Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Christie Damayanti

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as selengkapnya

‘Potluck’ : Kegiatan Kebersamaan dalam Kasih

OPINI | 08 July 2011 | 04:47 Dibaca: 2257   Komentar: 9   3

By Christie Damayanti

13100996531336244915

nwkniterati.com

Sejak adikku tinggal di Amerika mulai tahun 1994 sampai sekarang, aku dan keluargaku setiap akhir tahun selalu kesana, merayakan Natal bersama. Jadi, aku memang sering mengamati kebiasaan2 orang2 disana, termasuk kebiasaan orang2 Indonesia disana.

Salah satu yg aku mau ceritakan adalah tentang ‘kebersamaan’ dengan teman2 kelompok2 tertentu untuk berbagi kasih. Dan karen kehidupan keluarga adikku selalu behubungan dengan kelompok2 teman2 dari Indonesia ( walau tetap berhubungan dengan teman2 lokal Amerika ), keberamaan ini biasanya ada di kelompok Gereja mereka.

Keadaan keluarga di ‘tempat jauh’ ( Amerika ) tentu banyak terserang ‘homesick’ dan mereka selalu berkumpul bersaa untuk berbagi suka dan duka. Salah satu kebersamaan mereka adalah ‘berpesta bersama’ di tempat2 yg berganti2 ( misalnya Gereja, rumah2 merka, taman, dan sebagainya ). Ini bukan pesta biasa, tetapi hanya untuk sedikit bersenang2 menikmati weekend. Dan biasanya, mereka berpesta tanpa biaya, artinya biayanya sedikit sekali karena masing2 keluarga membawa makanannya sendiri2 dan mereka saling ’sharing’ makanan dan minuman, disebut ‘potluck’.

1310099751848536373

Berbagai jenis makanan dari masing2 kita dengan tempat yang bermacam2. Biasanya, langsung di angkat dari oven. Konsepnya ‘acak’ tanpa di desain, tetapi inilah yg membuat kebersamaan itu …..

Biasanya, sring diminta bergilir : siapa yang membuat ’salad’ ( entrée ), siapa yang membuat menu utama, atau ’snack’ atau tamhanannya ( kerupuk, rempeyek, acar khusu ) dan siapa yang membuat dessert ( jus buah, pudding atau cake ).

Potluck adalah kumpulan orang di mana setiap orang atau sekelompok orang memberikan kontribusi sepiring makanan untuk dibagi di antara grup. Meliputi : makan minum seadanya dengan membawa dan membagi2kan piring dan gelas untuk masing2 dari mereka. Dan biasanya, bisa piring2 dan gelas2 itu bukan ’sekali habis buang’ ( tetap ada sih, yang ’sekali habis buang’, walau tidak banyak, jika memang ‘terpaksa’ ), tapi mereka berusaha mencucinya sendiri untuk menghemat biaya.

Rasa “makan bersama, dimana para tamu membawa makanan mereka sendiri”, tampaknya telah berasal dari akhir abad 19 atau awal abad ke-20 AS, khususnya di Amerika Serikat Barat. Semua orang berpartisipasi membawa piring untuk semua untuk berbagi. Istilah ini berasal dari saat ketika kelompok perempuan Irlandia akan berkumpul bersama dan masak makan malam. Mereka hanya punya satu panci sehingga mereka memasak makan bersama dengan bahan apa pun yang mereka kebetulan punya hari itu.

Potluck makan malam sering diselenggarakan oleh agama atau masyarakat kelompok, karena mereka menyederhanakan perencanaan makan dan mendistribusikan biaya antara para peserta. Walau lebih kecil, lebih informal kumpul-kumpul dengan persiapan makanan dibagikan juga mungkin. Para tamu dapat membawa segala bentuk makanan, mulai dari hidangan utama untuk makanan penutup.

Kami ber-tiga kakak beradik, dan adik ke dua yg ada di Amerika. Karena mamaku seorang yg senang dan pintar masak, biasanya jika mereka sudah tahu kalau kami akan berkunjung kesana, maka mereka akan berlomba2 untuk mendapatkan makanan yg mamaku masak ( tentang masak memasak disana, justru dengan ‘potluck’ ini yg mengantarkan mamaku berjualan makanan disana dan hasilnya bisa menambah ‘uang saku’ kami disana ).

13100999142088932184

Mamaku yang di ‘bantu’ oleh papaku menyiapkan potluck untuk Gereja kita di Amerika. Setiap Sabtu, kami beramai-ramai memasak untuk ‘persembahan kasih’.

Di kelompok Gereja adikku, biasanya ada Kebaktian tiap hari Sabtu sore sampai malam. Dan kami, masing2, selalu membawa banyak makanan, untuk berbagi dalam kebersamaan. Selain itu, biasanya kami membuat makanan untuk dijual dan sebagian yg laku, disumbangkan untuk Gereja mereka. Sungguh luar biasanya, hubungan kekeluargaan disana. …..

Seminggu sebelum Kebaktian, biasanya pengurus Gereja memberikan menu untuk dijual. Dan masing2 dari mereka memilihnya. Dan orang2 yg memang hendak menjual makanannya ( bukan yang di bagi2kannya ) tetap membuat makanan lebih, karena siapa tahu ada yg tidak mendapat email atau lupa untuk membalasnya. Dan biasanya, sisa makanan tidak banyak karena mereka memang sudah lebih dari 5 tahundisana, sehingga bila ada orang tua dari teman2 mereka, pasti mereka rindu masakan Indonesia, apalagi bila orang tua mereka itu pintar memasak.

Setiap Jumat sebelum Kebaktikan Sabtu, mamaku memasak banyak sekali. Untuk ‘potluck’ dan untuk yg mau dijual. Hari Kamis, kami selalu belanja di supermarket Asia untuk membeli bumbu2 dan bahan2 untuk membuat makanan dan snack khas Indonesia.

13100999411293088857

1310099968567184270

Beberapa supermarket Asia di Amerika untuk mencari dan membeli bahan makanan Indonesia.

1310099987841316583

1310100031715573913

Jika kita tidak mendapatkan bahan makanan Indonesia, kita bisa memakai bahan makanan dari Asia yang lain : seperti dari Malaysia atau Thailand. Memang, rasanya agak sedikit beda, tetapi tetapi rasa Asia koq …..

13101000551620430831

Inilah makanan ‘jajan pasar’ yang teman2 kami disana suka sekali.

Jika di supermarket Asia, aku serasa di Indonesia, atau setidaknya bila tutup, ada supermarket Vietnam, dan suasannya seperti di Singapore. Berbagai bahan makanan dan bumbu2 Indonesia tersedia. Sampai daun pisang untuk membuat lontong pun ada. Dan teman2ku dan adikku disana ternyata benar2 suka ‘jajan pasar’ dan makanan2 khas Indonesia, seperti kue talam, klepon atau sejenis itu. Mereka juga suka minta dibuatkan rempeyek ( dari kacang tanah, kacang kedelai, teri sampai udang kecil2 juga ‘gimbal’ / udang besar, tetapi dibuat tidak terlalu kering ).

13101000792097761033

Rempeyek kacang tanah yang mereka paling suka. Biasanya, mamaku membuat rempeyek ini berbentuk bulat dangan diameter 10 cm. Bila ada yang mau beli, mamaku membuat dalam 1 toples plastic berisi 20 rempeyek dan di jual sekita US$ 10.00. Dari berjualan rempeyek, mamaku bisa menghasilkan 1 tiket pulang pergi Jakarta - Amerika, dalam jangka waktu sekitar 3 bulan ! ( jika kita kesana bisa sampai 3 bulan ).

1310100111783477978

Rempeyek gimbal, juga diminati teman2ku disana. 1 udang untuk 1 rempeyek. Hmmm ….. untuk mereka, serasa pulang ke Indonesia, bukan ?

Yang paling teman2 kita sukai jika mamaku datang kesana adalah : minta dibuatkan gudeg ! Wah, gudeg mamaku memang luar biasa ! Jika aku yang notebene tinggal di Indonesia ‘gila’ gudeg, apa lagi mereka yang palingtidak satu tahun sekali pulang ke Indonesia? Gudeg mamaku sangat komplit : gudegnya sendiri, atam gudeg dan panggang, tahu, tempe, telut pindang, ati ampela, ’saren’ ( darah ayam ), krecek serta tambahan gorengan dan rempeyek ….. hmmmm ….. Dan mereka selalu minta dibuatkan jika ada acara selain di jual untuk acara ‘Perjamuan Kasih’ Gereja dan sebagian di berikan untuk persembahan kasih di Gereja kita.

1310100136801892517

Nasi Gudeg komplit, yang disukai teman2 kami disana. Biasanya, mamaku membuat telur banyak sekali, jika di supermarket sedang ’sale’ ( bisa sekitar hanya US$ 1.00 / 30 butir ! ). Juga sering ada ’sale’ untuk paha ayam untuk di bekukan. Dan mamaku selalu membuat makanan dengan bahan pada ayam.

Mamaku juga sering diminta untuk membuatkan ‘arem-arem’( nasi atau mie ), lemper atau makanan2 yang memakai daun pisang. Daun pisang tersebut di jual di supermarket Asia, perlembau sekitar US$ 1.00 dan ternyata daun pisang itu di bekukan ! Wah, kalau di Jakarta,daun pisang memetik sendiri di belakang rumahku, tetapi disana mahal boooo …. Hihihi ….

1310100158930054512

1310100184735002970

Daun pisang yang di bekukan untuk membuat arem-arem, kue pisang atau lemper.

Tahun lalu, adalah yang pertama adikku terkecil membawa istrinya kesana. Istrinya adalah orang Jawa tetapi sejak bayi tinggal di Bali. Jadi, tahun lalu di Amerika, ada beberapa makanan Bali ; ada sate lilit ( sate ikan ) dan ayam Bali. Wah, teman2 kami suka sekali … dan sewaktu mau pulang, mereka minta di buatkan lagi makanan2 Bali untuk di bekukan di kulkas. Ya, mamaku selalu membuatkan banyak makanan untuk di bekukan di kulkas, untuk keluarga adikku …..

1310100234541113315

Adik iparku sedang membuat sate dan ayam bumbu Bali di rumah kami  dan mereka ternyata suka sekali !

Tinggal di Amerika, jauh dari keluarga, memang tidak bisa di ukur dengan apapun. Kehidupan akan berjalan terus. Jika tinggal disana, salah satunya adalah bahwa kita harus banyak berhemat. Dan untuk melakukan hal berhemat itu, sering terjadi bahwa jika kita berpesta ( ulang tahun atau perjamuan Natal atau yang lain ) adalah dengan ‘potluck’. Kita tidak seperti berpesta di Indoneia, bahwa piring2 dan semua peralatannya harus sama dan mewah. Tetapi disana, biasanya justru makanan langsung dari kulkas atau oven ; terdapat ‘aluminium foil’, atau barang2 plastik ( bukan pecah belah ). Jika pesta mendadak, disana biasanya juga membeli bahan2 makanan dan sayur serta daging, dimasak bersama2. Maklum, tidak ada pembantu.

13101002401840442997

1310100264170251727

Beramai2 memasak untuk potluck dalam acara perjamuan Natal di rumah teman adikku. Kebersamaan yang sangat dirindukan sebagai saudara dan sahabat yang jauh dari keluarga …..

1310100310918519766

Pesta ulang tahun teman adikku, patungan bersama, belanja baren sampai memasak / memanggang bareng sangat kami sukai, sama dengan banyak keluarga di Amerika, ternyata …..

1310100332937009082

Dan hasilnya dinikmati bersama : potluck dengan konsep yang sedikit berbeda, tetapi tidak mengurangi kebersamaan sesame keluarga dan sahabat …..

Kebersamaan ini yang tidak kita dapatkan di Indonesia. Bahkan bila kita berpesta dengan keluarga, sekarang ini sering tidak terdapat keadaan seperti ini. Ya, mungkin kebersamaan ini tetap hars bisa dilaksanakan. Indonesia sekarang bukan sperti Indonesia yg dulu. Kemajuan di Indonesia justru melunturkan kehidupan kebersamaan.

Bilakah kita di Indonesia mengikuti kebiasaan ‘potluck’, demi kehidupan kebersamaan kita?

Salamku …..

Sumber gambar : sebagian dari Google, sebagian koleksi pribadi.

13096071791943036955

Profil |

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 3 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 7 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 8 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 8 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Raihan di Liga Champions 2009, Bekal …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Paradigma (Esai Orang Pinggiran) …

Tasch Taufan | 9 jam lalu

Sempat Disangka Kurang Waras …

Sukardi Sukardi | 9 jam lalu

“Curhat Jokowi Gundah Kena Jebakan …

Suhindro Wibisono | 9 jam lalu

Menaikkan BBM, Menghapus Subsidinya, …

Popy Indriana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: