Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Tika

Wanita biasa yang tidak punya pengaruh apa apa dan tidak bisa dipengaruhi

Manisan Kolang Kaling makanan khas Betawi

REP | 15 August 2011 | 16:54 Dibaca: 4279   Komentar: 14   1

13133735771321690264

Ketika sedang asyik asyiknya menikmati nyenyaknya  tidur sehabis sahur dihari minggu pagi, tiba tiba terbangun karena dikejutkan oleh sms yang masuk di telepon genggamku. Ternyata dari kakakku yang mengabarkan bahwa mau datang ke rumah dengan membawa kolang kaling segar dan minta dibuatkan manisan kolang kaling.

Ugh…ginilah empet (jengkel) nya  kalau ketahuan senang masak, hari minggu yang sedianya akan dimanfaatkan untuk berleha leha  suka dimanfaatkan oleh para anggota keluarga lain yang bukan satu rumah untuk membuatkan makanan..Jadi kapan ya istirahatnya setelah 6 hari bekerja dikantor, dirumahpun masih diberi pe er yang lain..nasib nasib.

Sebelum bercerita tentang manisan kolang kaling ada baiknya menyelusuri tentang keberadaan buah ini.

Kolang kalong   (buah atap) biasanya  menjadi hidangan favorite untuk berbuka puasa dikalangan orang Betawi. Entahlah asal muasalnya dari mana sehingga menjadi menu wajib untuk berbuka ataupun berlebaran, tauk-nya sudah tradisi aja….(malkumlah yang nulis bukan orang Betawi ).

13133828972016290111Ternyata buah yang biasa dengan mudah ditemui di pasar  cukup rumit,  untuk  membuat biji kolang kaling yang layak  dikonsumsi, cukup rumit. Pertama, buah aren atau kolang kaling dibakar selama dua jam.  Jika tidak matang dalam proses pembakaran akan menyebabkan gatal gatal bagi yang membakarnya. Setelah dipastikan menghitam dan kulitnya matang, didiamkan agar panasnya hilang. Kemudian dilakukan pengupasan isi dan kulit.  Untuk satu turuy atau rantai buah aren, pengupasan bisa sampai empat jam. (rumit ya…mending beli dipasar aja, tinggal olah hehehe)

13133829671793866894Bentuk kolang-kaling di pasaran bermacam-macam, ada yang bulat tebal dengan ukuran agak kecil, dan ada juga yang pipih lebar. Apabila ingin mengolahnya menjadi manisan atau sebagai campuran minuman, pilihlah kolang-kaling yang masih muda. Cirinya, bentuk kolang-kaling pipih, lebar dan tipis.

Buah kolang kaling yang segar ditandai  dengan buah tidak berlendir, rasa netral dan aroma tidak asam. Untuk menghilangkan lendir tersebut cuci kolang-kaling di bawah air mengalir agar kotoran dan lendirnya larut. Selama penjualan kolang-kaling umumnya direndam air dingin yang tidak dimasak dan dibiarkan dalam waktu yang cukup lama, sehingga terbentuk lendir dipermukaan kolang-kaling. Setelah dicuci dan ditiriskan, rendam lagi dalam air bekas cucian beras selama beberapa jam. Air cucian beras bisa melarutkan lendir dan menghilangkan aroma asam.

Dan inilah resep pembuatan Manisan Buah Atap (Kolang Kaling) yang saya dapatkan dari iparku yang asli orang Betawi.

Bahan:

2 kg buah atap/kolang-kaling

2 liter air cucian beras *)
1, 5 liter air fanta merah ataupun hijau sebagai pengganti pewarna
600 g gula pasir

Cara membuat:

-Cuci bersih kolang-kaling. Rendam kolang-kaling dalam air cucian beras selama 4 jam atau lebih agar lendir dan aroma asamnya hilang. Tiriskan.

-Bilas dengan air bersih, tiriskan kembali.

-Rebus kolang-kaling bersama air fanta merah ataupun hijau hingga mendidih.

-Masukkan gula dan maasak terus hingga air berkurang dan kolang-kaling menjadi merah.

Tiriskan kolang-kaling.-

Dinginkan. Taruh dalam wadah tertutup. Simpan dalam lemari es.

catatan :
Air cucian beras adalah air yang keruh saat beras disiram air bersih dan diaduk/dicuci.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 10 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: