Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Tika

Wanita biasa yang tidak punya pengaruh apa apa dan tidak bisa dipengaruhi

Nikmatnya Makan Durian Medan di Malam Hari

REP | 29 October 2011 | 15:33 Dibaca: 693   Komentar: 24   1

1319896153685035186

Durian Medan(Ilustrasi diambil dari Google)

Banyaknya lapak penjual  durian yang mulai mengggelar dan menyusun dagangannya selepas magrib menjadi hal biasa dilihat didepan penjara Salemba setiap harinya. Tapi tidak sedikitpun hati ini tergugah untuk mampir dilapak tersebut, Tapi akhirnya hati ini luluh juga ketika salah satu keponakannku yang penikmat durian mereyek minta dibelikan durian. ” Nanti ya sehabis shalat magrib kesana kataku”. Dan inilah hasil akhir perjalananku berwisata kuliner di malam hari dengan menikmati makan durian medan di pinggir jalan.

1319900162104523299

Penjual Lapak duren medan (koleksi pribadi)

Jalan kaki saja ya” kataku, mengingat jaraknya yang tidak terlalu jauh dan hanya seratus meter saja dari rumah. Dengan mengandalkan mobil pick up yang terbuka mereka menaruh durian didalamnya dan  membiarkan pembeli untuk memilih durian sesuai dengan pilihan pembeli, setelah itu sipenjual akan mencungkil  sedikit isi durian dengan ujung pisau untuk dicicipi oleh pembeli sebelum pembeli memutuskan untuk mengiyakan.

Bagi yang ingin memakan ditempat, tidak perlu khawatir karena penjual menyediakan  meja bongkar pasang yang jumlahnya tidak terlalu banyak dan tentu saja meja plastik berikut kobokan untuk mencuci tangan selepas makan durian.

Fisiknya durian medan memang tidaklah terlalu besar seperti durian monthong, walaupun begitu tekstur dagingnya sangat lembut dan sedikit berkrim dan rasanyapun manis, walaupun daging buahnya tidak banyak karena bijinya sangat besat.

Satu buah durian sudah habis ludes disantap, Ketika saya menawarkan untuk menambah lagi, ponakanku dengan malu malu bilang, ga; akh dah kenyang. ” Tapi kalau tante (maksudnya saya) mau nambah, gimana….mau ga, kataku sembari mengajak becanda. heheheheh…mau deh, tapi makannya berdua ya. Oke deh, Segera saya menghampiri sipenjual dan memilih durian yang paling bagus untuk disantap lagi.

Alhamdulilah kenyang juga ya…perut ini, sembari memegang perut tapi rupanya ponakannku belumlah kenyang dan sayapun tidak merekomendasikannya untuk memakan durian banyak banyak, mengingat usianya masih tujuh tahun. Kuajaklah ia ke penjual martabak bangka yang letaknya tidak jauh dari lapak duren medan untuk memesan martabak keju susu kesukaanya  dan dibawa pulang.

Sembari berjalan pulang, ponakanku berkata, “Kapan kapan, makan durian lagi ya...” Iya, jawabku, doain aja ya rezekinya banyak”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Begini Cara Jepang Mengembangkan Ilmu …

Gordi | | 06 March 2015 | 00:21

“Mempersoalkan” Ketelitian Vonis …

Blasius Mengkaka | | 06 March 2015 | 02:05

Jokowi Mengangkat Penasehat Politik …

Muhyansi | | 06 March 2015 | 08:07

Belajar Nyedu Kopi Dari Juara Dunia …

Thamrin Dahlan | | 06 March 2015 | 09:10

Kompasiana Ngulik: Ngobrolin Genre Musik …

Kompasiana | | 23 February 2015 | 14:51


TRENDING ARTICLES

Lulung The Godfather …

Bayu Ertanto | 6 jam lalu

Ahok Budayawan Calon Pemimpin Bangsa …

Abang Rahino | 7 jam lalu

Tiga Gejala Suami Istri Saling Menjauh …

Cahyadi Takariawan | 7 jam lalu

Jokowi Tolak Tawaran Barter Autralia, …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Aksi Bungkam Buwas Ketika Begal Merajalela …

Axtea 99 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: