Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Iwan Nurdin

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)-Jakarta. www.adisuara.blogspot.com www.kpa.or.id

Beras Payo dan Dendeng Batokok Kerinci

REP | 16 June 2010 | 04:40 Dibaca: 506   Komentar: 27   4

Gunung Kerinci adalah gunung tertinggi di Sumatera. Ia menjadi kebanggaan dan mendapat tempat sendiri di mata para pendaki jika sudah menjejak puncaknya. Nama Gunung ini selain menjadi nama kabupaten di Provinsi Jambi juga menjadi penanda bagi ikatan etnik tersendiri di Jambi yang membedakan dengan Orang Jambi dan Suku Anak Dalam (lebih dikenal sebagai suku Kubu).

Jarak kerinci dengan ibukota provinsi Jambi terbilang jauh. Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari Kota Jambi  bisa memakan waktu  sepuluh jam.  Dahulu, wilayah Kerinci sesungguhnya masuk kedalam provinsi Sumatera Barat. Tapi kemudian, saat provinsi Jambi dibentuk, wilayah ini oleh pemerintah pusat dimasukkan kedalam provinsi  Jambi.

Dataran tinggi Kerinci banyak ditemukan batu-batu dan perkakas peninggalan peradaban tua. Wajar saja sebab area ini dipercaya telah dihuni manusia sejak zaman batu. Memang, Pantai Barat Sumatera yang kebetulan adalah dataran tinggi (bukit barisan) dari Aceh hingga Krui Lampung penuh dengan peninggalan peradaban manusia sejak zaman batu besar. Karena peradabannya yang telah lama, maka makanan dari daerah barat sumatera juga beragam. lho apa hubungannya?Ini kesimpulan ngawur saya saja, bahwa peradaban yang tua dan kompleks  suatau wilayah akan sebanding dengan peradaban kuliner yang juga kompleks dari daerah tersebut.

Kembali ke laptop. Makanan khas Kerinci yang paling  terkenal adalah dendeng batokok. Dendeng daging lembu yang lembut karena digepok/tumbuk dengan batu hingga gepeng. Disajikan setelah dipanggang kembali dengan sambal merah nan pedas. Soal rasa, wah tak bisa saya gambarkan saat dagingnya masuk kedalam mulut. Hmmm. Apakah aksara dan angka bisa menjelaskan rasa nikmat?.

Dendeng ini akan paripurna kenikmatannya jika disantap dengan beras khas asal kerinci yang dinamakan Beras Payo Kerinci. Biasanya, warung makan asal kerinci akan menulis “Beras Payo Kerinci” di muka warung untuk menyatakan bahwa mereka hanya menyajkan dendeng batokok dengan beras tersebut, bukan beras asalan. Ini mirip dengan Warung Padang yang menulis “Bareh Solok” yang artinya Beras Solok. Kalau Bareh Solok di Jakarta saya tidak tahu apa benar berasnya asli diimpor dari Solok sana. Soalnya, rasanya kagak ada bedanya sih dengan beras biasa. Padahal rasakan gak bisa bohong.

Beras Payo Kerinci adalah beras nikmat, terasa pulen dengan bulir beras besar-besar. Ini adalah bibit padi asli Kerinci. Usia jenis padi ini mungkin sudah lebih dari lima abad. Seperti laiknya padi asli Nusantara lainnya, usia tanam padi payo hingga panen memakan waktu lebih dari enam  bulan. Batang padi beras payo juga terbilang tinggi. Ketinggian padi payo kerinci ini lebih dari pinggang orang dewasa. Bahkan hampir sedada.

Yang pasti, Beras Payo Kerinci dengan bulir padi yang besar-besar memang terasa nikmat berpadu dengan lauk-pauk asal kerinci khususnya dendeng batokok. Kalau anda berkunjung ke Jambi, jangan lupa mampirlah di Warung Makan Kerinci yang bertulis Beras Payo Kerinci.

Kalau di Jakarta saya belum tahu bisa menemukannya dimana….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Getar Aura Mistis di Sudut Pantai Baron …

Teguh Hariawan | | 21 September 2014 | 07:00

Biang Macet Kota Bogor …

Cucum Suminar | | 21 September 2014 | 07:16

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 7 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 23 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Cinta Cenat Cenut di Usia Matang Manggis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Cognitive Neuroscience: Entrance Gate of …

Wahyu Riska Elsa Pr... | 7 jam lalu

Dari Masa ke Masa? …

Fajar Ayu | 7 jam lalu

Budak Gadget …

Yahya Farida | 7 jam lalu

Dharmasraya dan Potensinya Menjadi …

Zulfadli Adha.sp | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: