Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mira Marsellia

You could find me at: Blog: http://miramarsellia.com Twitter: bellamyavandenbush

Malioboro di Malam Hari

REP | 28 December 2013 | 13:51 Dibaca: 108   Komentar: 8   5

Sudah lama berselang saya tak ke kota Yogyakarta. Kota yang selalu bikin betah dan selalu genah untuk dikunjungi dan ditelusuri. Saya menyuka banyak hal di Yogya. Suasananya yang tenang, bangunan tua, lampu jalan bersulur lengkung, percakapan pedagang kaki lima dalam bahasa Jawa, makanannya, batiknya. Ah banyak sekali.

Saya juga penggemar gudeg. Beberapa hari di Yogya saya tahan pagi siang dan malam makan gudeg lagi gudeg lagi. Tidak ada yang lebih enak dari gudeg yang kita nikmati langsung di kotanya. Saya senang menikmati gudeg yang dijual di lesehan yang berjejer di jalan Wijilan. Telurnya yang mengeras lama dimasak, ayam yang gurih lezat dengan bumbu yang meresap, gudegnya yang berwarna crimson seolah menyerap semua cita rasa masakan yang dibuat alami, kerecek yang gurih pedas dengan cabe rawit. Aduh! betapa semua menuai rindu.

Nah minggu lalu sebelum hari Natal di penghujung tahun 2013 ini, saya berkesempatan menginjak kaki lagi di kota Yogya. Senang sekali. Rasanya terngiang lagu Katon Bagaskara yang legendaris, lagu tentang Yogya. Pas sekali rasanya terngiang di telinga saat saya melintas Malioboro, menengok bangunan keraton, melihat pejalan kaki, pemusik jalanan dan membeli bakpia.

1388213443197779075Malam hari di malam Natal saya menikmati Malioboro menyusur dari ujung ke ujung. Menikmati suasana. Melihat betapa banyak orang berjalan-jalan melintasi Maliboro baik berjalan kaki, menumpang becak, atau naik delman. Mendengar pemusik jalan memainkan lagu riang dengan berbagai alat musik. Meriah sekali. Saya hitung ada tiga grup berada terpisah namun masih berada di ruas jalan Malioboro. Kata pedagang disana, jalan Malioboro ini ramai sekali karena saat ini musim liburan.

13882132387782634

dok pribadi

Hujan gerimis menitik membasahi jalan dan wajah kami yang berjalan kaki. Namun rupanya sekedar hujan tidak mengurangi animo orang berjalan-jalan di Malioboro. Bahkan di Mirota Batik sungguh sesak sampai melangkah memilih barang disana pun sulit. Banyak pula turis asing yang terlihat lalu lalang di jalan. Rupanya Yogya tak pernah kehilangan pamornya.

Penjaga toko dan satpam di Mirota Batik pada saat saya kesana di hari malam Natal itu sedang memakai pakaian dengan tema blangkon. Pakaian mereka hitam-hitam dan memakai tutup kepala Jawa yang khas dengan bentuk telur di belakang itu. Di hari lain katanya ada waktu mereka memakai lurik. Pakaian daerah bergaris. Sungguh khas.

Lelah berjalan saya duduk di depan toko. Tampak kereta pajangan diduduki dua wanita. Yang satu sedang menangis dan yang satu lagi memeluk dan berusaha menghiburnya. Lama-kelamaan wanita tersebut menghapus air matanya lalu tersenyum pelan. Saya tanpa sadar ikut tersenyum.

13882131901684745529

batik. dok pribadi

Masuk ke dalam toko di sebuah panggung rendah di tengah ruang, seorang wanita berumur pertengahan dengan rambut diselingi uban dan disanggul sederhana mengenakan kain dan kebaya asyik membatik. Membatik dengan tangan. Sesekali tangannya mencelupkan canting ke malam panas, meniupnya lalu melukiskan pola-pola indah di selembar kain yang membentang pada sebatang kayu. Saya lama menonton ibu tersebut membuat batik tulis. Karya indah milik bangsa Indonesia yang merupakan warisan budaya bangsa kita.

13882130771760352411

Malioboro. Dok Pribadi

Menyusur Malioboro tak ada kata bosan. Kiranya bila tidak dihentikan oleh pegalnya kaki maka saya akan lama berjalan-jalan disana. Pernah saya berjalan disana bolak-balik hanya karena suka memperhatikan dagangan-dagangan khas sepanjang jalan sampai saya kehilangan hitungan dan kembali ke hotel dengan pinggang dan kaki yang pegal sangat.

Hanya Malioboro yang bisa.

dimuat juga di blog pribadi: miramarsellia.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: