Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Rubby Alfian

Seorang yang ingin tahu ini-itu, suka melancong ke tempat baru, sering terkendala waktu dan uang. selengkapnya

Wisata kuliner kota Cepu

REP | 09 August 2011 | 09:35 Dibaca: 1293   Komentar: 4   0

Terdengar agak aneh jika mendengar cepu yang merupakan salah satu kecamatan kabupaten Blora sebagai destinasi wisata, maka biar tak terlalu aneh saya beri judul wisata kuliner saja. Memang agak sedikit yang bisa diketemukan disana sebagai tempat wisata, yang paling mencolok hanya tempat pengambilan minak bumi terutama yang masih manual di Wonocolo. Rencana berangkat beramai-ramai, tapi pada saat hari H yaitu tanggal 18 juni 2011 hanya 2 orang saja yang bisa berangkat, aku dan Rara. Ada hal yang bisa memaksa kami untuk tetap berangkat yaitu sama-sama suka berwisata kuliner. Berangkat menggunakan kereta Feeder jurusan Semarang-Bojonegoro (kelas ekonomi) dengan harga tiket saat itu Rp. 6000,-. Sebenarnya ada kereta lain yaitu Blora Jaya dan Blora Jaya Express (kelas bisnis dan eksekutif) yang kesemuanya berangkat dari stasiun poncol Semarang. Berikut jadwalnya, oia, walaupun tertulis kelas ekonomi tetapi keadaan kereta & harga tiket sesuai kelas bisnis/eksekutif. Kupilih kereta ekonomi, tertarik dengan ramai & kondisi didalam kereta yang penuh dengan hal-hal seru seperti lalu lalang pedagang, bersosialisasi dengan orang lain yang berbeda daerah yang sering terjadi sahut-menyahut dalam kereta,hahaha, terlihat agak udik, tapi tak bisa dipungkiri inilah kondisi salah satu transportasi missal di Indonesia. Tiba distasiun Cepu, hangatnya Cepu yang agak ekstrem tak mematahkan semangat kami untuk berjalan kaki keliling kota. Awalnya agak bingung juga, mengira kota Cepu luas & nantinya bingung muter-muter karena memang kami tak bisa mendapatkan peta kota Cepu. Hmmm,, langsung ke makanan. Makanan yang pertama kali kami coba adalah pecel, makanan yang sedari di kereta tadi ada yang menjajakan, apalagi di Cepu, buanyaaaak.Tukang pecel bertaburan diman-mana terutama dipagi hari alias jam sarapan. Kami mencoba pecel madiun. Mmm, rasanya tak jauh-jauh beda seperti pecel di Jawa, sedikit beda dicitarasa bumbunya, lebih nikmat dengan pesan bumbu yang diramu pedas. Kenyang, dan benar-benar hangat kota Cepu, sudah siap berkeliling kota. Uniknya, disini selama pengamatan perempuan-perempuannya tak ada yang putih, alias coklat manis semuanya,heheheheh. Sembari muter-muter kota sekalian berburu hotel murah namun nyaman. Tanya hotel ini itu akhirnya pilihan jatuh ke hotel lawu indah. Lumayan, ditempat yang tak biasa untuk destinasi wisata tetapi bisa menemukan hotel yang murah & nyaman. Karena merasa nyaman diruangan ber-AC akhirnya ketiduran deh disiang bolong. Lanjut kuliner, untuk dinner kami coba bakso spesial (terdengar biasa saja ya,hehehe…), warung bakso yang terletak disebelah kanan kantor pos kota Cepu, setelah dicoba baksonya enak. Walau enak namanya bakso ya rasanya gitu-gitu aja ya…hahaha. Ada bermacam-macam bakso disini, juga ada mie ayamnya yang berporsi jumbo. Masalah harga berkisar 7-10 ribu, dijamin kenyang. Malam itu kami sempatkan juga untuk berkunjung kerumah salah 1 teman yang asli Cepu, diajak jalan-jalanlah kita. Taman seribu lampu, ramai juga dimalam hari terutama malam minggu. Banyak dijumai makanan disana, kupilih salah 1 jajanan, gethuk, dengan harga 3 ribuan bisa mendapatkan gethuk beranekaragam bentuk,rasa juga bervariasi. Dalam hati agak ngeri juga (warnanya terlihat mencolok,h3, atau aku berlebihan ya???). Ramai sekali disana, dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, kalau boleh kusebut situasinya mirip pasar malam. Dari sana pindah ke STEM (sekolah tinggi tentang MIGAS,saya lupa kepanjangannya,h3). Agak jauh dari kota jadi mesti pakai kendaraan sendiri, sudah tidak ada angkot. Kondisi sekitarnya sepi, dikelilingi padang ilalang & tanah kosong. Uniknya, dibeberapa sudut ada motor dipinggir jalan tetapi anehnya yang punya motor tak kelihatan batang hidungnya, ternyata disana memang salah 1 tempat favorit kawula muda untuk pacaran, katanya. Setelah menikmati beberapasudut kota Cepu dimalam hari akhirnya kami pulang dengan berjalan kaki untuk balik ke hotel. Oia, ternyata disini jalan kaki agak jauh itu terlihat tak wajar, terbukti kami berjalan keliling kota serasa jarang bertemu pejalan kaki terutama disiang hari. Pagi-pagi sudah bangun, tanpa mandi setelah solat subuh langsung berangkat berburu jajan pasar di pasar kota Cepu. Wow, bisa ditemukan jajan pasar yang masih fresh dengan kebersihan terjamin & harga yang terjangkau, saat itu kami beli dari bu haji, hehehe, padahal hanya main tebak saja kalo ibunya sudah haji. Jam 9 pagi menunjukkan waktu, mandi langsung CO. Berburu menu makanan berikutnya nyobain soto koya yang terletak disamping SMK Migas jl. Diponegoro. Kami mencoba soto ayam & dagingnya (sapi & jerohan), hmmm… memang terasa beda, lebih gurih dari soto yang lain, efek koyanya. Masalah harga, standar, Rp.7.000,- , malahan lebih murah daripada soto Sokaraja (khas Purwokerto) & soto Tegal/Tauto (pekalongan). Kenyang… tapi, masih muat untuk menu penutup. Lanjut menelusuri jl.diponegoro kearah stasiun, ketemu per3an belakang Sasana Saka belok kanan. Disana ada swike, langsung pesan deh yang agak pedas. Hmm… rasanya standar, lebih enakan didaerah Gubug atau Demak. Harganya seporsi Rp.12.000,-. Kalau sekarang dah kenyang banget, sudah tengah siang juga, langsung lanjut berjalan ke stasiun. Selama disana kami tak pernah naik angkot atau becak, menyalurkan hobi jalan kaki, hemat-sehat-& terasa menyenangkan. Dengan tampilan kami yang agak necis (padahal ya gembel) saat membeli tiket dikira oleh petugas loket akan membeli tiket KA Blora Express, “nggak mbak, Feeder aja” kubalas sambil nyengir,hihihihi. Sambil menunggu kereta yang jadwalnya 2 jam lagi, kami hanya bisa ha3 he3 dikursi sambil mengomentari perbedaan penampilan dari para penumpang antara KA Blora Express dengan Feeder (ekonomi),sambil berharap kapan KRL diadakan,
kereta yang murah namun bersih dan cepat (ngiri sama JaBoDeTaBek).

Sekian dulu ya…lanjut nanti di cerita yang lain…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: