Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Andi Harianto

Tinggal di Kota Kecil Bantaeng, 120 Kilometer, arah Selatan Kota Makassar. Setiap orang adalah guru selengkapnya

Memetik Strawberry; Buah Cinta Gunung Loka

REP | 03 December 2013 | 14:29 Dibaca: 176   Komentar: 4   4

13860558971020203309

Area Kavling Perkebunan Strawberry Gunung Loka, Bantaeng

Di sini, seolah sepotong surga dianugerahkan ke bumi. Indah nian lekuk jalanan di kaki bukit, berkelok menanjak tanpa kendala. Jalan beraspal yang baru dinikmati sejak tiga tahun lalu ini mengantar kita ke area kavling perkebunan strowberry dan apel seluas 60 hektare. Berada di kemiringan dataran tinggi Loka, menjadikan mata ini bebas menikmati hamparan perkebunan kol, wortel, sawi, kentang, cabe, tomat dan bawang yang tertata rapi bak lukisan berkanvaskan alam hijau.

Perkebunan Muntea gunung Loka, terletak di wilayah administratif desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Lokasi ini berada pada ketinggiannya 1.216 meter di atas permukaan laut. Ketinggiannya, menjadikan udara di area ini demikian sejuk menyegarkan paru-paru, setelah sepekan beraktifitas di kota yang berpolusi asap kendaraan. Rasa gerah di kota karena hujan enggan tumpah, juga akan berganti hawa dingin 18 derajat celcius yang bakal terasa romantis jikalau kekasih tercinta berkunjung bersama Anda.

Tahukah Anda, bahwa sejak zaman Yunani kuno memang strawberry telah menjadi lambang cinta. Bukan hanya karena bentuknya yang mirip hati tetapi juga karena warna, manfaat dan rasa buahnya. Buah yang bermula dari Negeri Belanda ini, hadir di Bantaeng untuk mencipta kehangatan cinta bagi para pengunjung dan tentu akan menambah geliat ekonomi dan pariwisata Bantaeng yang kini semakin bersolek cantik.

Tidak hanya strawberri, Apel pun masuk dalam kategori 10 lambang cinta sejati bagi banyak orang. Apel merah yang segar bisa menunjukkan perasaan Anda yang begitu membara. Konon, mereka para pencinta mengharapkan agar rasa cinta yang mereka miliki bisa semanis apel, yang dapat mengusir rasa lapar dan dahaga yang menaungi mereka.

Hanya berjarak kurang lebih 16 Km atau 136 km dari Makassar, pengunjung sudah bisa memetik buah strawberry yang bentuknya mungil, memerah rona serta menggemaskan para bocah untuk segera memetiknya. Sewaktu saya berkunjung bersama keluarga, apel belum berbuah hanya nampak bakal buah yang belum diperkenankan untuk disentuh. Apel di perkebunan wisata ini, didatangkan dari Pusat perkebunan Apel di Batu, Malang Jawa Timur.

Bersama istri tercinta dan dua putri kecil tersayang, kami berkunjung ke tempat ini di hari sabtu kemarin (23/11). Sungguh terasa kehangatan cinta diantara kami, istri dan dua putri tersayang. Anak-anak nampak ceriah cekikikan berlarian di tepi bedengan pohon strawberry. Sambil berjingkrak, mereka memetik satu persatu buah merah ranum itu. Bersama istri, saya hanya menikmati kebahagiaan mereka sambil sesekali bergaya di depan kamera untuk mengabadikan suasana.

Memang saat itu buah strawberry tak banyak seperti biasanya, anak-anak hanya bisa mengumpulkan buah sekilo. Harga sekilo strawberry, hanya 40.000, jikalau dihitung per-buah, pengelola menghargainya seribu perak. Adapun bea masuk, dibadrol Rp. 5000 per orangnya. Bayaran ini serasa sepadan, karena memang kebahagiaan sulit dihargai dengan mata uang senilai apa pun.

Bersama Strawberry, Apel dihadirkan di Banteng sejak awal tahun 2009 yang dipelopori Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah yang baru terpilih saat itu. Menurut informasi, apel di Bantaeng terdiri dari beberapa varietas buah seperti, manalagi, wagli, rombuti, ana, serta beberapa varitas buah yang memiliki cita rasa tersendiri.

1386056170379463582

Bupati Bantaeng, Prof. DR. Nurdin Abdullah memetik Apel pada Panen Perdana Appel Muntea (Image: http://travel.okezone.com/)

Kebun Apel yang berjumlah kurang lebih 20.000 pohon ini telah di panen beberapa kali. Panen perdana dilakukan pada bulan Juni 2011. Fantastis! Warga Bantaeng yang bahkan tak pernah membayangkan akan ada apel di tanahnya, sudah menghasilkan 15 ton untuk hanya pada luasan 10 hektare yang panen kala itu. Kini, lokasi agrowisata Muntea telah memiliki lahan apel seluas 40 hektare.

Kawasan Agrowisata ini hanya ditempuh sekitar 30 menit dari kota Bantaeng. Di puncak, Loka- jikalau kabut tidak menghalangi pandangan, pengunjung bisa menikmati jejeran kecil rumah-rumah di kabupaten Sinjai, Jeneponto dan Bulukumba yang bertetangga dengan Kabupaten Bantaeng. Bahkan, dikejauhan sana masih terlihat samar Pulau Selayar.

Kontur alam Bantaeng yang terdiri dari pantai, daratan dan pegunungan ini nampak jelas terlihat di puncak. Berada di puncak tertinggi Bantaeng, tak menjadikan hati kita terisolasi jauh dari kota karena jejeran bangunan di bawah sana nampak jelas terlihat. Bantaeng yang hanya seluas 395,85 km dengan jumlah penduduk tahun ini sebanyak 185.675 jiwa menjadikan Bantaeng ibarat strawberry, kecil, mungil nan cantik. “Small and beautiful”.

Fasilitas pendukung memang masih terasa kurang, seperti areal parkir, warung tempat ngopi di pegunungan dingin atau pun toko cenderamata. Menurut informasi, Pemerintah Bantaeng sementara mengusahakan lokasi perkebunan strawberry dan appel ini bisa menjadi primadona baru Sulawesi Selatan. Infrastruktur jalan sementara dibenahi, demikian halnya dengan berbagai fasilitas pendukung di area tersebut. Semoga kelak semuanya menjadi indah dan membahagiankan para pengunjung. Ayo Ke Bantaeng!

Bantaeng, 23 November 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: