Back to Kompasiana
Artikel

Kuliner

Wylvera Windayana

Saya Ibu rumah tangga, Penulis, Trainer Penulisan, dan guru Ekstrakurikuler Jurnalistik di SDIT Thariq Bin selengkapnya

Serabi Hijau Pak Toto

HL | 08 January 2013 | 08:38 Dibaca: 2032   Komentar: 14   2

Makan serabi? Ah, itu sih biasa. Tapi, kata teman saya yang biasa membeli serabi hijau ini, “Sekali kamu mencoba pasti ketagihan dan jadi berlangganan.” Apalagi ketika teman saya itu mengatakan, kalau tinggal di Bekasi tapi tak pernah mencoba serabi hijau Pak Toto, rasanya belum pas disebut orang Bekasi. Ah, sampai segitunya. Sungguh, saya benar-benar penasaran.

Akhirnya saya pun sengaja meluangkan waktu untuk menyinggahi ‘Pondok Serabi Hijau’ yang terletak di Jl. Baru Perjuangan, Teluk Buyung, Bekasi. Ternyata, serabi hijau di pondok ini sangat terkenal. Tidak hanya bagi masyarakat Bekasi sendiri, penduduk Jakarta dan sekitarnya pun banyak yang sudah mengenalnya.

13576078941596849847

Dilihat sepintas dari luar, ‘Pondok Serabi Hijau’ milik Toto Subiakto ini sangat sederhana dan malah terkesan biasa-biasa saja. Hanya ada meja panjang dan bangku dari rotan. Tungku tempat memasak serabi letaknya berdekatan dengan meja dan bangku rotan tadi, sehingga yang makan di situ langsung bisa melihat bagaimana cara pembuatan serabi hijau itu.

13576080451509166525

Namun, begitu kita mampir dan mencicipi serabinya, baru terasa bedanya dengan serabi-serabi yang dijual di tempat lain. Benar, kata teman saya itu. Serabi Pak Toto terasa lebih tebal dan kenyal. Tapi, ketika digigit terasa empuk. Ditambah kuah yang legit dengan rasa manis yang pas, serabi hijau Pak Toto benar-benar nikmat.

1357608208209895648

Tak hanya sekadar mencicipi kenikmatan serabi hijau Pak Toto, saya tak menyia-nyiakan waktu. Kebetulan Pak Toto ada di tempat, saya pun meminta beliau untuk berbincang tentang usahanya itu.

Diawali oleh hobi keluarga yang suka makan dan berwisata kuliner, istri Pak Toto (Melani), bertekat membuka usaha untuk menambah penghasilan keluarga. Ditambah keahlian sang istri dalam membuat serabi, di awal tahun 1993, muncullah ide untuk membuka toko kue serabi. Tapi, tidak langsung berdiri pada waktu itu.

Pada awal tahun 2000-an, Pak Toto dan istri melihat peluang menjual serabi, karena di Bekasi belum ada yang berdagang serabi secara khusus. Bermodal sepuluh tungku dan dua karyawan untuk memasak kue serabi, Pak Toto dan istri gigih mengawali usahanya. Ternyata begitu launching tahun 2001, pondok serabi Pak Toto langsung dikunjungi oleh banyak pembeli.

“Serabi hijau yang dijual di pondok ini dibuat dengan memakai pewarna asli dari daun suji serta pandan,” ujar Pak Toto mulai membeberkan rahasia serabi hijaunya. Sementara serabi dimasak dalam anglo tanah dan berbahan kayu bakar. Menurut Pak Toto, anglo tanah dan kayu bakar ini digunakan demi menjaga kualitas rasa yang lebih baik jika dibandingkan memasaknya dengan kompor minyak atau gas.

Dengan alat masak tungku tanah dan wajan tanah berukuran kecil, pas untuk serabi buatan Pak Toto dan istrinya. Lebih berongga, teksturnya lebih kenyal dan lembut seperti kue bika ambon. Satu lagi alasan menggunakan dengan tungku tanah dan bahan bakar kayu, agar hasilnya tidak terlalu gosong dan jauh lebih nikmat.

Hingga saat ini serabi yang dijual di ‘Pondok Serabi Hijau’ sudah menyediakan topping di atas serabinya dengan delapan variasi; ada cokelat, pisang, nanas, keju, nangka, pisang keju, pisang cokelat, dan strawberry. Sementara untuk kinca (kuah manis) ada tiga rasa; gula pandan, gula durian, dan gula nangka.

1357608867640912290

Untuk harga, Pak Toto memberi variasi juga. Setangkup serabi, harganya 1500 – 2500 rupiah. Kalau ingin membeli dan dibawa pulang, sedus dengan isi sepuluh tangkup harganya 15.000 rupiah. Serabi polos dengan kuah harganya 20.000 rupiah. Sementara untuk serabi dengan variasi rasa seperti pisang cokelat, cokelat keju, dan pisang keju dihargai 25.000 rupiah.

1357609018856261062

“Pondok Serabi ini terlihat sepi, karena memang para pembeli lebih banyak memesan untuk dibawa pulang, bukan makan di tempat,” pungkasnya di akhir obrolan kami. [Wylvera W.]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: