di sisi kanan gerbang, memainkan lagu riang dari biolanya. Sejenak saya menikmati gesekan biola si gadis. Banyak turis yang menikmati gesekan biola sang gadis, memasukkan euro ke kotak biola yang terbuka di hadapan si gadis. Tak jauh dari gerbang yang desainnya begitu Romawi tersebut, sebuah toko suvenir tampak ramai oleh turis. Wah, belum apa-apa saya sudah tertarik melihat-lihat. Tapi kemudian saya sadar kalau waktu saya cukup terbatas di Cordoba. Jam 4 sore saya harus berada di terminal bus, untuk menuju Granada.

138261396679705517

Gadis cantik pemain biola dekat gerbang Mezquita Cordoba

The Mezquita

1226 tahun lalu Mezquita Cordoba dibangun sebagai sebuah masjid, tepatnya pada tahun 786 Masehi, atau 75 tahun setelah pasukan Islam pertama kali menguasai Spanyol. Khalifah Bani Umayyah, Abdurrahman III, yang memulai pembangunan masjid yang ditopang 1293 pilar-pilar kayu berukir. 19 pintu berlapiskan perunggu juga dihiasi ukiran yang menakjubkan. Hiasan dindingnya diwarnai unsur flora dan inskripsi dari Al-Qur’an dalam bentuk ukiran kapur, kaca, marmer, dan mozaik emas. Panjang Mezquita Cordoba saat ini mencapai 175 meter dengan lebar 134 meter, dan tinggi 20 meter. Sebelum Christian Reconquista atau Penaklukan Kembali Spanyol pada tahun 1236, Masjid Cordoba mengalami 7 kali perluasan di bawah kekuasaan Islam.

1382615152179902331

Dinding luar Mezquita

Pada masanya, keagungan dan kehebatan Masjid ini mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Andalusia. Cordoba yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Umayyah menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, tapi pusat segala aktivitas. Khalifah menggratiskan anak-anak fakir miskin untuk belajar di sekolah yang ada di Masjid. Ada 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis Al-Qur’an. Kesemarakan Masjid ditandai dengan 4700 buah lampu yang menerangi Masjid saat malam hari, dan membutuhkan 11 ton minyak per tahun. Perpustakaan Masjid Cordoba menjadi ladang bagi orang-orang yang haus ilmu pengetahuan. Setiap tahun perpustakaan dikunjungi lebih dari 400.000 orang. Tak hanya Muslim, tapi kaum non Muslim pun turut mereguk ilmu dari perpustakaan. Salah satunya adalah Paus Sylvester II, pemimpin kaum Katholik. Ada begitu banyak ulama dan ilmuwan besar yang “lahir” dari Masjid Cordoba, di antaranya Ibnu Rusyd (ahli fikih, filsuf, dan dokter), Ibnu Hazm (sastrawan, ahli fikih, juga pakar studi perbandingan agama), Al-Qurthubi (ahli tafsir), Ibnu Bajjah (ahli matematika), Ibnu Thufayl (dokter dan filsuf), Al-Zahrawi (ahli bedah), hingga Al-Idrisi, seorang kartografer dan geographer.

Setelah Penaklukan Kembali, Masjid Cordoba langsung diubah menjadi gereja. Tak hanya mengubah semua masjid menjadi gereja, kekuasaan Kristen di bawah kepemimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella juga mengubah semua sendi-sendi kehidupan yang berbau Islam. Kaum Muslim diharuskan menjadi penganut Kristen. Tak terhitung Muslim yang tewas dibunuh karena mempertahankan keyakinannya. Tak boleh ada simbol-simbol Islam. Kaum Muslim yang selamat dan tak memeluk Kristen, menyembunyikan diri dan identitasnya sebagai Muslim. Tragis. Kekuasaan yang dibangun selama 500 tahun lebih pun runtuh.

13826154491169554431

Menara Mezquita yang kini menjadi bell tower

Pohon Jeruk

Deretan pohon jeruk, dengan buahnya yang masih hijau bergelantungan, langsung menyambut pengunjung saat memasuki pintu utama The Mezquita. Patio de los Naranjos, atau Kebun Jeruk, terbuka untuk umum dan setiap hari menjadi taman publik. Sebelum antre membeli tiket seharga 8 euro untuk masuk ke Mezquita Cordoba, saya dan teman sengaja duduk di bawah pohon jeruk, menikmati semilir angin sambil mengamati menara masjid. Dari informasi yang saya baca, teryata deretan pohon jeruk ditanam simetris dengan deretan pilar-pilar yang ada di dalam Masjid Cordoba. Wow. Bangsa Moor sangat menyukai jeruk dan menanamnya di banyak tempat. Salah satunya saya lihat dua hari kemudian di halaman Katedral di Granada. Pohon-pohon jeruk berderet, tapi buahnya sudah menguning.

13826140231623963606

Deretan pohon jeruk di halaman Mezquita Cordoba

Pencahayaan remang-remang membuat mata saya sedikit menyipit saat memasuki Mezquita, karena sejak tadi terpapar sinar terang matahari. Pencahayaan itu ternyata disengaja untuk menimbulkan efek dramatis, sebelum kita mendapati cahaya cukup terang di sisi tengah Mezquita, dan kemudian meredup kembali di bagian selanjutnya. Saya sempat melihat petugas yang sedang memperbaiki pencahayaan Mezquita. Ternyata bukan lampu, tapi semacam petromaks atau lentera. Tak heran cahayanya remang. Lebih tepat lagi sendu, menurut saya.

Deretan pilar dengan sisi atas melengkung seperti tapal kuda dan garis warna merah begitu mirip dengan pilar-pilar yang ada di Masjid Nabawi, Madinah. Alhamdulillah, kekhasan ini tidak diubah oleh penguasa Spanyol saat mengubah masjid ini menjadi katedral.

1382614087955478115

Pilar-pilar tapal kuda yang khas

1382615519270507909

Di beberapa sisi yang merapat ke dinding, beberapa ruangan kecil sengaja disekat dan menjadi kapel-kapel untuk berdoa. Patung-patung dan desain yang berbeda tampak di ruangan tersebut. Semakin ke dalam dan sampailah kami di bagian tengah, yang kini menjadi tempat utama untuk misa. Ada dua sisi di area ini. Sisi kanan adalah ruang dengan bangku-bangku tinggi berukir dan sisi kiri adalah ruang agak terbuka yang menjadi pusat tempat misa. Patung-patung dan lukisan di bagian depan dengan podium agak tinggi, tempat pendeta melakukan pidato. Di beberapa sisi saya melihat ukiran-ukiran dan bagian yang sengaja ditambahkan saat masjid diakuisisi menjadi gereja. Ada sebuah lukisan yang lagi-lagi membuat mata saya mengembun, yakni lukisan yang menggambarkan takluknya penguasa terakhir Kekhalifahan Islam di Spanyol. Beberapa sosok bersorban, sepertinya sultan saat itu, dilukiskan merunduk, menyerahkan kunci kepada Raja yang berdiri angkuh.

13826149861136800524

Temat misa yang dibangun di tengah Mezquita Cordoba

Mihrab Cantik

Semakin dalam menyusuri Mezquita, akhirnya kami sampai di bagian Mihrab, yang dahulu merupakan bagian sentral Masjid Agung Cordoba. Di sinilah imam memimpin shalat kaum Muslim, menghadap kiblat di Makkah. Pada masanya, sepuluh ribu lebih kaum Muslim dapat termuat di masjid ini. Bagian Mihrab ini begitu cantik. Ukiran khas Arab dengan warna cerah menghiasi mihrab.

13826152811332124965

Mihrab

Aduhai, rasanya begitu gatal saya ingin shalat dan bersujud di sisi ini. Namun, banyak petugas melakukan pengawasan, dan memang melakukan shalat di masjid-masjid yang kini menjadi gereja, terlarang hukumnya. Ini juga yang sebenarnya tengah diperjuangkan kaum Muslim di Spanyol. Sebelum berangkat ke Eropa, saya sempat membaca berita tentang kaum Muslim Spanyol yang giat berkampanye agar diizinkan beribadah bersama orang-orang Kristen di Mezquita-Katedral Cordoba. Menurut Mansur Escudero, pemeluk Islam asli Spanyol, Mezquita Cordoba penting bagi setiap orang di Spanyol, dan upaya mereka untuk dapat shalat di sana adalah paradigma indah tentang  toleransi, pengetahuan, dan budaya. Agar orang-orang dari agama yang berbeda hidup bersama. Spanyol sendiri saat ini adalah rumah bagi 1 juta Muslim.

Namun Uskup Cordoba, Demetrio Fernandes, menolak upaya kaum Muslim tersebut. Menurutnya hal itu seperti berbagi istri antara dua suami. “Apakah mereka akan senang untuk melakukan hal yang sama di masjid mereka?” katanya seperti dikutip CNN. “Sama sekali tidak. Karena aku mengerti perasaan keagamaan mereka dan mereka harus memahami kita juga. Perasaan religius adalah satu terdalam dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin untuk berbagi.”

Bulan April lalu, sekitar seratus Muslim melakukan aksi dengan membawa karpet dan menggelarnya di dalam Masjid untuk melakukan shalat. Namun aparat keamanan mengusir dan menangkap dua orang pimpinan aksi.

Semoga…

Tak jauh dari Mihrab, terdapat ruangan yang menyimpan artefak-artefak, batu-batu dari berbagai zaman, pedang-pedang yang sepertinya digunakan untuk reconquista, dan berbagai artefak lain. Dan, perjalanan menyusuri masa keemasan Islam di Spanyol yang terwujud dalam bentuk Masjid Cordoba pun berakhir saat cahaya terang menyembul dari salida alias pintu keluar. Deretan pohon jeruk kembali menyambut saya. Sebelum kembali ke Cordoba Central, saya menyempatkan mampir ke beberapa toko suvenir yang bertabur di dekat pintu keluar masjid. Kaos dengan tulisan bahasa Arab banyak dijual. Sayang harganya lumayan mahal buat kantong saya. Hanya satu kaos terbeli dan beberapa kartu pos serta magnet khas Cordoba.

Matahari masih bersinar garang saat saya menyusuri dinding luar Mezquita. Kembali tangan saya tak henti memencet shutter kamera. Begitu juga saat kembali ke gerbang, Roman Bridge alias Jembatan Romawi saya susuri sejenak hingga setengah jalan. Gerbang Roman Bridge menjadi fokus latar foto.

13826153811810136139

Roman bridge dengan latar Mezquita Cordoba

Satu doa utama saya saat menapak kembali jalan menuju halte bus, semoga suatu hari nanti saya dan umat Muslim lain dapat kembali shalat di Masjid Agung Cordoba, seperti yang kini masih diperjuangkan oleh kaum Muslim Spanyol. Aamin. [Rahmadiyanti Rusdi/1 Okt 2012, 00:35 WIB]

*Puisi “The Mosque of Cordoba” oleh Allama Muhammad Iqbal

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 7 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 9 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: