Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Sam Leinad

Urban Labor. Twitter: @samLeinad

Sampah di Lokasi Wisata, Tanggung Jawab Siapa?

OPINI | 12 December 2013 | 10:02 Dibaca: 100   Komentar: 13   2

13868166881513522782

Sampah di Ranu Kumbolo. Sumber: twitter (https://pbs.twimg.com/media/BbNzaodCIAAMTs2.jpg)

Sebuah foto yang ditautkan pada salah satu cuitan di lini masa twitter menarik perhatian saya pada Rabu malam. Foto yang sangat sangat tidak menyenangkan untuk dilihat, menggambarkan tumpukan sampah di Ranu Kombolo. Botol air mineral, kaleng minuman ringan dan jenis sampah lainnya sangat merusak keindahan ranu. Saya yang memang belum pernah ke Semeru lalu memposting foto dari twitter tersebut yang entah bersumber dari mana ke laman group FB Kampret.

Beberapa komentar pun muncul. Oom Arif mengomentari saat dia ke Ranu Kumbolo sebelumnya, pengunjung Semeru harus membawa kembali sampah dari atas. Mbak Septin yang berasal dari Lumajang dan kini berada di Inggris, mengungkapkan keluhan teman-teman di desanya karena ulah para pendatang yang mengaku sebagai pencinta alam namun malah membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan di kaki Semeru.

Keindahan Semeru semakin dikenal oleh masyarakat terutama sejak dirilisnya film 5 cm akhir 2012 lalu. Pengunjung pun mulai berbondong-bondong ke Semeru. Dari beberapa sumber yang sempat saya baca, film ini selain telah mengenalkan Semeru dengan keelokan ranu-ranunya (termasuk Kumbolo) juga dituding sebagai penyebab kerusakan lingkungan seperti masalah sampah di tempat tersebut. Namun apakah permasalahan sampah di Semeru tersebut semata-mata karena film 5 cm, sehingga pihak pembuat film dianggap sebagai pihak yang harus paling bertanggung jawab?

Saya teringat saat Kompasianival 2013 pada November lalu dimana saat itu saya diberikan kehormatan oleh panitia menjadi nara sumber bersama mas Dhanang dan Mbak Olive pada talkshow tentang wisata Indonesia. Mas Dzulfikar sebagai host mengemukakan bahwa travel blogger selain ikut memperkenalkan keindahan alam Indonesia melalui tulisannya sehingga banyak pengunjung lain yang akhirnya datang ke tempat tersebut, juga ‘memberi andil’ akan dampak lingkungan yang disebabkan oleh pengunjung. Saat itu Mas Dzul mengambil contoh membanjirnya pengunjung di Gua Pindul di Gunungkidul, Yogyakarta beberapa waktu sebelumnya.

Para travel blogger memang ikut berperan dalam memperkenalkan dan memberikan informasi tentang destinasi wisata. Beberapa tempat yang mungkin sebelumnya tidak pernah didengar, akhirnya didatangi banyak pengunjung berkat tulisan yang diposting oleh blogger. Namun mengenai persoalan lingkungan, kesadaran dan partisipasi oleh semua pihak sangat diperlukan mulai dari pemerintah, pengelola wisata juga si blogger dan pengunjung itu sendiri. Dan kali ini saya akan menulis apa yang perlu dilakukan oleh seorang pengunjung wisata atau traveler terkait dengan masalah sampah atau lingkungan.

Masalah sampah memang beberapa kali saya temui di beberapa tempat yang pernah saya datangi. Di Pulau Sebuku (Selat Sunda) yang tak berpenghuni, saya menjumpai sampah yang menumpuk di salah satu tempat. Kemungkinan ini adalah sampah yang dibuang sembarangan di laut, lalu terdampar di pulau kecil yang cukup indah ini. Juga di salah satu tangga menuju kawah Bromo, ada coret-coret yang tidak nyaman untuk dilihat.

13868169151490952812

Sampah di Pulau Sebuku

13868169611261494808

Duh, coret-coret di Bromo

Sebagai pengunjung, kita harus menanamkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Cara yang paling sederhana misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saya selalu membawa beberapa plastik kresek setiap melakukan traveling. Selain untuk menampung pakaian kotor, juga untuk tempat sampah sementara apabila saya tidak menemukan tempat sampah di lokasi wisata.

Saya malah sering menyimpan sampah seperti bungkus permen, kertas potongan karcis atau tiket yang sudah tak terpakai di kantong celana atau di tas kecil yang biasanya saya pakai untuk tempat menaruh kamera saku, ponsel, dan barang lainnya. Serpihan sampah tersebut bahkan sering masih tersimpan di tas tersebut untuk beberapa waktu lamanya bahkan ketika sudah pulang karena saya lupa memindahkannya ke tempat sampah.

1386817039588761594

Sampah yang masih tersimpan di tas saya

Mulai dari diri sendiri, kesadaran lingkungan perlu kita miliki untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Hal sederhana, tapi sangat berarti dan berdampak positif. Ada sebuah kalimat atau slogan yang patut dilakukan saat berkunjung ke tempat wisata, “Jangan ambil apa pun selain gambar, jangan tinggalkan apa pun selain jejak kaki.

1386817101950731683

Ini di Karimunjawa

Mari lestarikan aset wisata Indonesia dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan wisata. Jangan lupa berkunjung di laman Indonesia Travel.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 18 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 18 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 21 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: