Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Sisik Melik Warung Kopi di Desaku

REP | 27 August 2010 | 16:07 Dibaca: 168   Komentar: 2   1

Setelah merebahkan badan di atas kursi ruang tamu rumahku, aku tak sempat menonton TV karena terlelap dalam tidur ayamku. Entah 5 ato 10 menit kemudian aku terbangun. Tak ada niatan untuk pergi kemana-mana pada malam ini, sambil bermalas-malasan aku mulai bangkit mengambil sebungkus rokok di depanku dan berkehendak kabur ke luar mengayunkan langkah menuju tempat nongkrong anak-anak muda di warung kopi. Tak sempat keluar dari pintu tiba-tiba listrik padam secara serempak di desa ini. Aku kembali membaringkan tubuhku sambil berniat tidur pulas saja, namun beberapa menit kemudian listrik kembali menyala. Segera saja aku berangkat menuju warung kopi kasiu, dengan harapan bertemu dengan kawan-kawan obrolanku sambil menyeruput secangkir kopi hitam.

Seperti sudah saya duga sebelumnya, aku menjumpai banyak sekali orang duduk-duduk malas sambil menikmati secangkir kopi dan bersenda gurau bersama group-groupnya masing-masing. Tiga orang pemuda duduk tak teratur di ranjang depan mengobrolkan apa saja yang membuat mereka butuh duduk lama-lama di warung ini. Marco (bukan nama sebenarnya), seorang sarjana dan guru di sekolah MI Muhammadiyah teresa mendominasi pembicaraan di antara dua lawan bicaranya. Aku masih pura-pura cuek sambil duduk di kursi depan menunggu pesanan kopiku yang masih belum diantar-antar juga oleh si Nyoah, demikian pemilik sekaligus pegawai warung kopi ini disebut namanya. Seraya mendengarkan obrolan-obrolan Marco, Ludiro dan satu lagi orang yang tak aku kenal, saya memainkan HP memencet tombol masuk dalam dunia maya bersilaturahmi dengan kawan lama yang ada di Malaysia. Dengan semangat yang membara, sebagaimana seluruh keluarganya, sang teman menanyakan bagaimana opini orang Indonesia tentang Malaysia. Pikirku bergumam, kayak orang penting aja nih,,nanya begituan, itukan urusan orang-orang gede. Namun tetap saja aku tanggapi dengan nada yang serius.

Secangkir kopi hitam penuh ampas yang siap melenakan sudah ada di samping kiriku. Setelah aku minum beberapa tegukan kemudian baru aku menjejalkan diri dalam barisan duduk Mas Marco dan kawan-kawan. Tak ada yang risih dengan kedatanganku, semuanya biasa-biasa saja. Dengan bahasa lugasnya Mas Marco mempersilahkan sedari tadi untuk ikut nimbrung dalam obrolan-obrolannya. IT dan sebangsanya menjadi minat utamanya, semua teman-temannya mengetahuinya tak terkecuali saya. Sekalipun demikian, sebagai aktifis pemuda muhammadiyah juga sangat gandrung dengan dunia pendidikan, moral dan sejenisnya. Sedangkan Ludiro selalu menimpali omongan-omongan Marco dengan serius dan tak mau kalah. Pembicaraan pada malam itu cukup mengasyikkan, dari computer, politik dalam dan luar negeri sampai masalah moral sedang kami bicarakan. Namun setelah kehadiran saya, agaknya posisi Marco mulai tersingkir sebagai orang yang mendominasi pembicaraan. Sekalipun kami membicarakan per item penuh dengan semangat yang berapi-api namun tak pernah sampai berdebat hanya sebatas saling memberitahu atau tukar pandangan belaka. Setelah malam mulai larut, kewajiban sebagai seorang suami akan segera menghampiri Mas Marco, kemudian ia pulang meninggalkan kami bertiga. Obrolan-obrolan kami bertiga juga tidak kalah seru dengan ada atau tiadanya  si Marco Karna pembicaraan kami hanya meneruskan saja tema-tema yang telah kami bicarakan tadi dengan mengomentarinya lebih detail lagi.

Di samping kanan kami duduk juga beberapa orang pemuda yang juga asyik membicaran sesuatu yang tidak jelas bagi telinga saya sekalipun kami berdekatan karena saking asyiknya kami ngobrol. Setelah semua orang pada mulai meninggalkan warung ini, sengaja saya ajak  Ludiro untuk menemani saya ngobrol. Sapran, saya ajak ikut nimbrung dalam pembicaraan kami. Dengan menanyakan jenjang semesternya saja saya sudah bisa memancing pembicaraan yang panjang dengan  Sapran. Tak menunggu waktu lama, saya langsung memberikan uraian2 tentang seluk beluk perkuliahan pada  Sapran yang masih smtr satu ini. Tak ketinggalan Ludiro, sarjana hokum, juga menimpalinya dengan penuh semangat yang menjadi kebiasaannya, dan bahkan si Ludiro terkenal di komunitas warung kopi ini sebagai orang yang over social. Hal ini disebabkan gerak-gerik badan dan control mulutnya yang cenderung dilonggarkan saja.

Masyarakat jawa timur mempunyai budaya nongkrong yang kuat dan mengakar. Sejak dari dulu ketika saya kecil sampai sekarang budaya ini tak pernah hilang, bahkan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa kami. Bagi orang luar yang sedang mampir di desa ini terutama pada malam hari, akan menjumpai orang-orang yang kerjaannya hanya nongkrong sambil ngomong ngalor-ngidul. Tak seperti desa-desa tetangga, biasaya para warga desanya sudah terlelap tidur tepat jam 9-10 an malam. Tak ada tanda-tanda kehidupan di desa-desa tersebut, semuanya mengunci pintu dan masuk ke dalam rumah, entah tidur atau menonton TV, namun tidak ada yang nongkrong. Tentu saja tidak semuanya, masih ada beberapa orang yang di luar rumah sambil ngobrol atau apa saja yang membuat mereka tetap terjaga, hanya saja kualitas dan kuantitas nongkrongnya tidak seperti masyarakat desaku.

Warung kopi telah menjadi medan magnetik sebagai wadah internalisasi nilai-nilai menggantikan musholla atau langgar seperti jaman dulu…diterima atau tidak itulah perubahan zaman tinggal bagaimana kita menyikapinya..dan generasi tua akan semakin tergilas oleh pemaknaan-pemaknaan yang mereka ciptakan sendiri..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 10 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 11 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: