Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Gudeg ‘Pawon’ Van Jogja

REP | 20 September 2012 | 19:59 Dibaca: 416   Komentar: 15   1

1348127323107574639Yogyakarta adalah sebuah kota yang memang memiliki beragam Pesona di tinjau dari aspek Sosial dan Budaya. Mulai dari bentuk pemerintahan lokal nya yang masih berbentuk kerajaan dibawah kepemimpinan seorang Sultan (Hamengkubuwono X) yang sampai saat ini masih berkuasa. Sampai dengan berbagai macam cita rasa kuliner yang lezat dan memanjakan selera masyarakat serta pendatang yang berkunjung ke sana.

Salah satu Kuliner khas yang melegenda di Kota Jogja adalah Gudeg. Penganan tradisional yang terbuat dari bahan utama buah nangka muda (Gori) ini memiliki cita rasa khas yang tidak ada dua nya dibandingkan dengan koleksi kuliner Nusantara lainnya. Selain bahan utama, Gudeg akan lebih kaya cita rasanya bila saat disantap dilengkapi dengan ‘Sambel Krecek’ yang terbuat dari kulit sapi, Tahu, Tempe, Opor Ayam dan Telur serta beberapa butir cabe rawit.

Ada beberapa jenis Gudeg yang tersedia di pasaran kota Jogja, namun secara garis besar Gudeg bisa di golongkan menjadi : Gudeg Basah, Gudeg Kering dan Gudeg Manggar. Ketiga nya memliki cita rasa sendiri-sendiri sesuai dengan selera penikmatnya

Ada banyak sekali tempat untuk menikmati Gudeg di Jogja. Mulai dari skala Mbok-mbok penjual Gudeg di emperan jalan sampai ke tempat makan Gudeg dengan tata kelola ala restoran lengkap dengan Live Music akustik pengiring pengunjung nan tengah bersantap. Mengenai waktu untuk bersantap Gudeg, kita bisa mendapatkan nya mulai dari pagi hari sampai larut malam menjelang subuh,

Dari sekian banyak ragam Gudeg yang ada di kota Jogja, ada satu penjual Gudeg yang tergolong unik. Unik karena ; dari segi waktu berdagang, Gudeg ini baru buka pukul 22.30 Wib, Dari lokasi berjualan, tempatnya ada didalam gang kecil. Pelanggan dapat bersantap Gudeg di dalam dapur (Pawon) nya si Mbah. Sambil bersantap kita bisa melihat peralatan memasak si Mbah yang masih menggunakan peralatan Tradisional. Sebuah sensasi makan yang menurut saya sangat Unik.

Yang ndak kebagian tempat di dalam Pawon, pelanggan bisa bersantap di 2 buah meja di teras dapur si Mbah. Dengan catatan ndak boleh berisik (tertawa keras-keras), sebab memang tempat makannya di dalam gang yang cukup padat. Biasanya kita akan ditegur dengan ucapan yang sampai sekarang ndak berubah, yaitu ; “Sssst..ada bayi”. Awalnya logika saya mempertanyakan, kok bayi nya nggak gede-gede ya..?, ternyata itu adalah salah satu cara khas orang Jogja saat menegur para pengunjung yang kebetulan datang beramai-ramai, biasanya anak-anak muda.

Bila Sahabat Kompasiana tengah berada di Kota Jogja, tak ada salahnya singgah menikmati Uniknya Gudeg Pawon Van Jogja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: