Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

D' Chand Ra

ya aku... hhhh, (D'alam Cherdas dan Terpercaya), Max-Nar (Gabungan faham Maxirsme dan Narsisme). hkhkhkhkk

Ala India dari Palembang

REP | 05 February 2012 | 21:10 Dibaca: 5565   Komentar: 10   1

1328370554394355078Martabak HAR sejatinya mirip dengan martabak telor pada umumnya, dimana bahan dasar martabak adalah dari adonan tepung yang digepengkan. Bedanya, pada martabak har, telor bebek tidak dikocok apalagi dicampurkan dengan potongan daging atau sayuran. Telornya langsung diceplok (biasanya dua sekaligus) di atas adonan gepeng yang dipanaskan, dicampur dengan kuah rempah-rempah dan campuran kentang. Kemudian, martabak akan disajikan bersama kuah kari kental hangat berisi daging dan sepiring kecil cacahan cabai rawit yang telah ditambah cuka. Klo soal rasa rasanya, hm…. mantap dan maknyuss. Kata orang Palembang: lemak nian… (yang artinya enak sekali, lemak=enak, nian=sekali).

Diambil dari nama penciptanya pertama kali yaitu Haji Abdul Rozak (HAR), salah seorang keturunan India di Kota Palembang. Martabak HAR ini adalah makanan yang dibuat dari adonan khusus, kemudian dibentuk menjadi lingkaran besar dan tipis untuk membungkus isi dari martabak. Setelah adonan dan isi menyatu baru kemudian digoreng seperti biasa. Khusus martabak HAR umumnya menggunakan isi telur ayam atau telur bebek, tergantung permintaan.

13284288721104194562Salah satu yang paling membedakan Martabak HAR dengan martabak lain adalah dari cara penyajiannya, dimana martabak HAR disajikan dengan gulai khusus yang merupakan campuran dari kentang rebus yang telah dihaluskan ditambah potongan-potongan daging dengan bumbu khas. Selain itu untuk penambah selera, martabak HAR ini meyediakan kecap asin dan potongan cabe rawit.

Martabak HAR menyediakan berbagai jenis martabak telur. Martabaknya dihidangkan dengan kari plus rajangan acar cabe rawit hijau. Karinya pun bervariasi. Ada kari kentang, kari ayam, hingga kari kambing.

Porsinya cukup besar sehingga dengan memakan 1 porsi saja sudah membuat kenyang. Yang membuatnya unik adalah siraman kuah di atas martabak ini yang merupakan kari kentang dengan bumbu khas dari India. Tapi bumbu karinya ini sudah banyak diadaptasi dengan bumbu daerah Palembang, sehingga aroma khas dari bumbu kari India sudah beradaptasi dengan lidah orang sumatera pada umumnya.

Jika ingin mencoba membuatnya berikut resep pembuatan martabak HAR, bahan:

untuk kulit:

450 gram tepung terigu
3 sendok makan minyak
175 cc air
1/2 sendok teh garam
atau jika ingin lebih praktis, kulit bisa menggunakan kulit lumpia yang sudah jadi.

Isi:
Telur 2 butir, bisa telur ayam atau telur bebek (tergantung selera)

Kuah :
Menggunakan kuah kare tetapi di isi cincangan daging dan kentang (sama dengan resep kare pada umumnya)

Cara Membuat:

Kulit di bentangkan di kuali datar yang panas kemudian di dalamnya telur ayam atau telur bebek 2 butir, dan tunggu dan angkat jika matang.

Dan martabak tersebut di letakan di piring dan di siram dengan kuah kare ataupun di pisah.

Biasanya martabak telur disajikan bersama-sama kecap asin yang dengan cabai hijau yang di potong-potong.

Di Palembang sendiri martabak HAR biasa di jual seharga Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 14.000,-. Sedangkan di Jakarta, harga terendahnya Rp. 14.000,-. Namun jangan khawatir, karena di waktu-waktu tertentu biasanya martabak HAR di bagi-bagikan secara gratis. Jika tidak percaya, silahkan datang sendiri ke Palembang di bulan Ramadhan dan mampirlah ke Masjid Agung  saat hendak berbuka. Saya jamin anda mendapatkannya gratis, karena para pedagang martabah HAR biasanya menyumbangkan sebagian dagangan mereka untuk yang berbuka di Masjid Agung Palembang.

Salam Hangat

D’ Chand Ra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: